
"Aku dapat ide!" ucap Bulan.
"Ide apa?" tanya Fadhla.
Bulan hanya menebarkan sebuah senyuman kepada Fadhla.
Mereka berdua sudah memutuskan akan memasak apa untuk malam nanti, untuk konsepnya pun sudah mereka setujui oleh bersama. Fadhla pun membantu pekerjaan Bulan dalam memasak.
"Aku bantu, ya. Biar pekerjaannya makin cepet dan kelar," tawar Fadhla.
"Apa tidak merepotkan, Fadhla?" tanya Bulan merasa sungkan.
"Tidak kok. Ngapain ngerepotin? Toh aku juga kebagian makannya, bukan?" ujar Fadhla kepada Bulan.
"Ya pasti kebagian dong!" sahut Bulan tersenyum.
"Nah, kan. Jadi, apa yang mesti aku kerjakan?" tanya Fadhla sambil menatap satu per satu bahan makanan yang ada di depannya itu.
"Mau potong-potong?" tanya Bulan.
"Apa yang dipotong? Eh, aku sudah di sunat lho, ya," jawab Fadhla terkekeh.
"Ih, bukan potong macem gitu. Bukan potong-potong yang anu, Fadhla," jelas Bulan menekankan setiap kalimatnya.
"Anu apa?" goda Fadhla.
"Ya itu," sahut Bulan malu-malu.
"Itu apa, coba?" Fadhla makin sengaja menggoda Bulan, agar dia menjawab apa yang dia pikirkan.
"Sayuran," jawab Bulan dengan singkat.
"Jadi maksudnya bukan potong-potong sayuran?" tanya Fadhla.
"Fadhla ...."
"Apa?"
"Lupain, ah. Jengkel," kata Bulan sambil memasang raut wajah yang cemberut.
"Iya, iya. Aku paham. Udah, jangan sedih kek gitu, ya."
"Lagian kamu, sih. Buat jengkel aku. Kan jadi kesel," sahut Bulan.
"Maaf, maaf!" ucap Fadhla sambil mengusap rambut Bulan dengan halus.
"Kamu cuci sayuran aja, deh. Biar aku aja yang bagian potong-potong," sahut Bulan berubah pikiran.
"Iya. Bawel amat. Banyak tanya, deh. Sana cuci sayurannya. Nanti aku potong setelah selesai dicuci," jelas Bulan kepada Fadhla.
"Iya, iya."
Fadhla pun langsung mengambil beberapa sayur dan segera menyalakan air keran di wastafel. Setelah itu dia memasukan semua sayur ke baskom dan langsung mencucinya sampai bersih.
Terlihat Bulan sedang memotong sayur mayur di atas tatakan kayu, lalu Fadhla pun mencuci sayuran yang lainnya di wastafel. Sesekali Fadhla menatap Bulan dan tersenyum ke arahnya. Bulan pun berbalas senyum padanya. Setelah selesai potong memotong, Bulan pun langsung menyalakan kompor dan menuangkan sedikit minyak ke dalam penggorengan.
"Mau di masak sekarang?" tanya Fadhla yang mendengar suara nyalanya kompor.
"Belum. Baru mau masak bawang-bawangnya," jawab Bulan kepada Fadhla.
"Oke, deh," sahut Fadhla mengangguk dan melanjutkan kegiatannya kembali.
Setelah di rasa sudah panas, dia pun langsung memasukkan irisan bawang ke dalam sana dan menumisnya sampai keluar wewangian.
Fadhla yang selesai mencuci bahan makan lainnya, dia langsung menatap Bulan dengan pandangan yang berbeda. Fadhla melihat leher Bulan begitu putih, dan mulus. Dengan rambut yang diikat satu, membuat lingkaran lehernya terlihat sangat jelas. Fadhla merasa sangat tertarik dengan Bulan. Dia sangat ingin bersamanya. Entah mengapa Fadhla merasa seperti ingin mendapatkan Bulan dan menikmatinya walau hanya sebentar saja. Dia pun bergulat antara batin dan pikirnnya atas apa yang akan di lakukan oleh dirinya.
Fadhla pun menciprat-cipratkan kedua tangannya, lalu dia mengelap kedua tangannya sampai kering. Perlahan-lahan Fadhla mendekati Bulan dan dia berada tepat di belakang Bulan. Kemudian Fadhla mulai memeluk Bulan dari arah belakang sambil mencium leher Bulan. Sontak Bulan terkejut dan mencoba menghindar dari dirinya. Bulan mulai melepaskan tangan Fadhla yang melingkar di perutnya, tetapi tangannya melingkar sangat erat.
"Fadhla, apa yang kamu lakukan?" tanya Bulan terkejut.
"Sebentar saja, Bulan. Hanya seperti ini."
"Ini tidak benar, Fadhla. Apa-apaan kamu ini?" Bulan mulai menaikkan sedikit nada suaranya kepada Fadhla.
Bulan merasa tidak enak dan juga merass tidak nyaman dengan posisi yang seperti ini. Dia berpikir bahwa ini adalah suatu kesalahan, dan di sisi lain, dia pun berpikir bahwa ini adalah kebenaran dan tidak ada salahnya. Namun tetap saja, untuk hal ini Bulan masih belum bisa menerimanya. Beda perasaan dengam Fadhla yang mulai merasa berbeda hawa. Sebelum dirinya menikah dengan Bulan, dia merasa dapat mengendalikan perasaannya terhadap Bulan. Namun di saat setelah dia menikahi Bulan dan sudah sah menjadi pasangan suami istri, walau mereka anggap itu adalah pernikahan perjanjian, tetap saja pernikahan itu adalah sah. Mereka berdua sudah menjadi suami dan istri yang sah secara agama. Sejak itu, Fadhla menjadi sulit dan sangat kesulitan untuk mengendalikan perasaannya terhadap Bulan. Alhasil, dia pun mematikan kompor dan memaksakan diri untuk melepaskan pelukannya dan juga menghindar dari Fadhla.
"Maafkan aku, Fadhla. Aku tidak bisa seperti ini denganmu. Aku ... aku sungguh meminta maaf padamu. Maafkan aku," ucap Bulan kepada Fadhla dengan penuh rasa menyesal. Setelah itu Bulan langsung meninggalkan Fadhla sendirian di sana dengan penuh kesedihan dan kekecewaan dalam batinnya.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti pasti aku masukan kok. Jangan khawatir! :)
Terima kasih, semuanya. :*