
Rambutku kini sudah kering. Kemudian Eggy merapikan rambutku sambil melihatku dalam pantulan cermin. Kami saling bertatapan satu sama lain. Kemudian, tiba-tiba saja samar-samar aku mengingat wajah itu. Aku mulai mengingat pandangan itu. Namun aku tidak begitu jelas mengingatnya. Aku sedang berusaha melihat bagaimana rupa wajah itu di dalam ingatan. lagi-lagi kepalaku terasa sangat sakit saat berusaha mengingat.
"Ah," rintihku seraya memegangi kepalaku.
"Kamu kenapa?" tanya Eggy mulai panik.
"Kepalaku sakit, Kak."
Eggy segera mengambil air minum di meja. Dengan panik, dirinya mengambil botol yang ada di meja, kemudian diberikan padaku.
"Apa ini, Kak?" tanyaku terheran-heran.
Eggy tersadar bahwa yang dibawanya adalah botol anggur minuman. Rupanya dalam keadaan genting seperti ini dia ingin aku mabuk dan sulit menyadarkan diri. Dasar lelaki.
"Eh, ini minuman anggur. Maaf, aku salah ambil karena aku bener-bener panik. Aku ambil air putih sebentar," kata Eggy yang masih panik.
Dia pun mengambil segelas air putih dan diberikannya padaku.
Setelah itu, aku pun langsung meminum air itu sedikit demi sedikit. Setelah berusaha untuk tidak berpikir, kepalaku sudah mulai mereda dan tidak sakit lagi.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Eggy yang masih mencemaskanku.
"Aku agak membaik. Terima kasih, Kak," sahutku.
"Ayo kemari!" Eggy merangkulku dan membawaku ke atas kasur. Setelah itu, dirinya langsung memposisikanku dengan bersandar di sana.
"Kamu mau istirahat? Kamu capek?" tanyanya lagi.
"Tidak, Kak. Aku sudah berjanji akan menemanimu selama 1 hari 1 malam," jawabku yang masih berusaha menepati janji.
"Aku hanya ingin tidur bersamamu. Dengan saling berpelukan, layaknya pasangan suami istri pada umumnya."
"Begitu kah?"
"Jika kamu tidak mau, aku tidak akan memaksamu. Aku tidak ingin membuatmu seperti kisah wanita yang lain," ujar Eggy.
"Siapa? Siapa mereka? Apakah kekasihmu?" tanyaku.
"Bukan siapa-siapa. Kekasihku hanyalah Bulan. Bulan yang dulu, yang mengingatku," sahutnya dengan nada kecewa. "Bergantilah pakaian. Lalu cepat istirahat. Aku akan kembali ke kamar tamu," lanjutnya.
Jika aku menolaknya, aku merasa sangat jahat melakukan itu. Ini hanya tidur seperti ini, namun aku merasa berat jika menerimanya. Harus bagaimana?
Ketika Eggy hendak beranjak dari kasur, aku pun menahan tangannya.
"Kakak," panggilku.
"Ya?" sahutnya menatapku.
"Aku ikhlas. Kemarilah!"
Aku memutuskan untuk menerimanya. Entah aku menganggap diriku sebagai apa? Batin ini antara terasa berat dan tidak. Entahlah. Aku sendiri bingung menyimpulkannya.
"Bulan. Jangan karena merasa kasihan, kamu menerimanya. Aku tidak perlu itu," ucap Eggy. Lalu dia pun melepaskan peganganku secara perlahan. Kemudian dia pun pergi dari kamarku.
Mengapa begini. Aku hanya ingin menepati janjiku, namun rupanya dia lebih memahami posisiku saat ini. Aku benar-benar merasa bersalah padanya, karena terus bersikap egois selama ini.
Malam itu pun berlalu.
Aku melihat ada cahaya putih di ujung sana. Kemudian aku menghampiri cahaya itu dan melihat sesuatu di sana. Dan aku melihat sosok dua pria yang sedang berdiri saling berdampingan. Aku dekati dan semakin mendekati mereka untuk melihat jelas wajahnya.
Rupanya dua pria itu adalah Eggy dan juga Raihan. Mereka berdua sama-sama saling menatapku. Aku merasa seperti mereka sedang menungguku.
Lalu aku sudah berada tepat di hadapan mereka berdua. Aku menatap satu persatu pada pandangan mereka masing-masing.
"Aku kekasihmu, Bulan," ucap Raihan.
"Aku suamimu, Bulan," ucap Eggy.
Kekasih? Suami? Apa-apaan ini?
"Siapa yang akan kamu pilih? Aku atau dia?" Pertanyaan itu serentak mereka berdua ucapkan padaku.
Aku tak dapat memilihnya untuk saat ini. Di antara desakkan itu, aku mendengar seseorang berteriak memanggil namaku dari arah belakang.
"Bulan! Bulan! Kemarilah!"
Sontak segera aku menengok dirinya. Namun aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Siapa dia? Seseorang itu menghampiriku, dan ....
"Bulan!"
Aku terbangun dari tidurku. Aku melihat ada Eggy di sampingku yang menatapku aneh.
"K-kak?" panggilku.
"Sudah siang. Kamu harus ikut aku dalam acara keluarga," kata Eggy.
"Acara keluarga? Kok mendadak?" tanyaku yang terkejut.
"Ya. Karena memang selalu dadakan seperti ini. Kamu harus segera siap-siap. Sekarang juga aku tunggu kamu di bawah. Kita akan sarapan di rumah orang tuaku," jelas Eggy panjang lebar.
"Tapi ini mendadak. Bahkan aku tidak tahu keluargamu. Mm, maksudnya aku tidak ingat lagi dengan keluargamu, Kak."
"Cukup ikuti perkataanku saja. Kamu harus datang, walaupun kamu belum siap sekali pun, tetap harus datang. Biasanya ini acara sangat penting," jelas Eggy.
"Baiklah, Kak. Aku akan mandi dulu dan bersiap-siap. Aku akan patuhi apa yang Kakak minta."
"Oke. Jangan lama-lama, ya."
Eggy pun pergi dari kamarku. Segera aku pun pergi mandi.
Aku berpikir bahwa hari ini akan kumpul keluarga, apakah akan ada ibunya Eggy? Jelas adalah. Dasae bodoh! Lalu bagaimana tentang perceraian ini? Apakah kumpul keluarga ini tentang masalahku dengan Eggy?
Apakah mereka akan membicarakan tentang perceraian ini? Perasaanku mendadak berubah menjadi takut. Bagaimana ini? Mengapa mendadak aku tidak ingin ikut menemui keluarganya? Aku benar-benar akan menjadi orang asing di sana. Huft.
"Aku harap semua akan baik-baik saja," ucapku sambil menghelakan napas panjang.