
Dari arah kejauhan, Bulan melihat Fadhla dan Soraya sedang bersenda gurau. Namun ada yang aneh dari pandangan Bulan saat menatap mereka. Dirinya seakan tidak suka dengan pemandangan yang sedang dilihatnya itu.
"Wanita itu siapa, sih?" tanya Bulan secara perlahan.
Tak lama kemudian, seseorang datang mengejutkan dirinya. "Maaf, Nona. Ini struk belanjaannya ketinggalan."
Bulan pun menengok. "Eh, iya, Mas. Terima kasih, ya. Maaf saya kelupaan."
"Tidak apa-apa, Nona."
Bulan mengambil kertas struk tersebut. Terus tiba-tiba Bulan dikejutkan kembali dengan kedatangan Fadhla yang tiba-tiba menyentuh pundaknya.
"Hei, Bulan. Maaf terlalu lama. Apakah sudah selesai semuanya?" tanya Fadhla.
Bulan menengok. "Eh, sudah kok."
Lalu Bulan menatap ke arah seorang wanita yang telah dibawa oleh Fadhla, dan Fadhla pun memberi tahukan kepada Bulan, juga memperkenalkan dirinya padanya.
"Bulan, kenalkan ini Soraya, teman lamaku," ucap Fadhla. Bulan pun memberi senyuman hangat kepada teman Fadhla tersebut. "Soraya, ini Bulan."
Soraya pun memberikan sebuah senyuman padanya. Lalu dia memberi tangan kanan untuk menjabat tangan dengannya. "Hai, saya Soraya. Salam kenal, ya!"
"Ini minumanmu, Bulan. Biar aku saja yang membawa semua belanjaan kita ke mobil."
Fadhla pun mengambil dua kantung kresek besar berisikan belanjaan mereka. Kemudian Soraya merangkul lengan Bulan dan bersikap seolah-olah sudah mengenalnya sejak lama.
"Ayo kita pergi bersama-sama," ajaknya.
Bulan hanya tersenyum padanya. Dia tidak mampu untuk bersikap seolah-olah baik kepada orang asing.
Terlihat mereka bertiga sudah berada di dalam mobil. Namun kesalnya, kini Bulan berada di kursi bagian belakang. Sedangkan Fadhla dan Soraya berada tepat di kursi depan mereka, saling berdampingan pula. Bulan hanya terdiam menyaksikan mereka berdua yang sepanjang perjalanan terus saling melemparkan tawa dan berbagi kisah yang sangat seru. Namun tetap saja Bulan tidak bisa merasakan kebahagiaan itu karena dia tidak mengerti apa-apa soal pembahasan mereka.
"Kenapa aku harus berada di antara mereka berdua, sih?" ucap Bulan dalam batin.
"Hei, Bulan. Sepertinya hidupmu indah sekali, ya, mempunyai suami seperti Fadhla yang humoris dan pastinya kamu akan dibuat tertawa setiap hari," kata Soraya mencoba mengajaknya untuk berbicara.
"Sebenarnya dia tidak terlalu humoris denganku," sahut Bulan.
Pernyataan itu membuat Soraya tercengang. "Eh, benarkah? Aku tidak percaya."
Bulan tidak menjawab.
"Wajar kalau aku kurang humoris dengan Bulan. Soalnya kita baru kenal dan langsung melakukan pernikahan juga. Jadi masih agak canggung," jelas Fadhla.
"Hah? Kalian berdua langsung menikah tanpa berpacaran terlebih dulu?" tanya Soraya terkejut.
"Ya. Kurang lebih seperti itu," sahut Fadhla.
"Gila, sih. Kalian berani banget menikah tanpa mengenal satu sama lain. Hebat, sih. Hebat banget! Aku salut sama kalian berdua yang punya rasa percaya seperti itu," ungkap Soraya.
"Jangan berlebihan," kata Bulan ikut nimbrung.
"Baru kok. Beberapa minggu ini," jawab Fadhla.
"Eh, masa? Pengantin baru dong kalian berdua? Ah, sayang banget. Aku rupanya salah deh bertemu denganmu, La. Aku mengganggu kalian berdua," kata Soraya merasa tidak enak.
"Tidak masalah, lho, Ya."
"Kamu tidak mengganggu kok. Aku senang mendapat teman baru sepertimu," kata Bulan.
"Apa kalian berdua mau liburan bersamaku? Hitung-hitung kalian berbulan madu deh," tawar Soraya.
"Ah, sepertinya tidak bisa," jawab Bulan langsung menolaknya.
"Lha, kenapa?"
Bulan terdiam sejenak. Dia merasa kebingungan untuk mencari alasan penolakan kepada Soraya. "Ah, itu ... ituβ"
Ucapan Bulan terpotong oleh Fadhla. "Itu karena Bulan harus beristirahat yang banyak. Dia sedang sakit," kata Fadhla melengkapi kalimatnya.
"Kamu sakit apa?" Soraya mulai kepo.
"Darahku rendah. Aku punya anemia dan kesulitan tidur," sahut Bulan mengarang sedikit.
"Sepertinya itu masalah serius. Kamu harus segera periksakan ke dokter, Bulan."
"Ya. Nanti aku akan ke dokter."
"Mau pergi ke dokter bersamaku?" tawar Soraya.
"Eh, tidak. Terima kasih. Jangan repot-repot," ucap Bulan.
"Bukan masalah. Lagian aku kekurangan teman di sini. Kali aja aku bisa menjadi teman baikmu, bukan?"
Bulan hanya tersenyum simpul. "Ah, iya. Bisa kok."
Soraya begitu bersikap hangat dan seolah sudah mengenal lama. Dia mudah bersosialisasi dengan sikapnya yang supel. Namun Bulan merasa sangat tidak nyaman dengan sikap. Soraya yang terlalu banyak menonjolkan sikap supelnya itu. Perasaan Bulan sedikit tidak enak dengan kedatangan Soraya. Dia takut ada masalah lagi di kehidupan dia.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. Beri BINTANG 5 juga. ππ
Karena itu untuk apresiasi kalian bagiku, agar bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti pasti aku masukan kok. Jangan khawatir! :)
Terima kasih, semuanya. :*