The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Perjalanan



Ini adalah suatu keputusan yang berat dan membingungkan. Mungkin keputusan yang mereka ambil ini bisa dibilang jahat terhadap Bulan. Tapi yang bisa Bulan lakukan adalah hanya diam saja. Sementara Eggy, mungkin dia akan menjalani kehidupan yang normal bersama Adelia. Perasaan Bulan semakin takut. Biarlah Bulan berkorban akan perasaannya. Dia tidak berkorban sendirian.


"Selepas ini kita akan ke mana?" tanya Fadhla.


"Aku mau pulang saja. Mau istirahat," jawab Bulan.


"Kamu yakin?"


"Ya."


"Baiklah."


Fadhla pun memutar balik arah jalannya. Tak lama kemudian, telepon Fadhla berdering. Lalu dia menyuruh Bulan untuk mengangkat telepon tersebut.


"Tolong angkatkan, ya!"


"Baiklah."


Bulan mengambil telepon Fadhla. Namun sebelum dia mengangkat telepon, dia sempat melihat nama kontak yang meneleponnya. Di sana tertera nama Mami. Bulan pun mengurungkan niatnya untuk menjawab telepon itu. Dia pun memberikan telepon tersebut kepada Fadhla. Dalam batinnya dia mengetahui akan sesuatu, dia merasa bahwa


"Ini mamimu."


"Astaga!"


Fadhla pun terkejut mendengar yang menelepon itu adalah maminya.


"Jangan diangkat. Biarin aja," jawab Fadhla sambil fokus ke jalan.


Bulan pun menyimpan telepon Fadhla di sampingnya. Telepon itu pun bedakhir, tetapi tak lama kemudian telepon Fadhla berbunyi lagi. Rupanya maminya masih menelepon.


"Mamimu telepon lagi. Sebaiknya kamu angkat saja," ucap Bulan.


"Baiklah."


"Kamu menepi saja dulu," ucap Bulan.


"Oke."


Fadhla pun menepikan mobilnya. Kemudian dia langsung menjawab telepon dari maminya.


"Halo, Mi."


"Kamu di mana? Pulang sekarang juga!" ucap Maminya dengan nada tinggi.


"Mau pulang ini juga, Mi," sahutnya.


"Mami tunggu!"


"Taoi aku akan pulang ke rumah Bulan. Bukan ke rumah Mami," jelas Fadhla.


"Apa? Jangan ke sana. Kamu harus kembali ke sini! Kamu ngapain nikah sama dia? Ceraikan! Kamu hanya nikah agama. Gampang untuk ceraikan dia. Bilang saja talak ke dia," kata Maminya bersi kukuh.


Fadhla menatap Bulan. "Bulan, sebentar, ya! Aku akan bicara dengan mamiku di luar mobil. Tunggu sebentar!" ucapnya berbisik.


"Baiklah. Silakan. Aku tunggu."


Fadhla tersenyum. Bulan pun membalasnya. Kini Bulan sudah tahu dan benar-benar yakin akan pemikirannya bahwa memang benar mungkin Maminya akan memarahi dia karena sudah menikahinya. Bulan hanya dapat melihat perbincangan mereka lewat kaca jendela mobil, tanpa tahu apa yang sedang mereka bicarakan.


"Tidak, Mi. Apa sih maksud mami tuh?"


"Kamu yang kenapa? Kenapa menikahi dia, hah? Dia menikahi kakakmu itu hanya karena harta. Rupanya dia sekarang sudah berhasil merenggut rumah mewah yang sudah menjadi rumahnya itu. Itu rumah yang diberikan oleh neneknya kepada Eggy. Namun dia berikan kepada wanita ******* itu," kata Maminya.


"cukup, mi! Cukup! Jangan sebut Bulan seperti itu. Dia istriku. Istri sahku. Aku gak peduli dia mau mantan istri dari Eggy atau mau menguras hartaku, aku gak peduli, Mi. Yang aku pedulikan adalah ada benih yang ada di perut Bulan," jelas Fadhla.


"Apa? Benih? Apa maksudmu?" maminya terkejut mendengar pengakuan darinya.


"Bulan hamil."


"Dasar *******! Hamil oleh siapa, hah?"


"Jika dia menikah denganku, otomatis dia anak siapa, Mi? Mami tahu sendiri aku sering pergi ke rumah Bulan."


"Siallan. Wanita murahan. Pintar sekali dia membodohi dan memperdaya kamu. Keluarga Andalas semakin kacau. Jangan-jangan perusahaan kita kacxau karena adanya dia," katanya.


"Apa sih mami tuh? Jangan salahkan Bulan. Sekarang dia mengandung anakku, sekaligus cucumu. Jika mami menghina dia, berarti mami menghinaku dan menghina cucu mami sendiri," kata Fadhla dengan tegas.


"Fadhla! Kamu berani menantang mami?" Maminya mulai emosi dan meluapkan amarahnya.


"Terserah apa kata mami. Yang penting Bulan sudah menjadi istriku dan dia adalah ibu dari anakku. Aku akan segera mengesahkan pernikahan ini secara hulum negara," kata Fadhla.


"Jika kamu melakukannya, kamu bukanlah anak mami lagi, Fadhla. Kamu akan mami asingkan," ancamnya.


"Baiklah, Mi. Aku menerimanya."


"Fadhla! Kamu benar-benar, ya!"


"Aku akan ke rumah Bulan. Dia sudah lelah. Aku akan menemaninya mulai hari ini, esok, lusa dan seterusnya," kata Fadhla. Kemudian dia pun menutup teleponnya secara sepihak. Hal itu membuat maminya semakin marah dan murka kepada Fadhla. Fadhla memang tidak main-main dengan ucapannya itu.


Fadhla kembali masuk ke dalam mobil. Kemudian dia duduk dan tersenyum ke arah Bulan.


"Maaf, lama. Apakah kamu bosan menunggu?" tanyanya dengan lembut.


"Tidak. Santai saja," jawab Bulan.


"Baiklah. Ayo kita lanjut pulang!"


"Mm ... Fadhla. Aku tahu bahwa mamimu mungkin tidak akan setuju dengan ini. Aku mendengar dia menyuruhmu untuk menceraikanku. Sebenarnya tak apa jika memang langsung bercerai pun. Seharusnya aku pergi ke luar negeri saja dan mengurus diriku sendiri di sana. Seharusnya aku mendengarkan kalimat yang di usulkan oleh kak Eggy waktu lalu. znamun aku tidak mendengarkannya," kata Bulan merasa bodoh sendiri.


"Sudahlah. Jangan pikirkan itu. Gak baik untuk janin kamu."


"Tapi apakah kamu gak keberatan dengan ini? Apakah ada rasa terpaksa atas ini?" tanya Bulan.


Sejenak dirinya terdiam. Dia mulai salah tingkah dengan kalimat itu. "Ini kan usulku, masa ada paksaan."


"Kan kamu terpaksa menikah denganku karena aku hamil."


"Sudahlah. Yang penting kamu sudah selamat dan tidak merasa malu lagi dengan kehamilanmu. Karena semua tanggung jawab, aku yang tanggung."


"Fadhla, kamu tahu kan kalau pernikahan kita itu serius? Sah."


"Aku tahu."


"Berarti saat ini aku istrimu dan kamu suamiku. Sebagai pasangan yang sah," kata Bulan ragu-ragu.


"Aku tahu. Pasti ini berat banget buat kamu. Jangan khawatir. Aku tidak akan menyentuhmu kok. Aku tidak akan meminta hakku sebagaimana haknya seorang suami," kata Fadhla.


"Fadhla, aku tidak membicarakan itu." Bulan merasa canggung.


"Tidak apa. Aku tahu bagaimana perasaanmu. Aku tidak ingin menjadikan status ini penghalang bagi kamu dan Eggy."


"Terima kasih sudah mengerti dan memahamiku, Fadhla."


"Baik, Bulan. Kamu adalah wanita yang baik. Kamu pun pantas untuk bahagia."


"Bagaimana pun, kamu tetap sudah menjadi suamiku, Fadhla. Aku tidak pantas memanggilmu dengan nama lagi. Namun aku masih tidak ingin mengganti namamu dengan panggilan yang lain," kata Bulan apa adanya.


"Tidak masalah. Jangan segan gitulah. Anggap saja pernikahan itu palsu. Sesuai dengan apa yang sudah kita rencanakan kemarin. Jangan khawatirkan masalah itu," kata Fadhla dengan enteng.


"Kamu bercanda, ya?" tanya Bulan.


"Enggak. Aku serius," jawabnya.


Bulan terkekeh.


Mereka pun telah sampai di rumah Bulan. Bulan masuk ke dalam rumah dengan perasaan lemas dan tubuh tak bergairah. Dia seakan tidak mempunyai semangat untuk hidup.


"Aku akan istirahat ke kamarku," ucap Bulan.


"Apa aku boleh tinggal di sini?" tanya Fadhla.


Bulan menengok.


"Kamu tahu sendirilah. Mamiku sudah pasti mengusirku, dan aku belum bisa membeli rumah. Aku tinggal di sini boleh? Akan aku bayar deh sewaan kamar setiap bulannya," kata Fadhla.


"Kamu suamiku. Ini rumahmu juga," kata Bulan dengan datar. Kemudian dia kembali berjalan menuju kamarnya. Fadhla merasa malu dengan hal itu. Namun bagaimana lagi.


"Kalau begitu, aku ikut bersamamu," kata Fadhla sambil berjalan menghampiri Bulan dan merangkul dirinya.


"Fadhla, apa yang kamu lakukan?" tanya Bulan merasa takut.


"Enggak. Hanya merangkul untuk pertama kalinya. Ayo kita istirahat, " sahut Fadhla.


"Jangan seperti ini dong. Aku merasa gak enak," katanya.


Fadhla pun melepaskan rangkulannya. Iya, deh, iya. Maaf, ya. Cuma bercanda," kata Fadhla sambil mencubit kedua pipi Bulan.


"Aku mau mssuk ke kamar dulu." pamitnya.


"Boleh ikut?" tanya Fadhla menggoda


"Fadhla, jangan bercanda lagi deh," jawab Bulan.


"Ya udah. Aku paham. Jawabannya gak boleh. Ya udah, aku kembali ke kamar tamu saja atau tidur di sofa," katanya pasrah.


Bulan terkekeh. "Sampai jumpa, Fadhla"


Bulan menutup pintu kamarnya.


"Baiklah, sampai jumpa!" sahutnya.


Bulan tersenyum di balik pintu kamarnya itu. Kemudian dia pun bergegas mengganti pakaiannya. Sedangkan Fadhla, dia pun ikut tersenyum dan dirinya mulai kembali berjalan ke arah dapur. Dia mengambil sebuah air untuk minum.


"Tidak di sangka, bahwa Bulan menjadi istriku. Istri yang sah. Menjamahnya pun tak akan menjadi salah," gumam Fadhla. Kemudian dia pun kembali meminum air dalam gelas itu.


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.


Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.


Terima kasih, semuanya. :*