
Setelah lamanya perjalanan, akhirnya wanita itu pun menyuruh Eggy untuk berhenti di pinggir jalan. Syukurlah, wanita itu sudah turun.
"Terima kasih ya atas tumpangannya," kata Shelly tersenyum. Eggy hanya memberikan isyarat dengan senyuman kepadanya.
"Terima kasih juga telah membayar sisa belanjaan kami," ujarku.
"Bukan masalah. Kalau begitu aku pergi dulu ya," pamitnya.
Wanita itu pun pergi begitu saja. Aku dan Eggy kembali melanjutkan perjalanan menuju villa.
Setelah sampai di Villa, aku dan Eggy mulai mengambil beberapa kresek bahan makanan yang sudah dibeli tadi. Aku mulai membawa dua keresek dengan tangan kiri, juga kanan yang penuh. Lalu aku hendak memasukkannya ke dalam rumah.
Namun saat aku melangkah masuk, Eggy menahan dengan memanggil namaku.
"Bulan."
Aku menengok. "Iya, Kak? Bagaimana?" tanyaku.
"Belanjaan kita semua kah ini? Kok kelihatannya agak banyak ya," ucap Eggy terheran-heran.
"Masa sih? Cuma ada lima keresek kok belanjaan kita," ucapku.
"Ini lebih, Bulan. Ada 6 kresek, sama tas belanja baju deh keknya. Kamu belanja baju?" tanya Eggy kebingungan.
"Lah, bukannya kita sama-sama ada di supermarket secara sama-sama? Mana mungkin aku pergi ke toko pakaian terlebih dulu. Kakak nih ada-ada saja."
"Lalu ini milik siapa? Apa jangan-jangan milik dia?" pikir Eggy mengingat pada Shelly.
Aku pun ikut mengingatnya. "Ah, iya. Bener juga. Itu keknya memang milik Shelly, Kak. Soalnya dia juga tadi belanja, 'kan?"
"Lalu gimana ini?"
"Bawa masuk saja dulu, Kak. Lagian dia tahu di mana adanya kita. Nani juga dia akan kemari untuk membawa barang-barangnya."
"Oke deh. Akan aku bawa masuk semuanya. Kamu simpan duluan saja, nanti bantu aku lagi untuk membawa barang-barang yang lain."
"Iya, Kak."
Aku lekas masuk terlebih dulu dengan membawa sebagian belanjaan dan di taruh di dapur. Kemudian aku kembali lagi untuk membawa barang lain.
"Kakak," panggilku.
"Apa?" sahutnya.
"Aku rasanya tidak suka dengan wanita itu, Kak. Kakak merasa bahwa dia sombong gak sih?" tanyaku berpendapat. Berharap bahwa tanggapannya juga sama.
"Sombong?"
"Iya."
"Menurutku biasa saja. Aku tidak begitu meresponnya," sahut Eggy. Sudah kuduga dia tidak peduli dengan itu. "Oh, iya. Kamu yang sering meresponnya, sehingga ... jika dilihat-lihat, kamu seperti seseorang yang sedang cemburu," tambah Eggy tersenyum. Kemudian dirinya pergi masuk ke dalam villa sambil membawa sisa barang-barang belanjaan kita. Dan sayangnya aku harus membawa barang-barang wanita itu. Sial.
Tak ada salahnya sebenarnya dengan kalimat yang diucapkan oleh Eggy. Mungkin benar, aku cemburu padanya. Tetapi aku pun sebenarnya tidak suka dengan apa yang dilakukan dengannya. Dari sikapnya saja, dia seperti menyimpan rasa suka terhadap Eggy. Apa jangan-jangan dia sengaja mendekati Eggy? Aku khawatir tentang hal ini.
Tak banyak berpikir, aku pun langsung masuk ke dalam rumah saja.
Setelah di dalam, aku dan Eggy beristirahat. untuk. sejenak. Eggy terlihat bersandar di sofa sambil menyalakan TV. Aku pun mulai ikut beristirahat bersamanya.
"Kakak tadi beneran gak bawa dompet?" tanyaku yang masih penasaran.
"Jawab jujur atau tidak?"
"Ya jujur dong, Kak."
"Mungkin, sebenarnya tadi bawa dompet," jawabnya.
Kalimat yang diucapkannya membuatku terkejut. Bisa-bisanya dia berbohong padaku. Mengapa dia berbohong? Kurang asem, emang.
"Serius? Kakak bohong, 'kan?" tanyaku.
Eggy terkekeh. "Iya. Aku bohong. Aku beneran gak bawa dompet. Lupa."
"Maaf, maaf. Aku juga tidak tahu bahwa dompetnya kelupaan."
"Gak apa-apa. Asalkan lain kali jangan diulangi, Kak. Aku malu. Apalagi sampai dibayarin pake duit orang," eluhku.
"Iya, Bulan." Eggy mengusap rambutku.
"Hari ini kita mau apa?" tanyaku.
"Memangnya kamu mau apa?" Eggy malah balik tanya padaku.
"Kan aku tanya sama Kakak."
"Aku tidak tahu. Mungkin, apa kita perlu menonton film?" tanya Eggy memberi saran.
"Boleh saja. Tapi siang-siang gini mau menonton apa?"
"Apa saja. Terserah kamu. Kamu sukanya nonton film apa?" tanya Eggy.
"Agak ekstrim sih, Kak. Horor, pembunuhan, misteri gitu."
"Wow. Rupanya dari pembahasan kemarin, sudah terlihat sangat jelas," ucap Eggy membuatku tak mengerti dengan apa yang dimaksud olehnya.
"Maksudnya apa, Kak?" tanyaku.
"Cerita dua kalimat kemarin. Kamu sangatlah menyeramkan. Calon psikopat baru rupanya," jawab Eggy. Ah, aku memang ingat masalah pembahasan semalam.
"Oh, yang itu. Aku ingat. Haha. Memang aku menyukai cerita yang seperti itu, Kak."
"Jadi, mau nonton film apa nih?" tanya Eggy.
"Film apa ya? Yang sadis, Kak. Kakak serem gak?" tanyaku menanyakan tentang filmnya.
"Memangnya aku menyeramkan ya?" tanya Eggy.
"Bukan Kakaknya. Tetapi filmnya. Aduh, Kakak ini."
"Haha. Iya, iya. Terserah saja. Aku ikut kamu," sahutnya.
"Aku gak bakalan ke mana-mana, Kakak."
"Ya ampun. Maksudnya aku ikut maunya kamu mau nonton film apa saja. Begitu lho, Sayang."
Aku tersenyum. "Oke deh. Kalau gitu aku cari sesuatu dulu."
Aku pun lekas mengambil ponselku dan membuka website untuk mencari film di sana. Sebelum menonton film, biasanya aku selalu melihat trailer terlebih dulu. Trailer adalah satu hal terpenting sebelum menonton, karena di sana ada banyak spoiler tentang filmnya masing-masing. Spoiler yang bisa buat para penontonnya sangat penasaran dan memutuskan untuk memilih menonton film tersebut dari awal sampai akhir. Jadi menurutku trailer itu sangat penting untuk ditonton sebelum menonton filmnya secara full.
Setelah beberapa saat memilih banyak judul dan menonton beberapa trailer film, akhirnya aku pun sudah menemukan film mana yang akan aku tonton bersama Eggy. Aku memantapkan hati untuk menonton salah satu film di sana. Menurutku ini cukup menyeramkan dan sadis, semoga saat menonton full movie-nya tidak mengecewakan. Semoga saja.
"Jadi, kamu mau menonton yang ini saja?" tanya Eggy.
"Iya, Kak. Yang ini saja. Soalnya film ini kelihatannya menarik dan bikin penasaran. Dari trailernya saja sudah kelihatan menegangkan. Apalagi filmnya," sahutku.
"Baiklah. Aku akan membawa cemilan dan minuman untuk menemani tontonan kita," kata Eggy, lalu dia pergi ke arah dapur untuk mengambil apa yang akan dibawakannya.
"Aku pun langsung mengaktifkan sinyal ponselku ke TV di villa. Tidak asyik jika menonton film lewat ponsel saja, selain layarnya kecil, suaranya juga kurang nendang. Jadi aku memasang film tersebut ke tv.
Tak lama kemudian, Eggy kembali datang dan duduk di sampingku seraya membawa beberapa cemilan ringan dan beberapa minuman kaleng.
"Cemilan dan minuman sudah siap menemani lho," ucap Eggy.
"Waaahh. Ayo, Kak. Persiapkan mental Kakak agar kuat menonton film ini."
"Tidak perlu persiapan. Aku selalu siap kok."
"Oke deh. Aku mulai play filmnya, ya."
"Iya. Silakan, Tuan Puteri." Eggy tersenyum.
Aku tertawa kecil ketika mendengarnya berkata seperti itu. Kemudian aku pun mulai mem-play film itu, dan film pun dimulai.