
Aku dan Eggy sudah berada di kamar. Eggy tengah duduk dan bersandar ke dinding. Lalu aku pun duduk di sampingnya dan dia mulai menceritakan semua kisahku yang tak aku ingat. Ya, walaupun aku tidak tahu mulai kisah hilang ingatan ini dari mana, tetapi setidaknya aku tahu tentang kisah perjalananku.
"Keluargamu meminjam uang kepadaku. Cukup besar dan dia menjadikanmu jaminan. Awalnya aku tidak memintamu menjadi jaminanku, karena kamu adalah anaknya. Sudah pasti jika orang tua yang baik, tidak akan menyerahkan putrinya sebagai jaminan. Namun di luar dugaanku, orang tuamu sangat berbeda. Dia rela menjadikanmu sebagai jaminan untuk meminjam uang. Saat itu kamu masih sekolah SMA. Aku sering melihatmu di sekolah, diam-diam aku memperehatikanmu untuk sekadar mengetahui apa yang menjadi kebiasaanmu dan bagaimana dengan sikapmu. Menurutku, kamu tidak begitu buruk," jelas Eggy.
Aku terdiam mendengar kenyataan itu. "Mm ... aku sudah menerima kenyataan ini. Bahwa aku memang dijual dengan harga yang cukup lumayan mahal. Mungkin aku menganggapnya sebagai mahar yang buta," ucapku.
Eggy memegangi tanganku."Jangan sedih. Aku menikahimu pakai mahar juga kok," sahut Eggy.
Aku menengok ke arah Eggy. "Eh, Kak. Maksudnya bukan begitu, Kak. Kakak jangan tersinggung. Aku salah kata," kataku merasaa tidak enak. Sudah pasti aku menyinggungnya.
"Jangan seperti itu. Aku tidak masalah kok. Aku paham dengan apa yang kamu rasakan," ucapnya.
"Baiklah. Lalu bagaimana lagi, Kak, kelanjutan kisahnya?" tanyaku.
"Kamu yakin ingin mendengarnya lagi?"
"Ya."
"Baiklah. Akan aku lanjutkan. Orang tuamu tidak pernah membayar hutangnya selama angsuran berjalan. Itu sudah beberapa tahun lamanya. Saat masa jatuh tempo, dia tidak membayar dan langsung menyerahkan dirimu sebagai jaminan pembayaran semua hutangnya. Aku pun mau tidak mau menyetujuinya, karena kebetulan pada saat itu, aku ditawari untuk memimpin suatu perusahaan dengan syarat harus menikah. Aku pun memanfaatkan keadaan ini. Kurasa kita berdua sudah saling menguntungkan. Orang tuamu terbebas dari hutang dan aku mempunyai kekuasaan dengan menikahimu," ungkapnya lagi.
"Apa saat itu kakak tidak pernah menyukaiku?" tanyaku penasaran.
"Semenjak kamu masih sekolah, aku susah menyukaimu," jawabnya.
"Ah, begitu ya. Rasanya aku mempunyai penggemar," kataku merasa peecaya diri. Eggy merangkulku dan menyuruhku untuk bersandar di pundaknya.
"Kemarilah!"
Aku pun mengikutinya.
"Dengar! Saat pertama kali aku kembali, kamu sedang mandi. Aku menunggumu di ranjang. Lalu kamu terkejut ketika melihatku dan seketika menjatuhkan handuk mandimu."
"A-apa?" kejutku.
"Kamu telanjang di depanku. Seluruh tubuhmu terekspos sangat jelas."
"Hah? Kakak bohong ya?"tanyaku tak percaya.
"Aku serius, Bulan."
"Malu dong aku. Momen pertama kali malah kacau seperti itu," sahutku. "Seandainya aku ingat kejadian itu, aku tidak ingin menceritakannya atyau membahasnya lagi," lanjutku pada Eggy.
"Aku sudah bilang dan kasih tahu kamu lho dari awal. Apa mau dilanjutkan lagi?" tanya Eggy padaku."
"Lanjutkan saja, Kak. Lalu bagaimana lagi?"
"Awal bertemu masih agak canggung. Lalu kamu mulai terbiasa dengan hal itu. Kamu sedikit punya selerea humor yang bagus. Kamu juga cerewet, pada saat itu, aku masih cuek padamu. Tidak serespon saat ini. Sebut saja dulu aku pria dingin, namun sekarang aku sudah bersikap hangat padamu. Dulu kita pernah hampir melakukannya, kita melakukan sebuah pemanasan sebelum itu. Namun kamu menghentikannya dan menolak untuk melanjutkan melakukan itu denganku. Namun bukan masalah. Mau sejak dulu atau sekarang, aku sudah berhasil mendapatkanmu secara utuh," kata Eggy padaku.
Mendengr kalimat itu, membuatku merasa ingin memeluknya. Sepertinya aku terlalu banyak dosa terhadap apa yang aku lakukan padanya.
"Jadi, masih mending mana?" tanyaku.
"Apanya?"
"Tidak ada mendingnya, Sayang. Mending sekarang kamu temani aku ya. Ini adalah malam terakhir kita di sini," kata Eggy.
Tunggu! Maksudnya apa? Apa dia sedang meminta izin padaku?
"Apa maksud kakak?"
"Kamu mau menemaniku? Jika tidak mau, aku tidak akan memaksamu," kata Eggy.
"Maksudnya, hanya menemani?" tanyaku.
Eggy menatap ke arahku. Kemudian dia mengecup bibirku. Aku inginkan dirimu malam ini," ucapnya secara perlahan.
"Oh, itu."
"Apakah kamu bersedia?" tanya eggy.
"Mm ... aku ...," ucapku terpotong. Aku pun menggigit bibir bagian bawah. Aku bingung untuk mengatakannya harus bagaimana. Sebenarnya aku tidak keberatan, tetapi mungkin aku malu untuk menjawabnya. Lalu dengan memberanikan diri, aku pun ikut mengecup bibirnya dengan kaku.
"Maaf, Kak. Aku tidak bisa menjawabnya, jadi aku menjawab pertanyaan kakak dengan kecupan saja. Kuharap kakak mengerti dan paham dengan jawabanku," kataku menundukkan kepala. Pipiku mulai memerah, suhu badanku mulai terasa panas. Keringat pun mulai bercucuran.
Eggy tersenyum. Kemudian sontak dirinya langsung mencium bibirku dan seketika aku memeluk dirinya dan membalas ciuman itu. Rasanya, aku mulai ikhlas jika Eggy melakukan hal ini padaku.
Tanpa disadari, tangan Eggy mulai nakal dan menyentuh bagian dari tubuhku. Dia terlihat sangat menikmati hal itu. Lalu dia pun mulai membuka pakaianku, dan setelah dia berhasil membukanya, dia pun ikut membuka pakaiannya dan dia lemparkan ke sembarang arah.
Aku menatapnya. "Kak," panggilku.
"Ya," sahutnya.
"Aku masih merasa takut," kataku dengan ragu.
Eggy mengecup bibirku. "Jangan takut. Aku tidak akan menyiksamu, Bulan."
Aku terkekeh merasa bodoh sendiri. "Ah, iya, Kak. Maaf. Mungkin karena hal ini dilakukan untuk yang kedua kalinya, jadi aku merasa sedikit takut gak jelas," ucapku.
"Aku akan selalu. memperlakukanmu dengan lembut, Bulan," sahutnya. Lalu dia pun mulai memposisikan tubuhnya, mencari posisi yang nyaman. "Akan aku masukan. Jika masih terasa sakit, teriaklah sesukamu," lanjutnya.
"Teriak?" tanyaku, mengapa aku harus teriak?
"Ya. Siap-siap."
Eggy pun mulai memasukkannya ke dalamku. Di sana aku dapat merasakan hal itu, untuk menghindari rasa canggung dan ketakutanku, aku pun memeluknya tanpa henti. Sesekali aku mencium pundaknya dan dia pun mencium leherku. Pada malam itu, aku dan Eggy melakukan hubungan suami-istri pada umumnya. Aku menjadi merasa seorang istri sungguhan. Benare-benar sulit dipercaya.
*****
Note: Ayo, kalian jangan membayangkan lebih dalam lagi tentang malam Eggy dan Bulan, ya. Bisa bahaya lho nanti. Hehehe.
*readers langsung tampol onlen ke authornya.
Ampun...!!!!