The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 39



"Silakan duduk!" perintah Eggy.


"Apa kau mendengar gosip di kantor?" tanya Raihan yang mengabaikan perintah Eggy. Ia tetap berdiri di depan Eggy dan langsung berbicara pada intinya.


"Apa kau kemari hanya untuk itu?" tanya Eggy balik yang mengabaikan pertanyaannya.


"Masih ada hal lain," jawab Raihan, seakan menyerah.


"Katakanlah!" Terlihat Eggy mulai kehabisan kesabaran.


Semua keberanian sudah Raihan kumpulkan untuk berbicara kepada Eggy. "Aku minta maaf padamu karena telah bermain di belakangmu dengan Bulan."


"Apa itu penyesalan?"


"Itu pernyataan, Eggy."


"Lanjutkan!" sahut Eggy dengan santai.


"Semua orang di kantor banyak membicarakan kita."


"Kita atau kau saja?" sindir Eggy.


"Maksudku kau juga terlibat di dalamnya," kata Raihan menjelaskan.


"Kau malu?" tanya Eggy santai.


"Eggy, seriuslah."


"Aku serius."


"Ya. Aku memang malu. Kau tak perlu mendetailkan apa yang aku rasakan," jawab Raihan.


"Aku harus bagaimana?" tanya Eggy sambil berdiri dari kursinya dan mulai berjalan mengelilingi Raihan. "Apa aku harus menjelaskan kepada semua orang di kantor tentang hubungan kalian? Atau aku harus menyangkal semua itu?" tambah Eggy.


"Aku mengundurkan diri," sahut Raihan.


Mendengarnya seperti itu, Eggy menghentikan langkahnya dan berdiri tepat di depannya. Lalu iapun menatap tajam mata dan wajah Raihan.


"Kerjamu bagus. Kau tak perlu mengundurkan diri seperti itu. Aku menyukai cara kerjamu," sahut Eggy.


"Ini bukan masalah pekerjaan, Eggy."


"Tetapi aku tidak suka membicarakan hal lain di dalam ruanganku selain pekerjaan. Termasuk hal pribadi," tegas Eggy yang masih menatap tajam matanya.


Tak lama kemudian Eggy pun kembali berjalan ke kursinya, lalu duduk dengan angkuhnya.


"Jika tak ada hal lain, kau boleh keluar dari ruanganku," kata Eggy.


"Aku meminta maaf padamu."


"Tak ada yang perlu dimaafkan. Terima kasih atas kerja samanya. Silahkan!" ujar Eggy.


Perasaan Raihan bercampur aduk antara malu, marah dan rasa penyesalan di dalam dirinya. Apa yang telah membuat Raihan nekad unyuk menjalin hubungan denganku, membuat dirinya seperti seseorang yang jahat.


"Lalu pengunduran diriku bagaimana?" tanya Raihan.


"Ditolak!" jawab Eggy.


Lalu tak lama setelah itu, Irani kembali dengan membawa dua cangkir teh.


"Selamat siang. Ini teh pesanan anda," ucap Irani sambil berjalan mendekati meja Eggy.


"Terima kasih." sahut Eggy.


"Tidak perlu. Karena saya sekarang akan keluar ruangan," sahut Raihan. "Saya permisi dulu, Pak Direktur," lanjutnya.


"Silakan!" kata Eggy dengan santainya.


Raihan sudah keluar dari ruangannya. Irani mulai merasa ada yang tidak beres di antara mereka. Ia pikir dugaannya memang benar. Namun ia tidak peduli dengan hal itu, karena baginya kabar gosip yang sudah tersebar di kantor sangat menguntungkan dirinya untuk semakin dekat dengan Eggy.


"Apa semua baik-baik saja?" tanya Irani.


"Apa kau tahu tentang semua gosip itu?" tanya Eggy dengan nada yang serius.


Membuat Irani menelan ludahnya karena merasa tegang untuk menjawab pertanyaannya.


"Kau sudah mendengarnya?" tanya Irani balik.


"Aku menunggu jawabanmu," jawab Eggy.


"Baiklah. Kabar itu sudah lama menyebar," ungkap Irani.


"Bodoh!" gumam Eggy perlahan.


"Apa?" spontan Irani mendengarnya dan bertanya.


"Tidak," jawab Eggy dengan singkat.


Irani hanya tersenyum paksa di hadapan Eggy. Mencoba untuk tetap merasa tenang.


"Sebaiknya bersihkan kabar itu. Aku tidak ingin gosip itu sampai terdengar di telingaku lagi. Jika itu terjadi, aku akan segera mengambil keputusan untuk memecatnya," tegas Eggy kepada Irani.


"Hah? Di p-pecat?"


"Termasuk kau dan Raihan," tambah Eggy.


"A-ah ... Baiklah. Kau tidak akan mendengar gosip apapun lagi mulai hari ini. Aku akan memberitahu semua karyawan di sini," jelas Irani.


"Aku akan mengandalkanmu."


"Percayalah! Hehe ...," ujar Irani kembali tersenyum dengan secara paksa.


"Kalau begitu, mulailah bekerja."


"Ah, iya. Baiklah. Aku akan bekerja sekarang."


Irani pun segera berjalan cepat pergi keluar dari ruangan atasannya. Iapun langsung memberitahukan kepada karyawan-karyawan di sana untuk tidak berbicara gosip tentang hubungan istrinya dan juga sang Manager, Raihan.


"Hey ... Kalian harus berhenti untuk tidak bergosip tentang istri Direktur dan Manager. Karena jika itu sampai terdengar di telinganya, kalian akan langsung dipecat," kata Irani dengan terang-terangan.


"Benarkah?" seseorang tak percaya.


"Di pecat?"


"Iya benar. Jadi aku mohon mulai hari ini jangan membahas apa pun lagi, jika kalian tertangkap basah, habislah kalian ditendang dari sini." kata Irani.


"Pak Direktur mulai seram kembali ya?"


"Lebih seram dari sebelumnya."


Bla.... Bla.... Bla....


Mereka terus membicarakan tentang apa yang sudah disampaikan oleh Irani, mereka kembali berantusias membicarakan keputusan atasannya. Mereka hampir tidak percaya dengan Eggy yang tiba-tiba kembali menjadi kejam.


Seluruh kantor menjadi ramai karena adanya keputusan pemecatan itu. Entah bisikan apa yang membuatnya berbicara seperti itu, yang pasti Eggy tidak ingin membuatku dan Raihan terus menjadi bahan omongan dan membuatku dan Raihan merasa malu karena tersebarnya gosip itu jika sampai keluar kantor.