The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Makam Anak Kita



Mereka berdua pun telah sampai di tempat tujuan mereka. Kini mereka sudah berada di makam khusus keluarga. Kemudian Bulan, Eggy dan juga Fadhla turun dari mobil mereka. Lalu Bulan mengambil air dan bunga untuk anaknya.


"Sini biar aku saja," ucap Eggy kepada Bulan. Maksudnya untuk membawakan air dan bunga tersebut dari tangan Bulan.


"Terima kasih, Kak."


"Ini untuk anak kita juga. Tidak perlu bilang terima kasih seperti itu," ucap Eggy.


"Walaupun begitu, tetap saja," sahut Bulan.


Mereka pun sudah sampai di makam anak mereka. Kemudian Bulan, Eggy, dan juga Fadhla duduk bertiga saling berdampingan. Di sana mereka mulai memanjatkan doa untuk kebaikan anaknya.


Setelah itu, mereka pun menaburkan air dan bunga ke kuburan anak mereka. Di sana, Bulan nampak menangisi anaknya itu. Seharusnya dia merasakan janin anaknya itu ada di dalam perut Bulan. Namun dirinya harus menerima kenyataan bahwa anaknya itu telah tiada. Dia menangis sejadi-jadinya di tempat pemakaman itu. Eggy yang kini masih berada di sampingnya itu, langsung memeluk Bulan dan menenangkannya.


"Sstt. Jangan menangis. Kita tahu bahwa semua manusia sudah pasti akan mati pada waktunya. Mungkin ini bukan rejeki kita, Bulan. Jadi, biarkan kita ikhlaskan saja anak kita, ya!" ucap Eggy.


"Seandainya aku tidak terlalu banyak memikirkan hal apa pun, pasti semuanya tidak akan seperti ini," ucap Bulan sangat menyesalinya.


"Iya, tetapi mau bagaimana lagi? Sudah telanjur juga, bukan? Di tangisi dan di sesali pun tetap dia tidak akan kembali. Jadi, mau bagaimana lagi? Kamu harus tabah dan sabar akan cobaan ini," ucap Eggy mengusap rambut Bulan dengan lembut.


Bulan mulai mengusap air matanya. Lalu dia pun langsung menyentuh batu nisan anaknya itu dengan perlahan.


"Walau pun kamu masih berbentuk janin, tetapi kamu tetap anakku. Walau pun kamu belum bernyawa, kamu tetaplah anakku," ucap Bulan.


Fadhla yang melihat Bulan bersedih hati pun langsung merasa sangat iba. Dia merasa tidak tega melihat Bulan yang menderita akan kehilangan anaknya. Kemudian Fadhla pun beranjak dari sana dan berniat untuk mengajak Bulan pergi.


"Jangan bersedih terus, mari kita pergi!" ajak Fadhla kepada Bulan sambil memberikan tangan kanannya.


Eggy pun menangkis tangannya.


"Hei, sabar dulu!" ucap Eggy.


Fadhla pun tersenyum simpul. "Baiklah, aku tunggu kalian berdua di mobil saja, ya. Oke!" Kata Fadhla. Kemudian dia pun langsung pergi meninggalkan mereka berdua di sana.


"Tenangkan dirimu, ya, Bulan!" ucap Eggy mengelus pundaknya.


"Iya, Kak. Aku mencoba untuk ikhlas. Aku coba untuk. mengikhlaskan semuanya. Hanya saja aku selalu ingat dengan kejadian tentang anak kita itu, Kak," ungkap Bulan dengan amat jujur.


"Aku belum siap, Kak. Aku takut kehilangan lagi," kata Bulan.


"Jangan begitu Bulan. Kamu harus tetap berusaha dan percaya diri akan hal itu. Jangan takut, Bulan. Jika pun sebentar lagi kamu hamil, aku akan selalu ada di dekatmu. Aku akan sering bersamamu kok," kata Eggy.


"Apakah itu benar, Kak? Apakah Kakak akan terus bersamaku?" tanya Bulan.


"Iya, Bulan," jawab Eggy.


"Namun sepertinya aku harus menyiapkan mental dulu, Kak, agar aku siap-siap untuk tidak kehilangannya lagi. Aku takut. Aku merasa tidak sanggup."


"Apa yang kamu takutkan? Apa yang membuat kamu tidak sanggup?" tanya Eggy.


"Aku takut kehilangannya lagi, Kak. Aku merasa trauma akan hal itu," jawab Bulan menatap kuburan anaknya. "Aku pun tidak sanggup jika jmharus menerima semua ini. Aku sudah kehilangannya satu kali, Kak. Aku tidak ingin merasa kehilangan lagi," ucap Bulan.


"Kali ini kamu tidak akan kehilangannya, Bulan. Percaya saja padaku. Karena ada aku yang akan selalu di samping kamu. Dan bukan hanya aku. Ada Fadhla juga di sana. Kamu kan tinggal bersama dia, aku percayakan semua itu kepada Fadhla," kata Eggy.


"Bukankah Kakak cemburu padanya?" tanya Bulan mengingatkan.


"Jika kamu mengandung anakku, lalu Fadhla menjagamu, tentu saja aku tidak akan cemburu," jawab Eggy.


Bulan tersenyum dan dia pun langsung memeluk Eggy dengan erat, seakan tidak ingin kehilangannya. Dari arah kejauhan, terlihat Fadhla yang sedang memperhatikan mereka berpelukan. Perasaannya bagai tersayat pisau tajam, tetapi Fadhla tidak ingin menanam rasa itu lebih dalam lagi. Dia harus tetap ingat kepada posisinya pada saat ini. Dia tidak boleh keluar dari jalur itu. Ini sudah menjadi sebuah keharusan bagi dia.


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.


Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti pasti aku masukan kok. Jangan khawatir! :)


Terima kasih, semuanya. :*