
Eggy dan Adelia masih melakukan perjalanan menuju apartemen mereka. Mereka terlihat saling berpegangan tangan. Tangan kanan Eggy memegangi stir mobil dan tangan kirinya memegangi tangan Adelia. Mereka berdua saling melempar senyum satu sama lain. Kemudian mereka pun sudah sampai di gedung apartement, dan Eggy langsung memarkirkan mobilnya. Setelah itu dia keluar dari mobil dan disusul oleh Adelia. Lalu Eggy mengunci mobilnya sambil menyalakan alarm.
"Apa kita tidak akan membeli makanan terlebih dulu?" tanya Adelia.
"Tidak usah. Langdung ke apartemen saja," sahut Eggy.
"Kalau aku lapar gimana?"
"Ada makanan sudah tersedia di sana. Kamu jangan khawatir," kata Eggy.
"Ya udah deh." Adelia pasrah.
Ketika mereka berdua berjalan saling berdampingan, tiba-tiba Eggy langsung menggendong tubuh Adelia. Niatnya ingin menggendong Adelia sampai ke depan pintu apartement, dan sontak Adelia terkejut dengan sikap Eggy yang mendadak romantis seperti itu.
"Eggy. Kamu kenapa? Jangan seperti ini lagi dong. Malu, tahu!" ucap Adelia komplen.
"Gak peduli," sahut Eggy.
"Kamu, ya. Dasar! Tumben-tumbennya bersikap manis padaku," sindir Adelia.
"Kamu sudah menjadi istriku!" sahut Eggy.
Adelia tertawa dan terpaksa dirinya harus menahan malu dilihat oleh sebagian orang-orang di sana. Kemudian Eggy berdiri di depan pintu lift. Adelia terus memintanya untuk segera diturunkan.
"Ayo, Eggy. Turunkan!" kata Adelia berbisik. Dia mulai merasa risi karena di lihat oleh banyak orang.
"Tidak!" tolaknya.
"Malu, tahu!"
Eggy tersenyum. "Tunggu!"
Tak lama setelah itu, pintu lift terbuka. Kebetulan sekali di dalam lift tersebut hanya ada mereka berdua saja. Eggy mulai menurunkan Adelia. Dia pun melemaskan kedua tangannya karena merasa pegal akibat menggendong Adelia. Adelia yang melihatnya seperti itu pun menawarkan sesuatu.
"Nanti aku pijitin tanganmu. Aku bilang turunkan sejak tadi, kamu ngeyel. Jadi pegel, deh. Nanti aku pijitin, ya."
"Iya sengaja gak turunin. Biar pegel terus dipijitin," kata Eggy.
"Eh!"
Eggy menatap Adelia, kemudian dia mendekatkan diri ke arahnya. Adelia perlahan-lahan melangkah mundur dengan perasaan canggung dan tegang, sampai akhirnya dia mentok berada di ujung dinding lift. Lalu Eggy mengurung Adelia dengan kedua tangan yang dia simpan di masing-masing sisi kepalanya.
"Kamu mau apa Eggy? Ini di dalam lift lho," kata Adelia.
"Aku tahu," jawab Eggy.
"Iya jangan di sini!" larangnya.
Eggy hanya menyeringai.
Kemudian dirinya mulai mendekati Adelia dan berhasil menciumnya kembali. Eggy menikmatinya. Adelia memejamkan matanya. Lalu tangan Eggy mulai menjelajahi dari mulai leher sampai ke pinggangnya. Ketika dirinya mendengar suara tanda sampainya di lantai tujuan, Eggy berhenti. Dia tersenyum dan kembali menggendong Adelia.
"Eggy! Jangan begini ah. Turunkan, ayo!"
"Diamlah!"
"Kamu ini!"
Sampailah mereka berdua di dalam Apartemen. Eggy mengajak Adelia masuk ke dalam kamar pengantin mereka yang sudah dihiasi oleh taburan bunga mawar dan lilin yang masih menyala. Sangat romantis.
Lalu Eggy menjatuhkan tubuh Adelia di ranjang.
"A-apa ini semua kamu lakukan untuk kita?" tanya Adelia gelagapan.
"Lalu untuk siapa lagi jika bukan untuk kita?"
Eggy mulai membuka jas dan dasinya. Lalu Eggy menindih tubuh Adelia dan kembali mencumbunya di atas ranjang. Tak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara telepon berdering. Eggy tidak menggubris suara telepon itu. Adelia mulai terganggu dengan bisingnya suara nada dering itu. Lalu dia menyuruhnya untuk segera mematikan teleponnya
"Matikanlah teleponmu terlebih dulu!" kata Adelia.
Eggy berhenti dari aktivitasnya. Lalu dia langsung mematikan ponselnya tanpa melihat siapa yang sudah meneleponnya. Lalu Eggy kembali kepada aktivitasnya yang belum terlaksanakan sampai selesai.
Fadhla terlihat kebingungan karena Eggy tak kunjung menjawab telepon darinya. Lalu dia menghampiri Bulan yang sedang meringkuk merasakan kesakitan di perutnya. Fadhla merasa gemas kepada Eggy yang tiba2 mematikan ponselnya. Dia terus mengumpat pada kelakuan kakaknya itu.
"Sialan! Dasar Eggy kurang ajar. Kenapa dia gak jawab teleponnya? Istrinya lagi kesakitan, dia malah enak-enakan di apartemen sama istri barunya. Dasar suami yang kurang ajar. Gak ada akhlak," umpatnya.
"Kita ke dokter, ya?" tawar dia.
"Gak kuat, Fadhla. Ah, ah," Bulan terus memegangi perutnya.
Tak lama kemudian, saat di ambang kebingungan jarus berbuat apa, Fadhla melihat ada noda merah di kasur yang di tiduri oleh Bulan. Fadhla pun mulai panik.
"Bulan, kamu berdarah. Ini sudah tidak bisa di biarkan. Akan aku panggilkan dokter untuk datang kemari," kata Fadhla.
Dia pun langsung menelepon dokter dan menjelaskan keadaan Bulan.
"Tolong segera datang kemarilah! Saya benar-bemar butuh bantuan Anda, Dok. Ini sangat darurat. Istri saya kesakitan di perutnya dan dari area vaginanya keluar darah," jelas Fadhla kepada sang dokter di telepon.
"Baik, saya akan segera ke sana," sahut dokter itu.
"Terima kasiH, dok. Cepatlah!"
Fadhla menutup teleponnya. Lalu Fadhla mendekati Bulan dan dia mengelus punggungnya secara perlahan.
"Tahan, ya! Dokter akan segera datang," kata Fadhla.
"Aku gak kuat. Benar-benar gak kuat," sahut Bulan semakin menangis.
Perutnya luar biasa sakit. Seakan di tusuk oleh jarum dan belati. Bulan tak kuasa menahan sakitnya. Dia memeluk paha Fadhla, mencoba untuk tak merasakan sakitnya. Lalu Fadhla mulai mengelus tubuhnya dengan pelan.
Tak lama kemudian, sang dokter pun tiba. Lalu dia langsung memeriksa keadaan Bulan. Berselang beberapa waktu dalam pemeriksaan, dokterpun memberikan Bulan obat penahan nyeri. Bulan meminumnya dan perutnya mulai terasa lebih lega.
Bulan berhenti merasakan sakit, namun dia tetap menangis.
"Dia terlalu stres. Dia sangat kelelahan. Maka dari itu hal ini sering terjadi. Apalagi usianya baru beberapa minggu, dan itu sangat rawan sekali. Jika tidak di jaga dengan baik, maka seperti inilah akibatnya. Penyebab dia merasakan sakit yang hebat adalah karena stres dan capek. Maka dsri itu hal ini terjadi.
"Terima kasih, dok. Memang istri saya hari-hari ini sangat kelelahan. Padahal sudah saya ingatkan untuk tidak memikirkan hal apa pun yang bisa memicu hal inu terjadi. ," kata Fadhla.
"Ini sudah terjadi. Biarlah terjadi. Mohon untuk tidak berat-beratan dulu, ya. Kesehatannya belum stabil. Jaga makanannya, tidak boleh makan sembarangan," kata dokter.
"Baik, Dok. Saya akan menjaga istri saya dengan baik."
"Mohon kesabarannya, ya. Mungkin ini memang sudah takdirnya. Namun jangan khawatir, kamu bisa mendapatkannya kembali kok," ujar dokter kepada Bulan.
Bulan tak menggubris kalimat dari dokter. Dia hanya memalingkan wajahnya.
"Kalau begitu saya permisi."
"Silakan, dok."
Dokter itu pun pergi meninggalkan rumah mereka. Fadla kembali mendekati Bulan. Dia duduk di sampingnya dan mulai memeluk Bulan. Bulan pun memeluknya kembali dan menangis dalam pelukannya.
"Aku kehilangannya, Fadla. Aku telah kehilangannya!"
"Sst... Sudah, sudah. Jangan sedih. Aku tahu ini pasti sangat bagimu. Namun harus bagaimana lagi? Kamu harus melakukannya demi kesehatanmu, Bulan. Jangan bahayakan nyawamu," ucap Fadhla.
"Aku gagal. Aku telah gagal," ucapnya menyalahkan diri sendiri.
"Sst... sstt... kamu tidak gagal, Sayangku. Tidak."
"Aku pasti mengecewakan Eggy. Dia akan marah jika tahu ini, Fadhla. Dia pasti memarahiku. Aku takut dia akan menceraikanku," ujar Bulan.
"Tidak, Bulan. Masih ada aku yang akan setia denganmu. Jangan sedih. Eggy tidak mungkin membencimu. Jangan khawatir!" Fadhla mencoba untuk menenangkan perasaan Bulan.
"Aku memang bodoh! Aku memang bodoh!" kata Bulan yang tetap menyalahkan dirinya sendiri. Fadhla memeluk Bulan dengan erat. Dia merasa kasihan melihat Bulan yang menanggung penderitaan ini sendirian. Dia ikut merasakan kecewa dan marah atas keputusan Eggy yang memilih bersama wanita lain dibanding Bulan. Rasanya Fadhla mulai murka dengan sikap Eggy yang mulai berubah. Dia harus memberi pelajaran kepada kakaknya itu. Dia harus membayar atas kesakitan dan penderitaan yang dia lakukan terhadap Bulan selama ini.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.
Terima kasih, semuanya. :*