
"Terima kasih karena kamu sudah datang kemari, Eggy," ucap Adelia.
"Apa kamu mengingat namaku?" tanya Eggy penasaran.
"Jelas. Kamu calon suamiku, bukan? Sebentar lagi kita akan menikah, kan?" tanya Adelia memperjelas.
Eggy mulai kebingungan. "Tunggu! Apa kamu benar-benar mengingatnya?"
"Ya. Memangnya ada apa? Apa ada yang salah dengan hal itu?" Kini Adelia yang mulai kebingungan dan penasaran dengan pertanyaan yang di berikan oleh Eggy.
"Ah, tidak. Tidak. Lupakan saja," sahut Eggy enggan memperpanjang masalah itu.
"Baiklah! Kalau begitu, aku merasa sangat senang jika kamu datang kemari, Eggy. Aku merasa bahwa kamu benar-benar pria yang baik," ungkap Adelia kepada Eggy. Dia tersenyum padanya. Begitu pun dengan Eggy yang membalas senyumannya balik. Dia tidak menyangka bahwa Adelia akan mengingat hal itu. Karena sebelumnya sanga dokter memang mengatakan bahwa Adelia kemungkinan tidak dapat mengingat sebagian memori dari ingatannya. Namun sepertinya kini Adelia baik-baik saja tanpa ada yang harus di khawatirkan secara berlebih.
"Aku bukan orang baik. Ini sebuah keharusan. Aku seharusnya bertanggung jawab penuh atas semua ini. Sebelumnya kita bertengkar dan aku sangat merasa bersalah akan hal itu," sahut Eggy.
"Ya. Dan bodohnya aku malah terbawa emosi seperti itu, seperti seseorang yang masih labil. Perasaan masa remaja yang tidak bisa di kontrol dengan baik," jelasnya.
"Kamu tahu? Aku sempat benar-benar cemas memikirkan keadaanmu saat itu. Kamu berlumuran darah yang banyak. Bahkan kamu berada di ruang UGD sangat lama. Aku pikir keadaanmu benar-benar parah sampai kritis. Aku takut jika kamu mengalami keadaan koma," kata Eggy dengan jujur.
Adelia mengerutkan dahinya. Dia tersenyum dan memegang tangan Eggy. "Apa yang kamu rasakan, Eggy? Apakah ada perasaan yang berbeda terhadapku pada saat ini? Apakah kamu menyadari sesuatu?"
Menyadari hal itu, Eggy langsung menarik tangannya dan memalingkan pandangan ke arah lain. "Itu karena aku melihatmu dalam keadaan parah. Maka dari itu aku sangat cemas. Kamu jangan salah paham mengenai hal itu."
Adelia nampak mengerucutkan bibirnya. "Aku tahu bahwa kamu mulai menyukaiku, Eggy. Ada perasaan yang lebih darimu. Aku tahu bahwa kamu juga merasakan hal yang sama denganku. Dasar pembohong!" ucap Adelia dalam batin.
"Baiklah! Terserah apa yang kamu katakan, Eggy. Aku tidak peduli. Mau kamu kerasa kasihan atau hanya cemas, itu bukan masalah. Tapi saat aku bertanya mengenai namamu ke suster, dia nampak bingung. Mungkin kamu tidak menyebutkan namamu pada suster itu. Ketika aku menjelaskan ciri-ciri diri kamu dan ketika aku bertanya siapa yang sudah membawaku kemari, dia menjawab dengan sangat, sangat, sangat jelas bahwa dia mengatakan bahwa kamu calon suamiku. Kamu mengaku ke pihak rumah sakit bahwa kamu calon suamiku. Benar, bukan?" jelas Adelia dengan panjang lebar. Membuat Eggy membungkam mulutnya sejenak.
Eggy menelan ludahnya. "Seharusnya kamu tahu, aku melakukan itu hanya untuk membayar senua fasilitasmu di rumah sakit. Mereka meminta seorang kerabat terdekat atau keluarga yang bisa diajak berbicara. Dengan terpaksa, aku melakukannya."
Adelia tersenyum mendengar kalimat yang keluar dari Eggy. Dia sangat menyukai ekspresi wajah Eggy yang mulai gugup dengan kalimat yang akan dia keluarkan. Tidak biasanya memang Eggy bersikap seperti itu. Adelia mulai benar-benar yakin bahwa Eggy memiliki perasaan padanya. Ada hal yang menarik perhatian Eggy terhadap Adelia. Namun Adelia masih mencari-cari hal apa yang akan menarik perhatiannya selain harus kena musibah. Pasalnya Adelia tidak ingin berkorban diri atau berkorban nyawa hanya demi mendapatkan perhatian dari Eggy. Menurutnya terlalu berlebihan jika di lakukan.
"Apa benar seperti itu?" tanya Adelia sekali lagi.
"Jangan pedulikan jika tidak percaya," jawab Eggy sinis.
"Ih, kok begitu? Aku serius lho."
"Aku juga serius."
"Berarti serius bahwa ... ada sesuatu?" goda Adelia.
"Iya, iya."
"Maaf aku tidak bisa membantumu bangun. Aku yakin kamu mampu bangun sendiri untuk duduk sejenak meminum obat," kata Eggy menolak sebelum meminta bantuan.
Adelia menghela napas kesal. "Bukan masalah. Sudah biasa."
Adelia seperti sudah sering mendapatkan perlakuan seperti itu. Entah Adelia memang sudah berpengalaman dengan pria yang mempunyai sifat seperti Eggy, entah memang dirinya bisa mengerti dengan sifat yang di miliki oleh Eggy.
Adelia mulai bangun dari tidurnya. Eggy memang tidak bisa membantunya bangun, karena dia memegangi obat dan gelas pada tangannya masing-masing. Lalu Adelia mengambil obat dan gelas itu dari tangan Eggy. Kemudian dia meminumnya. Setelah itu, dia berikan gelas itu kembali kepada Eggy.
"Terima kasih, Eggy."
Eggy hanya mengangguk saja seraya menyimpan gelas itu di meja. Kemudian Adelia kembali tiduran. Eggy membantunya memakaikan selimut, agar Adelia tidak. merasa kedinginan.
"Istirahatlah! Aku akan pergi ke luar, sebentar," kata Eggy.
"Ke mana?"
"Ke luar."
"Ke luar ke mana?"
"Mana aku tahu. Intinya aku akan pergi ke luar dulu. Lalu kembali kemari. Aku tidak ingin kamu bertanya lagi soal ini, ya. Pembicaraan kita ditutup," kata Eggy menjelaskan hal itu kepada Adelia. Adelia hanya bisa diam mendengarkan itu. Merasa gedek sendiri.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.
Terima kasih, semuanya. :*