
Terlihat Bulan sedang melihat-lihat setiap rak makanan di supermarket. Dia memilih beberapa makanan ringan yang akan dia beli.
"Mm ... beli makanan apa, ya? Kamu ada usul gak?" tanya Bulan kepada Fadhla.
"Yang mana saja. Terserah kamu deh. Yang penting beli," jawab fadhla dengan pasrah.
"Yasudah deh. Sebentar, aku lagi banding-bandingin harga makanan ringan ini," kata Bulan ssmbil. melihat nominal setiap makanan yang terpajang di sana.
"Yaudah. Cepetan aja milihnya." Fadhla mulai gak sabaran.
"Kamu capek? Lelah?" tanya Bulan menatap serius ke arah Fadhla.
"Enggak juga," jawabnya dengan singkat.
"Lalu kenapa? Kamu ingin cepat kembali ke rumah sakit?" tanya Bulan menebak-nebak.
"Aku kekenyangan," sahut Fadhla.
"Lalu hubungannya apa dengan itu?" Bulan mulai kebingungan.
"Aku pengen duduk, istirahat dan rebahan, Bulan. Buat mengistirahatkan perutku. Agar mesin yang ada di perutku itu bekerja dengan baik," kata Fadhla.
"Astaga, Fadhla. Aku kira kenapa lho," sahut Bulan.
"Jadi gimana? Ayo cepetan dong! Aku pengen cepet-cepet kembali nih."
"Yaudah, kalau begitu, kamu kembali saja ke rumah sakit. Gampang bukan?" Bulan malah menyuruhnya pergi.
"Enggak, enggak. Enak aja. Pokoknya aku dan kamu harus kembali bersama," kata Fadhla.
"Ya habis gimana," sahut Bulan.
"Iya makanya cepetan," kata Fadhla dengan menekankan setiap kata yang terucap dari mulutnya.
"Bawel!" kata Bulan kesal.
Bulan pun langsung mengambil beberapa makanan random yang ada di etalase sana, kemudian dia masukan ke keranjang miliknya.
"Hei! Apa kamu tidak waras? Makanan sebanyak itu memangnya akan habis, hah?" tanya Fadhla.
"Memangnya kenapa?" tanya Bulan balik.
"Lihat apa saja yang kamu bawa, Bulan!" perintah Fadhla seraya menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Bulan melihat ke keranjang belanjaannya. Memang banyak. Kelewat sangat banyak malahan. Namun bagaimana lagi? Cemilan kan memang cepat habis dan tidak begitu mengenyangkan perut. Walau pun memang kenyang, tapi tetap saja nantinya akan lapar lagi.
"Sudah aku lihat, Fadhla. Lalu apa?" tanya Bulan.
"Apa kita akan Berpesta cemilan, Bulan?"
"Entahlah. Kamu menyuruhku cepat-cepat, bukan? Ini aku mencoba untuk cepat mengambil makananku, Fadhla. Apa salahnya?" jelas Bulan kepada Fadhla.
"Astaga." Fadhla menepuk jidatnya. Dia gedek dengan tingkah Bulan.
"Kenapa sih? Yaudah," gumam Bulan tidak peduli dengan apa yang dimaksud oleh Fadhla. Dia hanya mengabaikannya begitu saja. Lalu dia kembali mengambil beberapa makanan lainnya yang masih ter absen di dalam keranjangnya. Setelah semua selesai itu di ambil dan mereka rasa sudah tidak ada yang ketinggalam, dia langsung berjalan menuju arah kasir.
"Udah, ayo bayar. Sama kamu bayar!" kata Bulan.
"Enak saja."
"Cepetan!" kata Bulan sambil menyenggol tubuh Fadhla.
"Astaga. Makanan sebanyak ini, Bulan?" tanya Fadhla memastikan.
"Iya. Lalu apa?" sahut Bulan menatap Fadhla tanpa ada rasa malu dan bersalah.
"Astaga. Iyalah, iya."
Fadhla pun terpaksa mengeluarkan dompetnya dan membayar semua makanan tersebut ke kasir. Setelah itu, Fadhla mengambil dua keresek besar yang berisikan banyaknya makanan dan juga cemilan untuk makanan di rumah sakit. Dan yang membuat Fafhla kesal. adalah harga cemilan yang dibeli oleh Bulan semuanya berjumlah besar. Nominal yang di jumlahkan pun membuat Fadhla menghela napas panjang dan penuh usapan dada. Terlihat Fadhla memasang raut wajah yang sangat masam dan benar-benar malas di depan Bulan.
"Kamu kenapa, Fadhla?" tanya Bulan padanya.
Fadhla menengok. "Enggak," jawabnya dengan sangat singkat dan juga nada yang ketus.
"Yasudahlah. Minta tolong bawakan, ya. Soalnya pasti berat," kata Bulan kepada Fadhla.
"Iya deh, iya," sahut Fadhla dengan malas.
"Ih, jangan marah dong!" kata Bulan.
"Siapa? Siapa yang marah? Aku gak marah kok," sahut Fadhla.
"Lalu apa kalau bukan marah?" tanya Bulan memojokkannya.
"Marah sama kesel itu beda, ya."
"Bedanya apa, coba?" tanya Bulan ingin tahu.
"Pokoknya beda," kata Fadhla sulit. menjelaskannya.
"Iya bedanya apa?" tanya Bulan.
"Pokoknya beda. Dari hurufnya aja beda," jelas Fadhla. Lalu dia berjalan menuju mobilnya.
"Eh, tunggu!" Di susul oleh Bulan.
Fadhla menyimpan kereseknya di jalan untuk sejenak. Lalu dia mengeluarkan kunci mobil dari sakunya dan lekas mematikan alarm mobilnya.
pip... pip...
Kemudian Fadhla membuka pintu belakang mobilnya dan memasukkan semua belanjaannya ke belakang mobil. Bulan masih berdiri menunggu Fadhla menyelesaikannya. Setelah selesai, Fadhla menutup pintu mobil belakangnya dan langsung menatap Bulan.
"Memangnya kenapa?" Aku menunggumu selesai," sahut Bulan.
"Mau aku bukain pintu?" tanya Fadhla menebak.
"Enggak juga," jawab Bulan sambil memalingkan wajahnya dan langsung membuka pintu depan mobilnya oleh dirinya sendiri. Kemudian dia masuk ke dalam mobil tersebut.
Fadhla hanya menghela napas panjangnya dan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dasar!" gumam Fadhla.
Dia pun segera masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Lalu dia pergi menuju kembali ke rumah sakit.
Setelah dirinya sudah sampai di rumah sakit, Bulan pun bergegas pergi terlebih dulu—di depan meninggalkan Fadhla. Dia yang melihat Bulan pergi pun mulai berteriak kepada dirinya.
"Hei! Kamu ke mana?" tanya Fadhla.
Bulan menengok. "Aku? Aku mau ke rumah sakit. Menyusul Eggy," jawab Bulan.
"Bantu dulu, sini!" perintah Fadhla.
"Bantu apa?" Bulan berpura-pura tidak tahu.
"Bawain kereseknya, Bul. Apa lagi?" tanya Fadhla mulai kesal kepada Bulan.
Bulan terkekeh. "Iya, iya."
Bulan berjalan kembali menghampiri Fadhla. Kemudian dia langsung mengambil keresek kecil yang ada di bagasi mobil.
"Oke. Aku udah ambil ini, ya," kata Bulan sambil memperlihatkan barang tersebut kepada Fadhla.
"Iya," sahut Fadhla dengan sangat malas.
Mereka pun bergegas mssuk ke dalam gedung rumah sakit. Lalu setelah berada di dalam, mereka mencari Eggy. Namun mereka tidak menemukan batang hidung Eggy di sekitaran sana.
"Kak Eggy ada di mana, ya? Gak mungkin kalau masih di ruang tunggu UGD," kata Bulan kepada Fadhla.
"Ya iya dong. Kan Adelia di pindahkan ke ruangan lain," sahut Fadhla.
"Apa tanya ke bagian informasi, ya?" tanya Bulan berinisiatif.
"Boleh. Ide bagus juga," jawab Fadhla menyetujuinya.
Bulan dan Fadhla pun berjalan ke bagian informadi, tetapi saat mereka akan menanyakan ruangan Adelia, tiba-tiba ada seseorang memukul pundak Fadhla dengan pelan dari arah belakang. Spontan Fadhla pun menengok.
"Ada apa, Fadh ... la?" tanya Bulan seraya menengok dan dia pun terkejut melihat orang yang ada di hadapan mereka. Kaget.
"Ada apa, Fadh ... la?" tanya Bulan seraya menengok dan dia pun terkejut melihat orang yang ada di hadapan mereka. Kaget.
"Kalian ke mana saja?" tanya seseorang itu.
"T-tadi kita makan di luar dulu. Lalu membeli beberapa cemilan untukmu," jawab Fadhla kepadanya.
Ya. Dia adalah Eggy. Sangat jelas bahwa Eggy benar-benar sangat marah kepada Bulan dan juga adiknya itu, karena sudah meninggalkan dirinya sendirian di rumah sakit tanpa memberitahunya terlebih dulu.
"Kalian bisa menungguku, bukan? Jangan egois deh." Eggy mulai menaikkan nada suaranya.
"Bukan egois, Eggy. Kami berdua lapar, jadi kami pergi ke luar sebentar. Lagian kita juga beli makanan untukmu juba kok. Buat kamu makan, karena kamu pasti belum makan juga, kan?" kata Fadhla dengan panjang lebar.
"Fadhla, aku memang belum makan, tapi seenggaknya kamu bisa menungguku, bukan? Kalian berdua ini ... ingat, ya! Bulan itu masih ber status istriku," kata Eggy mengingatkan statusnya kepada Fadhla.
Fadhla terdiam sejenak. "Oke. Maafkan aku, Eggy. Aku telah membawa istrimu pergi tanpa izin darimu."
Fadhla akhirnya mengalah untuk Eggy. Tak baik juga jika memangFadhla harus melawan Eggy dalam keadaan seperti ini.
"Kamu juga, Bulan! Kenapa kamu pergi tanpa izin dariku? Apa kamu masih menganggapku sebagai suamimu? Atau kamu memang sudah tidak menganggapku?" tanya Eggy dengan tegas kepada Bulan.
Bulan tersentak mendengar kalimat itu keluar dari mulut Eggy. Dia tidak menyangka bahwa Eggy akan semarah ini terhadapnya. Padahal dirinya hanya pergi dengan adiknya. Adik kandungnya. Dia pergi pun tidak macam-macam. Hanya membeli beberapa makanan saja dan makan bersama di luar dengan Fadhla. Tidak di pungkiri, bahwa Bulan memang melakukan kesalahan karena tidak memberitahu Eggy.
"Kak. Aku masih menganggapmu kok," sahut Bulan.
"Lalu mengapa tidak menungguku? Mengapa tidak meminta izin dan memberitahuku, Bulan?" tanya Eggy.
"A-aku ...." Bulan menggantung kalimatnya. Dia bingung sendiri dan tidak bisa menjawab pertanyaan dari Eggy.
"Sebaiknya kamu jauhi istriku, Fadhla. Kamu. membawa pengaruh buruk untuknya," kata Eggy kepada Fadhla.
"Apa?" tanya Fadhla terheran-heran. "Kamu bilang bahwa aku bawa pengaruh buruk untuk Bulan? Apanya yang buruk, hah?" Fadhla mulai menaikkan nada suaranya.
"Bulan menjadi istri yang tidak patuh. Dia bahkan berani pergi meninggalkanku tanpa izin," sahut Eggy.
"Bukan salahku jika memang dia tidak patuh. Kamu sendiri yang tidak bisa menjaga hubunganmu dengan Bulan. Kamu ingat, kenapa kamu berada di sini, hah?" tanya Fadhla.
"Aku menolong Adelia."
"Hei, kalian kenapa, sih? Sudahlah. Jangan berantem di sini. Malu, tahu. Ini rumah sakit," kata Bulan merasa risi.
"Heh, apa? Menolong Adelia? Lalu kenapa kamu bicara pada dokter bahwa kamu adalah calon suaminya di hadapan istrimu, Eggy? Kenapa?" tanya Fadhla sengaja menyindir.
Eggy sejenak terdiam. dia memang merasa sangat bersalah akan hal itu. Dia memang menyadarinya.
"Hei, sudahlah. Kalian berdua ini kenapa sih? Berantem mulu. Apa yang kalian perdebatkan? Untuk masalah aku dan Eggy, anggap ini sudah berakhir. Aku sudah mengakui kesalahan bahwa aku memang salah. Aku gak akan ulang ini lagi, Kak. Aku gak akan pergi tanpa izin kamu. Jadi, sekarang aku ingin pulang saja. Aku gak mau lihat kalian berdua berantem gitu aja di sini. Buat malu, tahu gak? Di izinin atau enggak, tapi aku tetep bakalan pulang. Aku mau pulang. Titik," kata Bulan dengan panjang lebar kepada Eggy. Kemudian dia memberikan keresek belanjaan yang tengah dia pegang kepada Fadhla. Kemudian dia pun berjalan pergi meninggalkan rumah sakit.
"Bulan! Hei!" teriak Fadhla. Namun Bulan tidak. mendengarkan.
"Bulan, tunggu!" teriak Eggy mengikuti Fadhla. Namun tetap sama saja. "Semua ini karena kamu, Fadhla. Kamu yang memulai ini," kata Eggy.
"Apa? Sekarang kamu menyalahkan aku juga, Eggy? Sumpah, ya! Kamu tidak menyadari kesalahanmu, Eggy?" tanya Fadhla menggelengkan kepalanya.
"Sebuah kesalahan jika aku mengenalkan Bulan kepadamu," sahut Eggy.
"Apa? Hei, asal kamu tahu, ya! Sebelum kamu mengenalkannya padaku, aku sudah mengenalnya terlebih dulu," kata Fadhla kepada Eggy. Lalu. dia pun menyimpan dua keresek tersebut di lantai. "Nih, ambil semua makanannya. Bulan masih mengingat akan kesehatanmu. Dia yang paling mementingkan dan mengkhawatirkanmu. Asal kamu tahu, Eggy. Bulan awalnya menolak untuk aku ajak ke luar. Tapi aku memaksanya, dan akhirnya dia mau. Jadi, Bulan tidak salah sama sekali," jelas Fadhla.
"Sialan!" umpat Eggy. Kemudian dia langsung mengepalkan tangannya dan mengangkat tangan kanannya untuk berniat untuk memukul wajah Fadhla, tetapi niatnya diurungkan.
"Mau pukul aku? Silakan!" tantang Fadhla.
"Jangan dekati Bulan lagi!" kata Eggy sambil menunjuk ke arah wajah Fadhla. Kemudian dirinya pergi meninggalkan Fadhla sendirian di sana.