The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Bab 22



Aku tak mengerti, mengapa Eggy mengajakku kemari? Apa jangan-jangan...


"Kenapa berhenti di Boutique?" tanyaku kembali heran.


"Kamu masih tidak mengerti?" sahut Eggy.


"Apa kamu mengajaku untuk belanja barang-barang di sini? Agar kamu mau membujukku untuk menghabiskan waktu semalam denganmu?" tanyaku merasa terhina. "Maaf. Tapi aku tidak matre dan tidak semurahan itu," tambahku.


"Kenapa dengan pikiranmu itu? Isinya selalu di penuhi dengan hal-hal bodoh!" sahut Eggy.


"Bodoh? Apa itu pikiran bodoh?"


"Ayo ikut denganku!" ajak Eggy sambil menarik-narik tanganku untuk masuk ke dalam Boutique.


"Selalu saja aku harus ikut bersamamu," umpatku kesal.


Lalu setelah masuk ke dalam, Eggy memilihkan sebuah baju dan sepatu untukku. Luar biasa! Di dalam butik ini semua mode baju dan sepatunya memang bagus. Asli!


"Waaahh ... Benar-benar indah!" batinku


Kuakui seleranya memang tinggi. Ia pun mempunyai selera yang benar-benar dimiliki oleh orang kaya pada umumnya. Di dalam toko aku mulai terkesima melihat semua barang-barang yang ada di butik tersebut.


"Luar biasa!" gumamku takjub.


Selama aku menikah dengannya, aku tidak pernah pergi kemana-mana. Padahal uang bulanan selalu mengalir ke rekeningku, tetapi tak ada terlintas sedikit pun untuk menghabiskan uangnya. Karena aku berniat mengumpulkan uang untuk melunasi sisa hutangku padanya dan setelah itu kami bercerai.


Namun kenapa semakin hari, semakin aku sering bersamanya, aku menjadi semakin penasaran tentang kepribadiannya?


"Duduk di sini! Akan aku pilihkan sesuatu untukmu!" ucap Eggy. Lalu ia pun pergi ke arah tempat yang di penuhi oleh pakaian wanita.


"Duduk di sini! Akan kupilihkan sesuatu untukmu!" kataku mengulangi kalimat Eggy yang di lontarkan padaku seraya mengejek dengan nada mengenye. "Apa-apaan itu? Jika dia ingin membelikan pakaian untukku, aku juga bisa memilihnya sendiri!" tambahku dengan perasaan yang kesal.


Lalu aku pun mengambil ponsel dan memainkan ponselku. Aku membuka aplikasi MangaToon dan mulai membaca sebuah cerita novel lain dari karya Lani Nurohmah. Ada sebagian cerita yang belum sepenuhnya kubaca.


Tak lama setelah itu, Eggy pun datang menghampiriku dan langsung ia lemparkan sebuah baju berwarna putih ke arahku. Membuat ponselku terjatuh ke lantai.


"Kamu gila? Tidak bisakah kamu berbuat sopan? Berikan saja itu padaku, aku pasti mengambilnya!" kataku dengan nada tinggi sambil membanting baju putih yang ia lemparkan padaku. Membuat pekerja di butik memperhatikanku. Eggy hanya diam menatapku sambil menyilangkan kedua tangannya di bawah dadanya.


Aku pun mendelik ke arahnya dan segera mengambil ponselku. Sangat di sayangkan. Ponselku layarnya pecah dan mati. Sepertinya ponselku mati total dan tidak bisa di gunakan lagi.


"Oh, Tuhan! Ponselku mati! Dasar bodoh!" panikku smbil mencoba menghidupkannya kembali.


"Cepat pakailah!" ucap Eggy sambil memberikan baju tersebut padaku. " Aku akan membelikan ponsel yang terbaru," tambahnya sambil merampas ponsel yang ada di tanganku. Lalu ia pun membuang ponselku ke arah tong sampah. Hebatnya, ia melemparkan itu sangat pas dengan posisi tong sampah tersebut.


"Ponselku ...!" kataku lemas melihat ponsel kesayanganku terbuang begitu saja. "Ah ... Sialan!"


Kenapa hari ini sial sekali? Pertama aku bertengkar dengan Raihan hanya karena Eggy makan siang dengan duduk satu meja denganku. Kedua aku diajak paksa oleh Eggy ke sini yang aku tidak tahu untuk apa ia membelikanku dress mini berwarna putih ini. Ke tiga ponselku sengaja dijatuhkan olehnya. OMG! Lapangkan lagi kesabaran hambamu ini....


"Cepat pergi!" kata Eggy dengan mendorong tubuhku ke arah ruang ganti.


"Aku bisa berjalan sendiri!" ujarku.


"Memang pria menyebalkan," umpatku.


Aku pun terpaksa mengganti pakaianku. Padahal aku memakai pakaian ini hanya 2x. Masih terbilang baru, kan sekarang aku harus memakai pakaian baru lagi.


"Pria aneh!" pekikku.


Aku pun melihat pakaian yang telah ia pilihkan untuku dan ukurannya memang cocok dengan postur tubuhku yang kecil ini. Dia pandai menebak ukuran dan memilih pakaian yang cukup bagi wanitanya.


"Jika dipikir-pikir, hidupku memang enak. Nyaman tanpa adanya penyiksaan dari dirinya. Tetapi aku benar-benar membenci pria itu!" kataku kepada cermin yang ada di depanku sambil memperhatikan baju yang aku kenakan. Seketika rasa benci hadir saat melihat sosok Eggy yang menyebalkan, namun dalam lubuk hati, aku masih tetap menyukainya.


Memang senang jika menjadi orang kaya, bisa membuang uang mereka untuk memakai baju baru setiap hari.


Aku sudah mengganti pakaianku. Akupun memperlihatkan pakaian yang saat ini aku kenakan kepada Eggy.


Dan...


Taadaaaa....


"Bagaimana?" tanyaku tersenyum senang. Ini senyumanku yang ikhlas. Senyuman ikhlas yang kuperlihatkan kepada Eggy.


"Coba baju yang ini!" kata Eggy sambil memberikan baju dress mini putih yang lain. Aku menghela napas panjangku.


"Ok, baiklah!" sahutku sambil mengambil baju yang diberikan oleh Eggy.


Aku pun segera mengganti pakaianku. Lalu aku lihat-lihat dan terus memperhatikan baju ke dua yang dipilihkan oleh Eggy, aku merasa bahwa kurang cocok untukku pakai.


"Ini sedikit dewasa," kataku sambil melihatku di cermin.


"Bulan, kamu sudah selesa berganti?" tanya Eggy dari luar kamar ganti.


"Ya. Selesai. Sebentar!" jawabku.


Secara perlahan aku pun keluar dari kamar ganti. Dengan rasa malu dan gugup, aku memperlihatkan penampilan seperti ini kepada Eggy.


Dress mini warna putih yang ke dua yang di berikan oleh Eggy, terlihat sangat cocok dibanding yang pertama. Namun itu sangat dewasa.


"Ini memalukan! Sangat memalukan!" gumamku pelan sambil menundukkan kepalaku.


Eggy terkesima melihat penampilan keduaku ini. Entah dia tergoda oleh kecantikanku atau entah karena dia tergoda oleh penampilanku yang begitu seksi, sehingga ia menatapku tanpa berkedip sekalipun.


"Bagaimana?" tanyaku.


"Mm ... Itu sedikit vulgar. Aku tidak ingin pria lain menatap penampilanmu yang seperti itu. Sebaiknya kamu pakai baju yang sebelumnya. I-itu terlihat manis," ujar Eggy terbata-bata.


Manis? Kupikir Eggy memang mulai menyukaiku. Apa itu benar? Kali ini aku benar-benar tersenyum mendengarnya, itu suatu kejujuran yang membuatku merasa tenang.


Setelah mendengar kalimat itu, aku pun langsung berganti pakaian dengan pakaian yang sebelumnya.


Aku tersenyum, "dasar plin-plan!"