
"Kenapa aku di bawa kemari?" tanyaku heran yang tiba-tiba berada di pasar malam.
"Kamu ingin tahu?"
"Tentu saja!" sahutku. "Apa kita akan belanja sayuran? Atau pakaian lagi?" tanyaku.
"Tidak keduanya," jawabnya singkat. Membuatku kebingungan.
"Lalu?"
"Ikut aku!"
"Hey!!!"
Ia menarik lagi tanganku dan lagi-lagi aku harus mengikuti apa yang di perintahkannya.
"Yang benar saja? Kepribadian lain mulai datang lagi," tanyaku dalam batin saat aku melewati beberapa para penjual di sana.
"Kita akan lewat saja?" tanyaku pada Eggy.
"Tepat!" jawabnya.
"Kupikir kau banyak kejutan mendadak." sahutku.
"Sure."
"Tadi hanya lewat taman kota. Lalu sekarang hanya melewati pasar malam," ujarku.
"Keberatan?" tanya Eggy.
"Tidak. Lanjutkan saja. Aku ingin tahu kejutan selanjutnya!" jawabku.
Aku terkekeh menyadari itu. Rasa bahagia ini tak dapat aku bandingkan dengan kebahagiaan apapun lagi. Aku benar-benar bahagia di dekatnya.
"Stop, senyum-senyum!" larangnya.
"Eh, kenapa?"
"Terlalu cantik."
Mendengarkan kata itu, membuat pipiku berubah menjadi merah. Aku tertawa kecil.
"Ppttthh ... Hahaha ... Bisa gombal juga ya?"
"Nggak!" sahutnya singkat.
"Kini aku tahu, kak. Kamu juga mulai menyukaiku," ucapku dalam hati sambil menatapnya. "Terima kasih!" lanjutku.
" Untuk?" tanya Eggy.
"Kata terlalu cantik itu," jawabku tersenyum.
Eggy hanya tersenyum kecil mendengar kalimatku seperti itu.
"Ternyata hanya berbicara bohong bisa membuatmu bahagia juga," celetuk Eggy.
Apa maksudnya itu? Jadi kata cantik itu bohong? Hanya kebohongan? Kurang ajar dia.
"Jadi sebenarnya aku jelek?" tanyaku cemberut.
"Awalnya iya."
"Lalu sekarang?"
"Sekarang tidak. Karena ...," ucapnya terpotong.
"Karena apa?" tanyaku yang sangat penasaran.
"Karena kamu memilikiku. Berbanggalah!" jawabnya tak masuk akal.
Betapa sombongnya dia mengucapkan seperti itu. Aku benar-benar merasa kesal, tetapi lebih cenderung senang dengan semua keangkuhannya. Rasanya jika dia tak berbuat seperti itu, mungkin aku akan rindu berat. Dan kami pun masih terus melanjutkan perjalanan kami.
Setelah beberapa meter kami berjalan, akhirnya kami pun sampai pada tujuan kami.
Pasar malam itu, hanyalah jalan sebuah pintas menuju sebuah tempat. Sebuah gedung yang besar dan terlihat seperti gedung kesenian.
"Tunggu! Aku akan membelikan tiketnya," kata Eggy.
"Memangnya kenapa kemari?" tanyaku heran.
Jujur saja, aku tidak pernah tahu apa yang ada di dalam kesenian. Maksudnya, aku tidak pernah tahu pentas apa yang sering mereka mainkan di gedung itu.
"Berkencan!" jawabnya singkat. Lalu ia pun bergegas pergi untuk membeli dua buah tiket.
"Apa? Kencan? Yang benar saja!" tanyaku pada diriku sendiri yang heran dengannya. Seketika aku memutar bola mataku meremehkannya.
Aku merasa bingung, kenapa Eggy mengajak berkencan ke tempat seperti ini. Aku benar-benar tidak tahu. Padahal bisa saja ia mengajak kencan di pasar malam tadi, atau bahkan saat melewati taman kota pada tadi sore. Namun mengapa ia membawaku kemari?
Tak lama setelah itu, Eggy kembali menghampiriku dengan senyuman.
"Ke gedung kesenian?" tanyaku memastikan.
"Ya. Tentu saja," jawabnya. "Mengapa? Apa kamu tidak menyukainya?" tambahnya bertanya.
"Bukan seperti itu. Hanya saja aku tak pernah datang ke tempat seperti ini," jawabku ragu-ragu.
"Maka dari itu aku mengajakmu kemari untuk merasakan pengalaman pertamamu," sahutnya.
Aku diam mematung tak mengatakan apa pun lagi. Eggy hanya menatap ke arahku. Tumben sekali ia tidak menatap dengan tatapan yang penuh dengan ancaman. Apa kini dia akan terus bersikap seperti ini?
"Apa kamu mau berganti tempat?" tanyanya lagi.
"Tidak perlu, kak. Aku akan masuk ke sana, agar aku tahu seperti apa acara di dalam," jawabku berantusias.
"Baiklah!" sahutnya singkat.
"Apa ini kejutanmu?" tanyaku.
"Tidak juga," jawabnya singkat.
Sedikit merasa kesal dengan jawabannya yang sedari tadi terus singkat seperti itu. Apa itu hanya perasaan saja? Namun itu bukan masalah lagi bagiku, yang bermasalah adalah ketika aku bertanya dan ia tak menjawab pertanyaanku, justru mengalihkannya. Itu benar-benar bermasalah.
Kemudian dia menarik tanganku kembali. Ia memberikan tiket yang sudah dibelinya kepada penjaga pintu gedung itu. Lalu kami pun memasukinya.
"Ayo, masuk!"
"Baik, Kak!"
Luar biasa. Setelah aku berada di dalam gedung tersebut, di dalamnya penuh dengan orang-orang. Seperti sebuah bioskop. Namun di bioskop yang mereka lihat hanya kepada layar saja.
Di sini, hanya ada sebuah panggung dan aku dapat melihat sebuah drama opera dengan peran yang sesungguhnya. Peran yang nyata, bisa bertemu dengan artisnya dan yang paling menyenangkan lagi adalah aku dapat berduaan dengan Eggy dan dapat mengetahui tentang perasaannya selama ini.
"Ayo duduk sebelah sini!" ajaknya.
Aku dan dia pun duduk di bangku ke 3 arah depan. Sangat dekat dengan panggung. Namun ia juga pandai memilih bangku dan posisinya, sehingga aku tidak terlalu dekat atau terlalu jauh untuk melihat opera tersebut.
Sayangnya, drama opera itu pun sudah di mulai sedari tadi. Jadi aku dan Eggy hanya melihat sebagian drama dalam opera itu.
"Kita terlambat ya?" tanyaku perlahan pada Eggy.
"Tidak apa-apa!" jawabnya singkat. Lalu ia pun menikmati pentas opera tersebut.
"Acaranya sudah dimulai," sahutku dengan nada kecewa. Seharusnya tadi aku gak banyak mikir untuk masuk ke sini. Ini mungkin memang kesalahanku.
Sepanjang opera, Eggy sangat menikmatinya. Ia terus fokus dengan acara pentas tersebut. Namun entah mengapa aku merasa bosan jika harus terus menontonnya.
"Sepertinya Eggy menyukai opera," ucapku dalam hati.
Sejujurnya, aku kurang menyukai dengan acara kencan yang diajak oleh Eggy. Namun aku harus tetap bertahan dengan semua ini, ini juga demi kebaikan hubungan aku dan Eggy ke depannya.
Setelah 1 jam terlewati, acara opera pun berakhir. Semua orang lekas berdiri dan bubar dari gedung kesenian tersebut.
"Kenapa dengan matamu?" tanya Eggy yang melihat mataku sayu karena menahan kantuk.
"Tidak apa-apa. Hanya butuh kesegeran," jawabku tersenyum.
"Aku lapar!" kata Eggy terang-terangan.
Aku tahu apa yang dimaksudkannya. Ia mengajakku untuk pulang dan ingin memakan masakanku di rumah. Kurasa aku tidak sedang kepedean.
"Makan dong! Kalau lapar ya, makan," ujarku.
Mendengar hal itu, Eggy terdiam dan kembali menatap tajam penuh ancaman ke arahku. Seram rasanya. Namun tetap saja, setajam apa pun pandangannya, matanya tetap akan selalu indah.
"Pu-pulang?" tanyaku gagu padanya tersenyum.
"Te-tentu!" jawabnya mengejek.
Spontan aku pun memukul badannya karena merasa malu telah berbicara gagap seperti itu padanya. Itu bukan mauku, melainkan itu refleks karena gugup melihat matanya.
Yang benar saja! Dia malah balik mengejekku dan aku benar-benar merasa malu dihadapannya. Sungguh menyebalkan.
Kami berdua pun akhirnya memutuskan untuk pulang. Namun sayang, kami harus kembali berjalan cukup jauh karena mobil Eggy ia parkirkan di taman kota.
"Seharusnya jangan jauh-jauh parkir mobil," eluhku padanya.
"Kamu tahu definisi berjalan kaki dengan pasangan?" Aku menggelengkan kepala seraya berikir. Eggy mengernyitkan dahinya.
"Agar romantis, 'kan?" jawabku menebak.
"Agar sehat," sahutnya.
Sungguh jawaban yang di luar nalar. Kenapa aku masih tetap saja berharap ia akan bersikap romantis seperti pasangan lainnya? Atau setidaknya dia bisa berbicara lembut dengan penuh kata-kata indah. Nyatanya tidak. Dia benar-benar berbeda.
Betapa konyolnya dia, mempunyai sikap bertolak belakang jauh dari ekspetasiku. Lucunya saat ini, dia memarkirkan mobil di taman kota, dan memilih untuk berjalan kaki cukup jauh. Sedangkan jalanan ke sini dapat ia lewati dengan mudahnya jika memakai mobilnya.