The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
EPISODE 124



"Selamat menikmati makanannya," ucap Bulan kepada pelanggan yang duduk di sana.


"Terima kasih."


"Kembali kasih." Bulan tersenyum ramah kepada pelanggan tersebut. Kemudian dia berjalan ke arah dapur.


"Hei, pelayan!" teriak seseorang.


Bulan menengok dan langsung menghampirinya. "Halo. Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Bawakan segelas lemon tea, ya. Esnya dikit saja."


"Baik. Apa ada yang ingin dipesan lagi?"


"Sudah saja. Nanti jika ada, akan aku panggil kembali," sahutnya.


"Baiklah. Mohon tunggu sebentar, ya. Kami akan segera buatkan."


"Oke."


Bulan lekas berjalan menuju dapur. Kemudian dia memberitahukan pesanan yang baru saja masuk padanya.


"Lemon tea 1. Esnya sedikit, pesanan meja nomor 9."


"Oke."


"Ini aku sekarang ngapain lagi?" tanya Bulan.


"Tunggu aja. Kamu bisa antarkan minuman yang memesan padamu tadi kepada pelanggan," jawab salah satu pekerja di sana.


"Ah, baiklah. Tak masalah."


"Oke."


Bulan pun menunggu pesanan. Yak lama kemudian, pesanan pelanggan pun telah jadi. Bulan mulai mengambil minuman lemon tea tersebut dan langsung mengantarkannya kepada pelanggan tersebut.


Waktu demi waktu telah terlewati, hari mulai sore dan kini saatnya Bulan selesai bekerja. Dia dusuk di kursi dengan keringat yang mengucur di wajahnya. Dia terlihat sangat kelelahan, lalu dia mengelap keringatnya dengan handuk kecil. Setelah itu dia mengambil air untuk minum. Merasa sangat haus dan lelah. Dia tidak mengira bahwa bekerja akan secapek ini dan selelah ini. Memang tak bisa dipungkiri, bahwa dirinya memang tidak bisa bekerja. Bukan tidak bisa, tepatnya tidak terbiasa dengan bekerja. Karena sejak dari lama dirinya tidak bekerja apa pun, dan hanya berdiam diri di rumah saja. Pekerjaan pun kecil, hanya beres-beres rumah dan sekitaran rumah saja. Jadi pekerjaan ini adalah pengalaman pertama bagi Bulan dalam hal bekerja.


"Apa kamu lelah?" tanya Melda kepada Bulan.


"Ya. Sangat lelah. Mungkin karena pertama kali kali, ya," sahut Bulan terkekeh.


"Ya begini lah jika bekerja di restoran. Memang melelahkan. Apalagi kalau sedang rame pembeli. Akan kerepotan, dan Pak Angga pun biasanya turun tangan ke dapur untuk membantu. Namun rasanya restoran ini tidak serame dulu. Sekarang agak sepi sih," cerita Melda kepada Bulan.


"Kenapa? Apa yang membuat restoran ini menjadi sepi?" tanya Bulan penasaran.


"Entahlah. Mungkin kita butuh sesuatu yang berbeda. Kadang kita juga sering mengganti tema tiap bulannya di sini," jawab Melda.


"Tema?" tanya Bulan kebingungan.


"Benar itu, Bulan," jawab Angga ikut nimbrung. Dia berjalan menghampiri Melda dan Bulan, kemudian dia duduk di hadapan Bulan dan juga berhadapan dengan Melda.


"Ah, Pak Angga."


"Pak Angga. Selamat beristirahat, Pak. Sebentar lagi kita akan pulang, Pak," ujar Melda kepada Angga.


"Santai saja. Jangan terburu-buru seperti itu."


"Baik, Pak."


"Jadi begini, Bulan. Setiap bulan kita sering menggunakan tema yang berbeda. Seperti sekarang kan. Temanya agak romantis. Jadi kita setting tempat ini seromantis mungkin, agar yang datang kemari bisa mendapatkan suasana seromantis mungkin, sehingga orang-orang yang mempunyai pasangan akan betah untuk makan di sini dan ketagihan juga untuk kencan di sini," jelas Angga kepada Bulan.


"Ah, menarik juga, Pak," sahut Bulan.


"Kadang kita juga tidak sebulan sekali sih. Tergantung pelanggan yang meminta. Jika pelanggan menginginkan tema ini untuk diperpanjang, kita selalu memperpanjangnya."


"Maksudnya, Pak, bagaimana?"


"Maksudnya, jika pelanggan menuliskan faq atau saran kritik di box yang ada di depan itu, dekat pintu," kata Angga sambil menunjuk ke arah tempat tersebut. "Nah, setiap bulan kita selalu membuka kritik dan saran itu. Lalu membacanya bersama. Dan mencari hal-hal yang menarik di sana," lanjut Angga.


"Jelas kamu bakalan betah. Aku aja betah kok bekerja di sini," kata Melda.


"Ya. Melda adalah salah satu pekerja dari awal saya rilis restoran ini. Dia pegawai daya yang paling setia. Dari nol sampai sebesar ini, dia masih tetap bertahan bersama saya," jelas Angga pada Bulan.


"Asyik sekali. Pasti Melda banyak tahu tentang Bapak Angga dan sejarah restoran ini," kata Bulan.


"Yta pasti tahu dong, Bulan. Masa gak tahu. Hahaha."


"Melda memang tahu segalanya. Aku percaya dengan dia. Makanya, jika aku ada kesibukan lain, atau sedang terkena musibah, dia siap mengontrol semuanya," jelas Angga.


"Sepertinya partner yang nyata," kata Bulan tersenyum.


"Jelas. Jika partner goib, serem dong." Angga memberika sedikit lelucon di tengah ceritanya. Membuat Melda dan Bulan tertawa sebentar dengan lelucon itu.


"Bapak bisa saja nih."


"Memang benar, bukan?" tanya Angga.


"Iya, Pak. itu memang benar kok," jawab Bulan.


"Ah, saya juga tidak menyangka hal ini akan terjadi. Restoran yang awalnya sepi, terus menjadi ramai, dan akhirnya sepi lagi. Namun bagusnya tak sesepi sejak awal launching. Masih mending sih ini," kata Angga.


"Seru sekali, ya, Pak. Rasanya saya ingin seperti Bapak yang menjadi pengusaha restoran. Hehe," ujar Bulan tersenyum.


"Silakan. Jika kamu mau, kamu bisa membuka usaha seperti saya kok," sahut Angga dengan positif.


"Hahaha. Tidak Pak Angga. Aku hanya bercanda. Lagian mana bisa aku membangun restoran. Sepertinya itu bukan keahlianku juga."


Angga terkekeh. "Siapa tahu kamu bisa lebih sukses. Lalu mengajakku dan restoran kita bisa kolab."


"Kayak nyanyi aja, Pak, main kolab segala. Hahaha." Melda tertawa.


"Hahaha." Bulan ikut tertawa juga.


"Yaudah deh. silakan beristirahat, ya. Saya masih ada urusan lain. selamat beristirahat," ucap Angga. Kemudian dia pegi meninggalkan Melda dan juga Bulan.


"Pak Angga baik juga, ya. Dia seperinya supel, dan tidak pilih orangnya. Sama siapa saja sepertinya dia baik," ucap Bulan kepada Melda.


"Ya. Dia memang baik. Jarang marah-marah dan orangnya tuh humoris gitu," sahut Melda.


"Aku dapat melihatnya kok, Mel. Dari awal aku pikir dia aneh. Namun ternyata aku salah. Hehe."


"Aku pun juga sama. Hahaha."


"Hahaha. Dasar kamu."


"Fakta."


Bulan dan Melda pun menjadi semakin akrab. Kini Bulan mempunyai seorang teman baru yang bisa diajak ngobrol dengan begitu nyamannya. Semoga ini menjadi hari-hari Bulan yang menjadi lebih baik. Dibalik kisahnya yang memilukan, dan penuh dengan kesakitan di hati, pekerjaan ini adalah salah satu obat bagi dirinya untuk dapat melupakan kesakitan dia dan kehidupan penuh sandiwara yang dilakukannya dengan Eggy.


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin. Terima kasih sebelumnya, readers.


Untuk yang ingin tahu karyaku yang lain, silakan cek di akun WP @Bulan_lani. Cerita baruku berjudul 'Dia Rehema'. Ada juga aplikasi Joylada dengan akun Lani Nurohmah (comeback).


Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan satu sama lain juga.


Terima kasih, semuanya. :*