
"Hai ... maaf lama, aku kebingungan mencari dapurnya ada di mana," ucapku tersenyum sambil menghampiri mereka. Aku sangat ragu untuk dapat berjalan ke arah mereka. Semoga perasaanku dapat menahan semua pedihnya hidup ini.
"Tidak apa-apa. Jangan repot, nak!" sahut nenek sungkan.
"Tidak, nek. Ini memang salahku," ujarku.
Aku pun lekas membersihkan lantai yang sudah kunodai dengan sedikit masakan yang kutumpahkan.
"Aku akan membersihkan lapnya."
"Jangan, Nak. Biar nanti saja. Duduklah!"
"Ah, tidak, Nek. Jangan! Itu terlalu merepotkan Nenek. Jangan khawatir, biar aku saja."
Aku pun langsung berjalan kembali ke arah dapur seraya membawa lap yang kotor itu.
"Hal yang tak kusangka, akhirnya terjadi juga." Aku menghelakan napas panjangku.
Tanpa disadari, ternyata Eggy mengikutiku. Ia pun langsung menarik lenganku dengan kasar. Membuat lenganku memerah dan membekas gambaran jemarinya.
"Lepaskan, kak. Ini sakit!" ucapku merintih. Sungguh! Dia benar-benar membuatku terkejut setengah mati.
Eggy pun melepaskannya.
"Kenapa kamu bilang ' suamiku' dihadapan nenek? Bukankah kamu ingin segera bercerai denganku?" tanya Eggy dengan nada marah.
"Itu refleks," jawabku singkat. Karena aku bingung harus menjawab apa.
"Apa kata cerai di hadapan nenek itu refleks?" tanyanya lagi.
"Itu nyata," jawabku ketus seraya memalingkan wajahku ke arah lain.
"Lalu kenapa kamu bersikap seolah-olah menjadi istriku?"
"Aku memang masih istrimu."
"Tapi kita akan bercerai," bantahnya.
"Aku tahu."
"Apa yang kamu lakukan? Membuat nenek suka padamu, hah? Mencari perhatiannya dengan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Eggy kembali.
"Maksud kakak apa sih? Toh aku melakukan hal yang seharusnya kulakukan," jawabku membela diriku.
"Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk bersandiwara dihadapan Nenek?" Rupanya amarah Eggy semakin memuncak, "kesalahan terbesar dengan membawamu ke sini," ujarnya lebih lanjut.
"Apa? Apa aku sebuah kesalahan?" tanyaku tersinggung.
"Ya. Aku telah salah untuk menikahimu. Seharusnya aku menikahi wanita pilihanku sendiri. Bukan kamu!" jawabnya seperti tak bisa menahan rasa amarahnya. Emosinya sudah meluap menjadi amarah besar.
"Akulah wanita pilihanmu, kak. Aku! Aku wanita yang kamu pilih sebagai istrimu!" sahutku dengan memegang kerah jas yang digunakan oleh Eggy. Rasanya aku ingin menangis di hadapannya. Aku tak bisa menahan tangisanku lagi. Ini benar-benar menusuk sampai ke jantungku.
"Itu karena kamu berhutang padaku. Maka dari itu aku terpaksa menikahimu," sahutnya.
Kalimat itu, membuat dadaku sesak. Kalimat itu benar-benar menusuk perasaanku, ia kembali mengingatkan akan pada posisiku yang seharusnya.
Aku melepaskan tanganku yang sedang memegang kerah jasnya. Aku terdiam. Mataku mulai berkaca-kaca. Aku sangat terluka dengan pertengkaran ini.
"Mengapa aku labil, kak?" Air mataku pecah seketika di hadapannya. Aku menyadari, bahwa kini aku mulai takut kehilangan Eggy.
"Janganlah menangis di hadapanku!" perintahnya dengan nada angkuh. Namun aku menutup wajahku dan tetap menangis.
"Kubilang berhenti menangis!" perintahnya menaikan sedikit nada suaranya.
"Seandainya keluargaku tak terlibat denganmu, aku tak ingin seperti ini, Kak. Jika aku dapat memilih, lebih baik aku miskin dan tak berpendidikan dari pada harus hidup menderita dan penuh luka ini," rintihku menatap wajah angkuhnya itu.
Eggy sejenak menatapku dengan penuh rasa iba. Kemudian ia pun sesegera mungkin memeluk tubuhku.
"Maafkan aku!" ucap Eggy dengan lembut, ia menyesal dengan pertengkaran yang di lakukannya sendiri, "maafkan aku, Sayang. Aku hanya emosi," lanjutnya.
Aku terus menangis tanpa henti.
"Aku akan mengaku," kataku sambil terisak.
"Apa?" tanya Eggy melepaskan pelukannya.
"Selama ini aku bermain curang di belakangmu. Aku selingkuh dengan Raihan, manager perusahaanmu yang merupakan mantan kekasihku!" jelasku padanya.
"Aku sudah tahu," sahut Eggy.
"Ka-kamu mengetahuinya?"
"Ya. Semenjak awal aku sudah curiga," kata Eggy.
Aku semakin menangis. Entah kenapa tangisanku semakin menjadi ketika mengetahui semua itu.
"Kenapa kamu menangis lagi? Berhentilah menangis! Jika kamu seperti itu, rasanya aku ingin segera menidurimu, Bulan." Kata Eggy.
Spontan aku menatapnya tajam, "apa maksudnya itu?" tanyaku tak mengerti.
"Iya maksudnya ingin tidur bersama," jawabnya. "Sebaiknya kita lanjutkan bicara di suatu tempat!" kata Eggy sambil merangkulku.
"Ke mana?"
"Jangan bawel!"
Ia pun mengajakku ke halaman rumah, lalu ia menyuruhku untuk duduk di bangku luar.
"Duduklah dulu!" perintahnya. Aku pun duduk.
"Apa kita akan mengobrol di sini?" tanyaku.
"Tunggu di sini! Aku akan pamit kepada Nenek. Aku tidak ingin dia melihatmu dengan mata bengkak seperti itu," sahutnya tanpa menjawab pertanyaanku seperti biasanya.
Aku pun menganggukkan kepalaku, berkata iya dengan bahasa isyarat. Walau pun sering merasa kesal terhadapnya karena ia tidak selalu menjawab pertanyaanku.
Lantas, Eggy masuk kembali ke dalam rumah. Iapun bertemu kembali dengan neneknya. Ia bertanya :
"Ada apa? Apa kamu bertengkar di dapur?"
"Tidak, Nek. Aku akan segera pergi. Nenek jaga kesehatan dengan baik ya," sahut Eggy sambil memeluk tubuh neneknya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Nenek.
"Kami akan kembali, nek," jawab Eggy.
"Mengapa?"
"Maaf, pertemuan ini adalah pertemuan yang buruk. Seharusnya aku tidak mengatakan tentang perceraianku dengan Bulan," Jelas Eggy merasa menyesal.
"Tidak apa-apa, sayang. Nenek mengerti dengan keputusanmu. Kuharap kamu bisa mempertimbangkannya kembali," sahut neneknya.
"Terima kasih, nek. Aku pamit pulang!" Ujar Eggy sambil tersenyum.
Nenek pun membalas senyumannya. Lalu Eggy kembali menghampiri Bulan yang sedang duduk di bangku depan rumah sendirian.
"Bagaimana dengan nenek?" tanyaku penasaran. Eggy tak menjawab pertanyaan dariku.
"Apa kamu masih mampu berjalan?" tanya Eggy.
"Kurasa tidak!" jawabku tersenyum.
"Lagi-lagi tak menjawab pertanyaanku!" batinku.
Tanpa bicara apa pun lagi, Eggy langsung menggendongku. Aku pun terkejut dan spontan berteriak.
"Aaaaaa ...!" teriakku singkat. Lalu aku pun tertawa.
"Ssttthh ... Jangan berisik!"
"Turunkan aku!" kataku sambil terkekeh.
"Tidak." sahutnya.
"Ayo turunkan!"
"Tidak."
Eggy tersenyum padaku. Aku menikmati senyuman itu, pertama kalinya aku melihat Eggy tersenyum seperti itu. Senyuman tanpa beban, senyuman bahagia, senyuman rasa senang dan itu termasuk senyuman ikhlas.
"Senyummu indah, Kak." Pujiku.
Eggy pun menatap ke arahku. Pandangan kami saling mengunci satu sama lain. Kemudian tiba-tiba perlahan ia mencium bibirku dengan lembut tanpa bertanya apa pun.
Perasaan ini kembali berdebar tak karuan. Rasanya aku benar-benar merasakan jatuh cinta terhadapnya.
Moment ini mungkin aku takan bisa melupakannya. Karena mungkin juga hari esok, aku tidak akan menemukan hal ini lagi. Mungkin juga hari esok sikap Eggy kembali seperti semula lagi. Karena selain pria pintar dan tampan, ia juga pria yang plin-plan. Seperti yang kuucapkan pada awal, dia seperti memiliki kepribadian yang ganda. Huhuhu...