The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 168



Terlihat Bulan dan Fadhla sedang berjalan kaki di sekitar luar rumah sakit. Mereka berdua mencari makanan di pinggiran jalan. Kemudian mereka menemukan ada pedagang kaki lima yang berjajar di sepanjang jalan dan begitu sangat ramai pembeli. Bulan pun berniat untuk membeli beberapa makanan tersebut dari beberapa pedagang itu.


"Fadhla. Ayo kita beli beberapa camilan di sana!" ajak Bulan.


"Ayo, Bul. Kebetulan aku belum pernah mencicipi makanan pinggir jalan lho," kata Fadhla.


Bulan menengok. "Hah? Serius? Kamu belum pernah?" tanya Bulan merasa tidak percaya.


"Aku serius, Bulan. Aku tidak pernah makan cemilan pinggir jalan," jawab Fadhla dengan jujur.


"Astaga, Fadhla. Yaudah. Kali ini kamu harus mencobanya, ya! Beli beberapa. Kalau bisa setiap pedagang kita beli makanan mereka," kata Bulan sambil menarik tangan Fadhla dan berjalan menuju para pedagang itu.


"Eh, serius?"


"Bodo amat!"


Ketika Bulan berada di salah satu pedagang tersebut, dia membeli dua porsi batagor untuk di bungkus.


"Pak, saya beli dua porsi, ya. Bungkus saja," ucap Bulan.


"Kenapa tidak di makan di sini saja?" tawar Fadhla.


Bulan terdiam sejenak. Kemudian dia berpikir.


"Ah, iya ya. Apa tidak akan lama jika kita makan di sini?" tanya Bulan kepada Fadhla.


"Sepertinya enggak deh. Ayo kita makan di sini saja, Bulan. Bukan masalah sih mau lama atau pun sebentar juga," jelas Fadhla.


"Tapi Kak Eggy kan sedang menunggu kita di dalam rumah sakit. Adelia juga sudab dipindahkan ke ruangan yang lain. Dan kita gak tahu Adelia ada di ruangan mana," kata Bulan menjelaskan.


"Kita akan tanya ke ruang informasi. Pasti kita akan gampang mencarinya kok," kata Fadhla.


"Gimana, ya?" Bulan masih berpikir-pikir.


"Ayolah! Lagian di rumah sakit juga masih lama. Gimana kalau gak di bolehin makan di dalam ruangan sana? Hayo?" tanya Fadhla.


"Yaudah, deh. Kita makan dulu di sini. Sebentar tapi, ya," sahut Bulan.


"Oke, deh."


Bulan dan Fadhla pun makan batagor di pinggir jalan. Dia duduk di kursi plastik yang telah di sediakan di sana. Kelihatannya Fadhla seperti ragu untuk duduk di sana. Dia merasa gelisah.


"Kenapa, Fadhla? Ada apa?" tanya Bulan.


"Mm, aku takut. Apakah kursi ini kuat?" tanya Fadhla cemas.


"Tentu saja, Fadhla, kursi itu pasti lah kuat," jawab Bulan terkekeh. Dia tidak menyangka bahwa Fadhla akan menanyakan hal konyol seperti itu padanya.


"Aku cemas. Karena ini plastik, sepertinya kurang kokoh."


"Itu kokoh kok. Banyak yang duduk mulai dari yang kurus sampai yang gendut, masih tetap kuat," jelas pedagang batagor tersebut.


Fadhla cengengesan. "Hehehe. Maaf, Pak."


"Kamu ini ada-ada saja," jawab Bulan menggeleng-gelengkan kepala.


"Ini makanannya," kata tukang pedagang itu seraya memberikan mangkok yang berisi batagor tersebut ke arah mereka.


"Terima kasih, ya."


Terlihat Bulan sangat menikmati hidangan yang sedang di santapnya itu. Lalu Fadhla mencoba untuk memabahas tentang sikap Eggy terhadap Adelia di rumah sakit tadi. Dia penasaran dan ingin tahu lebih jelas tentang perasaan Bulan dan pendapatnya mengenai hal itu.


"Hei, Bulan!" panggil Fadhla.


"Ada apa?" tanya Bulan sambil mengunyah makanan.


"Menurutmu, apa Eggy kelihatannya berubah?" tanya Fadhla kepada Bulan.


"Maksudnya berubah?" tanya yang Bulan terheran-heran yang masih mengunyah makanan di dalam mulutnya.


"Sepertinya Eggy sangat perhatian terhadap Adelia, Bulan," kata Fadhla.


"Ah, itu. Wajar saja. Adelia baru saja mengalami kecelakaan. Wajar jika dia perhatian," sahut Bulan dengan santai. Dia tidak berpikir yang aneh-aneh dengan hal itu. Walau pun seketika dirinya merasa cemburu juga terhadap kedekatan Eggy dan Adelia.


"Apa kamu gak takut, perhatian Eggy akan lebih besar pada Adelia karena saat ini dia sedang sakit," kata Fadhla.


"Aku tahu Eggy bakalan lebih memperhatikan Adelia. Lagian, status di mata umum aku sudah bercerai dengannya," kata Bulan.


"Tapi kamu tetap masih istrinya, Bulan." Fadhla menegaskan.


"Tapi status umumku bukan itu, Fadhla. Mengertilah dengan keadaanku saat ini. Aku pun tidak bisa memutuskan apakah aku harus menjadi egois atau bagaimana?  Karena aku pribadi memang merasa sangat tidak ikhlas jika Kak Eggy dengan wanita lain. Siapa yang mau sih jika pasangannya dengan wanita lain? Apa lagi kalau harus menikah," kata Bulan dengan panjang lebar.


"Lalu mengapa kamu diam saja? Mengapa kamu tidak berusaha memperjuangkan Eggy?" tanya Fadhla.


"Kamu lupa, ya? Aku sama Eggy kan memutuskan untuk bercerai karena memperjuangkan perusahaannya yang sedang di ambang bangkrut. Kamu paham akan hal itu," jelas Bulan yang malah berdebat dengam Fadhla di pinggir jalan sambil memegangi piring berisi batagor itu.


"Seandainya tidak bangkrut, bagaimana?" tanya Fadhla.


"Apanya? Sudah jelas hal itu tidak terjadi," Sahut Bulan.


"Seandainya, Bulan. Jika seandainya tidak bangkrut, bagaimana?" tanya Fadhla sekali lagi.


"Entahlah, Fadhla. Aku banyak dorongan dari ibumu yang terus memintaku untuk berpisah," jawab Bulan dengan lemas.


"Lalu, apa kamu akan melakukan hal seperti ini lagi? Berpura-pura menjadi mantan istri?"


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Bulan yang hampir kehabisan akal.


"Kamu harus tegas. Jika cerai, bercerailah. Jika tidak, bertahanlah," jawab Fadhla.


"Bagaimana caranya aku bertahan jika ibumu saja tidak suka padaku," kata Bulan.


"Lalu bagaimana dengan keadaan nanti saat Eggy sudah menikah dengan Adelia. Lalu kamu bagaimana?" tanya Fadhla.


"Jalani saja, Fadhla. Aku harus apa? Menghentikan mereka? Yang ada aku ditangkap polisi, dikurung di penjara karena merusak acara. Lalu aku akan di kenal sebagai wanita yang buruk. Aku akan tercela," kata Bulan memberi penjelasan.


"Kamu memang benar, Bulan."


"Lalu harus apa?"


"Kamu menerima dimadu, Bulan?" tanya Fadhla.


"Tidak. Sebenarnya tidak. Namun bagaimana lagi," jawab Bulan.


"Kalau begitu, menikahlah denganku, Bulan. Agar bukan hanya kamu yang merasa tersakiti. Namun Eggy juga merasakannya," ajak Fadhla kepada Bulan.


Seketika Bulan tersedak makanan, lalu dia terbatuk-batuk. Dia terkejut dengan apa yang di katakan oleh Fadhla padanya. Dia tidak menyangka bahwa Fadhla akan mengatakan hal semacam itu kepada kakak iparnya sendiri. Ini mulai sangat tidak beres. Benar-benar tidak beres. Bisa-bisanya Fadhla mengatakan hal yang tidak mungkin terjadi padanya. Ini sangatlah konyol.


"Kalau begitu, menikahlah denganku, Bulan. Agar bukan hanya kamu yang tersakiti. Namun Eggy juga merasakannya," ajak Fadhla kepada Bulan.


Seketika Bulan tersedak makanan, lalu dia terbatuk-batuk.Dia terkejut dengan apa yang di katakan oleh Fadhla membangkitkan.Dia tidak menyangka bahwa Fadhla akan mengatakan hal semacam itu kepada kakak iparnya sendiri.Ini mulai sangat tidak beres.Benar-benar tidak beres.Bisa-bisanya Fadhla mengatakan hal yang tidak mungkin terjadi terjadi.Ini sungguh konyol.


"Heh, kenapa cuma diam aja? Kamu mau, ya?"tanya Fadhla mencoba menebak-nebak.


"Jadi, mau gak nikah sama aku?"tanya Fadhla sekali lagi untuk menerima.


"Kamu gila, apa? Menikah denganmu sama saja dengan aku masuk ke jurang yang sama," kata Bulan.


"Jadi sekarang di samain sama jurang?"tanya Fadhla ke Bulan.


"Bukan begitu, tetapi dimaksudkannya tuh ... aku mengisyaratkan hal itu dengan jurang. Kamu paham, bukan?"Jelas Bulan yang sulit untuk berbicara lebih jelas kesulitan.


"Oke, oke. Aku paham dengan apa yang kamu katakan, Bulan. Benar-benar paham kok," kata Fadhla.


"Jadi, mau bagaimana? Apa kamu mau mengubah kehidupan sepeperti ini saja?"tanya Fadhla.


"Yup. Mau bagaimana lagi? Aku gak ada pilihan lain. Walau pun ada pilihan yang lain, tetap saja yang harus aku pilih adalah jalan yang sama. Sama seperti saat ini," jelasnya.


"Tetap. Kalau begitu cepat selesaikan makanmu. Kita harus membeli cemilan lain dan kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Adelia," kata Fadhla.


"Oke. Dikit lagi habis."Bulan pun memakan suap.demi suap batagor ini sampai akhirnya habis dan hanya tersisa bumbu kacangnya saja.


Tak terasa makanan mereka pun sudah habis di lahapnya.Kemudian Fadhla langsung membeli makanan tersebut ke pedagang tersebut.Setelah itu, mereka menyimpan kedua piring tersebut di bawah kursi plastik itu, karena takut terinjak jika di luar itu atau jika di simpan di atas kursi otu, takutnya piring tersebut akan terjatuh.


"Terima kasih, ya Pak."


"Iya, sama-sama."


Bulan dan Fadhla mulai pergi ke daerah lain.Lalu dia membeli beberapa makanan cemilan lainnya.Dan Bulan sangat senang, kompilasi dirinya mengatahui ada tukang gorengan yang biasa dia beli sehabis pulang kerja, dia pun langsung datangi pedagang tersebut dan membeli gorengan itu.


"Eh, Bapak. Rupanya jualan di sini juga, ya?"sapa Bulan.


"Iya, Neng. Jualan di sini. Kan aku harus keliling mencari tempat yang ramai," sahut pedagang gorengan itu.


"Oh, iya juga ya. Harus mencari tempat yang rame. Hahaha. Membeli. Saya mau beli, Pak. Bungkus, ya."


"Baik, Neng. Biasa campur-campur ya, Neng?"tanyanya.


"Iya betul, Pak. Kali ini porsinya dua kali lipat, ya. Karena aku mau makan bersama teman saya nanti," kata Bulan.


"Oh, gitu. Ubah, Neng."


"Ini makanan apa, Bul?"tanya Fadhla sambil menunjuk ke salah satu makanan tersebut.Pasalnya dia baru tahu ada makanan dengan sayuran campur di dalam satu adonan.


"Oh, itu. Makanan visa itu disebut dengan ote-ote. Bisa juga disebut bala-bala. Tergantung sih," jawab Bulan untuk Fadhla.


"Bedanya apa sih, Ote-ote atau pun bala-bala?"tanya Fadhla mendapat penasaran.


"Sebenarnya sama saja kok. Sama-sama satu adonan yang isinya sayuran. Sebaliknya ada yang dicampur dengan daging, sosis, kornet, ada mihun, mie, intinya campur-campur deh. Banyak rupa di datu makanan itu," jelas Bulan kepada Fadhla.


"Masa sih? Emangnya bener ya, Pak? Isinya ada campur makanan yang teman saya sebutkan tadi?"tanya Fadhla kepada pedagang tersebut.


"Benar kok. Dia gak bohong. Cobain saja, Mas. Kalau gak enak, gak beli masalah gak," sahutnya.


Bulan terkekeh."Ayo cobain satu sana!"


"Ah, nanti juga di cobain di rumah sakit. Bareng Eggy," kata Fadhla.


"Ambil saja satu, Mas. Gak apa-apa kok. Ambil saja. Cicipi saja, aku terima kasih gratis," kata pedagang tersebut kepada Fadhla.


"Yang benar nih, Pak?"tanya Fadhla memastikan.


"Insyaallah, Mas. Beneran kok. Ambil saja," jawab pedagang itu.


Fadhla pun mengambil makanan tersebut dan mencoba.mencicipinya.Alhasil, dia sangat terkejut dengan setiap gigitan makanan tersebut.Dia bisa makan sayur di tengah gorengan yang tengah dia makan.Lalu dia juga dapat menikmati makanan tambahan Seperti yang berhasil Bulan lalu.Ada tambahan daging di sini.Benar-benar enak.


"Rupanya makanan di jalanan, tidak enak dengan yang ada di restoran," kata Fadhla kepada Bulan.


"Yaiya dong! Makanan di restoran cuma mahalnya doang sih. Gak kenyang pula," sahut Bulan sambil tertawa.


"Bisa kusebut bOleh."


"Yaiya dong. gak beda jauh dengan makanan restoran." 


"Tapi lebih enak di restoran, Neng. Masih ada tempat duduk dan tempat makanannya. Bisa pakai alat bantu makan untuk makan dan beli makanannya. Kalau di jalan, jarang, Neng. Kalau aku aja, Neng harus makan pakai jari jemari Neng," kata pedagang tersebut yang ikut nimbrung.


"Ah, Bapak nih, bisa saja. Hahaha."


"Eh, beneran."


"Yaudah deh, Pak. Ini saya terima kasih uangnya, ya," kata Bulan ssmbil memberikan uang sesuai dengan pesanannya, yaitu makanan cemilan untuk dua porsi makan.


"Baik, Neng. Terima kasih. Ini makanannya."


"Terima kasih, Pak."


"Baik, Neng. Sama-sama. Jangan kapuk untuk membeli, ya."


"Iya, Pak. Saya tidak akan kapok kok."Bulan tersenyum ke Arahnya.Kemudian dia kembali ke pedagang yang lain.


"Mau beli apa lagi?"tanya Fadhla ke Bulan.


"Malam-malam gini makan jagung bakar, enak deh keknya. Beli, yuk!"Kata Bulan yang ngiler kompilasi menghirup bau wangi langsung jagung bakar di hadapannya itu.


"Astaga. Apa gak kekenyangan entar?"tanya Fadhla ingatkan.


"Enggak akan, Fadhla. Ayolah. Kita pergi membeli. Sebentar saja kok," jawab Bulan.


"Yaudah deh."


"Habis jagung bakar, kita ke supermarket buat beli udara. Kalau. Mau beli makanan ringan juga boleh kok. Sekalian aja," kata Bulan.


Bulan mendadak jadi doyan makan dan doyan membeli banyak makanan. Entah bagaimana it  kondisi perutnya bisa menampung semua makanan tersebut. Yang pasti, Fadhla mencoba mengikuti apa yang di inginkan oleh Bulan pada malam ini.


"Yaudah, ayo!" ajak Fadhla kepadanya dengan sedikit merasa sudah malas dan dia ingin segera kembali ke rumah sakit. Namun Bulan tidak peka terhadap itu. Dia terus saja masih berantusias untuk membeli banyak makanan. Bulan, Bulan ....


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.


Untuk yang ingin tahu karyaku yang lain, silakan cek di akun WP @Bulan_lani. Cerita baruku berjudul 'Dia Rehema'. Ada juga aplikasi ******* dengan akun  (comeback). Cerita terbaru "Pernikahan Rahasia", sudah dilihat 1-M joy. Silakan di cek.


Ada cerita kisah nyata tentang masa mudaku di aplikasi ****** berjudul Labil (plin-plan). Novel itu kisah nyata tentang masa mudaku di sekolah.


Jika ingin mengenalku lebih de


kat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.


Terima kasih, semuanya. :*