The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 103



Setslah aku melakukan banyak selfie dengan Eggy, tak terasa waktu pun sudah mulai malam. Aku mencoba memasak untuk makan malamku dan juga dirinya. Masak yang sederhana saja, tumis cumi, sayur, dan gorengan nugget. Setelah selesai, aku langsung mempersiapkannya ke meja makan.


"Mm ... dari baunya sangat wangi. Kurasa ini akan enak," kata Eggy sambil mencium masakanku.


"Pasti enak dong, Kak. Jangan sampai gak enak. Sayang," sahutku.


"Iya, Sayang?"


"Eh, aku bukan panggil Kakak dengan sebutan sayang," kataku karena Eggy salah paham.


"Hahaha. Iya, iya. Aku paham. Ayo kamu duduk. Kita makan dulu," kata Eggy.


Aku pun segera duduk berhadapan dengannya. Aku mulai menyajikan sedikit demi sedikit nasi dan lauk pauknya ke dalam piring.


"Sudah cukup, Kak?" tanyaku pada Eggy.


"Sedikit lagi tambahkan cumi," jawab Eggy.


"Baiklah, Kak. Ini aku tambahkan cumi khusus buat Kakak," ucapku.


"Terima kasih, Sayang."


"Iya, Kak." Aku tersenyum ke arahnya.


Aku pun mulai makan malam bersamanya. Di tengah-tengah waktu makan malam kita, Eggy kembali mengajakku mengobrol.


"Oh, iya. Aku masih penasaran dengan apa yang sudah kamu katakan padaku. Katamu, saat mati lampu kemarin menanyakan adanya aku menyentuhmu atau tidak. Nyatanya, aku baru menemukanmu setelah lampu sudah nyala. Memangnya saat mati lampu, ada seseorang yang menyentuhmu?" tanya Eggy padaku. Pembahasan itu lagi. Ini benar-benar membuatku malas, karena kupikir orang itu adalah Eggy. Rupanya bukan.


"Mungkin aku salah rasa, Kak. Perasaanku ada yang menyentuhku. Tetapi saat kakak bilang, tidak. Aku anggap itu semua hanya halusinasi saja," sahutku.


"Beneran? Apa mungkin Fadhla?" tanyanya.


sontak aku menatapnya. "Apa?"


"Tapi kalau Fadhla, seharusnya dia ada di sana dan aku dapat melihatnya. Tetapi saat lampu itu menyala, aku tidak melihat dia ada di sana, sih," jelas Eggy mengeluarkan asumsinya.


"Ya. Mungkin memang bukan, Kak. Aku hanya halusinasi saja, Kak."


"Yakin? Apakah kamu kelelahan?" tanya Eggy cemas.


"Tidak, Kak. Aku tidak lelah," jawabku.


"Apakah ... itu masih terasa sakit?" tanya Eggy.


Pertanyaan yang dilontarkan oleh Eggy, aku pun memahaminya.


"A-ah. Hal itu ... tidak kok, Kak. Sudah baik-baik saja," jawab malu-malu. Pipiku mulai memerah menjawab pertanyaannya.


"Terpaksa apanya, Kak?"


Eggy mulai mengalihkan pandangannya dan menurup bagian mulutnya. Mungkin dia merasa malu juga saat membicarakan hal itu denganku. Wajar saja sih. Ini sangatlah pribadi.


"Mm ... terpaksa melakukan hal itu," sahutnya.


"Ah, sebenarnya ... tidak kok, Kak. Aku hanya melakukan apa yang sudah menjadi kewajibanku pada Kakak. Hanya saja ...," ucapku sengaja digantung.


"Hanya saja apa?"


"Aku tidak tahu bahwa hal itu menjadi pertama kali bagiku, Kak," kataku pada Eggy.


"Memangnya kamu tidak merasakan itu? Mm ... maksudnya tidak menyadari bahwa kamu memang belum pernah melakukannya," jelas Eggy.


"Enggak, Ka. Aku pun kaget."


"Lalu?"


"Aku pikir, karena kita sudah menikah selama 3 tahun, maka aku dan kakak sering melakukannya. Kakak tahu sendiri kan, jika seorang pria dan wanita yanh sudah menikah, apa lagi hidup bersama dalam satu atap. Sudah pasti akan anu," jelasku ragu-ragu.


Eggy terkekeh. "Kamu tahu, jika kamu ingat dengan ingatanmu, mungkin kamu tidak akan terkejut. Setelah kita resmi menikah dan menjadi pasangan suami dan istri, aku langsung pergi meninggalkanmu untuk melanjutkan bisnis di luar. Dan aku akan kembali 3 tahun ke depan untuk bercerai denganmu. Tetapi hanya 2 tahun aku melaksanakan bisnis dan sukses di sana, aku coba kembali untuk menemuimu. Ingin melihat kabarmu bagaimana," ungkap Eggy.


"Lalu bagaimana lagi, Kak? Apakah selama dua tahun itu aku tinggal sendirian?" tanyaku.


"Ya. Kamu tinggal sendiri di rumah yang sudah aku berikan padamu," jawabnya padaku.


"Lalu saat kakak kembali, bagaimana ceritanya?" tanyaku.


"Lebih baik kamu selesaikan makan malamnya dulu. Nanti aku lanjutkan ceritanya di kamar, sebelum tidur, ya," sahut Eggy.


"Baiklah, Kak. Akan aku lanjutkan makannya. Kakak harus ceritakan semuanya, aku tidak ingin merasa penasaran lagi dengan kisah kenangan yang hilang itu. Walaupun aku sudah menerimanya sedikit kenyataan ini, tetapi tak dapat dipungkiri bahwa aku masih butuh cerita dan harus mengetahui masa laluku yang hilang," jelasku pada Eggy.


"Iya, Sayang. Aku akan ceritakan semuanya padamu." Eggy memegangi tanganku. Aku pun tersenyum padanya.


"Termasuk terjadinya skandal antara aku dan Raihan?" tanyaku.


"Ya. Akan aku ceritakan kembali semuanya padamu. Agar kamu tidak merasa bingung. Lalu bisa hidup dan bernapas lega tanpa harus merasa penasaran akan masa lalumu lagi," jelas Eggy padaku.


"Terima kasi, Kak. Jangan pernah takut menceritakannya. Jangan segan. Walaupun yang akan diceritakan oleh kakak akan membuatku sakit hati dan kecewa berat, aku siap untuk merasakan itu. Aku akan berusaha menerimanya," sahutku pada Eggy.


"Iya, Sayang." Eggy tersenyum. Lalu dia pun mulai kembali memakan makanannya sampai habis. Begitu pun denganku.


Baiklah. Aku akan siap dengan apa yang akan diceritakan oleh Eggy padaku. Aku akan menerima apa pun jeleknya masa laluku, apa pun kondisinya, apa pun itu aibnya, dan betapa memalukannya diriku di masa lalu, aku akan siap menerima semuanya. Mungkin telingaku belum ingin mendengarkan itu, tetapi batinku ingin tahu pasti apa yang selama tiga tahun terakhir itu terjadi. Aku harus mengetahui ini dari Eggy. Karena dialah orang yang mungkin paling mengenalku selama ini. Bahkan, orang tuaku saja tidak pernah menjawab teleponku. Setiap aku bertanya soal ini, mereka selalu mencari alasan yang tak masuk di akal. Keluarga ysng sangat menyebalkan.