The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 77



Stelah melakukan perjalanan kurang lebih setengah jam, aku dan Eggy pun akhirnya sudah sampai di supermarket. Kemudian aku mulai turun dari mobil.


"Kak," panggilku.


"Apa, Bulan?" tanyanya.


"Tidak apa-apa," sahutku salah tingkah.


Kenapa juga aku sampai memanggilnya? Sudahlah. Itu tidak masalah.


"Kamu ini kenapa sih? Jadi aneh," sahut Eggy.


Aku hanya tersenyum simpul padanya.


"Gak apa-apa kok, Kak." Aku tersenyum padanya.


Aku dan Eggy mulai memasuki toko tersebut. Kemudian aku mulai mengambil troli untuk semua bahan-bahan yang akan kita beli.


"Biar aku yang bawa trolinya, Bulan. Kamu fokus mencari bahan-bahan makanan saja. Aku akan lihat-lihat kemari," kata Eggy sambil menjunjukan arah. Kurasa Eggy secara tidak langsung mengatakan bahwa aku dan dia akan berbelanja masing-masing. Eh, bukan masing-masing. Mungkin maksud dia berpencar untuk mencari makanan. Mungkin juga untuk mempercepat waktu. Namun jika trolinya dibawa olehnya, terus aku bawa barang-barang nanti gimana?


"Sepertinya trolinya biar aku bawa deh. Soalnya aku pasti banyak mengambil bahan," sahutku padanya.


"Baiklah. Kamu bawa saja. Nanti aku susul kamu kalau aku sudah mendapatkan makanan yang lain," sahutnya. Nah, kalau begini baru benar.


"Baiklah. Jadi kita ... berbelanja masing-masing, atau ...." Aku menggantung kalimatku.


"Atau apa?"


"Atau hanya berpencar mencari bahan-bahan makanan?" lanjutku bertanya.


"Berpencar makanan. Karena aku ingin membeli sesuatu," sahut Eggy.


"Ah, baiklah. Aku paham. Kalau begitu, aku akan ke sini saja." Aku menunjuk ke arah yang bertolak belakang dengan pilihannya.


"Oke."


"A-eum. O-oke deh."


Aku dan Eggy malah saling menatap satu sama lain. Seakan bingung dan saling menunggu siapa yang akan pergi duluan. Aku malah menggaruk kepalaku, dan dia malah mengusap lehernya. Seakan aku dan dia merasa sangat canggung.


"Kenapa kamu tidak ke arah sana?" tanya Eggy ragu-ragu.


"K-kakak kenapa juga masih di sini?" tanyaku kepada Eggy dengan sama-sama bingung jadinya.


"Eh, mm ... aku ... a-aku sebenarnya menunggumu," jawabnya.


"Lho, kok? Aku juga sama. Menunggu Kakak," sahutku.


"Haha. Lucu sekali. Konyol."


"Hahaha. Jadi bagaimana? Mau bersama-sama atau ...?" tanyaku menggantung.


"Pisah dulu deh. Ada hal yang ingin aku beli," jawabnya.


"Beli apa? Kayaknya privasi banget." Aku penasaran dengan barang yang akan dirinya beli. Kira-kira dia mau membeli barang apa, ya?"


"Ya itu rahasia dong," ucapnya.


"Pakai rahasia ya sekarang," sahutku tersenyum menggodanya.


Eggy mencubit pipiku dengan pelan. "Kamu akan tahu jika kamu sudah siap melakukannya," sahut Eggy.


"Melakukan apa? Siap apa?" tanyaku spontan.


Sejenak aku berpikir tentang hal itu. Dan ....


Eggy melangkah mendekatiku. Kemudian dia mendekatnya wajahnya ke arahku. Sampai dirinya semakin mendekat dan langsung mengarahkan bibirnya ke telingaku.


"Siap untuk memiliki keturunan," bisiknya.


Terkejutnya aku saat mendengar kalimat dia.


"Apa? Memiliki keturunan?" tanyaku seraya menaikkan sedikit nada suaraku.


Eggy terkejut mendengar suaraku yang cukup lantang, sampai orang-orang di sekitar melihat ke arahku dan Eggy.


"B-bu-bulan! S-ssht, sshht ... k-kamu apa-apaan sih?" tanya Eggy panik.


"A-aku k-kaget, Kak," jawabku merasa malu juga.


"Ya gak usah sekaget itu, Bulan. Pelan-pelan saja. Lagian aku hanya bercanda kok."


"Hah? Serius?"


"Kamu maunya serius? Oke. Aku serius," sahut Eggy.


"Ih, Kakak. Bukan itu. Maksudnya Kakak bercandanya seriusan?" tanyaku menjelaskan. Namun aku bingung cara menjelaskan dengan kata-katanya bagaimana.


"Jadi, menurutmu aku bercanda atau serius?" Eggy malam balik bertanya.


"Ih, Kakak mah malah gak jelas ah." Aku merasa sebal padanya.


"Ya kamu salah bicara." Eggy menyentil hidungku dengan jari telunjuknya.


"Ya habisnya aku bingung, Kak. Aku bingung menjelaskan dengan kata-kata. Aku pikir Kakak mengerti dengan apa yang aku katakan. Aku pikir Kakak pun paham dengan itu, dan peka terhadap penjelasanku. Rupanya Kakak malah menggodaku terus," cetusku.


"Bukan menggoda, ih."


"Lalu apa dong kalau bukan?"


"Sudah, sudah. Kamu belanja saja sana. Nantingak kelar-kelar kita belanjanya. Keburu sore lho. Nanti di jalanan sepi lagi," ucap Eggy padaku.


Benar juga sih dengan apa yang diucapkannya. Jika terus membahas masalah kwcil ini, dan terus mengobrol dengannya, malah akan jadi lama, juga ngaret waktu.


"Iya deh, Kak. Aku hampir lupa tujuanku kemari mau apa. Hehehe."


"Kamu nih! Gara-gara penasaran kan jadinya begini."


"Maaf ya, Kak."


"Tidak apa-apa, Bulan." Eggy mengelus rambutku dengan lembut. Aku pun tersenyum padanya.


"A-aku ke sana dulu, Kak."


"Oke. Nanti kita bertemu di sebelah sana ya," ucap Eggy menunjuk ke suatu tempat.


"Ujung ada yang eskalator itu?" tanyaku memastikan. Karena takut salah menunggu.


"Bukan. Dekat roti. Breadtop," jawab Eggy menjelaskan.


"Ah, iya. Aku tahu. Kalau sudah selesai, aku akan tunggu di sana. Mungkin jika Kakak sudah selesai, Kakak tunggu di sana duluan. Hihi."


"Iya, Bulan," sahut Eggy dengan nada manja.


Mendengar nada suaranya yang seperti itu, membuatku merasa gemas sendiri. Ingin rasanya aku menyentuh bagian dari tubuhnya. Entah itu wajahnya, tangannya, atau apa lah itu. Aku merasa gemas sendiri jadinya.


Aku tersenyum. "D-dadah," ucapku seraya melambaikan tanganku. Eggy tersenyum malu dan membalas lambaian tanganku. Walaupun menurutku ini terlalu lebay jika dilakukan, dan juga terlihat seperti anak remaja yang baru saja pacaran. Aku henar-benar terlihat seperti seseorang yang sedang kasmaran. Berpisah sebentar hanya untuk belanja, rasanya begitu sangat berat. Rasanya seperti tidak rela untuk berpisah dengannya. Padahal masih tetap satu tempat, di satu supermarket. Tetapi malah seperti ini rasanya. Apa ini yang dinamakan sudah mulai suka pada sosok Eggy?