The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 46



Berkali-kali aku berpikir bahwa apa yang akan aku lakukan dengan Eggy? Satu-satunya cara untuk kembali adalah bercerai. Aku setuju dengan apa yang dikatakan oleh orang tuanya. Aku harus bercerai dan pisah dengannya. Aku tidak boleh bodoh lagi.


"Pokoknya, aku harus bicara akan hal ini padanya. Aku tidak boleh membiarkan masalah ini berlarut begitu lama. Aku harus mencari solusi tentang masalah ini."


Aku pun berjalan kembali menuju kamar untuk membicarakan sesuatu. Tanpa mengetuk pintu, aku langsung masuk saja ke kamar. Betapa terkejutnya aku melihat Eggy yang tak memakai busana. Aku melihat perut kekarnya dan dada yang bidang.


"Apa-apaan?" ucapku spontan.


Eggy menatapku lama. Dirinya seakan mati kutu saat aku memergokinya. Terlihat dirinya sedang memakai celana dalam, namun terhenti begitu saja menyadari adanya diriku.


"Apa kamu ingin?" tanya Eggy.


"Apa?"


Sungguh pertanyaan yang konyol. Apa maksudnya? Ingin apa?


Dengan santai, kembali dirinya langsung melanjutkan memakai celana dalam dan pakaian lainnya. Ia tak terlihat malu dengan hal itu. Menjijikkan.


"Kamu membuatku berbuat dosa," umpatku padanya.


"Apa yang aku perbuat padamu?" tanyanya datar.


"Aku melihatmu, Kak! Aku melihat ... ah, lupakan saja. Benar-benar ya."


"Bukan salahku."


"Tentu saja salahmu. Kenapa tidak bilang, coba, jikalau kamu sedang berpakaian?" Aku merasa sangat malu dengan kejadian ini.


"Kamu tidak mengetuk pintu terlebih dulu. Sudah pasti bukan salahku."


"Shit. Aku lupa."


"Mau tidur bersama?" tanya Eggy.


What the ****?


"Apa? Tidur bersama? Tidak. Terima kasih," tolakku.


"Baiklah. Lalu mengapa kamu masih di sini?"


"Maksudmu apa?"


"Bukannya kamu akan pergi ke orang tuamu?"


"Ah, untuk masalah itu ... lupakan. Ada sesuatu yang harus kita bicarakan."


Eggy berjalan menuju ranjang. Dia pun duduk bersandar di sana.


"Mau bercerita di sini, di sampingku?" tawarnya.


"Dasar mesum."


Eggy pun terkekeh mendengarnya. "Lalu apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Penasaran ya, Kak?" godaku.


"Tidak juga. Terserah padamu."


Aku menaikkan sebelah bibirku seraya memutar kedua bola mataku.


"Menyebalkan!" gumamku. "Ibumu datang. Dia memintaku bercerai denganmu. Kurasa Ibumu benar. Aku harus meninggalkanmu. Apalagi perusahaanmu sekarang diambang kebangkrutan. Ibumu berkata bahwa itu salahku, karena skandal yang pernah aku lakukan dengan Raihan."


"Mengapa kamu ingin bercerai hanya dengan alasan itu?"


"Aku sudah mengatakannya padamu berkali-kali. Aku tidak ingin mwngulangnya lagi."


"Baiklah? Apa?"


"Bercerai, 'kan, katamu? Apa kamu ingin mengubah pikiranmu?"


"Tidak, tidak. Lalu caranya bagaimana?" tanyaku penasaran.


"Berpura-puralah bukan istriku."


"Maksudnya?"


"Berpura-pura bahwa kita sudah bercerai. Aku akan membuat surat perceraiannya."


Benar-benar di luar nalar. Apa-apaan ini? Berpura-pura cerai? Drama apa ini sebenarnya?


"Mengapa? Mengapa harus pura-pura?"


"Aku tidak akan menceraikanmu sampai kamu ingat siapa siapa diriku dan siapa diri kamu saat ini. Cukup jelas?"


"Apa kamu ingin menipuku secara terang-terangan?"


"Apa aku terlihat menipumu?"


"Ya. Tentu saja."


"Sampai surat itu jadi, kamu harus memerankan apa yang seharusnya kamu lakukan."


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti. Ini tidak masuk akal. Kamu ingin kita berpura-pura bercerai, untuk apa?"


"Apa sekarang kamu tidak ingin bercerai?"


"Ya memang ingin. Hanya saja bukan seperti ini caranya."


"Lakukan saja peranmu. Lakukan sesukamu. Jika surat perceraian palsu itu sudah tiba di tanganmu, kamu harus memulai peranmu sebagai janda."


"Aku ingin bercerai secara nyata."


"Aku tidak akan melakukannya."


"Kamu harus! Aku akan menikah dengan Raihan. Dia janji akan menikahiku."


Sejenak Eggy terdiam. Kulihat dia sedang berpikir keras dengan keputusan ini. Kurasa, dia harus berpikir matang-matang perihal ini. Perceraian bukanlah masalah sepele dan bisa dimain-mainkan. Aku tidak ingin terjerat dengan permainannya yang berpura-pura pisah dan melakukan drama di hadapan semua orang.


"Menikahlah dengannya, jika itu maumu."


"Apa?"


Aku benar-benar dibuat terkejut oleh jawabannya. Statusku sebenarnya apa?


"Itu serius?" tanyaku terkejut.


"Aku berbicara jika kamu mau."


"Ya jelas aku mau lah."


"Yasudah. Jika kamu ingin poliandri menikah saja," sindirnya.


Maksudnya apa? Poliandri? Apa dia sudah gila? Apa dia menyuruhku untuk mempunyai suami dua? Memangnya itu diperbolehkan apa?


Seketika aku membayangkan dalam kehaluan ini mempunyai suami dua. Bagaimana cara mereka ingin bermanja denganku, terus saling memelukku. Aku diperebutkan oleh dua pria. Terus tidur di ranjang yang sama saling di dampingi oleh para suamiku. Apalagi saat mereka berdua ingin bercinta denganku, siapa yang akan terlebih dulu memakaiku? Suami pertama pastinya. Lalu yang kedua. Atau bahkan aku bekerja untuk keduanya.


Ih, membayangkannya saja aku merinding. Apalagi menjadi kenyataan? Pikiran Eggy benar-benar di luar nalar. Bisa-bisanya berbicara seperti itu padaku, memangnya dia ingin di duakan apa? Dasar aneh! Tidak masuk akal.