The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 106



Liburan bagi dua orang insan memang sangatlah berarti. Apalagi dengan orang yang tersayang atau orang yang disukai. Sangatlah amat berkesan indah. Begitu pun dengan apa yang aku rasakan. Aku merasa sangat bahagia, senang, bercampur haru. Semua rasa menjadi satu kesatuan dalam perasaanku. Aku sulit menggambarkannya, namun aku merasa sangat bahagia kali ini.


Semua barang-barang yang ada di vila, sudah aku bereskan. Aku juga sudah memberekan semua baju, alat mandi, pakaian-pakaian kotor milikku dan juga milik Eggy, beserta dengan semua sisa makanan yang ada di kulkas.


"Akhirnya, selesai juga pekerjaanku. Aku rasanya sangat lelah," gumamku.


"Apakah kamu capek, Bulan?" tanya Eggy padaku.


"Lumayan, Kak. Cukup melelahkan sekali acara liburan kita. Apakah resepsi pernikahan kita juga secapek ini?" tanyaku tiba-tiba.


Sejenak Eggy berpikir, kemudian menggidikkan pundaknya. "Entahlah. Aku rasa tidak begitu melelahkan. Capek sih iya. Mungkin tidak secapek ini," jawabnya.


"Mm ... begitu, ya. Apa kakak mau minum?" tawarku padanya.


"Ambilkan air es ya. Aku sedang ingin minum air dingin sih," ucapnya.


"Baik, Kak. Akan aku ambilkan airnya," sahutku.


"Terima kasih, Sayangku," ucapnya.


Aku tersenyum. "Iya, Kakak."


Aku pun segera mengambil segelas air putih. Namun sebelum aku berikan kepada Eggy, aku meminumnya terlebih dulu. Karena, ini benar-benar sangat melelahkan. Aku. membutuhkan banyak air untuk minum. Setelah aku selesai meminum air itu, aku pun mengisikan air kembali ke dalam gelas. Kemudian aku berikan kepada Eggy. Aku pun berjalan menghampiri Eggy.


"Ini, Kak. Minumlah. Kamu pasti capek," ucapku pada Eggy yang menebak secara langsung melihat keringat di wajahnya—sangat banyak.


"Lumayan. Cukup melelahkan," kata Eggy. Dia pun langsung mengambil air gelas dari tanganku. Kemudian dia langsung meminumnya dengan cepat. Kurasa dia memang benar-benar sedang haus. Aku jadi kasihan melihatnya kecapean seperti itu.


"Isirahat dulu saja, Kak. Nanti. dilanjutkan lagi," kataku.


"Tidak, Bulan. Aku akan tetap membereskan bagian ini sampai selesai. Kamu sangat terlihat kecapean. Mungkin kamu yang harus beristirahat terlebih dulu. Kamu perlu banyak istirahat. Agar badanmu segar dan rahimmu juga sehat," ucap Eggy.


Mendengar kalimat itu, membuatku terkejut. "Rahimku ya, Kak?" tanyaku malu.


Eggy tersenyum. "Sudahlah. Kamu istirahat. Jangan banyak berpikir," perintahnya.


"Ah, begitu ya. Aku akan istirahat sebentar, Kak," ujarku meminta izin.


"Iya, Sayang. Biar aku yang membereskan sisanya," sahutnya sambil melanjutkan pekerjaan dia.


Aku mulai berjalan secara perlahan menuju sofa, sesekali aku berpikir tentang kalimat yang dilontarkan oleh Eggy. Maksud dia apa bicara ahar rahimku sehat? Memangnya rahimku sakit ya? Kalau sakit, kenapa aku tidak merasakan apa pun, lalu kalau sehat pun, kenapa Eggy bisa tahu? Ah, sudahlah. Lupakan.


"Kamu kenapa?" tanya Eggy kepadaku.


"Aku lelah, Kak," jawabku terengah-engah.


Dengan penuh rasa pengertian, Eggy mengambilkan segelas air putih untukku.


"Minum dulu, Bulan," ucapnya sambil memberikan gelas air itu. Aku pun menerimanya


"Terima kasih, Kak."


"Ya. Sama-sama. Lalu bagian apa yang belum di kerjakan?" tanya Eggy.


"Keknya tinggal tutupin sofa, meja dan lainnya pakai kain putih deh, Kak. Kemudian selesai. Tinggal pulang," jawabku.


"Mau pulang saat ini juga?" tanyanya.


"Masih hujan sih. Nanti barang-barang kita malah basah," jawabku.


" Iya. Nunggu reda dulu dong."


"Iya, Kak. Karena kan kakak juga di sana ada banyak urusan. Saat penting-pentingnya kakak harus berada di kantor, kakak malahan ada di sini, berlibur denganku."


"Ya, tidak apa-apa. Bukan masalah sih."


"Mungkin besok kakak akan sibuk di kantor," kataku.


"Iya. Memangnya kenapa? Apakah kamu akan rindu?" tanya Eggy.


"Eh, enggak juga, Kak. Cuma tanya doang sih," ucapku.


Eggy menghampiriku, kemudian membangunkanku yang masih rebahan untuk duduk. Lalu dia langsung duduk di sampingku dan menyuhruhku bersandar padanya.


"Maafkan aku jika aku banyak salah padamu, Bulan," ucap Eggy dengan tiba-tiba. Kenapa Eggy malah meminta maaf?


"Lho, kenapa, Kak? Kakak tidak salah apa-apa, Kok. justru aku yang bersalah, Kak. Aku yang sekalu menyakiti Kakak. Dari mulai melakukan skandal itu, mempermalukan nama baik keluarga kakak dan lalu setelah kejadian hilang ingatan ini, kakak tersakiti juga. Karena aku berusaha kembali kepada Raihan, aku menemuinya dan berjanjia setelah bercerai akan menikah dengannya. Rasanya aku bodoh! Aku benar-benar wanita murahan. Seharusnya kakak memang bercerai saja denganku. Jangan mempertahanku. Aku pantasnya dibuang, Kak. Bukan untuk dipertahankan," ucapku dengan panjang lebar, mengungkapkan apa yang aku rasakan.


"Sayang, Kamu tidak sepantasnya berbicara seperti itu. Kaku adalah istriku. Jika aku tidak bisa melindungimu, jika aku tidak menyayangimu, jika aku tidak mencintaimu, jika aku tidak memedulikanmu, kenapa aku harus mempertahanmu? Mengapa aku harus rela tersakiti secara berulang kali? Kenapa? Aku melakukan ini karena sayang padamu. Aku mempertahanlan pernikahan kita, karena aku tahu, kamu mulai mencintaiku. Aku akan tetap bertahan denganmu, sampai kapan pun. Walaupun kamu tahu, aku akan menikah lagi dengan alasan bisnis, tetapi percayalah! Hati dan perasaanku hanya untukmu, Bulan," jelas Eggy dengan panjang lebar. Mendengar kalimat seperti itu, membuatku merasa tersentuh dan meneteskan air mata di hadapannya. Kini aku tahu apa itu artinya cinta. Dia mampu bertahan. Dia percaya dengan keyakinan hatinya bahwa aku memang mencintainya dan dapat menerimanya. Terlihat dari sorotan matanya, dia berkala seperti itu penuh dengan kejujuran. Seharusnya aku merasa sangat malu karena mempunyai suami yang setia seperti dirinya. Seharusnya aku malu, karena ada pria yang mampu setia, namun aku berusaha untuk. tidak setia dan ingin berpaling dengannya. Mungkin jika aku. melakukan perpisahan dengannya, aku akan menjadi seorang wanita yang sangat bodoh. Sangat-sangat bodoh di dunia ini. Ya. Aku saat ini memang sudah menjadi bodoh dengan ulahku sendiri.