The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 152



Terlihat Fadhla sedang berdiri di depan rumah Bulan. Dia bersandar pada mobilnya seraya memainkan ponsel di tangannya. Rupanya dia sedang berusaha menghubungi Bulan, tetapi Bulan tak kunjung menjawab pesan yang dikirimkan oleh dirinya.


"Ya ampun, Bulan. Kamu ke mana sih? Kenapa gak jawab-jawab pesanku?" gumam Fadhla pada dirinya sendiri. Kemudian dia langsung  mencobanya sekali lagi. Namun tetap tidak ada jawaban. Dia berpikir bahwa dia sedang bekerja dan mungkin sangat sibuk dengan pekerjaannya. Lalu dia mencoba untuk meneleponnya kali ini.


"Ayolah, angkat! Ayo!" gumam Fadhla.


Di balik itu, Bulan masih berkumpul dengan yang lainnya. Dia mendengarkan gurauan dan ikut bergosip dengan yang lainnya. Sangat asyik. Namun seseorang mendengar suara nada dering ponsel Bulan. Dia pun memberitahukan hal itu padanya.


"Hei, Bulan!" panggil Melda kepadanya. Bulan menengok dan menjawabnya dengan berdehem.


Lalu Melda berkata, "Ada telepon masuk tuh! Angkat dulu gih! Kali aja penting."


"Benarkah?" tanya Bulan tidak mempercayainya. Lalu dia segera melihat nama kontak yang terpampang di layar ponselnya.


"Siapa dia, Bulan? Pacarmu, ya? Kamu sudah punya pacar ternyata," ucap Melda kepada Bulan.


Kalimat itu terdengar oleh telinga Angga. Seketika dia menengok ke arah Melda dan juga Bulan. Memastikan bahwa apa yang dikatakan oleh Melda adalah benar, yaitu Bulan sudah mempunyai kekasih. Namun Bulan mengelak hal itu kepada Melda.


"Apaan sih? Dia bukan pacarku. Hanya teman doang," kata Bulan pada Melda.


Seketika mendengar jawaban dari Bulan, Angga merasa sangat senang. Karena itu adalah jawaban yang diharapkan oleh Angga selama ini. Dia pun dapat bernapas dengan sangat lega untuk saat ini.


"Benar, bukan? Jangan berbohong padaku, Bulan. Jujur saja," Melda tetep kukuh tidak percaya dengan Bulan.


"Tidak, Melda. Kamu kenapa sih? Aneh deh," kata Bulan. Kemudian dia langsung menjawab telepon tersebut.


 


 


*Mode telepon


"Halo, Fadhla," sapa Bulan dengan lembut.


"Mengapa kamu angkat teleponku dengan lama, Bulan?" tanya Fadhla dengan nada kesal.


"Maaf, aku tidak mendengar suara nada dering ponselku, Fadhla. Ini. juga dikasih tahu oleh temenku, Melda. Jadi aku baru angkat teleponnya sekarang," jelas Bulan kepada Fadhla.


"Ah, begitu. Baiklah. Bukan masalah lagi. Oh, iya. Kamu kenapa saat ini tidak ada di rumah?" tanya Fadhla.


"Memangnya kenapa? Apakah kamu datang ke rumahku?" Bulan bertanya balik kepada Fadhla.


"Ya. Aku datang ke rumahmu, Bulan. Aku dsri tadi menunggumu di depan rumah. Aku mengirim pesan padamu, tapi kamu tidak membalasnya. Aku telepon juga, tidak diangkat juga," eluh Fadhla kepada Bulan.


Bulan merasa tidak enak dengan Fadhla. Akhirnya dia meminta maaf kepada Fadhla atas ketidak nyamanan itu.


"Maafkan aku, Fadhla. Aku tidak bermaksud untuk bersikap cuek padamu. Tapi aku di sini masih bekerja. Aku kerja lembur, karena setiap weekend, restoran tutup malam sekali. Jadi aku kerja extra di sini," jelas Bulan kepada Fadhla.


"Jadi setiap weekend kamu akan kerja lembur?" tanya Fadhla memastikan.


"Iya, Fadhla. Benar. Kerja lembur dua kali dalam seminggu sih," jawab Bulan kepada Fadhla.


"Ah, begitu. Yasudahlah. Kalau saat ini kamu sudah pulang atau belum?" tanya Fadhla.


"Sudah kok. Aku masih di sini karena habis makan bersama dengan pegawai yang lainnya. Lalu, sekalian istirahat sejenak juga," jawab Bulan kepada Fadhla.


"Mau aku jemput, gak?" tawarnya.


"Apa gak merepotkan? Sebentar lagi juga aku akan pulang," kata Bulan, mencoba untuk menolak tawaran Fadhla dengan sangat halus.


"Enggak apa-apa kok. Aku akan menjemputmu pokoknya. Tempat kerjamu ada di mana?" tanya Fadhla memaksa.


"Akan aku kirimkan pesan untuk alamatnya," jawab Bulan.


"Baiklah. Aku tunggu pesan kamu Kalau begitu, aku akan menutup teleponnya," ujar Fadhla.


"Oke."


Akhirnya Fadhla pun menutup telepon tersebut. Kemudian Bulan langsung mengirimkan pesan mengenai alamat tempat kerjanya kepada Fadhla.


"Hei, kamu sedang apa?" tanya Melda yang penasaran dengan Bulan.


"Gak kenapa-napa kok. Cuma mengirim pesan doang kepada seseorang," jawab Bulan apa adanya.


"Jangan- jangan itu doi kamu lagi." Melda tetap kukuh dengan pandangannya kepada Bulan.


"Astaga, Melda. Kamu kenapa sih? Apa jangan-jangan kamu iri padaku, karena aku punya temen yang perhatian? Hahaha," goda Bulan kepada Melda.


"Ih, apaan cemburu? Ngapain cemburu? Kagak, ya. Aku gak cemburu sama sekali sama kamu. Gak peduli kamu mau dekat sama cowok mana pun," kata Melda dengan cetus.


Bulan tersenyum. "Ciieee, ada yang marah nih, ya! Jangan marah-marah. Kalau gak ada doi, masih ada Didit yang sedang galau karena baru saja menjomlo ria," kata Bulan semakin menggoda Melda.


"Jangan msrah-marah. Jelek, tahu. Kalau kamu marah-marah mulu entar susah nyari pacar lho. Karena cowok yang deket kamu suka digalakin sama kamu," kata Bulan yang tak henti-hentinya menggoda Melda.


"Hei, apa yang kamu bilang? Mengapa padaku?" tanya Melda tersinggung.


"Iya, makanya kamu jangan marah-marah. Nanti susah cari pacar," jawab Bulan.


"Ish. Kamu mendo'akanku hal-hal jelek. Jahat banget sih kamu, Bulan." Melda cemberut padanya.


"Enggak deh, enggak. Aku hanya bercanda, Melda. Jangan marah, ya!" kata Bulan mencoba untuk tidak menggodanya lagi.


"Oh, iya. Yang telepon kamu itu siapa?" tanya Melda masih penasaran.


"Dia temenku. Memangnya kenapa? Kok kamu penasaran banget, sih?" tanya balik Bulan pada Melda yang mulai curiga.


"Ya iya penasaran. Kali aja itu pacarmu," kata Melda.


"Kalau pacar atau pun bukan, memangnya kenapa?" tanya Bulan kebingungan.


"Kalau bukan pacarmu, akan aku deketin. Dia cowok, bukan?"


"Ya. Cowok. Astaga ... kamu ini kenapa, Melda? Saking bosennya men jomlo, ya? Hahaha."


"Eh, sialan, ya kamu. Ya kali aja berjodoh gitu lho."


"Oke deh, oke. Terus kalau pacarku kenapa?" tanya Bulan masih penasaran dengan jawabannya.


"Kalau dia pacarmu, aku akan mendekati Pak Angga. Kali aja mau jadi pacarku. Hahaha," kata Melda sambil berbisik.


"Ya ampun! Melda, kamu ini dasar, ya. Sampe. atasan sendiri digaet."


"Ya gak apa-apa dong! Kan kalau jodoh kita gak tahu lho."


"Iya, iya. Aku tahu. Kalau jodoh memang gak akan ke mana."


"Ya, makanya. Jadi, yang di telepon itu siapa? Pacarmu atau bukan? Serius deh. Jangan pake bohong-bohongan segala," kata Melda mulai. gregetan.


"Temenku. Dia temenku, Melda. Aku gak punya pacar," sahut Bulan dengan apa adanya.


Jelas Bulan tidak memiliki pacar, karena yang dia miliki adalah seorang suami. Bukan pacar lagi.


"Oke deh. Kalau begitu, aku akan mencoba dekati temanmu," kata Melda secara terang-terangan.


"Serius?" tanya Bulan memastikan.


"Serius, Bulan. Kamu dekati Pak Angga saja. Aku rela. Asalkan temanku menjadi dekat denganku," kata Melda.


"Astaga. Kamu ini!"


Bulan menggelengkan kepalanya. Dia gedek dengan apa yang ada di dalam pikiran Melda. Namun Bulan mencoba untuk memahami dengan apa yang di katakan olehnya. Mungkin dirinya sudah kelewat kesepian. Maka dari itu, dia ingin segera mendapatkan pasangan hidup. Bulan memahaminya.


 


 


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.


 


 


Untuk yang ingin tahu karyaku yang lain, silakan cek di akun WP @Bulan_lani. Cerita baruku berjudul 'Dia Rehema'. Ada juga aplikasi ******* dengan akun  (comeback). Cerita terbaru "Pernikahan Rahasia", sudah dilihat 900ribu joy. Silakan di cek.


 


 


Jika ingin mengenalku lebih de


kat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.


Terima kasih, semuanya. :*