
"Jika aku melamarmu saat ini, bagaimana?" tanya Eggy tiba-tiba kepadaku. Membuatku terkejut dalam seketika.
"Apa, Kak? Apa kakak bercanda ya?" kejutku.
"Enggak. Aku serius," jawabnya.
"Jangan deh, Kak. Aku takut plin-plan lagi. Mending kita rasakan dulu kebersamaan kita, Kak. Jika nyaman dan aku pun ada perasaan, kita mulai semuanya dari awal lagi, ya." jelasku.
"Begitukah?" tanya Eggy.
"Iya, Kak. Mungkin itu jalan terbaiknya," jawabku.
"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu." Terlihat dari garis senyumnya, Eggy tersenyum secara paksa padaku. Namun aku tidak Mempermasalahkannya. Aku pun lanjut kembali melihat-lihat potret di ponsel.
Namun tiba-tiba, Eggy menyentuh kedua lenganku dan membalikan badanku ke arahnya. Aku terkejut, aku menjadi merasa gugup kembali. Dia menatapku dan perlahan-lahan mulai ingin menciumku. Lalu sebelum Eggy mendaratkan bibirnya, aku sudah mwnghindar terlebih dulu. Sehingga dia tidak dapst menciumku.
"Maaf, Kak," kataku.
Eggy mengabaikan permintaan maafku. Dia memegangi kepalaku, lalu mendongakan kepalaku ke arahnya. Dia berhasil mencium bibirku lagi. Kemudian tangan Eggy mengusap lenganku dan menjulurnya sampai dia mendapatkan ponsel miliknya lagi. Setelah mendapatkan ponselnya, dia pun berhenti menciumku.
"Kenapa kamu tidak berontak?" tanya Eggy.
"A-apa? Be-rontak terhadap a-pa?" tanyaku lagi.
"Saat aku menciummu," sahut Eggy.
"E-eh. Itu karena aku terkejut," jawabku.
"Dengan begitu, aku tahu bahwa kamu menyukainya," sahut Eggy.
"Maksudnya, Kak?" tanyaku kebingungan.
Eggy kembali mencium bibirku dan seketika menidurkan di ranjang. Aku dan dia kini mulai bercumbu.
Suasana mulai kembali panas ketika aku mulai membalas ciumannya. Eggy mulai mengecup leherku dan memberikan sebuah tanda merah di sana. Kecupannya cukup kuat, sehingga aku merasa merinding dibuatnya.
Sesaat aku memegangi rambutnya dan sesekali mengacak-acak rambutnya.
Tak lama kemudian, dia mulai berbisik ke arah telingaku.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Eggy berbisik.
Sejenak aku terdiam. "Aku tidak tahu, Kak," jawabku apa adanya.
Setelah itu, Eggy berhenti dari aktifitasnya dan mulai bangun.
"Maaf," ucapnya.
Aku pun ikut bangun dan bertanya, "Kenapa minta maaf, Kak?"
"Aku bersalah."
"Kakak tidak salah kok. Apanya yang salah?"
"Mungkin aku terlalu memaksamu untuk melakukan hal ini. Seharusnya aku tidak memaksamu seperti itu," jelas Eggy kepadaku.
Apa Eggy merasa bersalah setelah dia bertanya seperti itu padaku, ya? Lalu dia juga merasa bersalah saat aku menjawabnya dengan jawaban yang kek gitu.
"Maafkan aku juga, karena aku tidak bisa menjadi istri yang sempurna untuk sekarang," kataku.
"Kamu cukup baik, Bulan. Kamu tidak perlu khawatir." Aku terdiam.
"Kakak," panggilku.
"Ya?" sahutnya.
"Mungkin lain kali kita coba lagi, Kak," tawarku padanya.
Eggy tersenyum. Mimik wajahnya seketika berubah menjadi semringah. "Terima kasih, Bulan. Lain kali kita coba dengan izinmu."
"Baik, kak."
Eggy pun mengingatkanku akan sesuatu.
"Oh, iya. Kamu kan katanya mau foto bareng aku? Boleh. Mau coba di sini?" tawarnya.
"Ah, iya. Aku hampir saja lupa," kataku.
"Haha. Iya. Rupanya aku sudah lupa akan hal itu. Jadi, mau bagaimana? Mau foto di mana?"
"Di sini dulu. Kita foto di setiap ruangan yang ada di vila ini," kata Eggy.
"Ter-masuk dapur dan toilet?" tanyaku dengan polos.
"Ya ampun, Bulan. Ngapain kita foto di sana? Kecuali kalau kamu ingin merekam kegiatan kerja kita berdua. Boleh," jawab Eggy menggoda.
"Eh, merekam kerja apa?"
"Seperti yang kita lakukan."
"Hah? Enggak, nggak. Jangan! Gak mau," tolakku.
"Yaudah, makanya mau di mana?"
"Di sini dulu deh. Dekat balkon, Kak. Ayo!"
Aku pun turun dari ranjang dan menarik tangan Eggy menuju balkon vila. Kemudian aku menyuruhnya untuk membelakangi background indah di vila itu. Agara kelihatan kerennya.
"Ayo, Kak. Kakak dan aku berdiri di sini. Biar latar belakangnya dapat kelihatan. Biar aku bisa ingat momen ini dan pemandangan di sini," jelasku.
"Iya, iya. Aku nurutin kamu."
Eggy pun berjalan dan langsung berdiri di sampingku.
"Di sini?" tanyanya.
"Yup," jawabku.
Eggy mulai merangkul pundakku.
"Aku hitung mundur, ya. 1, 2, 3," ucapku. Sesaat nomor 3 aku sebutkan, Eggy langsung mencium keningku secara tiba-tiba. Membuatku terkejut dan seketika memasang ekspresi wajah yang kaget.
"Kakak sih! Tiba-tiba cium kening. Aku kaget. Jadi ekspresinya jelek kek gini deh."
"Ya gak apa-apa dong! Yang penting kamu gak sampai pingsan karena mendadak terkejut," sahutnya.
"Iya, memang. Tapi, 'kan ...." Ucapanku sengaja digantung, karena aku bingung sendiri mau bicara tentang alasan lagi kepada dia.
"Ayo lanjut lagi, Sayang," kata Eggy.
"Iya, coba sekali lagi aja."
"Jika kamu merasa tidak suka terhadap fotonya, kamu bisa menghapus foto itu kok," kata Eggy.
Aku memperhatikan kembali foto itu secara saksama. Namun menurutku ekspresi seperti ini sangat lucu, sangat unik, dan terlihat bagus juga. Aku memutuskan untuk menyimpan foto ini.
"Aku akan menyimpan foto ini, Kak," ucapku.
"Katanya tadi bilang ekspresi wajahnya jadi jelek," sindir Eggy.
"Setelah aku perhatikan lagi, bagus juga kok, Kak. Hahaha."
"Ya ampun! Kamu ini ada-ada saja ya. Buat aku gregetan deh sama kamu," kata Eggy.
Aku terkekeh dengan hal itu. Lalu, aku dan Eggy pun mulai kembali mengambil foto di beberapa tempat yang ada di vila. Vila ini cukup bagus untuk dijadikan sebuah objek foto-foto selfie atau bersama pasangan. Eggy memang tidak selalu pilih. Dia selalu memilih apa pun dengan baik dan bagus. Aku jadi mulai menyukainya.
*****
**Note:
Episode selanjutnya ditunggu besok ya. Hari ini banjir update sampe puluhan episode. Wuhuuuu...
Jangan bilang keren, oke. Karena ini sama sekali gak keren. Wkwkwkwk.
Tanpa kalian, aku bukan siapa-siapa. So, tetep dukung aku buat nulis di Mangatoon dan melanjutkan kisah Eggy ini sampai ke Season 3. Dan perlu kalian ketahui, sebentar lagi aku akan mempersiapkan season ke-3 dari cerita ini. Jadi aku mohon kepada kalian untuk tetap stay dengan cerita ini.
Terima kasih.
I love you 3000, Sayang-sayangnya akoh. :*
muuuuaacchh...
*Seketika authornya ditabok onlen. :D**