The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 76



Di tengah-tengah perjalanan, aku dan dia terus saling berbalas senyum. Mungkin perasaan kami sama-sama merasa bahagia. Keadaan kami pun sama-sama dalam kebungahan hati.


"Kakak kenapa tersenyum sendiri seperti itu?" tanyaku penasaran yang sedari tadi memperhatikannya secara diam-diam.


"Apa aku harus menjelaskannya padamu, Bulan?" sahutnya ketus. Aku suka mulai sebal sama dia, jika dia mulai berbicara dengan nada ketus seperti itu padaku. Memangnya aku salah jawab, apa?


"Jika Kakak tidak keberatan, aku tidak masalah kok," kataku dengan nada ketus juga.


Sejenak Eggy menengok ke arahku. Aku masih tetap cemberut padanya.


"Ada apa denganmu?" tanya Eggy.


"Aku sebel sama Kakak," jawabku.


"Kenapa?" tanya Eggy pura-pura tidak tahu. Sepertinya Eggy tidak merasa berdosa apa pun padaku.


"Kakak jangan ketus-ketus gitu dong ngomongnya. Aku kesel kalau Kakak mulai ketus kek gitu," jelasku.


"Hahahaha. Memangnya aku terlihat banyak ketusnya, ya?" tanya Eggy.


"Ya iya dong, Kak. Sudah jelas-jelas tadi Kakak menjawab pertanyaanku dengan ketus," sahutku dengan menegaskan setiap kata.


"Maaf. Tadi kamu bertanya apa? Kita ulang lagi ya," ucapnya mencoba untuk menggodaku supaya tidak marah lagi padanya.


"Tadi Kakak kenapa senyam-senyum sendiri seperti itu?" tanyaku mengulangi pertanyaaku kembali.


"Baik. Aku jawab dengan penuh senyum ya padamu. Aku merasa sangat senang," jawabnya dengan nada lembut sambil menebar senyuman.


Aku memutar kedua bola mataku dengan malas. Namun, aku tidak ingin lama-lama marahan dengannya, akhirnya aku menerima pengulangan itu. Karena aku pun penasaran dengan hal lainnya.


"Karena apa, Kak?"


"Karenamu, Bulan."


"Aku?" tanyanya.


"Yup."


"Kenapa bisa?"


"Kamu sudah mulai terbuka padaku. Kamu mulai menerima keberadaanku saat ini."


"Ah, masalah itu."


"Kenapa?" tanya Eggy.


"Kenapa apanya?"


"Kenapa kamu mengubah pikiranmu?"


Sejenak aku terdiam dan melihat pemandangan di kaca jendela mobil.


"Sebenarnya, awalnya aku tidak ingin kenal dengan Kakak. Bahkan untuk berdekatan saja, aku masih ragu antara benar nyata atau hanya sekadar mimpi saja. Tetapi semakin ke sini, aku mendapatkan banyak bukti bahwa aku memang sudah menikah dan suamiku memang Kakak." Aku menoleh ke arah Eggy dan sejenak menatapnya. Dia pun sesekali melihat ke arahku, lalu tersenyum padaku dan kembali fokus ke jalanan. "Namun aku masih menguak mengapa aku memiliki masa lalu selama tiga tahun yang menurutku menjijikkan. Menurutku penyebar aib bagi diriku dan juga bagi Kakak. Aku benar-benar tidak menyangkanya, bahwa aku akan melakukan hal itu." Aku terkekeh dan sejenak menghelakan napasku. Mungkin aku harus banyak istigfar saat aku dapat mengingat masa laluku.


Eggy memegang tanganku. "Jangan paksakan dirimu untuk mengingatnya. Jalani saja selama kamu merasa nyaman dengan itu. Jika 3 tahun masa lalumu akan membuat kamu kecewa, sakit hati, sebaiknya kamu jangan mengingat hal itu. Jalani saja kehidupanmu saat ini bersamaku."


Aku menatapnya dengan sungguh-sungguh. Kurasa memang tidak ada salahnya jika aku mempercauakan diriku pada Eggy. Mungkin aku harus mulai dari awal lagi untuk menjalani hubungan ini dengannya.


"Mungkin aku harus memulainya dari awal, Kak."


"Mau mengulang semuanya?" tanya Eggy.


"Apa boleh?"


"Mulai dari pernikahan di atas kertas dan perjanjian? Lalu secara diam-diam?" tanyanya kembali.


"Walaupun begitu, dulu kamu berani melakukannya." Eggy meyakinkanku. Walaupun aku masih sulit menerima kenyataan ini, tetapi aku akan coba untuk menerimanya terlebih dulu.


"Pura-pura? Atau beneran?" tanyaku.


"Kamu ingin menikah denganku dua kali?" tanyanya kembali.


"Hehehe. Enggak juga, Kak. Tapi, memang bisa?" tanyaku penasaran dengan polosnya.


"Hahaha. Ya enggak dong. Kan kita sudah menikah. Kita sudah tercatat oleh negara, mana bisa menikah dua kali. Kecuali aku yang menikah lagi dengan wanita lain. Kira-kira, kamu mengizinkan aku untuk menikah lagi dan berpoligami, gak?" tanyanya.


Sumpah! Aku benar-benar terkejut saat mendengar kalimat darinya.


"Apa? Poligami?" kejutku.


"Iya. Kamu tahu tidak artinya itu apa?"


"Mempunyai istri lebih dari satu, 'kan?" tebakku.


"Itu kamu tahu."


"Ya ngapain, Kakak? Ngapain punya istri banyak? Memangnya aku saja tidak cukup apa?" sahutku cemberut.


"Kamu cemburu? Marah?"


"Ya bagaimana tidak marah. Aku masih status istri Kakak. Mana mungkin aku mau Kakak menikah lagi dengan orang lain."


"Lalu, apakah kamu boleh menikah dengan Raihan? Kamu sendiri mau menikah dengannya, 'kan?" tanya Eggy apa adanya.


Ya. Kalimat Eggy memang tidak ada salahnya. Aku pernah mengatakan hal itu dengan lantang pada Eggy. Mungkin peasaannya sakit, tepukul, tertampar dengan pernyataanku padanya. Apa yuang dirasakan oleh Eggy pada waktu itu, mungkin seperti ini rasanya. Bahkan lebih menyakitkan. Aku pikir, aku benar-benar jahat dan egois terhadapnya. Perbuatanku memang sulit termaafkan.


"Maafkan aku, Kak." Aku merendahkan nada suaraku. Merasa sangat malu.


"Maaf untuk?"


"Karena sudah egois dan tidak memikirkan perasaan Kakak. Aku juga tidak menghargai Kakak."


"Ada apa, Bulan? Kenapa denganmu?" tanya Eggy kebingungan.


Tiba-tiba saja aku meneteskan air mata di hadapannya. Aku menangis. Lalu, Eggy menghentikan mobilnya begitu saja.


Dia langsung memegangi tanganku.


"Ada apa? Apakah kalimatku salah? Maaf jika aku membuatmu tersinggung."


"Tidak, Kak. Akulah yang bersalah. Seharusnya aku yang banyak meminta maaf pada Kakak. Bukan Kakak."


"Apa masalahnya?" tanya Eggy penasaran.


"Ah, tidak. Lupakan saja," sahutku tak ingin membahasnya.


"Ada apa? Cerita saja padaku. Ada apa denganmu, Bulan?" Eggy masih begitu penasaran denganku. Dengan apa yang aku pikirkan.


"Sudahlah, Kak. Fokus ke jalanan saja. Jangan fokus ke arahku, nanti sesuatu yang buruk malah terjadi."


"Apa kamu yakin?" tanya Eggy memastikan.


"Ya. Aku yakin. Kakak fokus saja dulu. Nanti kita bahas masalah kita setelah sudah kembali ke villa, Kak," jawabnya.


"Baiklah. Kamu jangan banyak pikiran, Bulan."


"Tidak, Kak. Jangan khawatir."


Eggy kembali fokus kepada jalanan. Aku pun kembali menatap ke arah pemandangan yang ada di luar jendela kaca mobil. Aku melamunkan sesuatu. Sebenarnya aku merasa tidak enak dengan hal ini. saat ini aku bersikap seperti biasanya kepada Eggy. Selayaknya seseorang yang sedang melakukan pendekatan terhadap lawan jenisnya. Hal ini bukan masalah bagiku, namun aku tidak tahu dengan Eggy. Aku tidak tahu apa yang Eggy pikirkan terhadapku. Bisa saja dirinya mengharapkan sesuatu dariku. Aku tahu, aku mulai memberi harapan padanya dengan melakukan liburan ini dan beekata bahwa aku tertarik dengannya. Aku sepenuhnya menyadari akan hal itu. Tetapi saat ini, aku tidak dapat memilih. Apakah aku harus melanjutkan ini atau tidak? Apakah aku harus memutuskan suatu keputusan untuk memilih dia atau pun Raihan? Aku sama sekali tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Apa mungkin aku harus mulai berbicara jujur padanya? Mengemukakan apa yang sebenarnya aku pikirkan selama ingatanku hilang? Mungkin itu adalah jalan satu-satunya.