The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 45



Seperti yang sebelumnya aku lakukan, aku melamunkan sesuatu seraya melihat ke arah luar jendela. Berpikir tentang apa yang seharusnya aku lakukan. Pernikahan, perceraian, sungguh terasa muak. Membingungkan. Saat di rumah sakit, selepas kecelakaan itu pun, bahkan Raihan tidak datang. Kenapa?


"Apa dia lupa? Apa dia pun ikut kecelakaan? Seingatku aku tertabrak sendirian dan ...—"


Aku memotong kalimatku karena berusaha mengingat kejadian itu.


"Dan ... aku melihat Raihan meninggalkanku."


Sumpah! Aku sangat terkejut dengan ingatan itu. Sebenarnya ada apa dengan kami?


"Kenapa? Kenapa dia meninggalkanku? Ini aneh."


Aku terus menunggu waktu demi waktu kedatangan Eggy. Aku harus cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Setelah lama menunggu, akhirnya dia pun datang di tengah-tengah lamunanku.


"Aku pulang."


"Jelaskan padaku! Apa yang sebenarnya terjadi?"


Aku langsung saja bertanya pada intinya.


"Apa maksudmu? Aku lelah."


"Ini tidaklah masuk akal. Aku tidak mengenalmu. Aku tidak ingat padamu. Lalu kamu tiba-tiba mengaku sebagai suamiku. Lelucon apa ini? Bahkan terakhir kuingat, Raihan meninggalkanku sebelum aku kecelakaan."


"Jangan mulai lagi deh. Aku capek. Mungkin saat itu, kamu memang kebetulan bersamanya."


"Apa? Kenapa? Apa maksudmu?"


Eggy hanya menatapku malas. Aku pikir, ini memang benar suatu pembodohan. Mungkin aku dibodohi olehnya agar aku menjadi istri atau wanita simpanan. Gila! Ini benar-benar gila.


"Aku ingin kita bercerai."


"Apa maksudmu?"


"Hah? Kini kamu bertanya padaku? Tidak jelas kah aku berbicara?"


"Jangan main-main. Kamu sudah berjanji untuk memulainya dari awal."


Dia terlihat memelas padaku. Namun aku tidak boleh terlena oleh raut wajahnya yang seperti itu.


"Aku akan pulang ke rumah orang tuaku. Aku merasa sangat asing di sini. Aku tidak ingin menjadi wanita malammu secara cuma-cuma."


Mendengarku seperti itu, membuat Eggy menarik napasnya.


"Apa kamu *******? Sehingga kamu ingin dibayar, hah? Apa kamu mulai menjadi wanita serendah itu?"


"Apa? Apa aku terlihat seperti itu? Kenapa kamu berpikir begitu? Sungguh! Menjijikan sekali. Rupanya benar. Aku memang dibodohi. Kita bukan pasangan suami istri. Kamu hanya mengaku saja."


"Terserah apa katamu," sahutnya dengan datar. Dia benar-benar membuatku kesal.


Dengan amarah, aku langsung saja membereskan semua pakaianku. Terlihat dari raut wajahnya, seperti menyimpan sesuatu. Seperti seseorang yang banyak pikiran. Entahlah. Aku tidak mengerti.


Aku pun segera pergi meninggalkan kamar Eggy dengan membawa dua koper berisi pakaianku.


Saat aku berjalan, tidak ada tanda-tanda dirinya akan menahanku. Kenapa? Aku berpikir bahwa aku ingin Eggy menahanku pergi. Aku berharap dia menghentikanku. Kenapa?


Padahal di sisi lain, aku tidak ingin meninggalkannya.


Sial.


"Hei!" panggilku padanya.


Eggy menengok ke arahku dengan tatapan yang seperti biasanya.


"Apa kamu mau mengantarku ke rumah orang tuaku?"


Shit! Bodoh, bodoh, bodoh. Aku memang bodoh. Kenapa aku minta tolong padanya? Jika diantarkan, mampuslah aku. Dan ada apa denganku? Mengapa labil dan plin-plan seperti ini?


"Pergi sendiri saja."


"Kamu sama saja ya. Masih berkepribadian ganda. Dikit-dikit baik, dikit-dikit nyebelin. Aneh," umpatku.


Eggy terkejut. "Kamu sudah ingat? Benar, 'kan?"


"Ingat apa?" tanyaku kebingungan.


Eggy berjalan mendekatiku. "Tadi kamu bilang bahwa aku masih sama saja seperti dulu."


"Benarkah?" Aku mencoba mengingat kembali.


"Ayolah! Ingat-ingat lagi! Kamu pasti mengingat sesuatu. Aku yakin hal itu." Eggy memegangi lenganku dengan kedua tangannya.


"Lupa, ah." Aku pun melepaskan pegangan tangannya. Kemudian aku pergi meninggalkannya sendirian ke dapur.


Setelah berada di dapur, aku langsung mengambil air minum. Suasana saat ini benar-benar panas, membuatku dehidrasi.


Aku meneguk air tersebut secara perlahan seraya mengingat dengan keras ucapanku barusan kepada Eggy.


"Apa yang kuucapkan padanya? Apa kalimat itu membuatku dapat mengingatnya? Lalu bagaimana dengan perceraianku? Orang tuanya memintaku cerai. Cerai apa? Aku bahkan tidak merasa sudah menikah dengannya. Konyol."


Aku menyimpan gelas air tersebut di meja.


"Apa, ya yang aku katakan tadi? Kok bisa sampe gak ingat gini sih? Mendadak bodoh." Aku mulai kesal sendiri, dan bisa-bisanya aku tidak mengingat apa yang baru saja kuucapkan. Rupanya antara bodoh dan amnesia itu beda tipis.


*****