The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 96



"Ya seperti hari ini suara suling, besoknya suara calung, besoknya lagi suara yang lain. Semacam itu. Dan clienku berkata, dia memang sudah terbiasa mendengar hal itu. Seperti hiburan setiap malam. Kalau dia terbangun tengah malam, pasti suara itu akan terdengar dan membuatnya susah untuk tidur kembali. Karena semakin dia mencoba untuk tidur, suara itu semakin keras, juga terasa dekat. Seperti tepat berada di samping atau di depannya. Dan hal itu membuatnya sangat terganggu." jawab Eggy.


"Apa dia tidak merasa takut, Kak? Kenapa dia tidak pindah rumah saja?" tanyaku.


"Pindah rumah pun sekarang harganya pada mahal-mahal. Tanah di sana cukup murah sih. Jadi menurutku, dia bertahan untuk menghemat uang juga."


"Ah, begitu. Lalu bagaimana dengan Kakak. yang aku tinggali sebelumnya?" tanyaku.


"Kenapa bertanya padaku? Kan kamu yang tinggal sendiri di rumah itu," sahutnya.


"Ah, iya. Bener juga."


Aku malah mempermalukan diriku sendiri dengan melontarkan pertanyaan yang seperti itu.


"Lanjut denganmu, Bulan. Kamu mulai ceritakan apa kisah serammu."


"Dulu waktu sekolah, aku itu seorang panitia. Aku OSIS di sekolah."


"Hebat! Kamu sangat aktif berarti ya di sekolah," kata Eggy.


"Begitulah, Kak. Lalu aku mengadakan semacam kemah saat penerimaan siswa/i baru. Kemudian, pada saat malam tiba pada siswa/i itu tidur sekitar jam 10 malam. Lalu dibangunkan lagi pada jam 12 malam untuk melakukan api unggun dan nyanyi untuk api unggun. Kakak tahu, 'kan, kalau nyanyian api unggun di tengah malam dengan keadaan mengantuk itu jadi paduan suara orang-orang sedikit agak menyeramkan. Apalagi ditambah dengan menyanyi secara serentak dan ditambah musik pula. Jujur saja, saat itu dilakukan aku merinding. Sampai akhirnya, di tengah-tengah lagu selesai ada seorang murid yang kesurupan. Mungkin karena pikirannya kosong. Karena kan mereka semua dipaksa untuk dipaksa bangun, mereka harus tahan rasa kantuk mereka. Otomatis, ada banyak yang melamun juga. Mungkin dari sana terjadinya orang bisa kerasukan," ceritaku dengan panjang lebar.


"Waktu tidur jam 10 dan dibangunkan lagi jam 12?" tanya Eggy.


"Iya, Kak."


"Yang kesurupan cuma 1 orang saja?" tanya Eggy lagi.


"Heem," jawabku.


"Lalu bagaimana dengan orang yang kesurupan itu? Lalu acara api unggun itu, bagaimana?"


"Acara api unggunnya dilaksanakan sampai selesai, walaupun perasaan sang pelaksana api unggun itu takut dan bergetar. Namun mereka menyelesaikannya kok, dan untuk orang yang kesurupan itu, dia dibawa ke UKS. Orang-orang menjadi rusuh tidak jelas, tetapi guru pembina di sana mencoba untuk menenangkan mereka, Kak. Sampai akhirnya semua murid tenang dan dapat diatur seperti sebelumnya. Aku mencoba mengintip ke UKS, tetapi guru pembina melarangku untuk masuk ke sana. Aku juga gak tahu apa yang mereka lakukan di dalam," jelasku.


"Lalu, sekarang temanmu bagaimana?"


"Setelah kejadian itu, dia memilih untuk keluar dari sekolah, Kak. Dia pindah sekolah ke sekolah lain dengan syarat tidak ingin ikut kemah atau menginap di sekolah dalam acara apa pun," kataku.


"Wajar saja sih. Mungkin dia trauma."


"Tapi, Kak. Katanya setelah dia mengalami kesurupan itu, dia malah jadi anak indigo. Bisa melihat makhluk-makhluk gitu," ujarku berbisik pada Eggy.


"Lha, kok bisa?" tanya Eggy kebingungan.


"Mana aku tahu, Kak. Dia sempat depresi dan stres dengan ke-indigoannya. Jiwa dia tergsnggu, mentalnya terganggu," jawabku.


"Dari mana kamu tahu?" tanyanya.


"Ya dulu kan banyak gosip, Kak. Jadi satu sekolah pada tahu tentang dia. Walaupun dia adik kelasku, tetapi aku bisa tahu tentangnya dari gosip anak-anak di sekolah. Nama dia seketika jadi terkenal sih, Kak," jawabku.


"Yup."


"Cukup menarik juga kisahmu, Bulan. Ada cerita lain lagi?"


"Ada sih, masih sama tentang hal kemah di sekolah. Namun ini pada masa pelantikan OSIS."


"Kamu yang dilatik atau melantik calon OSIS baru?"


"Aku yang melantik para calon," banggaku.


"Oke."


"Eh, tapi kan ini bagian Kakak yang cerita. Kenapa aku harus dua kali cerita?" tanyaku.


"Ya gak apa-apa. Kan katanya kamu susah tidur," jawabku.


"Kalau begitu berarti sama aja aku bercerita untuk membuat Kakak tidur," sahutku.


"Hahaha. Benar juga, ya."


"Gak adil."


"Yaudah, nanti lagi kita bercerita ya."


"Kenapa?"


"Sudah malam. Waktunya tidur. Besok kita akan mengantar Fadhla untuk pergi dan pulang. Dia harus mengurus urusan perusahaan, dan aku pun harus bangun pagi untuk itu," kata Eggy.


Aku sedikit kecewa mendengar kalimat darinya. "Baiklah, Kak."


Benar apa yang diucapkan Eggy. Dia harus bangun pagi dan mengantar Fadhla pulang untuk urusan perusahaannya yang sedang bermasalah. Aku tidak mungkin menahannya demi kepentinganku sendiri, apalagi harus memaksanya untuk melakukan apa yang aku inginkan. Kedengarannya aku mulai egois saat melakukan hal itu padanya.


"Kakak tidur saja terlebih dulu. Nanti aku menyusul. Aku mau membereskan sampah cemilan kita dulu."


"Simpan di tempat sampah saja dulu, dekat dengan pintu. Nanti besok aku akan membuangnya," kata Eggy.


"Baik, Kak. Sisa cemilannya simpat di meja dulu saja. Besok masukan ke kulkas. Soalnya sudah malam, kamu jangan keluar dari kamar sendirian."


"Iya, Kakak." Aku tersenyum mendapatkan perhatian darinya.


"Selamat malam, Bulan."


"Selamat malam kembali, Kakak."


Dia pun bergegas untuk tidur. Aku mulai membereskan sampah cemilan untuk dimasukan ke tong sampah dan sisa makanan cemilan ke meja sana. Setelah itu, aku mencoba untuk membuka pintu sedikit demi sedikit. Kemudian aku melihat ke arah kamar Fadhla. Aku sangat penasaran dengan seseorang yang menciumku tadi saat gelap. Batinku meyakini bahwa itu Eggy. Tetapi dia tidak melakukannya. Dia malah ling-lung ketika aku menanyakan hal itu, itu artinya bukan dia. Apa memang benar Fadha? Pria yang tinggal di sini hanya Fadhla dan Eggy saja. Jika memang benar Fadhla, mengapa dia melakukan hal itu padaku? Sedangkan dirinya tahu bahwa aku masih berstatus sebagai istri dari kakaknya sendiri. Kuharap Fadhla tidak melakukan hal yang membuatku dan Eggy berpisah, kemudian hubungan mereka sebagai kakak dan adik retak hanya karena aku. Aku tidak menginginkan hal itu terjadi.