
Terlihat Bulan, Eggy dan Fadhla duduk saling terdiam satu sama lain dan mereka saling berhadapan. Kemudian Bulan hanya memalingkan pandangan dia sambil memakan cemilan. Lanu Eggy membuka pembicaraan.
"Untuk masalah ini, sangat sulit. Benar-benar sulit. Besok adalah pernikahanku dengan Adelia, lalu kamu hamil. Apa yang harus aku lakukan?" ucap Eggy memijat keningnya merasa kebingungan.
"Aku akan menikahi Bulan. Itu solusi terbaik untuk masalah ini," sahut Fadhla.
"Tidak. Kamu tidak boleh menikahi istriku!" tolak Eggy.
"Apa kamu akan tega melakukan itu, Eggy? Apa kamu sanggup? Apa kamu ingin mencoba melupakannya?" tanya Fadhla.
"Kalian berdua kenapa, sih? Melakukan apa?" tanya Bulan penasaran.
"Tanya saja sama suamimu itu," cetus Fadhla memalingkan wajahnya.
"Ada apa sih? Dari tadi kalian berdua diam terus. Sekali nya berbicara malah membuat aku bingung," kata Bulan.
"Oke. Dengarkan aku baik-baik, Bulan. Eggy akan mengirimmu ke luar negeri sampai anakmu lahir nanti dan cukup besar di sana," jelas Fadhla.
"Apa?" Bulan terkejut mendengar kalimat itu. Dirinya tidak percaya bahwa Eggy memang akan melakukan hal itu.
"Karena aku tidak ingin membiarkanmu menanggung beban malu. Nanti semua orang akan berpikiran buruk tentangmu, karena kamu baru saja menjanda malah langsung mengandung," kata Eggy.
"Ini anakmu lho, Kak. Aku mana mungkin malu."
"Bukan masalah anakku atau bukan. Tapi ini masalah status kita yang memang sudah berpisah."
"Tapi kamymu masih suamiku."
"Hanya kita bertiga yang tahu. Dan pengacaraku saja yang tahu akan hal ini," kata Eggy.
"Lalu bagaimana? Apakah aku harus mengatakan semua ini kepada semua orang? Agar mereka tahu status kita yang sebenarnya? Lalu kamu pun tidak usah menikah dengan Adelia," jelas Bulan.
"Tidak, tidak. Aku tidak bisa jika harus membatalkan pernikahan ini. Kamu tahu sendiri, keselamatan perusahaan ada di dalam pernikahanku dan juga Adelia," kata Eggy.
Fadhla terkekeh. "Egois."
"Tutup mulutmu!" tukas Eggy.
"Sandiwara yang kamu lakukan, akan aku lakukan juga bersama Bulan. Kita hanya berpura-pura menikah. Selebihnya, bukan urusanku," kata Fadhla.
Sontak Bulan menatap ke arah Fadhla. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa hal ini akan dia lakukan untuk menyelamatkan harga dirinya.
"Apa ini terlalu berisiko?" tanya Bulan.
"Mami sudah jelas tidak akan menyetujuimu, Fadhla. Kamu tahu alasanku bercerai dengan Bulan? Itu karena Mami tahu status dia yang sebenarnya," kata Eggy ikut nimbrung.
"Lalu bagaimana?" tanya Bulan berpikir mencari solusi lain.
"Aku akan berpura-pura bahwa aku yang menghamili Bulan kepada Mami," jawab Fadhla.
"Apa?" serentak Eggy dan Bulan terkejut bukan main. Bisa-bisanya Fadhla memiliki pikiran seperti itu. Ini di luar batas pikir dirinya.
"Apa kamu gila, Fadhla? Kamu akan menyebarkan aib yang tidak-tidak bagi Bulan," ucap Eggy tak habis pikir.
"Sumpah! Aku gak akan menyangka jika hal itu terjadi," sahut Bulan tak percaya dan masih syok mendengar kalimat Fadhla.
"Ini adalah solusi terbaiknya, Bulan. Lalu apakah kamu sanggup menahan kehamilanmu sendirian?" tanya Fadhla.
Bulan menatap ke arah Eggy. "Kurasa aku sebaiknya menanggung ini sendirian. Tidak masalah."
"Kamu akan sanggup?"
"Sebaiknya kamu pergi ke luar negeri, Bulan. Apa kamu mau?" tawar Eggy kepada Bulan.
"Ke mana kamu akan membawaku, Eggy?"
"Yang dekat saja. Kita ke Indonesia," jawabnya.
"Dengan siapa dia akan di sana?" tanya Fadhla.
"Aku sudah menjelaskan pada kamu bahwa Bulan akan tinggal bersama seseorang yang aku sewa selama dia di sana. Aku akan menyewanya selama dua tahun," jelas Eggy.
"Selama dua tahun itu kamu akan meninggalkannya?" tanya Fadhla memastikan.
"Apa kamu gila? Tidak begitu juga kali. Aku akan rajin-rajin menengok Bulan di sana."
"Apakah kamu yakin kamy bisa pergi sendirian tanpa Adelia? Ingat! Jika kamu sudah menikah dengan Adelia, mungkin saja kamu akan kesulitan untuk menemui Bulan," jelas Fadhla.
"Jangan khawatir. Adelia bisa aku urus. Bagaimana denganmu, Bulan?" tanya Eggy kepadanya.
"Kalau aku gimana baiknya aja. Penginnya sih denganmu di sini aja. Cuma kalau emang gak bisa, ya sudah. Aku tak akan memaksa kenyataan ini," jawab Bulan kepada Eggy.
"Dengan berat ini Bulan mengatakannya Eggy. Apa kamu tidak kasihan kepada istrimu yang harus menanggung penderitaan sendirian? Penderitaan yang suaminya berikan pada dia di saat dia sedang hamil," kata Fadhla.
"Hentikanlah!"
"Tidak masuk di akal!"
Bulan masih terdiam mendengarkan ocehan mereka berdua. Ya. Seharusnya ini tidak terjadi kepada dirinya. Namun harus bagaimana lagi? Pilihan ini memang sangatlah berat bagi dia. Sukit untuk dia tolak. Kehamilannya pun tidak di rencanakan dengan sengaja. Ini sudah menjadi kehendak Tuhan.
"Aku sudah putuskan akan pergi ke Indonesia saja. Tinggal di sana. Tak apa."
"Astaga. Mengapa semua ini terjadi sekarang?" Eggy mengacak rambutnya merasa sangat frustasi dengan masalah yang dia hadapi saat ini.
Bulan melepas cincin berlian yang dia kenakan dan memberikannya kepada Eggy. Keadaan tiba-tiba berubah. Membiarkan mereka menyaksikan cincin itu berpindah tangan ke tangan Eggy
Fadhla dan Eggy menatap Bulan dengan intens, tetapi dia berjalan ke arah Fadhla dan lalu berdiri di di sampingnya dengan senyum manis di wajahnya, “Tidak peduli siapa yang akan menikahiku sekarang, aku akan menikah dengannya! Sekali pun itu adalah dengan Fadhla, adikmu. Aku akan menikahinya untuk dekat denganmu, Kak."
Saat ini Bulan berdiri di hadapan mereka dengan bibirnya yang terus menerus tersenyum, sungguh menyedihkan.
"Jika aku menikahi Fadhla, bukankah aku akan kembali dihina keluarga Andalas? Baiklah. Ini suatu keputusan untuk kebaikanku," batin Bulan.
Masing-masing dari mereka memiliki pemikiran yang berbeda. Namun, di antara mereka juga ingin melindungi Bulan dari isu apa pun, tetapi keputusan Bulan ditampik oleh Eggy. Suami dia sendiri.
Eggy tahu jelas apa yang dipikirkan oleh Bulan, tetapi dia tidak tahu apakah keputusan yang sudah di buat Eggy untuk tinggal di Indonesia itu adalah solusi yang baik atau buruk? Fadhla pun sebenarnya memikirkan hal yang sama.
Tiba-tiba Eggy berkata, “Kalau begitu, kita bilang ke publik bahwa kita sudah rujuk kembali!”
"Lalu bagaimana dengan Adelia?" tanya Bulan.
"Terserah dia mau melakukan apa," jawab Eggy.
"Bagaimana dengan perusahaanmu? Perusahaanmu tak akan tertolong jika kamu gagal menikahi Adelia. Janganlah egois, Kak," kata Bulan mengingatkan.
"Justru jika aku melepaskanmu, akulah yang egois di sini, Bulan," jelas Eggy.
"Kalau begitu, bagaimana jika berpura-pura saja? Sama seperti yang aku ucapkan sebelumnya. Kita berpura-pura menikah dan kamu berpura-pura menjadi istriku," usul Fadhla kembali.
"Memang tidak ada pilihan lain. Aku memilih untuk menjadi istri palsu Fadhla, dibanding harus jauh darimu lagi. Sudah cukup pernikahan singkat kita seperti kejadian waktu lalu kamu meninggalkanku. Sekarang jangan lagi, Kak," ujar Bulan mulai mengingat akan masa itu.
Sontak Eggy terkejut mendengar pengakuan dari Bulan. Ini mengingatkan Eggy akan masa lalu dan hal baik mengenai menori-memori milik Bulan yang sudah lama telah hilang.
"Apakah kamu meningatnya Bulan?" tanya Eggy memastikan.
"Mengingat apa?" tanya Bulan kebingungan.
"Mengenai pernikahan kita pada masa lalu, di saat aku meninggalkanmu untuk urusan pekerjaan dan kembali setelah beberapa tahun kemudian," jawab Eggy.
"Entah mengapa sepettinya aku mengingat itu, Kak. Cuma memang samar-samar saja," sahut Bulan.
"Aku senang mendengarnya, Bulan. Akhirnya kamu bisa ingat. Aku berharap kamu mengingat semuanya, Bulan."
"Lalu bagaimana jika aku memang mengingatnya?" tanya Bulan.
Sejenak Eggy terdiam. "Bukan masalah. Aku akan tetap bersamamu dan menjalani hidup seperti biasanya."
"Sayang sekali kehidupan kita akan berbeda, Kak."
"Semua ini salahku."
"Jadi kalian mau bagaimana? Jangan bernostalgia dulu. Hal itu bisa nanti kalian bicarakan dengan berdua."
"Untuk malam ini, aku akan menginap dan tidur bersama Bulan," kata Eggy.
"Apa kamu gila? Besok pernikahanmu dan kamu akan di sini?" tanya Fadhla terheran-heran.
"Bukan masalah. Hari ini ulang tahunku. Aku ingin bersama istriku dan ingin di temani olehnya. Hanya dia," jawab Eggy.
"Gila! Ini sumpah, ya. Bener-bener gila, tahu gak? Besok kamu nikah, dan sebelum nikah kamu ... sumpah! Aku takut ada orang yang tahu," kata Fadhla menjelaskan.
"Jangan khawatir. Aku ingin bermalam dengannya. Jangan melarangku!" kata Eggy.
"Jadi solusi ini bagaimana, hah? Percakapan kita jangan muter-muter terus lah. Yang serius kenapa? Jawab aku dengan benar. Solusi ini bagaimana?" tanya Fadhla sekali lagi.
"Oke. Bulan akan berpura-pura menikah besok. Kamu harus berpura-pura menikah ketika aku menikah dengan Adelia. Kita akan melaksanakan pernikahan secara bersamaan pada besok nanti," kata Eggy.
"Apa? besok?" Bulan terkejut.
"Suatu kegilaan datang kembali padamu Eggy. Ada apa denganmu sih?" Fadhla pun mulai ikut frustasi.
"Intinya besok kalian berdua harus sama-sama menikah bersamaku. Kita menikah bersama-sama. Mami pun sepertinya tidak akan berkutik karena dia sangat menjaga etika dan sikap dia di depan semua orang. Ini momen yang sangat bagus dan sangat pas untuk merencanakan ini," jelas Eggy.
"Oke deh. Aku setuju dengan hal ini."
"Aku juga ikut bagaimana keputusan suamiku saja. Ridhoku ada padanya," pasrah Bulan dengan kehidupannya. Dia benar-benar menyerahkan seluruh kehidupannya kepada Eggy.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.
Terima kasih, semuanya. :*