
Setelah makan batagor di pinggir jalan, rasanya perutku sudah kenyang. Jadi aku tidak perlu membeli makanan lain lagi sekarang. Niatnya setelah makan batagir ini, mau beli makanan lain semacam baso, mie ayam, atau makanan manis lainnya seperti pisang ijo, martabak, es campur dan semacam itu deh. Makanan dan minuman pinggir jalan pada umumnya. Namun sayang sekali, rasanya aku tidak. kuat untuk makan lagi.
"Jadi, kamu mau beli apa sekarang?" tanya Eggy.
"Enggak dulu deh, Kak. Aku gak mau beli apa pun," sahutku.
"Kenapa?"
"Sudah kenyang, Kak. Aku kenyang rasanya."
"Beneran?" tanya Eggy dengan serius.
"Serius," jawabku singkat.
"Mau beli makanan penutup? Mm ... maksudnya pencuci mulut," tawarnya.
"Apa ya? Keknya enggak deh, Kak. Enggak usah," tolakku.
"Jadi, kita pulang ke villa aja?" tanya Eggy padaku.
Aku berpikir sejenak. Aku masih penasaran dengan foto-foto Eggy. Apa aku ajak dia berfoto saja ya? Masa di pinggir jalan sih? Apa harus cari tempat yang bagus, di sini. Tetapj di mana ya? Apa di villa saja?
"Kak, ayo kita foto bareng. Aku dan Kakak. Karena eaktu itu aku gak ingat kapan kuta di fotonya, jadi aku memonta foto ulang. Agat aku dapat mengingat bagaimana rasanya di foto dengan Kakak," sahutku.
"Apa?" tanya Eggy terkejut.
"Foro bareng lagi. Selfie aja, Kak," jawabku.
"Susahlah. Kamu kan sudah punya fotoku yang lagi makan batagor. Katanya itu sudah lucu, 'kan?"
"Kakak marah ya?"
"Enggak marah."
"Yaudah ayo potret!" Seketika aku menjadi manja di depannya. Aku sendiri merasa heran dengan perubahanku. Padahal sebelumnya aku tidak peenah bersikap begini pada Eggy. Tetapi pada masa liburan, rasanya aku menjadi manja sekali di hadapan dia. Apakah semua ini ada hubungamnya dengan kejadian saat di kolam dan di toilet itu ya?
Ah, sumpah! Rasanya aku malu jika membahas hal intim bersama Eggy. Namun setelah lama dipikir, Kurasa tubuh dia cukup gagah.
"Di vila sajalah. Susah kalau di sini cari tempat bagus," kata Eggy.
"Yaudah, aku selfie di mobil dulu bareng kakak."
Aku pun langsung memotret diriku dan juga Eggy. Pose Eggy sangatlah biasa-biasa. Dia hanya fokus pada jalanan dan aku memotretnya secara sembarang tanpa ada aba-aba. Bukan masalah. Dia pun tidak keberatan akan hal itu.
"Bulan," psnggilnya.
"Apa, Kak?" tanyaku.
"Sudah! Jangan potret-potret lagi," jawabnya merasa malu.
"Iya deh, kak. Nanti lanjutkan di vila ya, Kak," sahutku.
"Terserah."
Aku pun tersenyum padanya. Aku kembali menatap ke jalanan sambil senyam-senyum sendiri di dalam mobil. Rasanya aku sangat bahagia sekali.
"Sekali lagi ya!" Aku menawar padanya. Karena aku ingin sekali banyak potret diriku dengannya.
"Kamu ini dibilangin malah ngeyel, ya."
"Gak apa-apa dong, Kak. Kan aku emang begitu orangnya. Hahaha."
"Iya, terserah kamu saja." Eggy kelihatan pasrah menghadapi sikapku yang mungkin terlihat ke kanak-kanakan. Ya, aku menyadari akan hal itu. Namun aku tetap menikmatinya, kurasa Eggy pun tidak keberatan dengan sikapku yang seperti itu. Benar, bukan?
"Ke mana, Kak?" tanyaku.
"Ke dapur, Sayang," sahutnya dengan lembut.
"Oh, hehehe." Aku cengengesan mendengar jawabannya.
Eggy berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum. Sedangkan aku langsung duduk di sofa karena merasa sangat capek dan lelah setelah perjalanan tadi. Maklum saja, di hari yang panas ini dan matahari pun sangat terik—yang lagi panas-panasnya, sehingga membuatku dan Eggy cepat merasa lelah dsn dehidrasi juga.
"Kamu mau minum, Sayang?" tanya Eggy.
"Boleh, Kak. Aku mau yang dingin airnya," jawabku.
Eggy pun membawakan botol air dingin dan gelas untukku. Lalu dia tuangkam ke dalam gelas dan memberikannya padaku.
"Terima kasih, Kak."
"Sama-sama, Bulan."
"Oh, iya, Kak. Aku masih penasaran dengan kejadian semalam nih, Kak," kataku yang tiba-tiba saja ingat kejadian malam itu.
"Apa? Memangnya kejadian apa?" tanya Eggy penasaran.
"Kan semalam mati lampu, apakah kakak tidak menemukan keberadaanku?"
Eggy mengernyitkan dahi. Dia tidak mengerti dengan apa yang aku katakan padanya.
"Maksudnya?"
"Apa kakak tidak. menyentuhku saat lampu gelap itu?" tanyaku.
"Tidak, Sayang," jawabnya. "Memangnya kenapa? Kok kamu seperti penasaran dan ada sesuatu yang perlu aku ketahui," lanjut Eggy.
Tidak mungkin! Ini tidak mungkin. Eggy tidak. menyentuhku. Dia bejar-benar tidak menciumku. Berarti semalam, Fadhla melakukan hal itu? Mengambil kesempatan dalam kesempitan saat mati lampu. Padahal dia tahu statusku sebagai istri dari kakaknya, apakah karena kita berdua akan bercerai? Itu pun perceraian yang kita lakukan, hanya berpura-pura saja. Apa yang kamu lakukan dan apa yang kamu rencanakan, Fadhla? Aku harus berusaha untuk membuat Eggy tidak curiga dengan hal itu.
"Enggak kok, Kak. Cuma semalam aku merasa ada seseorang yang menyentuhku. Itu saja."
"Benarkah?"
"Beneran."
"Memangnya kamu merasakan apa? Seseorang menyentuhmu?" tanya Eggy.
"Se-semacam itu. Tapi yasudahlah, Kak. Jangan dipikirkan. Mungkin aku hanya halusinasi saja, Kak. Efek cape kali ya. Atau efek cerita horor kita yang akan kita ceritakan, he he he. Jadi terbawa suasana, terus parno gak jelas, akhirnya begini deh," jelasku pada Eggy.
"Makanya, lain kali kalau tengah malam berbagi ceritanya yang romantis, jangan yang serem. Parno sendiri kan jadinya."
"Iya, Kakak. Nanti kita berbagi kisah romantis bersama mantan," sahutku begitu saja. Entah mengapa kata mantan itu keluar dengan lancar dari mulutku ini.
Seketika Eggy menengok dan menatapku. "Apa? Mantan?"
"Bercanda, Kak. He he he."
Eggy tidak menjawab leluconku. Salahku sendiri sih, karena aku mengatakan kata yang tidak perlu aku katakan dan juga aku malah mengatakan hal yang membuatnya kesal. Pantas saja dia dia merasa kesal padaku juga.
"Yaudah, minum dulu. Aku tunggu kamu di kamar ya," ucap Eggy padaku.
"Iya, Kak," sahutku merasa tidak enak.
Siang-siang begini, Eggy mengajakku ke kamar. Ada apa ya? apa jangan-jangan Eggy akan melakukan hal itu lagi padaku? Masa sih di siang hari gini? Enggak mungkin deh keknya. Kok aku merasa jadi horor gitu ya setelah mendengar apa yang dikatakan olehnya. Lebih horor dari cerita dua kalimat yang saling berbagi pada hari kemarin Sama Eggy. Lalu hal ini juga lebih horor dari kisah apa yang sudah bagikan padanya dan dia bagikan kepadaku. Semoga dia tidak mengganggu kejiwaanku. Aku bisa gila ini lama-lama.