
Di dalam mobil, terlihat Eggy masih menunggu Bulan untuk selesai bekerja. Sesekali Eggy mengirimkan pesan ke ponsel Bulan agar dia cepat membalas pesannya. Namun sepertinya Bulan tak kunjung membalas juga. Dia masih sibuk dengan pekerjaannya itu.
"Ya ampun! Bulan, sampai kapan kamu berhenti bekerja, sih? Bosan," gumam Eggy. "Apa aku kembali lagi ke dalam restoran itu ya? Bicara sama Angga untuk izin membawa Bulan pulang? Tapi ... ah, merepotkan. Bulan sudah memberitahuku ungmtuk tidak mengganggunya saat bekerja." Eggy menjadi stres sendiri memikirkan semua itu.
Tak lama kemudian, seseorang menelepon ke ponselnya. Eggy langsung melihat nama yang terpabgpang di layar hp-nya kemudian dia langsung mengangkat telepon tersebut.
"Halo."
"Kamu ada di mana?" tanya seseorang di telepon.
"Sedang berada di restoran, hanya membeli kopi," jawabnya dengan jujur. walaupun tujuan utamanya bukan karena kopi.
"Kenapa kamu tidak bilang bahwa Adelia kecelakaan? Mami ada di rumah sakit bersama Adelia," ucapnya.
Seketika kamu terkejut mendengar hal itu.
"Itu karena aku tidak ingin Mami khawatir," ujarnya.
"Justru karena kamu tidak bicara pada mami dengan keadaan yang sebenarnya. Jadi mami makin khawatir. Kamu ini kenapa tidak bilang saja? Kan kamu bisa memberitahu mami. Nanti kita cari solusi sama-sama mengenai pernikahanmu," jelasnya.
Mendengar hal itu, membuat pikiran Eggy tertuju pada hal lain. Dia berpikir bahwa jika pernikahannya dibatalkan, ini bisa jadi sebuah keuntungan bagi Eggy. Karena memang dirinya tidak ingin segera menikah dengan Adelia. Ini justru menjadi suatu keharusan dan diinginkan olehnya.
"Maafkan Eggy, Mi. Eggy tidak bermaksud untuk menyembunyikannya. Hanya saja Eggy memang terpaksa menyembunyikannya dari keluarga sampai mengetahui bahwa Adelia baik-baik saja," jelas Eggy.
"Adelia kini sudah baik-baik saja, Eggy. Jangan banyak alasan ya kamu! Mami tahu sifat kamu, Eggy," kata ibunya.
Eggy membuang napas. "Iya, Mi. Mami ibu Eggy. Sudah pazti tahu semuanya tentang Eggy."
"Lain kali, jika ada apa-apa, kamu harus bilang kepada orang tua atau keluarga. Apalagi masalah serius seperti ini. Kamu harus wajib beri tahu kami, Eggy. Adelia juga keluarga kita. Sebentar lagi dia akN menjadi keluarga kita," jelas ibu Eggy.
"Iya, Mi. Eggy minta maaf. Eggy yang salah," sahutnya.
"Kamu keterlaluan juga. Membiarkan Adelia sendirian di rumah sakit. Harusnya kamu temani dia, bukan meninggalkannya. Gimana sih! Sebagai calon suami, kamu harus tetap siaga. Jangan utamakan egoismu dan pekerjaanmu," omelnya semakin ke mana-mana.
"Duh, Mi. Pekerjaan di kantor mana bisa di nomor akhirkan. Ini sama pentingnya bagi Eggy. Eggy harus mengurusi urusan kantor juga. Jika tidak diurusi, sumber mata percaharian Eggy mau dari mana? Lalu Fadhla mau cari kerja apa?"
"Banyak sekali alasan kamu! Sudah salah malah ngeyel. Pake banyak alasan segala. Tidak sopan kamu selalu menjawab dan membela dirimu di saat salah," ucap ibunya kepada Eggy. Hal itu membuat Eggy sangat kesal mendengarnya. Namun apalah daya. zdia itu ibunya sendiri. Seburuk dan sekesal apa pun, dia tetaplah ibunya sendiri.
"Ya ampun. Baiklah, Mi. Jadi bagaimana, Mi?" tanya Eggy mencoba masih bernada lembut.
"Sekarang juga kamu harus datang ke rumah sakit. Kita akan bicara di sini secara bersama-sama," jawabnya.
"Ya, sekarang! Masa harus ditunda-tunda sampai nanti," sahutnya dengan nada lantang.
"Iya, iya. Ya udah. Aku sebentar lagi ke sana. Kopiku belum habis," kata Eggy membuat alasan agar dapat mengulur waktunya.
"Sekarang! Tinggalkan kopi itu. Kamu bisa membeli lagi. Jangan seperti orang susah," sindirnya.
"Ya ampun, Mi. Iya, iya. Sekarang juga," kata Eggy dengan pasrah.
"Mami tunggu! Jangan lama. 15 Menit."
"Iya."
Telepon tersebut pun berakhir. Eggy menyimpan ponselnya kembali. Dia membuang napas kesal.
"Kenapa harus sekarang, sih? Sialnya!" gumam Eggy sangat kesal.
Sesekali Eggy menatap ke arah restoran. Perasaannya ingin sekali menunggu Bulan sampai pulang. Namun ibunya menyuruh Eggy untuk segera menemuinya dengan cepat. Dia tidak memiliki pilihan lain lagi, jika dirinya terus menunggu Bulan, bisa jadi pada saat menemui orang tua dia di rumah sakit nanti akan menjadi masalah. Apalagi jika ibunya tahu bahwa Eggy masih menemui Bulan, mungkin kehidupan Bulan akan terancam dan kehidupan sehari-harinya akan di buat tidak nyaman oleh ibunya sendiri. Sangat membingungkan ketika sebuah perasaan dan sebuah keharusan harus memilih.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.
Terima kasih, semuanya. :*