
Terlihat Angga dan Bulan saling terdiam di dalam mobil. Kemudian Angga bertemu dengan jalan dipersimpangan, ada lampu rambu-rambu lalu lintas di sana. Dia memberhentikan mobilnya karena lampu tersebut berwarna merah. Angga menengok ke arah Bulan.
"Di mana rumahmu, Bulan? Apa masih jauh?" tanya Angga kepada Bulan.
"Sebentar lagi kok. Distrik Bevenma nomor 14," jawab Bulan kepada Angga.
Jawaban darinya membuat Angga tercengang. Pasalnya rumah Bulan berada di distrik yang tak biasa. Dia mengetahui sesuatu tentang itu. Distrik Bevenma adalah salah satu distrik orang-orang elite, yang hanya orang-orang kaya lah yang mampu membeli rumah di distrik tersebut. Angga tidak menyangka bahwa Bulan tinggal di sana. Namun Angga masih belum mengetahui, apakah Bulan benar-benar tinggal di sana atau hanya menumpang, atau menjadi tenaga kerja di rumah tersebut. Rasanya tidak mungkin. Karena jika Bulan memang benar-benar orang yang berada, dia pasti tidak mungkin bekerja sebagai pelayan di restorannya.
"Maaf, Bulan. Apakah kamu tinggal di sana, atau ...." Angga sengaja menggantungkan kalimatnya karena tidak ingin Bulan merasa tersinggung.
"Ya. Memangnya kenapa? Aku tinggal di sana sekarang. Namun sebelumnya aku tidak tinggal di sana, tetapi suamiku ... mm, maaf. Mantan suamiku memberikan harta gono-gininya padaku berupa rumah. Dan rumahnya saya tinggali," jelas Bulan kepada Angga.
"Ah, iya. Mungkin mantan suamimu orang berada, Bulan."
"Ya. Dia memang orang berada dan tidak biasa," sahut Bulan.
"Maaf, jika pertanyaan dan kalimatku membuat dirimy tersinggung." Angga merasa tidak enak hati dengan Bulan.
"Bukan masalah, Angga. Itu masa lalu. Yasudahlah. Lupakan saja," sahut Bulan tidak ingin memperpanjang masalah itu.
Tak lama kemudian, lampu hijau pun mulai menyala.
"Sudah hijau. Ayo jalankan kembali mobilmu, Angga."
"Ah, oke. Baiklah," kata Angga.
Segera Angga menjalanlan mobilnya menuju distrik Bevenma. Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya mereka berdua pun sampai di rumah nomor 14. Angga menghentikan mobilnya di halaman rumah Bulan. Kemudian Bulan hendak turun dari mobilnya.
"Terima kasih, Angga, karena sudah mengantarkan aku pulang sampai rumah. Terima kasih banyak," kata Bulan kepada Angga.
"Bukan masalah, Bulan. Ini menjadi kewajibanku juga. Karena aku mengajakmu pergi keluar, maka aku harus bertanggung jawab untuk mengantarkanmu pulang juga," jawab Angga.
"Ah, iya. Yasudah, tidak apa. Terima kasih ya, Angga, karena sudah mengantarkanku pulang."
"Oke. Sama-sama. Selamat beristirahat, Bulan."
"Selamat beristirahat juga."
"Sampai jumpa."
"Ya. Kembali."
Bulan tersenyum dan begitu pun dengan Angga, membalas senyuman Bulan. Kemudian Bulan menutup pintu mobilnya dan Angga mulai menjalankan kembali mobil untuk pergi dari sana. Bulan masih menatap Angga sampai akhirnya tidak terlihat lagi.
Bulan pun melangkah masuk ke dalam rumah. Dia membuka pintu dan lampu-lampu rumah masih mati dan sangat gelap. Segera Bulan menyalakan lampu tersebut dan dia terkejut saat melihat seseorang berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam.
"Astaga. Hampir saja aku jantungan," kata Bulan.
"Dari mana saja kamu?" tanya Eggy dengan sinis.
"Aku kan sudah bilang di telepon tadi, Kak," jawab Bulan dengan nada rendah.
"Aku lihat kamu diantar oleh seseorang untuk pulang. Dia siapa? Apakah dia temanmu yang kamu maksud tadi?" tanya Eggy.
Bulan terkekeh. "Astaga, Kak. Apa Kakak masih curiga padaku?"
"Iya, Kak. Aku pun mengakuinya. Lalu masalahnya apa, Kak?" tanya Bulan.
"Apa kamu izin terlebih dulu padaku? Apakah kamu bilang padaku bahwa kamu bekerja do restoran? Apakah kamu meminta izin akan hal itu? Tidak, bukan?" Eggy mulai menaikkan nada suaranya.
"Ah, soal itu ... a-aku minta maaf. Aku memang salah. Aku memang tidak izin padamu, Kak. Tapi aku terpaksa karena aku akan merasa sangat kesepian di dalam rumah," jawab Bulan.
"Apanya yang kesepian? Snua fasilitas ada di rumah ini. PS 7, home teather, hand phone, lap top, kamu bisa berenang, ada banyak makanan yang tersedia di kulkas. Jika kamu bekerja, rumah tidak akan terurus, Bulan," kata Eggy.
Bulan mulai menundukkan kepalanya. Kedua matanya mulai bekaca-kaca seakan dirinya akan menangis ketika dibentak oleh Eggy. Ini kali pertamanya Bulan disentak olehnya. Sebelumnya Eggy tidak pernah semarah ini padanya. Namun karena hal ini terjadi, membuat sikap Eggy menjadi berubah.
"Apakah Kakak mulai mengatur hidupku saat ini?" tanya Bulan.
"Mengatur apanya, Bulan? Bukankah kamu istriku?" tanya Eggy memperingatkan dia.
"Memang, iya. Apakah aku salah jika bekerja dan tidak ada di rumah? Aku tidak pergi ke mana-mana, Kak. Hanya bekerja dan keluar sebentar," jelas Bulan membela dirinya sendiri.
"Pergi bekerja tanpa izin? Lalu makan malam dengan pria lain? Begitu maksudmu, Bulan?"
Bulan semakin menundukkan kepalanya. Dia tidak mampu menjawab apa pun kepada Eggy.
"Kenapa diam Bulan? Ayo jawab!" sentaknya lagi.
"Cukup, Kak! Cukup! Jangan memojokkanku lagi. Aku mengaku bahwa aku salah. Aku benar-benar salah kepada Kakak. Aku memang pergi bersama seorang lelaki, tetapi dia pemilik restoran itu. Hanya mengajakku untuk makan malam saja, Kak. Tidak lebih. Hanya itu saja. Apakah aku salah? Aku tidak bisa menolaknya. Dia atasanku, Kak. Dia juga pria yang sangat baik," jelas Bulan mengakui kesalahannya.
"Kenapa tidak bicara padaku? Kenapa kamu tidak meminta izin padaku terlebih dulu, Bulan? Aku masih suamimu lho. Kamu tidak lupa, bukan?"
"Kakak, mana bisa aku lupa. Namun hanya saja Kakak sudah pernah bilang bahwa kita harus berpura-pura bercerai selayaknya mantan suami istri. Kita sudah bukan suami istri lagi, Kak, di luaran sana. Bukan," kata Bulan.
Eggy terdiam mendengar kalimat itu. Kemudian Eggy menarik napasnya dan mengendus dengan kasar. Dia masih merasa sangat kesal dan marah terhadap Bulan. Bulan pun tidak bisa banyak bicara lagi kepada Eggy. Walaupun dia ingin menjelaskannya kembali, rasanya Bulan tidak bisa melakukan hal itu. Eggy masih dipenuhi rasa api panas amarah, Bulan pun harus memberi kelonggaran kepada Eggy sampai dirinnya benar-benar merasa tenang.
"Baiklah, Kak. Aku sudah meminta maaf pada Kakak. Mohon maafkan saya. Saya tidak akan mengulanginya lagi."
Eggy mendelik malas ke arah Bulan. Lalu dianpun pergi meninggalkan Bulan.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Untuk yang ingin tahu karyaku yang lain, silakan cek di akun WP @Bulan_lani. Cerita baruku berjudul 'Dia Rehema'. Ada juga aplikasi Joylada dengan akun Lani Nurohmah (comeback). Silakan di cek.
Jika ingin mengenalku lebih de
kat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.
Terima kasih, semuanya. :*