
Tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa bahagianya aku memilikimu dan apa yang aku rasakan padamu.
Jatuh cinta begitu dalam di setiap harinya disaat kita menjalani hari bersama.
Rasanya seperti drum dan stiknya.
Terpisah, namun bersatu dalam satu sympony.
Quotes Lani Nurohmah
------------
"Apa kamu sering begitu?" tanyaku padanya.
"Apanya?" tanya Eggy tidak mengerti dengan maksudku.
"Memberikan semua uang kembalian kepada para pedagang," jelasku.
"Tidak selalu. Hanya saja disaat aku merasa bahagia," jawabnya.
"Jadi sekarang kakak bahagia?" tanyaku.
"Ya. Setelah aku dapat menciummu lagi," jawab Eggy terkekeh.
"Tidak. Kenapa kamu tidak bertanya atau meminta ijin padaku dulu?"
"Tidak perlu."
"Why?"
"Karena kamu milikku."
"Itu memang keinginanmu."
"Tentu saja."
Aku tersenyum. Lalu menatapnya dalam-dalam, sampai aku tidak melihat apa yang ada di depanku. Sebuah batu besar dan aku tersandung olehnya. Dengan sigap, Eggy menarik tubuhku yang akan terjatuh.
"Hati-hati!" spontannya.
"M-maafkan aku!" sahutku.
Aku pun langsung memegang tubuhnya untuk menahan tubuhku. Lalu aku pun segera melepaskannya.
"Jangan terlalu lama memandangku!" kata Eggy memperingatkan.
"Kenapa?" tanyaku.
"Kamu akan suka," jawabnya sambil tersenyum.
Aku tertawa kecil. "Aku sudah menyukainya."
"Selesaikan saja hubunganmu dengan Raihan. Aku tidak ingin kau menyakitinya seperti ini," kata Eggy.
"Apa kau tidak merasa tersakiti?" tanyaku dengan penuh rasa bersalahku padanya.
"Tersakiti, jika aku harus merelakanmu pergi," jawabnya.
Mendengar kalimat itu dari mulutnya, membuatku merasa seperti seorang wanita yang paling beruntung.
Dia Eggy. Pria dingin dan menyebalkan, namun rasa sayangnya tak bisa aku bandingkan dengan apapun. Walau pun ia tahu bahwa aku pernah mengkhianatinya, tetapi ia tidak marah padaku, juga ia pun tidak mempermasalahkan hal itu. Justru ia membuatku sadar bahwa skandal itu adalah hal konyol.
Aku menyadari perbedaan dari diri Raihan dan Eggy. Mungkin aku hanya terobsesi untuk terus bersama dengan Raihan dan aku buta karena hal itu. Namun Eggy, dia terus melakukan apa dan membiarkan aku melakukan hal apapun. Termasuk mengkhianatinya lagi.
"Lalu perceraian setelah launching proyek terbarumu bagaimana?" tanyaku.
"Pilihan ada di tanganmu!" jawabnya.
"Kayak main kuis aja," kekehku.
"Lalu?" tambahku,
"Aku akan tetap menggungatmu, seperti apa yang sudah ku janjikan," sahutnya.
"Aku benar-benar bingung."
"Tidak perlu bingung. Kau masih muda, kau masih labil. Kau bisa memilih antara aku atau mantan kekasihmu,"
"Dan jika aku tetap memilih Raihan?" tanyaku ragu-ragu.
"Maka aku akan mundur!" jawabnya tanpa beban.
"Kamu akan menyerah begitu saja?" tanyaku.
"Aku tidak menyerah," jawabnya.
"Lalu apa?"
"Untuk apa memaksakan seseorang yang jelas telah memilih orang lain? Apakah itu egois?"
Aku terdiam dan berpikir sejenak. Pertanyaan itu membuatku sesak, aku merasa terpojokkan. Seketika aku menelan ludahku sendiri.
"Kurasa aku hanya mengagumimu saja, kak!" kataku.
"Benarkah?" tanyanya mulai panik.
"Ya. Karena aku merasa berat jika harus meninggalkan Raihan," jawabku dan itu membuat kami seketika terdiam. "M-maafkan aku. Ini bukan perasaan yang sesungguhnya. Mungkin aku menyukaimu karena aku kagum padamu," lanjutku menjelaskan.
Terlihat jelas dari raut wajah Eggy ia merasa kecewa padaku. Aku tahu aku selalu mempermainkan perasaannya. Aku tahu bahwa aku benar-benar jahat padanya. Bahkan diriku memang malu jika harus mengakui semua ini.
"Aku dapat melihatnya!" sahut Eggy.
Aku benar-benar tidak mengerti. Apa yang bisa di lihat olehnya? Dia melihat apa di dalam diriku?
"Kamu melihat apa?"
"Cintamu."
"Jujur saja, jika aku memang menyukaimu, pasti aku takkan menolak jika kamu sentuh. Namun nyatanya aku tetap menolakmu, kak!" ujarku dengan jujur.
"Jangan terlalu jujur," sahut Eggy lemas.
"Kenapa? Bukankah kejujuran itu lebih bagus?" tanyaku heran.
"Terkadang kamu harus melakukan suatu kebohongan di saat seseorang sedang merasa terluka," jawabnya lembut.
"Apa itu artinya dia sedang terluka olehku?" tanyaku dalam hati dengan menatap matanya.
"Ya. Kamu benar!" kataku.
"Apa dia dapat mendengarku?" batinku.
Setelah aku dan Eggy saling jujur dengan perasaan kami berdua, entah kenapa perasaanku sangat berat dan merasa bersalah setelah aku mengungkapkan semuanya.
Aku tidak merasa lega sama sekali dengan kejujuranku seperti itu, melainkan aku merasa sangat berat dan seakan aku ingin memeluknya dengan erat. Pasti dia merasa terluka dengan semua ucapanku, pasti dia merasa kecewa dengan kejujuranku. Apa aku naif? Apakah aku terlalu jahat padanya?
Sejenak kami terus berjalan dan saling terdiam. Aku tidak merasa nyaman dengan keadaan ini. Akupun mencoba kembali untuk mengajaknya bicara.
"Apa kamu ingin mencoba diam di taman kota sebentar, seperti yang lainnya?" tanyaku pada Eggy.
"Aku tidak suka keramaian," jawabnya.
"Ah, iya benar juga. Aku lupa. Padahal kakak sudah bicara sebelumnya," sahutku yang mulai salah tingkah.
"Mobilnya sebelah sana," ujar Eggy.
Eggy pun mempercepat langkah jalannya. Aku pun terus mengikutinya dari arah belakang. Perasaanku berubah menjadi tidak enak dan tidak karuan, rasanya aku menyesal telah mengungkapkan semuanya tanpa berpikir berulang kali.