The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 74



Keesokan harinya, aku terbangun dari tidurku. Aku melihat ke arah sampingku. Aku melihat Eggy masih tertidur di sana seraya masih memegangi tubuhku. Aku tersenyum melihat hal itu. Kemudian tanpa ragu, aku menyentuh pipi Eggy dan mengusapnya dengan lembut.


"Kak, entah mengapa setelah kejadian semalam, kurasa aku mulai tertarik pada Kakak. Kurasa, kita cocok satu sama lain," ucapku sambil menatap deatil wajahnya.


Tanpa diduga Eggy perlahan membukakan matanya.


"Terima kasih, Sayang." Eggy tersenyum.


Aku terkejut atas sadarnya dia. Aku merasa bahwa dirinya memang masih tidur. Rupanya aku salah dengan hal itu.


"Ah, apa kamu mendengarnya?" tanyaku.


"Aku mendengar itu. Sangat jelas sekali," jawabnya.


"A-ah. Kakak ... sebenarnya, aku tertarik masalah pemabahasan semalam."


"Terserah apa katamu. Aku akan menerimanya."


"Kecocokan juga ... s-sebenarnya ... sebenarnya, aku hanya ...."


"Hanya?"


"Anu, mm ... hanya menunggu saja. Dan melihat sampai nanti."


Eggy mengernyitkan dahinya.


"S-sebenarnya aku hanya, anu." Aku mulai kehabisa kata-kata untuk menjelaskan apa yang sudah aku katakan kepada Eggy. Aduh, rasanya aku jadi kesulitan untuk menjawab pertanyaannya.


"Anu? Apa?" tanyanya kebingungan.


"Tidak apa-apa." Aku langsung terbangun dan mulai berdiri dari ranjang. "A-aku ... a-kan pergi k-ke toilet dulu." Aku pun langsung pergi begitu saja meninggalkannya. Dengan jantung yang berdegup kencang, kemudian perasaan yang sangat gugup, membuatku mati kutu dalam seketika di hadapannya. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak boleh memperlihatkan itu padanya.


"Ya Tuhan! Peetanda apakah ini? Aku merasa sangat gugup di dekatnya," gumamku secara perlahan.


*****


Kini aku sudah selesai mandi. Aku mulai keluar dari kamar mandi, dan aku mulai merasa terkagum-kagum kepada seprang pria di depanku, yang tak lain adalah Eggy, suamiku.


Terlihat dia telanjang dada dengan memainkan barbel di tangan kanannya. Dirinya sedang berlatih otot. Aku mulai terkesima dengan tubuhnya yang sixpack. Sangat menggiurkan diriku untuk memegang bagian dari tubuhnya. Batinku tergoyah. Pikiranku mulai berlari ke arah lapang yang liar.


"Kakak ...," panggilku secara perlahan.


Eggy menengok secara perlahan ke arahku dengan mimik wajah yang gagah, tatapan mata yang sayu dengan wajah dan dada yang penuh keringat.


"A-aku ... ingin berganti pa-kaian, Kak." Tiba-tiba aku selalu gagap saat berbicara dengannya. Entah mengapa, rasanya aku menjadi canggung dan gugup saat di dekatnya.


"Hah ...." Eggy menghelakan napas panjangnya. "Baiklah. Aku akan mandi," lanjutnya berbicara. Kemudian dirinya berjalan dan mengambil handuk. Setelah aku lihat-lihat, dia terlihat sangat keren. Dan itu, aku baru saja menyadarinya.


"Ah, o-oke, Kak."


Aku mulai memakai pakaianku. Selepas itu, aku. langsung beranjak ke dapur untuk menyiapkan sebuah sarapan untuk makan pagi. Lalu, aku membuka lemari kulkas untuk mengambil bahan-bahan makanan di sana. Namun sayang sekali. Bahan makanan yang tersedia di dalam kulkas tidak cukup tersedia untuk satu minggu. Dan sepertinya aku harus mulai belanja lagi, karena di sini aku dan Eggy akan tinggal selama satu pekan. Rasanya seperti bulan madu pengantin baru.


"Apa? Tunggu! Ini bukan bulan madu, 'kan?" gumamku bertanya-tanya sendirian.


Aku mencoba untuk menghilangkan semua pikiran jelekku. Aku tidak boleh banyak mikir sesuatu yang tidak boleh aku pikirkan. Ini bukanlah bulan madu. Bukan. Ingat, Bulan! Jangan banyak mikirin hal itu, bukan saatnya. Ini bukan waktunya untuk bermain suami-istri layaknya anak kecil pada masa lalu.


Aku pun melanjutkan masak dengan bahan yang seadanya saja, yang tersedia di dalam kulkas. Tak lama kemudian, tiba-tiba Eggy datang menghampiriku dan langsung memeluk begitu saja dari arah belakang.


"Eh, Kakak. Apa Kakak bisa melepaskan pelukanku?" tanyaku. Bukannya merasa tidak nyaman akan hal itu. Namun ada sesuatu.


"Mengapa?" tanya Eggy. Dan dirinya memang melepaskan pelukan itu. Dia mendengarkan apa yang aku ucapkan.


"Aku sedang masak, Kak. Sebentar ya, tanggung, Kak. Nanti masakannya gak jadi," ucapku.


"Lalu kalau misalkan masaknya sudah selesai, mau bagaimana?" tanya Eggy.


"Ya ... kita makan, Kak. Memangnya Kakak tidak lapar apa?"


"Maksudnya bukan itu lho."


"Lalu apa? Kalau sudah makan?" tanyaku sengaja mengalihkan perbincangan.


"Iya."


"Kita belanja."


"Belanja apa?" tanyanya.


"Bahan makanan," jawabku. "Kan kita akan menginap di sini selama satu minggu. Sudah pasti kita butuh lebih banyak makanan dari apa yang kita butuhkan. Di sini harus tersedia sangat banyak. Kakak tahu sendiri lah, Villa ini sangat jauh dsri supermarket. Kalau misalkan belanjanya sedikit, pasti kurang. Kalau kurang, pasti belanja lagi, harus jauh lagi, harus lewat banyak pohon lagi, harus lewat jalanan sepi lagi. Bener bukan?" lanjutku.


"Iya. Terus?"


"Gak ada terusannya, Kak. Cuma itu saja."


"Kalau aku pengennya kamu meneruskan kalimatmu, bagaimana?"


"Jangan mulai deh, Kak, nyebelinnya."


"Aku paham."


"Paham apa?" tanyaku memastikan apa yang dipahaminya tidak salah.


"Paham bahwa setelah makan kita belanja makanan untuk persediaan selama seminggu di sini. Bener, 'kan?" sahutnya dengan benar.


"Yup. Rupanya Kakak memang bensr paham dengan apa yang aku maksud."


"Wo iya jelas dong!" ucap Eggy. "Eh, masakanmu tuh! Udah mendidih dari tadi keknya," lanjut Eggy menyadari masakanku.


"Eh, iya."


Aku hampir lupa dengan masakanku sendiri. Bukan hampir lagi. Namun memang sudah lupa. Hahaha. Tidak masalah. Untung Eggy tika komplain dan marah-marah, karena aku hampir saja teledor.


"Mau aku bantu?" tawarnya.


"Bantu siapkan piring saja di sana, Kak. Untuk kita makan. Nanti aku sajikan makanan ini untuk Kakak," sahutku.


"Baiklah, Sayang."


Sayang. Kata panggilan 'sayang' itu, akhir-akhir ini sering aku dengar dari mulutnya. Namun aku tidak pernah komplain atau marah dengan nama panggilan itu. Seakan aku memberinya sebuah keberanian dengan memanggilku seperti itu. Aku memang tidak begitu keberatan. Tetapi terkadang aku merasa risi saat dirinya memanggilku seperti itu. Namun untuk saat ini, aku tidak begitu peduli dengan panggilan kata 'sayang' darinya. Selama Eggy masih berada dalam batas wajar, aku bisa memakluminya. Selama Eggy tidak macam-macam dan memaksa aku untuk melakukan keinginannya, aku sama sekali tidak keberatan. Namun yang aku lihat dan aku rasakan adalah, Eggy benar-benar menjagaku. Bahkan untuk hal memeluk pun dia lebih sering bilang padaku. Mungkin dalam hal berciuman, dirinya jarang meminta izin dulu dariku. Mungkin dia tahu aku akan langsung menolaknya jika dia berkata seperti itu. Makanya, dengan mencari waktu yang pas dan tepat, dia berani melakukannya. Jika aku memberontak, dia pasti akan diam dan tidak melanjutkan hal itu. Menurutku, dia cukup pengertian dengan posisi seseorang. Aku jadi merasa lebih aman jika hidup bersamanya.


Aku tersenyum sendiri memikirkan semua hal itu. Sungguh lucu sekali perasaan ini.