
Aku berjalan secara perlahan serya mendorong troli sambil melihat-lihat bahan-bahan dan makanan yang tersedia di sana. Aku mengambil beberapa makanan seperti, sarden, bumbu racik, saus tomat, dan bumbu bahan lainnya. Kemudian dilanjut dengan mencari bahan-bahan seperti persediaan beras dan telur, juga buah-buahan. Karena kan aku dan Eggy juga butuh makan nasi dan asumsi buah. Mana mungkin juga jika aku dan Eggy harus memakan buah atau roti setiap hari, setiap waktu. Jika begitu, aku akan kurusan dengan cepat. Begitu pun dengan Eggy. Ya masa liburan di Villa selama seminggu malah kurusan? Kan sangat lucu. Nanti dikira kurang bahagia lagi sama keluarga Eggy. Hahaha.
Setelah membeli banyak bahan-bahan masakan, aku pun mulai beralih ke makanan untuk persediaan di kulkas seperti, susu murni, minuman larutan, selai roti, sosis, mungkin aku harus coba cemilan naget ayam sama olahan seafood juga deh, dan makanan lainnya juga. Sepertinya liburan ini aku dan Eggy akan boros uang karena belanja banyak persediaan makanan. Padahal hanya satu. minggu. Tetapi rasanya terlihat seperti persediaan untuk satu bulan. Banyak banget.
Aku pun mengunjungi tempat yang menjual barang intim. Aku membeli pembalut, karena takut tiba-tiba haid di sana. kemudian membeli pantyliner juga. Sesudah itu, aku membeli cemilan ciki juga. Ya, walaupun terlihat seperti anak kecil, tetapi aku masih jadi penggemar makanan para anak kecil. Hahaha.
Setelah semuanya sudah beres, aku pun langsung mengdatangi tempat di mana aku dan Eggy sudah janjian untuk bertemu. Dari arah kejauhan, aku melihat Eggy sedang mengobrol dengan seseorang wanita. Namun sepertinya Eggy tidak begitu merespon wanita itu. Terlihat seperti biasa saja dan merespon seadanya. Dari postur tubuhnya cukup tinggi dariku, dia berambut panjang teruai dengan warna ungu di ujung rambutnya. Kalau diperhatikan, tubuhnya juga lumayan bagus, terlihat seperti model. Kurasa jika aku melihat wajahnya, pasti dia sangatlah cantik. Aku yakin akan hal itu.
Perlahan-lahan, aku menghampiri mereka berdua. Terdengar mereka membicarakan suatu hal yang sangat seru. Aku pun mulai mendengarkannya secara diam-diam.
"Apa kamu serius dengan hal itu?" tanya wanita itu pada Eggy.
"Kamu pikir aku berbohong?" tanyanya berbalik dengan nada datar.
"Tidak, tidak. Aku hanya heran saja. Padahal kamu masih sangat muda lho," katanya.
Eggy menatapnya heran. Eanita itu seperti ingin menyerah mengajak Eggy mengobrol. Padahal yang aku harapkan, dia menyerah saja. Apa dia tidak tahu bahwa Eggy sudah menikah dan sudah mempunyai seorang istri? Apa perlu aku tunjukkan diriku padanya, agar dia tidak mengganggu Eggy? Tetapi, jika aku menghampiri dia, sudah pasti aku kalah cantik dan menarik. Dasar bodoh! Bulan, kamu konyol sekali saat ini. Benar-benar konyol.
"Apa kamu sudah selesai berbelanja?" tanya Eggy.
What? Apa dia bertanya padaku? Aku bahkan tidak menyadari itu. Aku tidak menyadari bahwa Eggy mengetahui keberadaanku. Apa aku terlalu GR? Tetapi dia memang bertanya padaku, 'kan? Dia juga masih menatapku.
"A-ah. Sudah kok. Aku sudah selesai," jawabku.
Eggy menatap wanita itu. "Dia istri saya."
"Ah, oh. dia istri kamu. Maaf sudah ganggu. Aku pikir kamu belum beristri dan masih jomlo. Atau duda, gitu. Maaf ya," ucap gadis itu seraya sesekali menatap ke arah Eggy dan juga menatap ke arahku.
"Tidak apa-apa. Salam kenal," sahutku mencoba untuk ramah.
Wanita itu hanya tersenyum malu, lalu pergi begitu saja. Eggy berjalan mendekatiku dan tersenyum padaku.
"Kamu belanjanya banyak sekali. Apa kita mau tinggal di Villa selama satu bulan?" tanya Eggy setelah melihat troli yang aku bawa penuh dengan banyak makanan persediaan dan bahan-bahan masakan lainnya.
"Terlalu banyak ya?" tanyaku.
"Sebenarnya ... iya sih," jawabnya.
"Apa aku kembalikan ke tempatnya saja sebagian? Tapi kan kalau memang ada sisa makanan, bisa dibawa lagi ke rumah, Kak. Jadi gak ada ruginya," sahutku.
"Kamu berpikir bahwa persediaan ini untuk di villa dan sisanya dibawa ke rumah, begitu?"
"Ya ampun, Bulan. Mengapa segitunya? Sudah lah. Untuk persediaan di rumah, nanti kita bisa beli lagi," kata Eggy padaku.
"Tapi kan, Kak. Aku khawatir uang Kakak. Kalau sampai boros uang, bagaimana nantinya?" tanyaku mengingat bahwa Eggy sedang mendapatkan masalah tentamg perusahaan yang anjlok. Perusahaannya diambang kebangkrutan.
"Tidak usah khawatir. Belanja untuk kehidupan hidup tidak akan membuat kita miskin dan kekurangan uang," ucapnya.
Mendengar kalimat seperti itu dari mulutnya, aku terdiam. Aku berpikir akan sesuatu tentangnya, dan menurutku dia berkata dengan benar. Mungkin dia berbicara sangat realistis padaku, dengan bicara seadanya tanpa harus disembunyikan. Namun dalam pikiranku masih terlintas bahwa aku masih belum mengetahui asal usul bagaimana aku dan Eggy bertemu dan sampai melakukan pernikahan ini. Mungkin ini masih menjadi misteri. Namun rasanya, untuk saat ini aku tidak ingin mengganggu waktu liburannya dengan ke ingin tahuan diriku terhadap masa lalu. Mungkin aku akan menikmati waktu liburan ini seiring berjalannya waktu.
"Baiklah, Kak. Aku tidak akan membatasi hal itu."
"Jangn khawatirkan masalah uang. Karena rejeki pasti tetap ada kok." Eggy tersenyum.
"Iya, Kak. Aku paham kok. Maaf sudah khawatir tentang hal itu. Maaf juga aku sudah kurang percaya kepada Kakak," ucapku menyesal.
"Kamu sangat manis, Bulan," sahut Eggy tersenyum.
"Apa Kakak sudah membeli barang yang Kakak maksud?" tanyaku padanya yang tiba-tiba ingat dengan hal itu.
Mendengar kalimat itu, raut wajah Eggy menjadi sedikit berbeda. Dia terlihat menjadi canggung dan menyembunyikan sesuatu.
"Kakak kenapa? Kok jadi diam dan aneh begitu?" tanyaku kebingungan.
"A-eu ... i-ini," kata Eggy sengaja memotong kalimatnya.
"Ini apa, Kak?" tanyaku terheran-heran.
"Gak jadi beli kok. Lain kali saja belinya," jawab Eggy.
"Lho, kenapa? Kok gak jadi? Memangnya kenapa?"
"Gak apa-apa. Hanya tidak jadi membelinya kok," sahutnya.
"Memangnya Kakak mau membeli apa?" tanyaku yang masih penasaran.
"Sudahlah. Itu tidak penting. Ayo kita ambil roti tawar, untuk sarapan." Eggy mengalihkan pembicaraan.
Aku merasa sangat sebal padanya. Dia mengalihkan pembicaraanku dengan hal yang lain. Rasanya mood aku berubah menjadi malas. Huft.
"Yaudah deh. Gimana Kakak aja," cetusku sambil mendorong troli ke arah rak roti tawar. Kemudian aku meninggalkan Eggy sendirian di sana. Aku mau marah saja sama dia, biar dia tahu rasa bagaimana jika seorang istri marah-marah menginginkan sesuatu. Lihat saja!