
Bulan menggelengkan kepalanya. Dia gedek dengan apa yang ada di dalam pikiran Melda saat ini. Namun Bulan mencoba untuk memahami dengan apa yang di katakan olehnya. Mungkin dirinya sudah kelewat kesepian. Maka dari itu, dia ingin segera mendapatkan pasangan hidup. Bulan memahaminya.
Tak lama kemudian, tiba-tiba suara klakson mobil terdengar di luar restoran. Dia menekan klakson mobil tersebut sebanyak tiga kali. Dikira nyingkirin setan apa, pake bunyiin klakson 3 kali segala. Orang-orang yang berada di dalam restoran pun penasaran dan seketika menatap ke arah asal suara tersebut.
"Eh, itu siapa, Bulan? Di depan sana?" tanya Melda kepada Bulan.
Bulan menengok. Dengan melihat bentuk mobilnya saja dia sudah mengetahui bahwa siapa yang datang ke tempat kerjanya di restoran.
"Ah, dia temanku," jawab Bulan kepada Melda.
"Suruh sini dong!" ujar Melda.
"Eh, bentar. Dia telepon," kata Bulan yang mendengar ponselnya berdering.
*Mode telepon
"Hei, Bulan. Aku sudah ada di depan restoranmu. Ayo kemari! Cepat keluar!" kata Fadhla memerintah.
"Iya, iya. Tunggu sebentar. Eh, tapi kemari aja. Masuk dulu," kata Bulan.
"Enggak, gak, gak. Kamu yang ke sini aja deh. Cepetan! Lagian malu kalau aku yang ke sana," tolak Fadhla.
"Yasudah, aku mau pamit sama yang lain dulu, ya. Kamu tunggu sebentar," kata Bulan.
"Iya. Aku tutup dulu teleponnya." Fadhla pun langsung menutup telepon tersebut.
"Hei, bagaimana? Apakah dia mau ke sini, Bulan?" tanya Melda kepada Bulan.
Bulan menggelengkan kepalanya. "Enggak mau. Dia malu. Yasudah lah, ya. Jangan di pikirkan. Aku mau pergi pulang terlebih dulu," kata Bulan sambil membereskan barang-barang miliknya di sana.
"Bulan, kamu mau pulang sekarang?" tanya Angga.
Bulan menengok. "Iya, Pak. Saya akan oulang terlebih dulu. Saya izin pulang, ya, Pak."
"Baiklah. Kamu akan pulang dengan siapa?" tanya Angga.
"Dengan temanku, Pak. Dia sudah ada di depan restoran," jawab Bulan.
"Aku ikut, hei!" kata Melda.
"Ikut ke mana?" tanya Bulan terheran-heran.
"Ikut bersamamu dong, Bulan. Pergi. Sekalian anter aku pulang," jawab Melda.
"Oh, ya ampun. Tunggu sebentar. Aku harus bicara dulu kepada temanku," kata Bulan menggantungkan keputusan.
"Aku akan melihat dari sini," ujar Melda.
Bulan pun berjalan menghampiri mobil Fadhla. Diikuti oleh Melda sampai pintu keluar restoran. Dari arah kejauhan, Angga melihat Bulan berjalan keluar restoran dan dia pun perlahan-lahan berjalan mengikutinya. Dia penasaran dengan sosok pria yang menjemput Bulan itu. Dia ingin mengetahui rupa dari wajah orang itu. Lalu setelah Bulan berada di luar restoran, dia berdiri di pintu mobil dan mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil itu dengan pelan.
"Hei, buka dulu kacanya. Aku mau bicara," kata Bulan.
"Ya ampun, ini si Bulan banyak bicara amat sih. Mau apa lagi sih?" gumam Fadhla dengan pelan di belakang Bulan.
Dengan terpaksa, dia pun membuka kaca jendela mobilnya.
"Ada apa lagi, Bulan? Ada apa?" tanya Fadhla.
"Temenku ingin ikut bersama kita, naik mobil. Apa boleh?" tanya Bulan.
"Siapa?" tanya Fadhla.
Bulan menengok dan melihat ke arah Melda. Kemudian saaty mereka saling bertatapan, Melda melambaikan tangannya.
"Itu dia Orangnya," kata Bulan.
"Kenapa dia ingin ikut?" tanyanya.
"Katanya pengen ikut doang sih. Aku gak nanya alasan lain," jawab Bulan.
"Kenapa mau ikut sih? Aku ada urusan denganmu, Bulan," kata Fadhla yang mengisyaratkan bahwa dirinya menolak hal itu.
"Tapi gimana, ya, Fadhla. Sebenarnya Melda adalah salah satu temanku pertama di restoran ini. Dia yang pertama kali menjadi teman dan mengobrol juga berbagi hal-hal di dalam pekerjaan. Jika aku menolaknya, aku canggung dan merasa sangat malu," jelas Bulan kepada Fadhla.
"Ya ampun! Ada-ada aja sih kamu, Bulan. Kenapa harus begini?" tanya Fadhla.
"Mana aku tahu, Fadhla. Aku gak tahu kalau dia ingin ikut," jawab Bulan.
Fadhla mencoba untuk berpikir keras akan hal itu. Lalu secara terpaksa, dia pun harus menyetujui bahwa temannya Bulan, Melda, ikut satu mobil bersama mereka.
"Haduh. Kamu ini. Yasudah ajak aja deh. Kita anter dia pulang dulu," ujar Fadhla.
"Hanya kali ini saja."
"Iya, iya. kali ini saja kok."
"Yaudah, sana. Kita harus cepat."
"Memangnya ada apa? Sepertinya sangat penting, " tanya Bulan mulai penasaran.
"Nanti aku jelaskan. Sekarang ayo kita pergi. Cepat panggil temanku. Nanti aku jelaskan," jawab Fadhla.
"Baiklah."
Bulan pun berjalan kembali ke dalam restoran. Lalu Fadhla menutup kaca jendela mobilnya.
"Hei, Melda cepat siap-siap. Kata temenku dia sedang buru-buru karena ada urusan. Ayo," kata Bulan.
"Oke, oke. Aku akan mengambil tas dan segera kembali, Bulan. Tunggu!" ujar Melda.
"Aku tunggu di mobil ya, " kata Bulan.
"Oke. Kamu tunggu saja, Bulan. Aku Segera datang."
Ketika Bulan hendak pergi, Angga berjalan menghampiri Bulan dan menahannya untuk waktu sebentar.
"Tunggu, Bulan!" tahan Angga.
"Bagaimana, Pak? Ada apa?" tanya Bulan.
"Ini untukmu," sahut Angga sambil memberikan sebuah amplop kecil kepada Bulan. Bulan pun mengambil amplop tersebut dari tangan Angga.
"Terima kasih, Pak"
"Kembali kasih, Bulan. Hati-hati di jalan, ya."
"Baik, Pak. Terima kasih lagi."
"Ya."
Lalu tiba-tiba Melda pun datang menghampiri Bulan.
"Saya pamit pulang lebih dulu, Pak," pamit Melda kepada Angga.
"Hati-hati ya, Melda," kata Angga kepada Melda.
"Terima kasih, Pak. Kalau begitu, saya permisi"
"Baik. Hati-hati, sampai jumpa."
"Mari, Pak. Says duluan," pamit Bulan.
"Ya. Silakan"
Bulan dan Melda pun berjalan menuju mobil Fadhla. Seusai itu, ketika Bulan hendak membuka pintu mobil di depan, Melda langsung mengambil alih itu dan membukanya lebih dulu.
"Bulan, biar aku saja yang di depan, ya. Karena aku suka mabok kalau berada di belakang mobil," kata Melda kepada Bulan.
"Bulan, tidak apa-apa," kata Fadhla.
"Ah, begitu, ya. Yaudah deh. Gak apa-apa. Kamu di depan aja, Melda," sahut Bulan tersenyum simpul ke arahnya.
Dengan terpaksa Bulan pun membuka pintu belakang mobil dan masuk ke dalam mobil tersebut. Bulan mulai kesal terhadap sikap Melda yang seperti itu. Dia tidak menyangka bahwa Melda memiliki sifat yang buruk seperti itu. Namun dia berusaha untuk memahami dengan apa yang sedang di hadapinya. Dia benar-benar merasa heran dan gedek melihat tingkah lakunya yang berbeda.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Untuk yang ingin tahu karyaku yang lain, silakan cek di akun WP @Bulan_lani. Cerita baruku berjudul 'Dia Rehema'. Ada juga aplikasi ******* dengan akun (comeback). Cerita terbaru "Pernikahan Rahasia", sudah dilihat 900ribu joy. Silakan di cek.
Jika ingin mengenalku lebih de
kat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.
Terima kasih, semuanya. :*