
Keesokan harinya aku dan Eggy masih saling diam. Hari kemarin, aku dan Eggy membahas sangat lama tentang masalah perceraian itu. Memang hal itu bukan main, maka dari itu pembahasan kemarin sangatlah panjang dan lama. Sebenarnya aku sendiri merasa berat akan hal ini, tetapi mau bagaimana lagi? Semuanya sudah menjadi kacau, mungkin memang ini lah jalan yang aku pilih, mungkin ini lah jalan takdir kehidupanku dengan Eggy. Aku tidak tahu, apakah aku akan bertahan atau tidak hidup dengan Eggy? Mungkin Tuhan pun akan memberikan jalan yang terebaik untuk aku dan Eggy.
Aku menghampiri Eggy dengan tatapan yang serius.
"Lalu kita akan bagaimana sekarang, Kak?" tanyaku yang mulai bingung dengan semua masalah ini.
"Aku akan tetap melakukan perceraian palsu," ucap Eggy padaku.
"Kak. Apakah kamu serius?" tanyaku.
"Ya. Lalu kamu maunya bagaimana, hah? Jika kamu ingin benar-benar berpisah, apakah kamu bisa? Apakah kamu mampu? Apakah kamu rela?" tanya Eggy.
Aku terdiam mendengar semua pertanyaan darinya. Pertanyaan itu sangatlah sulit.
"Lalu bagaimana ke depannya, Kak? Jika aku masih menjadi istrimu, bagaimana kalau ketahuan?"
"Kamu tidak akan ketahuan. Percayalah!" ucapnya.
"Lalu bagaimana denganku nanti?" cemasku.
"Apa?"
"Setelah kakak menikah dengan wanita lain, lalu bagaimana denganku?" tanyaku.
"Sudah aku bilang, aku akan tetap bersamamu. Namun itu tidak setiap hari. Aku akan menjengukmu sesekali secara diam-diam."
Sejenak aku berpikir. Rasanya ini tidaklah adil, lalu rasanya seperti aku menjadi selingkuhan Eggy. Akulah selur Eggy. Kenapa menjadi seperti ini?
"Bagaimana, Bulan?" tanyanya.
"Kakak pernah bicara kan padaku, kalau misalkan saat kakak sudah menikah lagi, aku tidak ada perasaan apa pun dan merelakan kakak dengsn wanita lain, maka kakak akan menceraikanku dengan sungguh-sungguh. Jika saat perceraian palsu itu, aku merasakan sesuatu dan aku pun menyadari perasaanku terhadap kakak, kakak akan berusaha menceraikan wanita itu sampai usaha kakak kembali lancar dan melunasi semua modal usaha kakak? Benar, kan?"
"Ya. Aku memang mengatakannya."
"Kamu benar-benar menderita?"
"Setelah apa yang ibumu katakan padaku, aku merasakan menderita," sahutku.
"Maafkan aku, Bulan. maafkan ibuku yang selalu menghinamu. Aku sudah mencoba membelamu dan menjelaskan kepadanya tentangmu. Tetapi kurasa itu tidak berpengaruh padanya. Ibuku memang seperi itu. Dia memang angkuh. Maafkan aku. Aku akan tetap bersamamu," sahut Eggy mencoba untuk membujukku agar aku dapat mempercayainya.
"Lalu siapa yang akan kakak pilih?" tanyaku padanya.
"Jangan kek anak kecil deh. Kamu itu sudah dewasa, kamu pasti tahu siapa yang akan aku pilih. Kamu jangan bamyak bertanya tentang hal itu. Kamu tidak boleh berpikir tentang itu lagi, apalagi sampai mempertanyakan apa yang baru saja tanyakan. Itu sangatlah tidak pantas."
"Berarti ibumu juga begitu. Tidak pantas mengatakannya," sindirku.
"Jika kamu tahu jawabannya, kamu tidak perlu bertanya lagi. Jika kamu ingin memojokkanku, silakan saja!" ucap Eggy. Lalu dia pun pergi dengan membawa koper ke kamarnya. Lalu, aku pun segera menurup pintu rumah dan menguncinya. Setelah itu, aku pun membawa sebagian barang ke dalam kamar.
"Apakah kakak marah saat aku berbicara seperti itu? Apakah dia tersinggung dengan apa yang aku katakan padanya? Apakah aku salah?" gumamku bertanya-tanya tentang dia.
Sampailah aku di dalam kamar, terlihat Eggy sedang istiratat dan berbaring di atas kasur. Wajar saja jika dia kelelahan, karena perjalanan pun cukup jauh dan melelahkan. Apalagi tanpa berhenti di tengah jalan dan istirahat di jalan. Dia tetap terus menyetir tanpa henti. Setelah pertikaian itu, aku merasa bahwa aku sangatlah payah. Benar-benar payah. Sampai akhirnya aku merasa bahwa masalahku itu tidak seberat apa yang Eggy rasakan. Mungkin dia juga merasa sangat berat dengan masalahnya sendiri. Aku mencoba untuk berbaring di sampingnya. Aku. menatap ke arahnya. Namun sayang sekali Eggy sudah memejamkan matanya terlebih dulu. Aku pun sangat merasa bersalah dan aku mencoba untuk mengaku dan mengungkapkan apa yang aku rasakan padanya.
"Kak, apakah kamu masih bangun?" tanyaku secara berbisik. Aku tidak ingin mengganggunya. Namun tidak ada jawaban dari Eggy. Mungkin dia memang sudah tertidur.
"Kak, apakah kakak sudah tidur ya? Kurasa kakak memang sudah tidur. Baiklah, aku hanya ingin meminta maaf saja pada kakak. Aku mengakui bahwa aku memang labil terhadap masalah ini. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak mempunyai penasehat di hidupku, kamu tahu, aku tidak dianggap di keluargaku, begitu pun aku tidak dianggap oleh keluarga kakak. Yang menganggapku sangat penting adalah kamu, Kak. Jadi, aku memang tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain kakak," ucapku dengan panjang lebar sambil menangis tersedu-sedu.
"Jika aku bercerai dengan kakak, mungkin aku akan semakin menderita. Aku tidak bisa menjalani kehidupan dengan banyak olokan dan cacian dari mulut-mulut para tetangga. Aku tidak akan sanggup, Kak. Benar-benar tidak sanggup melakukan hal itu. Seandainya aku menikah dengan Raihan sekali pun, aku tetap tidak akan tahan. Mungkin keluarga Raihan pun akan mengolokku juga. Membenciku juga. Aku tidak ingin dipandang buruk dengan status janda dari seorang pengusaha muda yang baru saja bangkrut, dan langsung menikahi seorang pria yang cukup mapan. Apa yang akan dikatakan oleh orang-orang kepadaku? Andai saja jika perusahaan kakak tidak mendapatkan masalah, mungkin kakak akan setia padaku. Kakak pun tidak akan menikah dengan wanita lain. Kakak. ...," lanjutku melanjutkan semua ungkapan yang dari lubuk hatiku kepadanya. Aku tak henti-hentinya menangisi hal itu. Penderitaanku menjadi semakin terasa saat aku mengingat semua kepahitan yang aku rasakan selama ini kepadanya. Ini benar-benar membuatku merasa sangat putus asa. Aku putus asa akan kehidupanku yang seperti ini. Apakah aku harus mengakhiri hidupku, agar aku tidak merasakan kepahitan dan penderitaan ini? Dengan bunuh diri, apakah aku akan merasa aman dan tidak tersakiti lagi?
Tanpa aku sadari, di saat aku masih menangis, Eggy membukakan matanya secara perlahan. Kemudian dia menengok ke arahku dan menatapku.
"Bulan," panggilnya berbisik.
"K-ka-kakak," sahutku melotot dan terkejut. Sontak aku terkejut mendengar suaranya. Spontan aku bangun dan terduduk, kemudian menghapus air mataku. Aku merasa sangat malu dengan diriku sendiri setelah beebicara seperti itu dengan posisi Eggy yang tiba-tiba bangun seperti itu. Apakah dia berpura-pura tidur saat aku mengatakan semua isi hatiku padanya? Jika memang begitu, dia sangat jahat. Aku sangatlah malu dengan kejadian ini. Eggy benar-benar menyebalkan. Ah, sial. Apa yang harus aku lakukan setelah ini? Aku benar-benar sangat malu dibuatnya.