
Akhirnya tujuanku pun tercapai. Hanya saja aku tidak jadi pergi ke rumah Susi. Tidak masalah sih, toh masih ada lain waktu. Kemudian, aku dan Fadhla mulai berpamitan untuk berpisah. Karena hari sudah mulai sore, aku pun harus segera pulang sebelum diceramahi olehnya.
"Terima kasih atas waktunya, ya. Aku sangat senang untuk hari ini. Dan aku berhutang banyak padamu tentang makanan dan sepatu ini," ucapku sungkan.
"Tidak masalah. Anggap saja sebagai tanda maafku karena telah menyita banyak waktumu, sampai kamu tak bisa pergi ke rumah temanmu."
"Tidak masalah juga kok."
Aku dan dia saling berbalas senyum. Kemudian aku pun berniat untuk berpisah dengannya. Aku tidak ingin berlama-lama bersama dengannya. Bisa saja semua itu menjadi timbul fitnah yang akan menambah banyak masalah menjadi rumit.
"Aku pamit dulu ya. Maaf sudah merepotkanmu," pamitku.
"Mau aku antar sampai rumah?" tawarnya.
Gila! Kalau sampai aku menerima tawarannya, habislah aku dengan gosip baru.
"Tidak usah. Aku sendiri saja. Nanti bisa timbul fitnah," ucapku beralasan.
"Eh, kok?" Fadhla mulai kebingungan. Aku hanya tersenyum simpul. "Tapi yasudahlah. Tidak apa. Apa kita bisa bertemu lagi?" lanjutnya bertanya.
"Sepertinya. Berdoa saja supaya dapat bertemu," sahutku.
"Astaga. Kamu memang lucu." Fadhla terkekeh. "Baiklah. Sampai jumpa. Aku pergi terlebih dulu," sahutnya.
"Silakan."
Fadhla pun akhirnya pergi dan menghilang dari pandanganku. Kemudian aku mulai berdiri di pinggir jalan Mall untuk menunggu taksi yang lewat. Namun ketika menunggunya, aku ingat akan sesuatu yang belum aku beli.
"Astaga. Gaun malam!" kejutku.
Terpaksa aku kembali ke dalam Mall untuk membeli pakaian itu. Jujur saja, aku tidak begitu tahu tentang gaun malam. Gaun seperti apa rupanya. Yang aku bayangkan gaun malam itu adalah seperti dress malam untuk acara malam. Mungkin itu benar.
Aku berjalan menghampiri salah satu toko dress di dalam sana. Kemudian aku melihat-lihat baju yang terpampang di patung. Namun sepertinya baju itu tidak terlihat seperti gaun malam. Ah, karena kebingungan mencari itu, aku pun langsung memesan kepada pegawainya saja deh.
"Mba, maaf. Ini aku sedang kebingungan. Aku disuruh untuk membeli gaun malam. Dan aku bingung mencarinya. Tepatnya, aku tidak tahu sih jenis gaun malam yang bagus itu bagaimana. Hehehe. Boleh dipilihkan?" tanyaku dengan polosnya.
"Mau model yang bagaimana? Warna apa?" tanyanya.
"Yang bagus saja, Mba. Warna apa saja. Yang penting bagus dan menawan dipakai," jawabku. "Langsung bungkus saja ya, Mba. Saya buru-buru soalnya. Saya kehabisan waktu. Hehehe," lanjutku.
"Baiklah. Tunggu sebentar. Saya tuliskan dulu notanya."
"Bayarnya di kasir B," ucapnya.
"Baik, Mba. Terima kasih."
Aku pun beranjak ke kasir untuk membayarnya. Setelah itu, aku mengambil pakaianku dan bergegas pulang dengan menaiki taksi.
Beberapa saat kemudian, aku pun telah sampai di rumah. Aku membuka pintu rumahku dan menyimpan barang-barangku di ruang tengah. Kemudian aku duduk di sofa, berbenah diri untuk istirahat sejenak. Rasanya sangat lelah hari ini berjalan-jalan di luar. Namun tidak masalah, karena memang sudah lama sekali aku tidak merasakan sensasi jalan-jalan di Mall sendirian. Hari ini pun aku menambah teman baru secara tidak sengaja.
"Banyak sekali yang kamu beli. Habis berapa?" tanya Eggy tiba-tiba mengejutkanku yang sedang rebahan di sofa. Dengan memakai celana kolor polos, kemudian kaos oblong, dan membawa segelas air, membuatku sedikit merasa terkejut melihatnya. Namun, apakah air itu ia bawakan untukku?
"Aku lupa lagi. Tapi aku beli yang udah paling murah kok itu. Biar gak boros. Mungkin gaun malam yang harganya sedikit mahal," jawabku.
"Kamu beneran beli gaun malam itu?" tanya Eggy. Seakan dirinya mengerjaiku.
"Kamu yang request, 'kan?" sahutku bertanya-tanya. Dia yang menyuruhku untuk beli, dia sendiri yang kebingungan.
"Hahaha. Aku tidak menyangka kamu akan membelinya. Tapi bagus deh. Berarti kamu sudah mengerti apa yang aku inginkan. Jangan lupa, siap-siap."
"Maksudnya apa? Makan malam romantis, 'kan? Baiklah. Kalau begitu sih aku setuju," kataku menebak begitu saja. Padahal aku masih penasaran dengan apa yang dimaksud dia. Masa harus tanya langsung? Kesannya aku ingin tahu dan penasaran. Tapi memang fakta. Aku penasaran.
"Malam ini kamu milikku."
Kalimatnya membuatku takut. Maksud dia apa sih? Dari kemarin rasanya dia berubah sikap menjadi menyeramkan seperti ini. Aneh.
"Kamu kok ...?" kalimatku sengaja digantung sambil menatap heran ke arah Eggy.
"Apa?"
"Sedikit horor," ujarku.
"Mana ada." Eggy terkekeh, lalu dia meminum segelas air putih yang tengah dia pegang. Dirinya pikir bahwa aku berkata lucu. Dasar, menyebalkan.
"Kamu memang aneh," celetukku.
"Mandilah dulu. Bau keringat. Setelah itu, langsung pakai gaun malammu. Aku akan menunggu di kamarmu untuk melihatnya," kata Eggy. Kemudian dirinya pun pergi menuju kamar.
Tanpa berpikir panjang, tanpa ada sedikit curiga, aku pun langsung pergi ke kamarku dengan membawa semua barang-barangku. Setelah sampai di kamar, aku melihat Eggy duduk bersandar di ranjang dengan santainya. Ini membuatku merasa aneh. Sangat aneh. Aku pun tak mau banyak bicara soal itu, langsung saja aku meletakkan semua barangku di kasur. Kemudian segera pergi mandi. Rupanya Eggy gak sabaran ingin melihatku memakai gaun itu. Padahal masih jam 7 malam.