The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Bertengkar



"Ada apa, Fadh ... la?" tanya Bulan seraya menengok dan dia pun terkejut melihat orang yang ada di hadapan mereka. Kaget.


"Kalian ke mana saja?" tanya seseorang itu.


"T-tadi kita makan di luar dulu. Lalu membeli beberapa cemilan untukmu," jawab Fadhla kepadanya.


Ya. Dia adalah Eggy. Sangat jelas bahwa Eggy benar-benar sangat marah kepada Bulan dan juga adiknya itu, karena sudah meninggalkan dirinya sendirian di rumah sakit tanpa memberitahunya terlebih dulu.


"Kalian bisa menungguku, bukan? Jangan egois deh." Eggy mulai menaikkan nada suaranya.


"Bukan egois, Eggy. Kami berdua lapar, jadi kami pergi ke luar sebentar. Lagian kita juga beli makanan untukmu juba kok. Buat kamu makan, karena kamu pasti belum makan juga, kan?" kata Fadhla dengan panjang lebar.


"Fadhla, aku memang belum makan, tapi seenggaknya kamu bisa menungguku, bukan? Kalian berdua ini ... ingat, ya! Bulan itu masih ber status istriku," kata Eggy mengingatkan statusnya kepada Fadhla.


Fadhla terdiam sejenak. "Oke. Maafkan aku, Eggy. Aku telah membawa istrimu pergi tanpa izin darimu."


Fadhla akhirnya mengalah untuk Eggy. Tak baik juga jika memangFadhla harus melawan Eggy dalam keadaan seperti ini.


"Kamu juga, Bulan! Kenapa kamu pergi tanpa izin dariku? Apa kamu masih menganggapku sebagai suamimu? Atau kamu memang sudah tidak menganggapku?" tanya Eggy dengan tegas kepada Bulan.


Bulan tersentak mendengar kalimat itu keluar dari mulut Eggy. Dia tidak menyangka bahwa Eggy akan semarah ini terhadapnya. Padahal dirinya hanya pergi dengan adiknya. Adik kandungnya. Dia pergi pun tidak macam-macam. Hanya membeli beberapa makanan saja dan makan bersama di luar dengan Fadhla. Tidak di pungkiri, bahwa Bulan memang melakukan kesalahan karena tidak memberitahu Eggy.


"Kak. Aku masih menganggapmu kok," sahut Bulan.


"Lalu mengapa tidak menungguku? Mengapa tidak meminta izin dan memberitahuku, Bulan?" tanya Eggy.


"A-aku ...." Bulan menggantung kalimatnya. Dia bingung sendiri dan tidak bisa menjawab pertanyaan dari Eggy.


"Sebaiknya kamu jauhi istriku, Fadhla. Kamu. membawa pengaruh buruk untuknya," kata Eggy kepada Fadhla.


"Apa?" tanya Fadhla terheran-heran. "Kamu bilang bahwa aku bawa pengaruh buruk untuk Bulan? Apanya yang buruk, hah?" Fadhla mulai menaikkan nada suaranya.


"Bulan menjadi istri yang tidak patuh. Dia bahkan berani pergi meninggalkanku tanpa izin," sahut Eggy.


"Bukan salahku jika memang dia tidak patuh. Kamu sendiri yang tidak bisa menjaga hubunganmu dengan Bulan. Kamu ingat, kenapa kamu berada di sini, hah?" tanya Fadhla.


"Aku menolong Adelia."


"Hei, kalian kenapa, sih? Sudahlah. Jangan berantem di sini. Malu, tahu. Ini rumah sakit," kata Bulan merasa risi.


Eggy sejenak terdiam. dia memang merasa sangat bersalah akan hal itu. Dia memang menyadarinya.


"Hei, sudahlah. Kalian berdua ini kenapa sih? Berantem mulu. Apa yang kalian perdebatkan? Untuk masalah aku dan Eggy, anggap ini sudah berakhir. Aku sudah mengakui kesalahan bahwa aku memang salah. Aku gak akan ulang ini lagi, Kak. Aku gak akan pergi tanpa izin kamu. Jadi, sekarang aku ingin pulang saja. Aku gak mau lihat kalian berdua berantem gitu aja di sini. Buat malu, tahu gak? Di izinin atau enggak, tapi aku tetep bakalan pulang. Aku mau pulang. Titik," kata Bulan dengan panjang lebar kepada Eggy. Kemudian dia memberikan keresek belanjaan yang tengah dia pegang kepada Fadhla. Kemudian dia pun berjalan pergi meninggalkan rumah sakit.


"Bulan! Hei!" teriak Fadhla. Namun Bulan tidak. mendengarkan.


"Bulan, tunggu!" teriak Eggy mengikuti Fadhla. Namun tetap sama saja. "Semua ini karena kamu, Fadhla. Kamu yang memulai ini," kata Eggy.


"Apa? Sekarang kamu menyalahkan aku juga, Eggy? Sumpah, ya! Kamu tidak menyadari kesalahanmu, Eggy?" tanya Fadhla menggelengkan kepalanya.


"Sebuah kesalahan jika aku mengenalkan Bulan kepadamu," sahut Eggy.


"Apa? Hei, asal kamu tahu, ya! Sebelum kamu mengenalkannya padaku, aku sudah mengenalnya terlebih dulu," kata Fadhla kepada Eggy. Lalu. dia pun menyimpan dua keresek tersebut di lantai. "Nih, ambil semua makanannya. Bulan masih mengingat akan kesehatanmu. Dia yang paling mementingkan dan mengkhawatirkanmu. Asal kamu tahu, Eggy. Bulan awalnya menolak untuk aku ajak ke luar. Tapi aku memaksanya, dan akhirnya dia mau. Jadi, Bulan tidak salah sama sekali," jelas Fadhla.


"Sialan!" umpat Eggy. Kemudian dia langsung mengepalkan tangannya dan mengangkat tangan kanannya untuk berniat untuk memukul wajah Fadhla, tetapi niatnya diurungkan.


"Mau pukul aku? Silakan!" tantang Fadhla.


"Jangan dekati Bulan lagi!" kata Eggy sambil menunjuk ke arah wajah Fadhla. Kemudian dirinya pergi meninggalkan Fadhla sendirian di sana.


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.


Untuk yang ingin tahu karyaku yang lain, silakan cek di akun WP @Bulan_lani. Cerita baruku berjudul 'Dia Rehema'. Ada juga aplikasi ******* dengan akun (comeback). Cerita terbaru "Pernikahan Rahasia", sudah dilihat 1-M joy. Silakan di cek.


Ada cerita kisah nyata tentang masa mudaku di aplikasi Kwikku berjudul Labil (plin-plan). Novel itu kisah nyata tentang masa mudaku di sekolah.


Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.


Terima kasih, semuanya. :*