The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 71



"Aku takut jika memilih tantangan. Jadi aku putuskan untuk memilih kejujuran saja," jawabku.


"Oke. Pertanyaannya adalah bagaimana jika dalam kurun waktu seminggu ini, kamu sudah menyukaiku? Apakah kamu akan tetap bercerai dan menikah dengan Raihan atau tetap bersamaku dengan rasa yang mulai tumbuh lagi dalam dirimu?" tanyanya panjang lebar.


"Kak, apakah ini harus benar-benar dijawab?" tanyaku.


"Tentu saja. Memang seperti itulah permainannya."


"Jika aku sudah menyukaimu?" tanyaku memastikan.


"Yup."


"Bagaimana, ya? Ini pertanyaan yang sangat sulit untuk aku jawab. Namun jika posisinya memang aku sudah menyukaimu, mungkin aku akan bertahan, Kak. Hanya saja aku akan berpikir berkali-kali untuk melakukannya," jawabku.


"Mengapa harus berpikir panjang?"


"Ya ... karena kan, Kakak tahu sendiri. Kita sudah ada perjanjian pada masa lalu, kemudian Ibumu juga tidak menyukaiku. Ayahmu pun mungkin sudah tidak menyukaiku, karena pada masa lalu itu aku melakukan skandal dengan Raihan. Yang otomatis menjadi aib bagi keluarga Kakak," jelasku dengan berat hati dan rasa malu.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya kembali.


"Melakukan apa?"


"Jika semua itu benar."


"Ya ... entahlah, Kak. Aku tidak tahu masalah itu," kataku. Aku pun teringat sesuatu. "Eh, permainan ini kan untuk tanya jawab doang. Tidak berkepanjangan, 'kan? Aku hanya perlu menjawab pertanyaan Kakak sekali saja," lanjutku komplain.


"Ya, suruh siapa kita gak suit lagi," sahutnya.


"Ih, curang!" ujarku kesal.


"Yaudah, ayo main lagi," ajaknya.


Aku dan dia pun kembali suit. Dan ....


Yes. Akulah yang menang kali ini.


"Yuhu ... kejujuran atau tantangan?" tanyaku dengan senang.


"Kejujuran," jawabnya singkat.


"Baiklah. Pertanyaan ini agak sedikit pribadi sih. Tapi gak masalah."


"Apa?" tanyanya penasaran.


"A-pa-kah ki-ta ... pernah me-la-ku-kan hal sebagai ... pasangan s-su-a-mi dan is-tri?" tanyaku memutuskan-mutuskan setiap kata itu. Karena aku sendiri sangat ragu menanyakan ini padanya. Malu juga. Kenapa aku bertanya pertanyaan hal konyol seperti itu padanya. Sungguh memalukan!


"Pffth ...." Eggy menahan tawanya.


"Ada apa?" tanyaku dengan pipi yang mulai memerah.


"Kamu bertanya hal itu padaku? Apa tidak salah?" tanyanya mengejek.


"Memangnya kenapa jika aku bertanya seperri itu? Jawab saja dulu. Kan permainannya memang begitu. Jika memilih kejujuran, harusnya hanya menjawab apa yang dipertanyakan. Kenapa Kakak malah balik tanya ke aku?" gerutuku kesal.


"Ish. Yasudahlah. Aku akan jawab."


"Yaudah jawab."


"Ini baru mau."


"Hehehe. Oke."


"Untuk hal pribadi seperti itu, apakah aku harus mengatakannya? Kamu kini sudah tahu bahwa kita menikah sudah 3 tahun lamanya. Itu artinya apa?"


Eggy tidak menjawab dengan benar. Apa susahnya gitu menjawab iya dan tidaknya. Haduh. Menyebalkan sekali dia.


"Bisa jadi." Eggy tersenyum.


Aku menunduk malu dengan pertanyaan dan jawaban yang sudah aku dengar. Kenapa aku sampai menanyakan hal itu padanya. Memang, jika seorang wanita dan laki-laki berada dalam satu rumah, apalagi sudah bersama selama tiga tahun lamanya, pastinya sudah melakukan hal yang sangat intim seperti berhubungan suami istri. Karena aku dan dia memang suami istri. Sudah pasti melakukan itu. Namun entah mengapa aku tidak ingin mengetahui jawaban seperti ini. Rasanya tidak terima.


"Mau dilanjut?" tanya Eggy.


"Apa?"


"Permainannya dong."


"boleh deh. Sekali lagi ya. Aku capek, Kak. Ingin segera istirahat. Kayaknya aku sudah mulai ngantuk juga," kataku.


"Baiklah. Ayo kita mulai suit lagi."


Tangan kanan kami berdua pun mulai beraksi untuk memperlihatkan jari mana yang akan keluar. Setelah beberapa detik berlalu, akhirnya keluar juga. Sangat disayangkan aku kalah untuk akhiran permainan ini. Huft. Pilih apa nih?


"Kamu kalah."


Aku menghela napas dengan kesal. "Bisa diulang lagi gak sih?" tanyaku.


"Jika diulang, lalu kamu kalah, kamu harus pilih tantangan. Setuju?" tawarnya.


Sejenak aku berpikir tentang hal itu. Terima atau enggak? Jika saat ini aku mengalah dan memilih kejujuran, pertanyaannya apa ya? Apa seputar masa lalu? Atau bisa jadi hal. perasaan lagi? Duh, malasnya. Kalau aku pilih tantangan, nanti dia macam-macam lagi sama aku. Ah, kok jadi parno gini sih?


"Oke deh. Kali ini aku pasti menang. Dan Kakak akan kalah," ucapku dengan percaya diri.


"Kita belum tahu hasilnya. Siapa tahu berbalik," sahutnya.


Aku pun mulai suit lagi dengannya. Rupanya memang benar. Aku kalah. Sial. Kali ini aku harus menerima tantangan dari Eggy. Apa tantangan yang akan dia berikan padaku? Padahal tadi aku langsung pilih kejujuran saja. Menyesal memang selalu diakhir, datang terlambat.


"Akhirnya ...." Eggy tersenyum ke arahku. Aku mulai merasakan ada sesuatu yang jahat dari dalam dirinya.


"Apa sih? Cepetan deh. Mau tantangan apa?" tanyaku memaksa.


"Tidak sabar rupanya."


Aku memanyunkan bibirku. Sangat kesal sekali padanya.


"Tantangannya adalah, kita tidur bersama. Tetapi saling berpelukan," ucapnya.


Aku terkejut mendengar permintaannya. Gila saja. Tidur sambil berpelukan? Ampun! Rasanya aku gak bakalan kuat. Kayaknya gak bakalan nyaman juga. Astaga, Eggy memang mengada-ngada.


"Bisa diganti gak?" tawarku.


"Tidak bisa. Lakukan saja apa yang sudah aku katakan. Kan kamu sudah berjanji."


"Iya deh, iya. Yasudahlah. Ayo cepat tidur. Tapi aku membelakangi Kakak, ya?"


"Maksud kamu, kamu mau tidur dengan posisi aku memelukmu dari belakanga?" tanyanya.


Aku menatap langit-langit. "Kurang lebih seperti itu."


"Rupanya kamu suka dari arah belakang," katanya.


Maksudnya apa sih? Kok bahasan dia menjadi tidak jelas dan terlalu liar. Horor.


"Gimana Kakak saja. Aku tidak peduli. Yang aku pedulikan saat ini adalah, akui harus segera tidur," ujarku. Kemudian aku langsung tidur dengan menghadap ke samping. Lalu tak lama kemudian, disusul oleh Eggy yang langsung tidur dengan memelukku dari arah belakang.


"Selamat tidur, Sayang." Eggy mencium leherku.


Sedikit terasa merinding. Ada rasa yang begitu saja menjulur ke seluruh tubuhku saat dirinya mencium leherku. Namun, aku coba untuk tidak merasakan hal itu lebih dalam lagi Cukup hanya sampai di sini saja. Jangan peenah baper, Bulan. Jangan pernah. Tidak baik untuk perasaan dan kesehatan.