The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 58



Terlihat banyak orang yang berlalu lalang di dalam Mall ini, membuatku tak bosan untuk sekadar memperhatikannya secara sekilas. Lalu aku mulai melihat ada beberapa orang yang membawa anak beserta istrinya melihat pakaian, melihat sepatu, ada pula juga yang melihat-lihat mainan. Seketika naluriku ingin menjadi seperti mereka. Namun sayang, untuk saat ini aku tidak bisa melakukannya. Harapan itu aku tunda dalam benakku. Kemudian aku mulai melanjutkan tujuanku ke sini.


Tak lama setelah itu, tiba-tiba seseorang mengejutkanku dari arah belakang.


"Hei!" panggilnya.


Aku menengok ke arahnya sambil mengingat rupa wajah orang itu. "Kamu ...."


"Kita pernah bertemu di pinggir jalan. Waktu itu kamu sedang kebingungan mencari alamat," katanya menjelaskan.


Aku baru ingat akan hal itu. "Ah, iya. Aku ingat sekarang. Rupanya kita bertemu lagi," sahutku mencoba untuk ramah.


"Kamu belum sempat memberitahu namamu padaku pada waktu itu."


"Benarkah? Kupikir aku sudah memberitahumu." Seingatku sih begitu. Mungkin aku juga lupa. Entahlah.


"Rasanya belum deh. Yasudah, bagaimana jika kita mulai dari awal lagi. Berkenalan dengan cara yang benar dan tidak terburu-buru," sahutnya mencarikan solusi.


"Baiklah. Tidak masalah."


"Oke, namaku Fadhla. Senang berkenalan denganmu. Semoga kita bisa menjadi teman dan lebih dekat lagi, bukan hanya sekadar teman saja."


Aku terkekeh mendengarnya seperti itu. "Aku Bulan. Terima kasih telah menjadi temanku. Senang juga berkenalan denganmu. Semoga kita memang bisa menjadi teman," kataku berbelit-belit.


Dia terkekeh. "Sepertinya kamu suka sendiri, ya!" tebaknya.


"Tidak begitu juga kok. Kebetulan aku memang ingin pergi sendirian," sahutku.


"Aku temani, boleh?" tanyanya.


Sejenak aku berpikir tentangnya. Aku tidak begitu mengenalnya. TetapiĀ  dia menawarkan diri padaku untuk menemaniku. Aku tidak tahu pasti, dia benar-benar orang baik atau bukan. Yang aku lihat, sepertinya dia baik. Namun aku tidak yakin dengan hal itu.


"Mungkin lain kali saja. Aku ingin sendiri," sahutnya sambil tersenyum padanya.


"Beneran? Kebetulan aku tidak punya teman saat ini. Aku baru saja sampai perjalanan dari London. Niatku ingin bertemu kakakku di sini. Dia punya masalah," katanya yang mungkin berterus terang.


"Ah, begitu ya. Jadi kamu baru beberapa hari di sini?" tanyaku mulai penasaran dengannya.


"Iya. Begitulah. Waktu lalu aku ke rumah orang tuaku terlebih dulu. Jadinya aku belum sempat bertemu dengan kakakku," jawabnya.


"Oh, begitu. Pasti kamu rindu keluargamu di sini."


"Ya begitulah. Seorang anak yang lama jauh dari keluarga, mana mungkin jika tidak kangen," ujarnya. "Kita ngobrol di sebelah sana yuk! Biar aku yang traktir makanan dan minumanmu," tambahnya.


"Ya bolehlah, ini kan pakai uangku. Memangnya siapa yang bilang tidak boleh?" sahutnya.


"Tidak ada," jawabku singkat. Masuk akal juga, kenapa aku bertanya hal bodoh padanya? Konyol.


Aku dan dia pun duduk saling berhadapan dan mulai mengobrol tentang kehidupannya. Di tengah-tengah obrolan kami, pesanan kami pun tiba dengan beberapa cemilan shushi, kentang goreng, pizza, hot dog, ice cream dannjuga beberapa milkshake. Entah mengapa dirinya memesan makanan sebanyak itu, padahal kita hanya berdua saja. Mungkin untuk menambah durasi waktu agar perbincangan kita lebih lama.


Sebenarnya aku tidak begitu ingin tahu tentang dirinya, karena bagiku dia masih ku anggap orang asing. Namun jika dirinya yang bersedia bercerita tanpa aku meminta, itu tidak masalah. Aku tetap akan mendengarnya sebagai rasa simpati dan menghargainya.


"Jadi, kamu di London untuk belajar bisnis?" tanyaku.


"Yup. Kamu benar."


"Hebat. Kamu pasti pria yang pintar," pujiku.


"Tidak juga. Jangan berlebihan," elaknya malu-malu. Lalu dia meminum minuman yang sudah dipesannya tadi.


Aku mengambil sebiji kentang goreng. Kemudian aku oleskan ke saos sambal, dan langsung memakannya. Aku teringat kebersamaanku bersama dengan Raihan. Tetapi aku tidak boleh terus-terusan mengingat masa lalu. Masa kini lebih penting dari pada masa lampau. Aku harus secepatnya ingat kenangan itu.


"Apa kamu percaya, tentang seseorang yang mengalami hilang ingatan?" tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.


"Jelas, aku percaya," jawabnya. "Memangnya ada apa dengan itu? Kali ini pembahasan kita sedikit serius ya," tambahnya.


Aku tersenyum. "Gak begitu serius juga. Hanya bertanya sih. Tapi apakah mungkin, orang yang sudah didiagnosis hilang ingatan, akan ingat tentang ingatan yang hilang?" tanyaku penasaran. Aku hanya ingin tahu pendapatnya saja tentang itu.


"Tergantung sebab hilang ingatannya. Karena kan orang yang mengalami amnesia juga berbeda-beda. Kakek-nenek pun, mereka mengalami amnesia juga," sahutnya sambil bercanda.


"Kamu lucu. Maksudnya bukan amnesia seperti itu."


"Jika hilang ingatan akibat cedera kepala, umumnya akan pulih sesuai berjalannya waktu dalam masa penyembuhan kok."


"Cara mengatasinya bagaimana?" tanyaku. Dengan bodohnya aku bertanya kepada orang asing. Bukan kepada dokter atau pun psikiater.


"Hilang ingatan menurutku mungkin akan membaik, memburuk, atau mungkin menetap seumur hidup. Kondisi itu pun merupakan hal yang serius dan mungkin menimbulkan keterbatasan. Karena itu, orang yang mengalami hal ini harus ada dukungan dari keluarga dan kerabat terdekat memegang peranan penting untuk pemulihan ingatan yang sudah dia hilangkan. Lebih tepatnya mungkin tak sengaja hilang ingatan."


Aku memahami apa yang diucapkannya. Aku pun mulai ada pencerahan untuk mengobati hilang ingatanku. Semenjak kecelakaan itu terjadi, aku belum sempat menemui orang tuaku karena alasan kesehatan yang belum pulih. Kini aku sudah mulai pulih, aku malah jalan-jalan gak jelas dan bertanya ke sana kemari kepada orang yang aku ingat. Mungkin aku harus konsultasi kepada psikiater akan amnesiaku. Mungkinkah aku akan sembuh dan ingat segalanya?


Aku melihat Fadhla dengan pandanganku. Sepertinya dia memang orang baik. Mungkin juga dia berkata jujur padaku. Dia pun cukup mengetahui tentang apa yang aku alami. Walaupun dia tidak tahu bahwa diriku mengalaminya. Tetapi dia tidak ingin tahu lebih dalam, mengapa aku menanyakannya?


Dan memang, tidak ada salahnya jika aku memberinya kesempatan untuk lebih dekat denganku. Namun, dengan status sebagai istri orang, apa tidak masalah baginya? Dan apa ini juga tidak masalah untuk Eggy? Setahuku dari apa yang diceritakan oleh Eggy dan Raihan, aku memiliki nama buruk dalam skandal percintaan. Apakah kali ini aku akan dianggap berskandal dengannya pula?