The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Penjual Bunga



"Halo, Bulan! Kamu ada di mana?" tanya Eggy di telepon.


"Aku ada di restoran. Sedang istirahat," jawab Bulan. "Baru saja habis makan siang," jawabnya. "Memangnya kenapa, Eggy? Ada apa?" lanjutnya bertanya.


"Aku ingin bertemu," sahut Eggy.


"Hari ini?" tanya Bulan penasaran.


"Iya. Kapan lagi dong!" jawabnya.


"Tidak bisa. Aku sedang bekerja. Aku tidak bisa menemuimu," tolak Bulan kepada Eggy.


"Kenapa? Aku hanya ingin bertemu denganmu, Bulan. Bukan untuk menyuruhmu berhenti bekerja," jelas Eggy.


Bulan terdengar menarik napas. "Jadi begini, saat ini aku bekerja setiap hari. Apalagi saat hari Sabtu dan Minggu, aku harus kerja lembur seharian. Karena di restoran sangat ramai pengunjung kalau weekend. Jadi memang aku harus bekerja dan membutuhkan istirahat yang cukup," jelas Bulan dengan perlahan, supaya Eggy dapat memahami apa yang dialami oleh dirinya.


"Aku sangat paham, Bulan. Tapi kan kamu juga bisa pergi jalan-jalan ke luar bersama adikku. Masa denganku kamu tidak bisa? Apa kamu sudah tidak menganggapku lagi?" tanya Eggy.


"Bukan. Bukan begitu," jawab Bulan seperti serba salah. Akhirnya dia pun menyerah dan mengikuti keinginan Eggy. "Baiklah. Kamu boleh menemuiku. Tapi sebagai pengunjung restoran saja, ya. Jangan ganggu aku saat bekerja!" kata Bulan mengingatkan.


"Iya, aku tahu. Aku paham. Kalau begitu, aku akan segera ke sana, ya. Tunggu aku!" kata Eggy.


"Oke. Aku akan menunggumu, Kak."


Eggy pun menutup teleponnya. Dia langsung berjalan menuju parkiran mobil. Ketika dirinya hendak masuk. ke dalam mobil, dia mendapati seseorang yang menepuk punggungnya. Sontak Eggy pun menengok untuk. melihat siapa orang yang menyentuhnya.


Dia seorang anak kecil dengan pakaian yang berantakan dan kotor dengan membawa beberapa tangkai bunga di tangannya. Dia menawarkan bunga tersebut kepada Eggy.


"Mau beli bunganya, Pak? Saya mohon beli bunganya. Saya butuh uang untuk makan, Pak," kata si anak kecil itu.


"Tidak, terima kasih," tolak Eggy.


"Saya mohon, Pak. Belilah satu tangkai saja. Saya butuh uang sekali, Pak."


"Tawarkan kepada yang lain saja. Maaf ya, Dek!" tolak Eggy dengan lembut kepada si anak kecil itu.


"Pak, saya mohon. Hanya beli setangkai saja tidak akan merugikan Bapak," ucap anak kecil itu dengan. pintarnya.


Eggy mulai menarik napasnya dengan dalam. "Kenapa kamu menjual bunga?" tanya Eggy kepada anak itu.


"Saya butuh hidup, Pak. Saya masih ingin hidup," jawab anak itu.


"Mengapa?"


"Maksud Bapak?" Anak kecil itu merasa bingung.


"Mengapa memilih berjualan bunga untuk hidup? Kamu masih muda. Kamu masih kecil. Seharusnya sekolah yang benar. Bukan di jalanan seperti ini," ucap Eggy kepada anak itu.


"Orang miskin seperti saya mana ada uang, Pak. Untuk hidup saja susah, membutuhkan banyak tenaga demi bekerja mencari uang sehari-hari," jelas anak itu.


"Apa hidup kamu sesulit itu?" tanya Eggy mengintrogasi.


"Apa Bapak tidak percaya? Perlu saya tunjukkan rumah saya dan orang tua saya?" tantang anak itu.


Eggy terkekeh. "Tidak perlu. Saya percaya padamu."


"Jadi bagaimana, Pak? Apakah Bapak ingin membeli bunga saya? satu tangkai tidak masalah. Beli satu tangkai pun, Bapak sudah menyelamatkan saya untuk bisa bertahan hidup pada hari ini," kata anak tersebut.


"Sebelum membeli bunganya, aku ingin bertanya padamu."


"Bertanyalah, Pak. Saya akan senang menjawabnya."


"Di mana rumahmu? Apakah keadaan orang tuamu sehat?"


Sejenak anak kecil itu terdiam mendengar pertanyaan dari Eggy. "Kami tidak punya rumah, Pak," jawab anak. itu dengan nada malu dan merendah.


"Lalu orang tuamu?"


"Ibuku hanya mengerjakan jasa payet, Pak. Ayahku seorang pemulung," jawab anak itu.


"Kamu tinggal di mana? Bisakah kamu memberitahuku?" Eggy terus bertanya seakan menjadi seorang wartawan atau jurnalistik untuk mencari banyak informasi dari anak tersebut.


Anak itu nampak sedikit menaruk malu dan gengsi. Dia seakan berat untuk menjawab pertanyaan dari Eggy. Dia rasa, Eggy terlalu berlebihan untuk rasa penasarannya terhadap anak itu. Namun anak itu tetap menjawab apa yang sudah di tanyakan oleh eggy. Karena sebelumnya dia sudah mengatakan bahwa dia akan menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Eggy dengan senang hati.


"Rumahku ada di bawah jalan layang itu, Pak," jaeab anak itu terang-terangan kepada Eggy.


Dengan penuh perasaan iba, Eggy mulai merasa kasihan kepada anak itu. Sungguh dirinya tidak menyangka jika di luaran sana masih ada anak yang rela menjual bunga panas-panasan, jalan kaki sangat jauh, bahkan tinggal di tempat yang kurang layak. Dia pun tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang benar-benar hidupnya sangat susah.


Seorang anak kecil rela turun ke jalan demi mencari uang untuk bertahan hidup, untuk melanjutkan hidupnya. Hal ini membuat perasaan dan batin Eggy tersentuh. Dalam seketika pikirannya menjadi terbuka lebar mendengar kisah dari si anak itu. Alhasil Eggy menanyakan harga bunga tersebut padanya.


"Baiklah. Kalau begitu, berapa satu tangkai bunga itu?" tanyanya.


"Satu tangkai harganya 18.000 rupiah. Jika Bapak membeli satu paket bunga ini, harganya 160.000 rupiah, Pak. semakin murah," jawab si anak itu menawarkan.


"Baik, Pak. Sebentar. Mau dibungkus pakai plastik? Agar bunga-bunga itu tidak gampang rusak," tawarnya.


"Boleh," sahut Eggy.


"Tambah biaya 2.000 rupiah lagi, Pak."


"Bungkus saja," kata Eggy.


"Baik, Pak. Tunggu sebentar!"


Dengan penuh semangat, anak kecil itu langsung membungkuskan setangkai bunga tersebut untuk Eggy. Setelah selesai di bungkus, dia pun langsung memberikannya kepada Eggy.


"Ini, Pak. Sudah selesai dibungkus," ucap anak tersebut.


"Berapa totalnya? 20.000 kan, ya?" tanya Eggy memastikan.


"Iya, Pak. Benar."


"Baiklah. Tunggu sebentar, saya ambilkan dulu uangnya untuk kamu, ya. Tunggu!" ucap Eggy.


"Baik, Pak."


Dengan senantiasa anak kecil itu menunggu Eggy. Eggy langsung mengambil dompet dari sakunya dan segera membuka dompetnya untuk membawa uang dan membayar bunga tersebut. Tanpa berpikir lama, dia mengambil beberapa lembar uang berwarna merah muda untuk dia berikan kepada anak itu.


"Ini upah untukmu!" kata Eggy sambil memberikan beberapa lembar uang besar itu kepada anak kecil penjual bunga tersebut.


Sontak anak kecil itu terkejut melihat nominal uang yang di berikan oleh Eggy. "Pak. Bapak hanya membeli setangkai bunga lho. Bukan beberapa paket bunga," kata anak kecil itu.


"Ambil saja. Anggap bahwa kamu itu membantu menjawab pertanyaan dariku. Dan setiap jawaban diberi harga," kata Eggy.


"Maaf, Pak. Saya tidak terima uang dari Bapak. Bukan karena sombong, tetapi saya tidak ingin di kasihani oleh siapa pun. Saya butuh uang 20.000 saja, Pak," jelas anak itu menolak.


Lagi-lagi Eggy terdiam. Dia berpikir mengapa anak itu sampai menolaknya? Ini benar-benar di luar batas pikirannya.


"Baiklah! Jika kamu tidak mau menerimanya, aku akan beli semua bunga yang kamu bawa itu. Semuanya berapa?" tanya Eggy memberikan solusi.


"Semuanya ada 5 paket bunga, Pak."


"Jadi berapa?"


"160.000 rupiah dikali lima saja, Pak."


"Saya tahu. Jumlahnya jadi berapa?" tanya Eggy dengan pelan.


"Saya sulit menghitung, Pak. 750.000 rupiah saja, Pak. Saya diskon, tidak apa."


"Ya ampun. Kamu ini kok jualan kek gitu. Mana ada saya nawar dagangan orang. Saya bulatkan jadi 1 juta, ya. Sebagai bonus dan tip buat kamu," kata Eggy dengan senang hati.


"Apa tipnya tidak terlalu besar?" komplennya.


"Jangan banyak nawar. Terima aja kenapa, sih? Biar gak ribet juga, kan. Terima aja, ya. Kalau tidak di terima, saya batalkan untuk beli bunganya," kata Eggy mengancam.


"Eh, jangan, Pak! Baik, Pak. Boleh, boleh. Saya terima. Tidak apa-apa," sahut anak. kecil itu dengan pasrah.


Eggy langsung memberikan uang tunai senilai 1.000.000 rupiah kepada anak itu.


"Semoga uang ini dapat bermanfaat dan kamu bisa membeli sesuatu yang bermanfaat. Kalau bisa kamu ikut sekolah lepas atau sekolah umum yang gratis. Pendidikan itu sangat penting," jelas Eggy.


"Baik, Pak. Nanti saya akan coba cari. Kalau begitu, saya pulang dulu, ya, Pak. Terima kasih sudah membeli semua barang dagangan saya," ucapnya.


"Iya." Eggy tersenyum.


Anak kecil itu pun pergi berlari untuk pulang dengan riang gembira. Eggy tersenyum senang melihat anak itu sedang berbahagia.


"Kasihan sekali anak itu. Masih kecil sudah harus mencari uang dengan susah payah. Apakah di luaran sana ada banyak anak yang seperti itu, ya?" gumam Eggy sambil berpikir. Tak lama kemudian, dia pun menyimpan bunga-bunga tersebut di belakang mobil dan dia pun langsung bergegas pergi dari parkiran rumah sakit menuju tempat Bulan bekerja. Yaitu pergi ke restoran.


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.


Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.


Terima kasih, semuanya. :*