
Terlihat Bulan, Eggy dan juga Fadhla sedang duduk di meja makan untuk sarapan bersama. Mereka saling diam, tak berbicara. Lalu Bulan berinisiatif untuk memulai berbincang dan pembuka pembahassn terlebih dulu.
"Apakah kalian sudah menemukan siapa pelaku di balik pengkhianatan perusahaan Andalas?" tanya Bulan yang tiba-tiba menanyakan hal privasi itu.
Eggy tersedak. Lalu dia pun meminum air. "Mengapa menanyakan hal itu? Sampai saat ini aku sedang berusaha untuk mencarinya. alih-alih membicarakan seorang dalang dari musibah ini, aku lebih penasaran dengan alasan dia melakukan hal ini," jawab Eggy kepada Bulan.
"Benarkah?"
"Sebenarnya ada suatu bukti kuat dalam rekaman. Namun kita berdua masih memastikan tentang apa yang sedang terjadi. Entah bagaimana aku sangat yakin dengan pembuktian itu," sahut Fadhla.
"Lalu bagaimana dengan pernikahan Kak Eggy dan Adelia? Bagaimana prosedur kalian untuk. membangun perusahaan itu?" tanya Bulan.
Eggy terdiam sejenak. "Bulan, apa kamu cemburu?"
Eggy malah mengalihkan pembicaraan Bulan. Dia menghentikan makannya dan mengakhiri sarapan paginya. Dia merasa sangat tidak nafsu makan setelah mendengar Bulan berbicara seperti itu. Dia merasa tersinggung dengan pertanyaan yang diberikan oleh Bulan padanya.
"Kak ... apa aku salah?" tanya Bulan.
"Sudahlah! Aku sudah selesai sarapan," kata Eggy sambil menyimpan sendok dan garpu di samping piring.
"La, kok? Kenapa? Makanannya masih ada," ucap Bulan kepada Eggy.
"Tidak. Aku sudah kenyang dan sudah tidak selera lagi untuk makan," sahut Eggy.
Fadhla menatap ke arah Eggy. Dalam pikirannya dia berpikir bahwa Eggy memang ada sesuatu dan terjadi sesuatu di amtara dirinya dan jua Adelia yang membuat sikapnya kepada Bulan sangat berbeda. Padahal ini baru hari kedua pernikahan mereka dan perubahannya sudah terasa beda.
"Sudahlah, Bulan. Tidak apa. Aku akan menghabiskan masakanmu. Tenang saja," kata Fadhla sambil tersenyum. Lalu dia mulai menambahkan beberapa masakan ke dalam piringnya dan langsung melahap makanan tersebut dengan lahapnya. "Enak, lo. Nanti malam masakin lagi, ya ... istriku."
Fadhla sengaja memanggil Bulan sebagai istrinya. Dia tidak ingin Bulan merasa sakit hati karena di abaikan oleh suami pertamanya itu. Fadhla pikir, dia bisa membalaskan perasaan sakit Bulan pada Eggy lewat perantaranya.
Eggy menengok dengan tajam. "Jangan panggil Bulan seperti itu. Dia adalah istriku!" tegas Eggy kepada Fadhla.
"Dia juga istriku kok," sahut Fadhla sambil mengemil makanan dan mengunyahnya.
"Ceraikan dia!" kata Eggy.
Kalimat itu membuat Fadhla tersedak oleh makanannya sendiri. Kemudian dia segera menelan semua makanan yang ada di mulutnya, lalu Fadhla meminta air kepada Bulan.
"Tolong air!" ucapnya.
Bulan pun menyajikan air minum untuknya. "Ini, minumlah!"
Fadhla meneguk air minum tersebut. "Kamu bilang apa, Eggy? Coba katakan sekali lagi!" ucap Fadhla.
Eggy memalingkan wajahnya sejenak. "Ceraikan dia! Apa kamu masih tidak dengar?" tanya Eggy.
"Mohon maaf. Aku tidak akan menceraikan Bulan. Kamu harus ingat bahwa aku dan Bulan baru saja menikah. Tidak bisa cerai begitu saja dengan cepat," jawab Fadhla menolak.
"Aku hilang ceraikan dengan cepat!" kata Eggy dengan tegas.
"Kamu tidak bisa mengaturku seperti itu, ya, Eggy!"
"Kenapa? Aku kakakmu, berhak atas kamu, " ucap Eggy.
"Walaupun kamu kakakku, tapi kamu gak bisa seenaknya memutuskan keputusan apa pun tentang kehidupanku. Aku sudah memilih untuk menikahinya, itu sudah cukup. Aku harus bertanggung jawab atas kejadian ini karena aku dan Bulan menikah dengan benar. Bukan sekadar bohongan saja," jelas Fadhla kepada Eggy. Namun eggy tetap tidak menerima penjelasan dari Fadha itu.
"Aku tidak menerima penjelasanmu itu, Fadhla."
"Terserah apa maumu, Eggy. Aku tidak akan peduli kalau pun kamu menyuruhku seperti itu, karena aku tetap akan melakukannya," kata Fadhla dengan tegas. Eggy semakin marah mendengar kalimat itu dari Fadhla. Seketika hubungan kakak beradik itu hancur dan retak karena suatu hubungan pernikahan yang saling. mengamankan satu sama lain.
Bulan yang melihat kejadian itu merasa sangat geram kepada mereka. Lalu dia pun mulai mengutarakan perasaannya kepada Eggy.
"Hentikan!" ucap Bulan sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Hentikan!" ucap Bulan sambil berdiri dari tempat duduknya. Seketika dia menggebrakkan meja untuk menghentikan perbincangan mereka. Sontak Eggy dan Fadhla pun menengok ke arah Bulan dan terkejut melihatnya. "Kalian berdua kenapa, sih? Ribut terus, ribut terus, kenapa? Apa Kak Eggy gak suka aku menikah dengan Fadhla? Ini kan sudah menjadi keputusan kita bersama. Aku hamil, Kak. Aku mengandung anakmu. Fadhla hanya ingin menyelamatkan statusku saja dari hujatan orang-orang. Walaupun aku akan dihm hujat oleh orang lain karena aku menikah dengan adik mantan dari suami terdahulu, itu tidak masalah untukku, Kak. Aku tidak merasa keberatan sama sekali. Karena yang aku inginkan hanya dekat dengan Kakak saja, sebagai suamiku yang pertama," jelas Bulan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Bu-bukan begitu, Sayang. Aku tahu ini sudah menjadi keputusan kita. Hanya saja kan kamu saat ini sedang tidak hamil. Anak kita pun keguguran. Jadi pernikahan ini buat apa? Tidak ada artinya lagi, Bulan," kata Eggy dengan mudahnya.
"Apa, Kak? Coba ulang! Tidak ada artinya?" tanya Bulan.
"Iya. Jadi kamu cerai saja. Ngapain kamu bersama dia pun, aku suamimu yang sebenarnya," jawab Eggy.
"Gampang sekali Kakak berbicara seperti itu. Aku bukan boneka, Kak. Aku bukan boneka yang bisa kamu atur harus seperti ini dan itu. Aku juga punya perasaan," kata Bulan.
"Jadi kamu ingin bilang bahwa kamu memiliki perasaan terhadap adikku? Apa kamu akan berkhianat, Bulan?" tanya Eggy berpikiran buruk terhadap Bulan.
"Ya ampun, Kak. Aku berkhianat apa sama Kakak? Apa yang harus aku khianati? Apa hal ini mengkhianati suamiku sendiri? Kamu harus ingat, aku menikah dengan Fadhla itu secara sah. Dia suamiku juga dan kamu juga tahu, awalnya aku tidak menginginkan ini," kata Bulan.
"Oh, aku tahu. Kamu tidak ingin bercerai karena kamu mulai memiliki perasaan kepada dia kan? Benar kan? Jujur saja, Bulan!" tanya Eggy sambil nunjuk ke arah Fadhla. "Dasar, Bang4t! Kamu membodohiku dan juga Bulan untuk ke egoan dirimu sendiri," umpat Eggy kesal kepada Fadhla.
"Hei! Jaga mulutmu!" Fadhla mulai emosi dan tersinggung.
"Siapa yang harus menjaga mulut hah? Aku sudah menjaganya dengan baik, sehingga aku tidak sepertimu yang diam-diam mencuri perhatian istri orang dan mencuci pikirannya sampai kamu bisa menikmati tubuhnya. Benar kan?"
Mendengar hal itu membuat Bulan merasa sangat terhina. "Hentikan, Kak! Fadhla tidak pernah macam-macam denganku! Semalam dia memelukku karena menenangkanku saja. Apa kamu marah dan terus merasa dendam padaku karena hal itu, Kak? Benar bukan?" tanya Bulan.
"Seharusnya kamu meneleponku, Bulan! Tapi tidak kan? Kamu malah asyik berduaan sama dia di kamar kita, sampai aku datang kamu masih berpelukan mesra bersama dia. Apa artinya itu, hah?" kata Eggy mengungkapkan ke cemburuannya.
"Hei, Bung! Aku sudah meneleponm berulang kali, ya! Jangan salahkan Bulan atas itu. Aku sudah berkali-kali meneleponmu, tapi kamu tidak pernah mengangkatnya. Aku yakin, kamu sedsng memberikan hakmu kepada Adelia, bukan?" sindir Fadhla.
Eggy yang tidak ingin Bulan mengetahui itu pun mengelak pernyataan dari Fadhla.
"Tutup mulutmu! Jika tak ada bukti, tidak sepantasnya kamu menuduh orang seperti itu. Sudah ketahuan kok malah mengelak," Kata Eggy.
"Hei, menuduh apanya? Itu kenyataan. aku bicara sesuai fakta, ya! Sudah pasti kamu melakukannya!"
Mendengar kalimat itu dan membayangkan apa yang sedang mereka bahas, yaitu tentang malam pertama Eggy dan Adelia, membuat Bulan merasa sakit hati dan terlukai akan perasaannya. Bulan merasa, jika memang Eggy melakukannya, sudah di pastikan Eggy sudah menodai cinta sucinya selama ini.
"Kurang ajar kamu!" kata Eggy sambil berdiri dari kursinya dan Fadhla pun ikut berdiri mengikuti Eggy.
Bulan merasa pusing kendengarkan mereka berdua bertengkar mengenai hal itu. Dia merasa sangat lelah dan capek harus mendengar pertengkaran mereka berdua di tengah-tengah kesedihan Bulan yang kehilangan anaknya.
"Udah! Udahlah. Kalian berdua ini kenapa? Sumpah! Aku benar-benar kesulitan untuk menjalani pernikahan ini. Sebaiknya kalian berdua ceraikan aku saja," kata Bulan dengan pasrah sambil menangis di hadapan mereka.
Sontak Eggy dan Fadhla pun terkejut mendengar kalimat yang di keluarkan oleh Bulan kepada mereka berdua.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti pasti aku masukan kok. Jangan khawatir! :)
Terima kasih, semuanya. :*