
Ketika sampai di rumah, aku melihat Eggy sedang berbincang dengan seseorang di telepon. Terdengar dari nadanya, sepertinya dia sedang marah kepada orang itu.
"Tolong bujuk mereka, agar mereka tidak membatalkan kerja samanya dengan perusahaan kita."
Samar-samar aku mendengar perbincangannya. Aku sangat penasaran dengan pembahasan itu. Sebenarnya apa yang membuat perusahaan Eggy bermasalah? Aku menjadi penasaran tentangnya.
"Aku tidak mau tahu. Bagaimana pun caranya, bagaimana pun itu, kita harus membujuknya. Kamu tahu, 'kan, kalau uang itu sudah dipakai oleh kebutuhan perusahaan kita dan sebagian lagi untuk menutup kerugian perusahaan kita. Jika kita setuju membatalkannya, kita harus bagaimana cara membayar sebagian uang mereka yang sudah kita pakai? Menggaji 300 klien pun itu tidaklah cukup. Kamu tahu itu. Aku sudah cukup stres dan depresi memikirkan masalah ini. Aku pun punya masalah sendiri di luar kerjaan. Jangan tambah-tambah masalahku lagi. Kamu hanya cukup membujuknya sampai keadaan perusahaan kita stabil kembali. Aku sepenuhnya sangat percaya padamu. Apa pun caranya, kamu harus berhasil mengajaknya untuk bekerja sama dengan kita. Jangan telepon aku lagi jika kamu akan menyampaikan kegagalan. Atau aku akan langsung memblokirmu dan kabur tanpa jejak."
Perbincangan itu masih dapat aku dengar. Aku berpikir bahwa aku tidak adil dan egois jika terus memikirkan masalahku dan mendesaknya untuk menyelesaikan masalahku. Naluriku bahwa aku tidak ingin berpisah dengannya, bukan karena aku sudah ingat semua kenangan selama 3 tahun lalu. Namun aku harus memberinya waktu untuk dirinya dapat menerima hal itu. Aku tidak beh memaksanya. Walaupun ibunya berkata jujur tentang usaha Eggy yang diambang kehancuran, lalu menyuruhku untuk segera bercerai, kupikir aku tidak seharusnya mendengarkan apa yang telah diucapkannya setelah mengetahui kebenaran ini.
Ckrek.
Suara pintu kamar terbuka. Mendengar suara pintu terbuka, Eggy langsung menengok ke arahku dengan memasang wajah yang teramat kesal.
"Dari mana kamu?" tanyanya dengan nada mengancam.
"Mencari Raihan," jawabku singkat.
Mendengar jawabanku seperti itu, dia langsung mengabaikanku. Seakan dirinya tidak peduli aku pergi ke rumah siapa dan ada urusan apa aku menemuinya.
Terlihat dia melonggarkan dasinya. Kemudian dia menuangkan air minum ke dalam gelas, lalu meneguknya dengan satu tegukan. Mungkin dia sangat haus setelah perbincangan tadi di telepon.
"Aku dengar kamu berbicara di telepon. Kamu terdengar marah-marah. Apa masalahnya?"
Shit! Aku malah bertanya hal itu padanya. Mengapa aku sangat ingin tahu tentang masalahnya?
"Tidak baik mendengar pembicaraan orang lain," sahutnya dengan sinis.
Lalu dia membuka dasinya dan juga membuka baju kemejanya.
"Kamu sedang apa?" tanyaku merasa takut.
"Apa kamu tidak melihatnya? Aku membuka baju. Gerah."
"Iya. Aku tahu jika hal itu."
"Apa masalah perusahaanmu sangat serius?" tanyaku lagi, masih penasaran.
"Kenapa? Kenapa kamu peduli?" tanya Eggy menatapku serius. Tatapannya membuatku takut, seketika aku tersihir dan tak bisa berkata-kata.
"I-itu ... ka-karena, karena aku ... aku ...—"
"Aku apa? Gak jelas."
Eggy mengambil handuk, kemudian dia langsung pergi menuju kamar mandi.
"A-aku khawatir tentangmu. Kupikir kamu bisa menceritakan masalahmu padaku. Aku akan mendengarkannya. Aku bisa menjadi temanmy. Wa-walaupun kamu bilang aku istrimu, tetapi aku sulit untuk menerimanya. Walaupun semua orang sudah tahu aku bersamamu dan membangun rumah tangga, tetapi aku tetap tidak akan bisa menerimanya untuk saat ini. Namun, jika kamu mau berteman denganku, aku dapat menerimanya," ujarku dengan panjang lebar.
Saat mengatakan kalimat itu, bibirku terasa kejang-kejang tak bisa berhenti. Keringat dinginku mulai keluar karena saking gugup berbicara padanya.
"Lalu apa maumu?" tanyanya.
Pertanyaan itu membuatku sangat bingung. Lalu apa hubungannya dengan pernyataan yang aku utarakan padanya?
"Makdudmu apa?"
"Sudah jelas aku bertanya padamu. Jangan berbelit-belit."
"Aku tidak berbelit-belit. Kamu yang berbelit-belit. Aku sudah berbaik hati menerimamu sebagai teman. Apa kamu akan membalasnya seperti ini? Kamu itu kenapa sih? Kemarin-kemarin kamu sangat lembut padaku. Bahkan seakan kamu tidak ingin menghilangkan rasa perhatianmu. Namun sekarang, kamu malah berbalik. Kamu bersikap seolah-olah tidak butuh keberadaanku. Bahkan kamu bersikap cuek. Sebenarnya yang ada apa denganmu itu, hanya cocok untukmu, Eggy," jelasku panjang lebar dengan mengungkapkan semua rasa kesalku padanya. Mau marah atau tidak, aku tidak peduli lagi padanya.
"Sudah cukup aku punya banyak masalah. Tolong jangan tambahkan masalah lagi. Jika kamu ingin aku jadi temanmu, lakukan saja. Dan lakukan apa yang kamu mau. Aku tidak peduli. Jika aku tetap peduli, kamu bahkan tidak akan melihatku lagi," ucapnya dengan penuh misteri.
"Apa yang kamu maksud aku tak 'kan melihatmu lagi? Apakah kamu akan mengambil jalur pintas untuk menghilang dari dunia ini?" tanyaku dengan menaikkan sedikit nada suaraku.
Eggy mengabaikanku. "Aku akan mandi terlebih dulu."
Dia pun masuk ke dalam toilet. Sungguh! Dia benar-benar membuatku kesal. Nakun aku merasa iba padanya. Rasanya aku tidak ingin meninggalkannya begitu saja.