The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
EPISODE 115



Bulan berjalan di trotoar jalan, dengan pakaian yang sangat rapi dan sopan seraya membawa sebuah map di tangannya. Dia hendak mencari sebuah pekerjaan lain. Pekerjaan ini hanya untuk sebatas status saja, bukan berarti kata lain yang memang harus menetapkannya bekerja. Sesuai dengan perjanjian sebelumnya, Bulan memang masih berstatus istri Eggy. Walau saat ini dirinya harus berpura-pura untuk menjadi seorang janda, tetapi pada kenyataannya tidaklah begitu.


Bulan menemukan sebuah restoran di ujung jalan. Dia masuk ke dalam restoran tersebut dan berdiri di depan meja kasir. Dengan memasang wajah yang bingung, dia menatap ke salah satu orang di sana.


"Permisi," ucap Bulan memanggil salah satu staf di sana.


Seseorang di kasir menengok. "Iya, apa yang akan Anda pesan?"


"Maaf. Saya tidak ingin memesan makanan. Tetapi saya ingin bertemu dengan manager restoran ini. Apakah bisa?" tanya Bulan dengan ragu.


"Apakah sudah ada janjia dengan beliau?"


"Mm ... sepertinya belum. Saya ingin melamar pekerjaan di sini," jawabnya.


"Maaf. Jika tidak ada janji, saya tidak bisa mengizinkan Anda untuk bertemu."


"Bantu saya, Mba. Saya sedang membutuhkan pekerjaan. Tidak bisa kah Anda panggilkan dia dan berbicara bahwa ada yang ingin bertemu dengannya?" Bulan memaksa pegawai kasir itu untuk bertemu sang manager. Pegawai itu menatap iba padanya. Tidak ada pilihan yang lain, selain membantu Bulan. Akhirnya pegawai itu mulai menelepon kantor manager dan membicarakan hal ini.


"Selamat siang, Pak. Maaf menganggu. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda. Apakah saya harus mengantarkannya ke kantor Anda, atau menyuruh untuk menunggu saja?" tanya pegawai itu. Sambil menunggu jawaban, perasaan Bulan mulai berdebar tak karuan.


"Suruh untuknya menunggu. Saya sibuk," jawabnya. Kemudian pegawai itu menutup teleponnya.


"Bagaimana, Mba? Apakah bisa bertemu dengannya?" tanya Bulan penasaran.


"Anda disuruh untuk menunggu. Silaka menunggu di meja yang kosong," jawabnya.


"Ah, baiklah. Terima kasih atas bantuannya, Mba."


"Apakah Anda ingin memesan sesuatu? Selama menunggu, Anda pasti membutuhkan sesuatu untuk menemani Anda saat ini," tawarnya.


"Ah, benar juga, ya. Yasudah, kebetulan saya belum makan. Jadi saya memesan sepaket nasi dan teh dingin saja," ujar Bulan.


"Baik, Mba."


"Bayar langsung, atau ...." Bulan menggantung kalimatnya.


"Bagaimana pilihan Anda. Kami akan tetap melayaninya, Mba."


"Ah, baiklah. Bayar langsung saja. Semuanya berapa?" tanya Bulan seraya mengeluarkan dompet dari dalam tasnya.


"Totalnya 87.000 rupiah, Mba."


"Ah, baiklah. Ini uangnya." Bulan memberikan uang 100.000 kepada pelayan kasir tersebut.


"Ini kembaliannya, Mba."


"Terima kasih."


Bulan mengambil nomor pesanan yang diberikan oleh kasir itu. Kemudian dia mencari meja yang masih kosong untuk diduduki. Selepas itu, dia mengambil ponsel di tangannya dan melihat pesan di Whatsapp. Tidak ada pesan masuk, bahkan telepon masuk. Bulan mengharapkan Eggy menghubunginya selepas masa perceraian itu. Namun saat ini belum ada kabar.


"Apakah aku berharap terlalu cepat, untuk mendapatkan kabarnya? Padahal baru sehari. Ah, menyebalkan. Perpisahan ini memang sangat menyebalkan," gumam Bulan menghela napas.


Tak lama kemudian, pesanannya pun telah tiba.


"Ah, iya. Terima kasih."


Setelah semua makanan tersebut tersaji di meja itu, Bulan menyimpan ponselnya dan mulai mengambil makanan tersebut. Satu suapan demi suapan dia masukan ke dalam mulutnya dengan pikiran yang masih mengingat akan sosok Eggy.


"Ah, sial. Kenapa inget mulu sih? Aneh. Makanannya jadi kurang enak, 'kan," gumamnya kesal.


"Apakah ada kekurangan dalam makanan itu?" tanya seseorang tiba-tiba mengejutkannya.


Sontak Bulan tersedak dengan makanan yang ada di mulutnya. Kemudian dengan segera dia mengambil minum untuk meredakan tenggorokannya.


"Ekhem." Bulan berdehem membersihkan tenggorokannya. "Maafkan saya. Maksud saya tidak seperti itu."


Bulan memasang raut wajah yang malu.


"Perkenalkan, saya manager restoran ini. Nama saya Mahesa Angga. Panggil saja dengan Angga. Itu lebih enak didengar," kata Angga mengulurkan tangannya ke arah Bulan.


Bulan megambil tisu dan membersihkan mulutnya. Kemudian dia mengulurkan tangan dan menjabat tangan Angga.


"Saya Bulan."


"Baiklah, silakan habiskan makanan Anda. Saya akan menunggu."


"Ah, tidak usah. Saya hanya akan memberikan surat lamaran kepada Anda."


"Apakah Anda berniat melamar saya? Kebetulan sekali, saya sedang sendiri," kata Angga.


"Hahaha. Anda bisa saja. Sungguh memiliki selera yang humoris." Bulan terkekeh.


"Saya serius jika masalah itu. Karena Anda juga tidak menjelaskan, surat lamaran apa yang Anda berikan kepada saya," sahut Angga, "apakah saya boleh duduk?"


"Ah, silakan. Maaf, Pak. Saya ingin memberikan surat lamaran pekerjaan. Saya sangat butuh pekerjaan di sini. Barang kali Bapak bisa membantu saja, dan semoga di sini juga masih membutuhkan seorang tenaga kerja wanita," kata Bulan dengan ragu-ragu.


"Baiklah. Pertama-tama, kamu harus menghabiskan makananmu terlebih dulu. Baru saya akan menjawab dan menerima surat lamaranmu untuk ditinjau di dalam kantor," sahutnya.


"Ah, baiklah. Apakah Anda tidak makan siang?" tanya Bulan.


"Apa kamu mengajakku untuk makan siang bersama?" tanya balik Angga kepada Bulan. Membuat Bulan menganga dan merasa heran dengan kesimpulan konyol dari Angga. Bulan hanya menebar senyuman padanya sambil melahap sesendok makanan dengan malu-malu.


"Sepertinya kamu belum makan, ya." Angga membuka percakapannya kembali.


"T-tdak begitu juga, sih." Bulan merasa canggung dan begitu tidak nyaman dengan situasi ini. Memang dalam acara makan siangnya, dia harus dipertemukan dengan sang manager restoran di saat yang tida tepat. Padahal jika dirinya tahu lebih awal, maka Bulan tidak akan memesan makanan sekalian. Cukup minuman saja.


"Apakah aku. membuatmu risi? Ah, maafkan saya. Kalau begitu, Anda bisa melanjutkan makan siang Anda dengan rasa nyaman. Karena kenyamanan pelanggan, itu lebih penting. Aku akan menunggu di kantor. Jika Anda sudah selesai dengan makan siangnya, silakan temui saya di dalam kantor," ucap Angga dengan panjang lebar.


"Baik, Pak. Segera saya bereskan makanan saya. Terima kasih sudah mengizinkan saya untuk melamar kerja di sini," sahutnya.


"Bukan masalah. Kalau begitu, nikmatilah." Angga mulai berdiri dari kursi itu dan berjalan pergi meninggalkan Bulan sendirian di sana. Bulan menghela napasnya dengan lega, akhirnya dia dapat bernapas dan bersikap dengan bebas untuk menikmati makan siangnya. Jika Angga terus berada di hadapan Bulan, mungkin makanan yang disantap akan habis sampai restoran itu tutup. Namun dalam pikiran Bulan memikirkan hal yang aneh mengenai manager restosan tersebut. Mungkin dia tidak akan merasa bosan jika mengobrol dengannya. Dia sedikit humoris dan sepertinya dia seorang lelaki yang pandai menyesuaikan diri.


"Dia memang cukup baik. Cuma ... dia tidak seharusnya datang mendadak seperti ini di saat aku tidak mempersiapkan diri. Ah, sial. Kesan pertama bertemu manager yang payah dan sangat buruk. Syukurlah ini tidak berlangsung lama. Lebih baik seperti ini. Aku bisa memakan makananku dengan bebas. Astaga. Gugupnya tadi. Bensr-benar membuatku kehabisan napas," gumam Bulan melanjutkan makan siangnya sampai habis.


*****