The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Belanja Dulu



Terlihat Bulan dan Fadhla sedang berjalan berdua dan melihat-lihat makanan yang ada di supermarketnya. Kemudian dirinya mengambil beberapa mie instan, kemudian lanjut membeli susu kemasan, roti tawar, dan bahan makanan yang lainnya. Fadhla membawakan beberapa makanan buah-buahan ke arah Bulan, dan dia memperlihatkan buah apa yang tengah dinawanya.


"Hei, Bulan! Mau beli buah ini?" tanya Fadhla.


"Mm ... kamu aja deh. Aku gak mau makan," jawab Bulan.


"Kenapa?" Fadhla penasaran.


"Aku kurang menyukainya, Fadhla." Bulan kembali mendorong trolli belanjaannya, disusul dengan Fadhla.


"Hei, tunggu! Ya udah deh biar aku yang makan aja. Tapi nanti aku mau kamu makan juga," katanya.


"Enggak!" tolak Bulan dengan singkat.


"Harus pokoknya," paksa Fadhla.


"Enggak!" tegas Bulan.


Fadhla menghelakan napasnya. "Ya udah deh. Enggak jadi, iya. Gak masalah."


Mereka pun mulai mengantri di kasir untuk membayar semua belanjaan mereka. Antrian nampak sangat panjang, sehingga membuat Fadhla sangat bosan menunggunya. Setelah itu, Fadhla mencoba untuk berbicara dengan Bulan.


"Bulan," panggilnya.


"Ya. Bagaimana, Fadhla?"


"Aku mau beli cemilan di sana, ya! Di seberang sana," kata Fadhla.


"Boleh. Eh, tapi gak jauh, kan?"


"Enggak kok," sahut Fadhla.


"Seberang sana, kan?" tanya Bulan memastikan.


"Iya. Kelihatan kok dari sini," jawab Fadhla, "Jangan khawatir. Aku tidak akan meninggalkanmu, Bulan."


Bulan tersenyum. "Ya udah. Aku akan menunggu di sini sambil menunggu antriannya maju."


"Baiklah."


Fadhla pun melangkah pergi menuju sebuah toko cemilan di sana. Dia pun langsung memesan kentang goreng dan dua minuman dingin. Setelah itu dirinya duduk sambil menunggu pesanannya matang. Tak lama kemudian, tiba-tiba seseorang datang menghampiri Fadhla.


"Fadhla!" panggilnya.


Sontak Fadhla menengok ke arahnya dan mencoba mengingat wajah dari seseorang yang memanggilnya itu.


"Apa kamu mengingatku?" tanyanya.


"Eh, Raya. Soraya, ya?" tebak Fadhla sambil beranjak dan berdiri menghadap ke arahnya.


"Nah, bener."


"Apa kabar?" tanya Fadhla sambil menjabat tangan ke arahnya.


"Aku baik-baik aja kok," jawab Soraya sambil mencoba untuk memberi ciuman di pipi kanan dan pipi kiri milik Fadhla.


Setelah itu, mereka berdua duduk bersama dalam satu meja.


"Sudah lama tidak bertemu, ya! Pangling banget kamu sekarang," ucap Fadhla kepada Soraya.


"Kamu juga sama."


"Eh, kamu juga makin tampan dan makin beda. Aku gak nyangka bakalan ketemu kamu di sini. Karena sebelumnya kamu tinggal di luar negeri kan, untuk kuliah. Lalu tiba-tiba datang ke sini dan ini sebuah kejutan banget, sih. Kebetulan bamget aku bisa ketemu sama kamu di sini," kata Soraya cerita dengan panjang lebar.


"Iya. Udah lama banget aku gak bertemu dengan teman-teman satu sekolah dulu. Kangen banget rasanya," ucapnya.


"Heem, bener. Aku juga kangen banget. Kapan kita reuni, nih?" tanyanya.


"Gak tahu deh. Mesti hubungi teman yang lain juga," jawab Fadhla.


"Ya udah, deh. Aku boleh minta nomor ponselmu, kan? Biar gampang buat hubungin kamu nanti jika ada butuh dan keperluan," katanya sambil mengeluarkan ponsel miliknya.


"Boleh banget. Justru aku juga mau minta nomormu, malah udah keduluan sama kamu."


Soraya terkekeh. "Ya udah, tulis aja nomormu di ponselku. Nanti aku hubungi kamu."


"Oke deh."


Fadhla pun menuliskan nomor ponsel miliknya di hp milik Soraya. Kemudian setelah sudah selesai menuliskannya, dia memberikan ponsel tersebut padanya.


"Sudah, nih."


"Makasih, ya. Oh, iya. Kamu sedang pesan apa, sih?" tanya Soraya.


"Cemilan dan minuman," jawab Fadhla.


"Ah, gitu."


"Kamu akan ke mana?"


"Aku tadinya mau ke salon. Cuma mau beli minuman dan cemilan. Tahu sendiri kalau udah di salon itu pasti lama dan pasti suka bosan nunggu prosesnya," kata Soraya.


"Ah, iya. Bener juga sih."


"Iya. Maka dari itu, aku emang sengaja ke sini dan malah gak sengaja ketemu kamu," kata Soraya.


"Gak masalah. Kita bercerita akan nostalgia pada masa lalu," kata Fadhla kepada Soraya.


"Ciiieee, mau ngajak flashback, nih?" tanya Soraya.


"Gak masalah kan?"


"Enggak."


Akhirnya mereka berdua pun saling berbagi kisah pada masa lalu dan Fadhla melupakan Bulan yang sedang berdiri menunggu antrian untuk membayar makanannya dengan keadaan yang sedang hamil. Dan Fadhla melupakan kondisi Bulan pada saat itu.


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.


Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti pasti aku masukan kok. Jangan khawatir! :)


Terima kasih, semuanya. :*