The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Cuplikan



Ini adalah cuplikan spoiler awal cerita yang saya buat berdasarkan kisah nyata, kisah pribadi semasa zaman sekolah dulu. Saya suguhkan beberapa part nanti. Silakan di cek!


Judul: LABIL (PLIN-PLAN).


Genre: Fiksi remaja.


Terbit: Platform lain.


"Separuh napasku. Terbang bersama dirimu~."


 


 


"Tak talaktak dung dung pak dung cess," ucap Ghinta seraya menirukan suara dan gerakan seorang drummer. Ia memukul meja dengan pukulan irama layaknya sebuah drum, kedua tangannya sangat lincah saat ia memainkan suara meja tersebut sambil ikutan bernyanyi dengan murid yang lain.


 


 


"Saat kau tinggalkanku. Salahkahku ... salahkah akuuu bila aku bukanlah seperti aku yang dahulu~" Beberapa murid terdengar bernyanyi bersama dengan antusiasnya. Padahal jika didengar-dengar, kebanyakan suara dari mereka memang fals dan sumbang. Tetapi mereka semua menikmati konser yang mereka adakan di dalam kelas.


 


 


"Dung dung pak, dung dung pak! Terektek tek tek ciiit ciiiiitt ... uuwik uwik uwik oy oy ...." Ghinta berganti gaya dengan menirukan gaya bak seorang DJ.


 


 


Begitulah Ghinta yang sering ia lakukan ketika sedang mengisi waktu luang bersama dengan teman-temannya di kelas. Bernyanyi bersama dengan diiringi suara dari pukulan meja yang diciptakannya. Saat mereka sedang asyik-asyiknya bernyanyi dan membuat keributan di dalam kelas, tiba-tiba mereka terhenti oleh seseorang yang baru saja tiba sambil memanggil nama Ghinta.


 


 


"Ghinta!" teriak Ibu Dina di pintu kelas.


Ghinta yang sedang menirukan gaya DJ pun terhenti dan menunduk malu, semua murid di kelas yang tadinya sedang berkumpul, kini jadi berhamburan ke mana-mana.


 


 


"Iya, Bu!" sahut Ghinta terengah-engah.


 


 


"Ikut Ibu ke kantor!" perintah Bu Dina. Lalu ia pergi meninggalkan kelas tersebut.


 


 


Ghinta menoleh ke arah teman-temannya. Ia memperlihatkan raut wajah yang memelas kepada mereka, ia berjalan secara perlahan sambil melambaikan tangan, seakan ia akan pergi jauh dari teman-teman sekelasnya.


 


 


"Lebay lo!" celetuk Ratna.


 


 


"Ah, aku tak sanggup," ujar Ghinta dengan nada manja, seraya memegang dadanya dan memasang raut wajah pura-pura bersedih.


 


 


Kemudian Adit berjalan mengahampirinya, lalu ia menarik tangan Ghinta menuju keluar kelas. Berharap bahwa dirinya segera pergi menghampiri Bu Dina.


 


 


"Eh, eh ...."


 


 


"Cepetan hadapi dia! Musnahkan virus-virus benci, virus yang rusakkan jiwa!" kata Adit dengan datar.


 


 


"Gak lucu sama lelucon lirik lo," cetus Ghinta. Lalu ia menghempaskan tangan Adit dan berjalan pergi dengan cepat. "Gue bisa sendiri," tambahnya. Ia pun langsung pergi menuju ruang guru dan menghilang dari pandangan Adit. Lalu ia kembali ke dalam kelas.


 


 


"Yooo ... kita lanjut konser kita, guys!" teriak Adit sambil memulai memukul-mukul meja dan melanjutkan lirik yang terputus tadi.


 


 


"Ada makna terjalin dari sini ... dari ketika yang teeeerr ... ja ... di ....~"


 


 


"Kau hancurkan diriku ... bila kau tinggalkan akuuu ... kau dewiku!" Adit melengkapi lirik tersebut dengan nada sumbang yang disertai gaya menjiwai yang lebay. Seperti mata yang dipejamkan, kening dikerutkan, tangan kiri memegangi dadanya, dan tangan kanan ia sembahkan kepada teman-teman yang lainnya.


Terlihat Ghinta sedang berjalan dari koridor sekolah menuju kelasnya, ia berjalan dengan amat malas. Ia berjalan melewati berbagai kelas dan melihat siswa-siswi lainnya dari balik jendela sampai ia mendekati satu kelas yang terdengar seseorang bernyanyi. Sejenak ia melihat orang itu dan ia pun memperhatikannya.


Terdengar suara bising dari anak-anak di kelasnya, kepanikan Ghinta terlupakan saat melihat semua temannya membuat kebisingan di dalam kelas. Hal itu membuat Ghinta merasa murka dan ingin meluapkan semua emosi yang tengah ditahannya sedari tadi. Ia mendorong meja belajarnya ke depan dengan sekuat tenaga, lalu ia berdiri dan lekas berjalan mengambil sebuah sapu yang letaknya di ujung kelas.


Ia berbalik dan menatap semua teman-teman di kelasnya dengan tatapan tajam dan raut wajah yang sangar. Ia menaikan bibir atasnya, lalu tersenyum jahat kepada mereka. Kemudian ia kembali berjalan dan ia berhenti di tengah-tengah kelas, lalu ia berteriak dengan lantang.


"DIIIAAAAAMM ...!"


Ghinta memukul meja dengan sapu yang tengah ia bawa tadi sebanyak tiga kali. Membuat semua orang di kelasnya menoleh, juga menatap heran ke arah Ghinta. Lalu Ghinta cengengesan di depan kelas.


"Hehehe ... kepala gue pusing. Lagi PMS. Jadi jangan berisik, oke!" ujar Ginta tersenyum paksa. Lalu ia melemparkan sapu tersebut ke sudut kelas, dan ia kembali duduk di kursinya, juga merapikan kembali meja yang sudah di dorongnya tadi.


"Apaan sih si Ghinta? Kumat lagi penyakit dia."


Kalimat itu terdengar ditelinganya, Ghinta memang seorang gadis yang aneh. Namun bukan aneh seperti kebanyakan orang aneh lainnya. Krik ... Krik ... Oke, lanjut. Ghinta lebih memiliki sifat yang suka teriak-teriak di kelas, ia juga sangat mudah bergaul. Bahkan ia gadis yang aktif di sekolahnya dengan mengikuti Organisasi PKS (Patroli Keamanan Sekolah) dan ia juga mendapatkan jabatan sebagai bendahara OSIS di sekolahnya.


Saat ia berteriak, ada seseorang yang memperhatikan dirinya di balik kaca jendela. Rupanya orang yang baru saja Ghinta perhatikan saat ia sedang bernyanyi di dalam kelas itu, mengikuti Ghinta dari arah belakang. Ia penasaran dengan sosok yang sedang memperhatikannya itu. Kemudian diam-diam ia melihat dirinya berteriak sambil memukul meja dengan sapu. Seseorang itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, ketika melihat tingkah laku aneh Ghinta yang sesungguhnya. Lalu ia berhenti melihat, saat ada orang lain yang berteriak memanggilnya.


"Hil!"


Spontan ia menengok dan langsung menghampirinya. "Ya. Tunggu!" sahutnya. Ia pun pergi meninggalkan kelas Ghinta.


*Skip.


Teman-teman sekelasnya tidak mendengarkan apa yang sudah dikatakan oleh Ghinta barusan. Mereka tetap kembali ngobrol dan membahas tentang apa yang sedang mereka bahas. Ghinta menarik napas panjang, lalu membuangnya dengan sembarang. Mencoba untuk lebih bersabar lagi menghadapi cobaan yang sedang ia hadapi di kelas.


Merasa sangat bosan, ia pun mengeluarkan sebuah buku tulis yang di dalamnya terdapat banyak tulisan tangan dirinya yang menceritakan sebuah kisah fiksi khayalannya. Ia memang gemar menulis cerita seperti cerita pendek dan novel. Walaupun dirinya tidak mempunyai sebuah laptop ataupun komputer, tetapi ia lebih suka menulis tangan lewat buku, karena karyanya dapat dibaca oleh teman-teman di kelasnya.


Ketika menulis, ia merasa sangat berisik dan mengganggu konsentrasi, ia tidak ingin kebisingan itu terdengar lagi di telinga kecilnya, maka ia terpaksa mengeluarkan sebuah senjata yang akan membuat mereka bungkam pada pendengarannya. Yaitu headseat. Tidak. Itu tidak akan cukup untuk membuat mereka bungkam, namun itu cukup untuk membuat Ghinta tak mendengar kebisingan dari mereka.


Ia pun memakainya dan mulai mendengarkan sebuah lagu metal dari band Avenged Sevenfold. Band favorit yang sering ia dengarkan disetiap harinya. Ia mengatur volume musik dengan full. Tak lama setelah itu, ketika ia sedang mengangguk-anggukkan kepalanya, menikmati alunan musik yang sedang ia dengarkan, tiba-tiba seseorang datang dan duduk di sampingnya. Lalu ia merebut sebelah headseat yang sedang menempel di telinga kanannya.


"Dengerin apa sih?" tanya seseorang itu seraya memasangkan headseat sebelah kanan ke telinganya.


Ghinta menoleh dengan raut wajah yang ketus, "Ngapain sih, lo? Tiba-tiba datang langsung ngambil barang orang."


"Cuma sebelah doang. Bukan berarti direbut ya!" tukas Adit. "Lo nulis cerita apa lagi? Jangan horor lagi ya! Gue males baca," kata Adit seraya mengintip tulisan Ghinta.


"BODO AMAT!" teriak Ghinta ke arah telinganya. Karena merasa malu, ia pun menutup buku tulisnya.


"Berisik tahu, nggak?" tanya Adit sambil mengelus-elus telinganya. "Kenapa sih? Tadi lo paling berisik, sekarang jadi fanatik. Gara-gara si Bu Dina, ya?" tanya Adit menebak-nebak. Ghinta hanya memutar bola matanya. "Ok, fix. Bu Dina yang udah bikin lo kerasukan setan," tambahnya.


"Sinting!" sahut Ghinta. Kemudian, ia mengganti lagu dari ponselnya, dan kini mendengarkan sebuah lagu ghotic. Salah satu lagu kesukaannya pula. Kemudian Ghinta kembali membuka bukunya dan mulai melanjutkan menulis ceritanya.


"Suka lagu ginian juga, ya?" tanya Adit yang mulai menikmati alunan musik yang diputar oleh Ghinta.


"Suka. Emang kenapa? Lo tuh jangan banyak tanya deh! Kalau mau dengerin lagu bareng gue, dengerin aja! Gak usah banyak tanya ini dan itu. Kek wartawan tahu, nggak? Introgasi anak orang nggak jelas. Kena pasal baru tahu rasa," gerutunya panjang lebar. Rupanya Ghinta mulai kesal dengan Adit, tetapi Adit tidak peduli dengan perkataan Ghinta yang cukup pedas seperti itu.


"Gue suka lagu ini. Apalagi dibagian reffnya. Beeeeuuhh ... enak banget," oceh Adit yang berusaha mengajak ngobrol kepada Ghinta. Namun Ghinta masih tetap fokus pada tulisannya.


"Lebih enak lagi lo diem dan jangan banyak bicara! Gue lagi fokus," cetus Ghinta.


"Saking enaknya, mending kita pacaran aja," usul Adit.


Mendengar kalimat itu, Ghinta spontan menengok ke arahnya. Ia sejenak terdiam dan melihat dalam mata Adit, suasana hatinya berubah menjadi tegang. Adit pun heran dengan Ghinta yang terus menatapnya, ia pun bertanya.


"Ada apa? Lo setuju? Kalau setuju, lo mau dipanggil apa?"


"Gembel!" cacinya, "lo jangan asal bicara deh," tambahnya.


"Jadi mau dipanggil gembel?" tanyanya.


Ghinta menghelakan napas panjangnya. Kemudian dirinya mencubit tangan Adit dengan kencang. Sehingga dirinya merasa kesakitan.


"Ah, ah. Oke. Maaf, maaf. Bercanda."


Cubitan itu pun terlepas. Adit mengelus bagian yang sakit di tangannya. Tak lama kemudian, Adit malah tertawa lepas dengan hal itu, menurutnya sangat lucu ketika ia membuat Ghinta tiba-tiba tegang seperti itu. Lalu Ghinta memutar bola matanya dan mengganti lagu yang belum sepenuhnya ia dengarkan.


Tak lama kemudian, seorang guru pun datang ke dalam kelas mereka. Semua murid di sana kembali duduk ke tempat duduknya masing-masing. Lalu Ghinta mulai menyimpan buku tulis yang berisi cerita itu di bawah kolong mejanya.


"Sekarang kita akan bahas tentang sejarah, lalu setelah itu langsung ulangan," ucap Bu Dina.


"Yah, Bu! Kita jangan mengulang sejarah. Karena kita itu hidup di masa depan, bukan di masa lalu," sahut Ghinta dan mengeluh.


"Woooo ...!" Sorak semua teman-teman yang ada di kelasnya seraya memukul-mukul mejanya.


"Untuk apa kita harus mengulang sejarah dan membahasnya, karena masa lalu itu sebagai cerminan dan pengalaman agar di masa depan menjadi lebih baik, bukan untuk diulang kembali." Adit menambahkan maksud dari kalimat yang Ghinta ucapkan.


"Karena itu, kamu harus belajar dari masa lalu, agar kamu bisa paham dengan kehidupan di masa depan," sahut Bu Dina kepada Ghinta dan juga Adit.


"Suasana semakin panas!" sindir Ratna.


"Yaelah, Ibu nih. Masa lalu dan masa depan itu berbeda, Bu." Ghinta tak mau kalah dengan perdebatan tentang hal itu, gara-gara ia tidak ingin melakukan latihan ulangan, pembahasan pun jadi ke mana-mana.


"Akan sama jika kamu terus membantah. Lakukan saja perintah Ibu, atau kamu akan kena azab," ancam Bu Dina.


"Astagfirullah, Bu. Istigfar."


"Makanya turuti apa kata ibu. Ayo keluarkan buku paket kalian, ibu akan memulainya."


"Apa enggak bisa minggu depan aja, Bu?" tanya Adit.


"Bisa saja. Kalau kamu ingin setiap minggu ulangan, Ibu sih tidak masalah," sahutnya.


"Yaaaah ... jangan dong!" eluh murid-murid di dalam kelas.


"Ayo cepat keluarkan!" perintahnya.


Ghinta dan yang lain pun menyerah dengan ancaman dari Bu Dina, memang ancaman seperti itu, sangat mengerikan untuk dibayangkan. Sebagian teman sekelasnya, tertawa dengan hal itu, namun Ghinta hanya tersenyum seakan ia tidak melakukan sebuah kesalahan apa pun.


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.


Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.


Terima kasih, semuanya. :*