
Aku dan Eggy mencari tukang dagang di pinggiran jalan. Aku merasa bahwa aku ingin mencoba mengajaknya makan di tempat yang menurutnya sangat ekstrim, yaitu di pinggiran jalan. Aku ingin tahu saja pendapat darinya, bagaimana tentang itu.
"Kita makan di pinggir jalan, ya," kataku pada Eggy.
"Kenapa?" tanya Eggy.
"Tidak apa-apa. Rasanya aku ingin batagor dan baso di pinggir jalan, Kak. Kangen makanan zaman sekolah," jawabku.
"Benar kah?"
"Kalau kita sudah pulang, kita coba makan makanan dekat sekolahanku, ya," ajakku padanya.
"Boleh. Jika aku ada waktu luang," sahurnya datar.
Kupikir Eggy kurang menyukainya. Terlihat dari ekspresi wajah Eggy tidak memungkinkan untuk menyukai makanan itu. Apa dia memang tidak terbiasa memakan makanan pinggiran jalan? Apa alasannya terlihat kurang higenis bagi dia?
"Apa kakak suka?" tanyaku.
"Apanya?"
"Jika aku ajak makan di pinggiran jalan?"
"Tidak masalah kok."
Aku tidak ingin terus memaksanya untuk berbicara bahwa dia benar-benar tidak suka. Mungkin jika aku memaksanya, aku akan membuat kita hari ini bertengkar. Maka dari itu, aku akan Berpura-pura bahwa dia suka memakan makanan di pinggiran jalan.
"Oke deh."
Setelah setengah perjalanan, aku pun menemukan sebuah tukang dagang yang sedang mangkal di dekat trotoar jalan itu.
"Kak. Berhenti deh! Kita beli batagor dulu sebentar di bapak-bapak itu," ucapku pada Eggy.
Eggy pun menyampingkan mobilnya dan keluar dari batas jalanan. Kemudian dia memberhentikan mobilnya dan aku pun mengajaknya untuk turun.
"Ayo, Kak! Turun sebentar. Kita makan di sini."
Eggy tersenyum. "Kamu ini ya," sahutnya.
Eggy pun turun dari mobil. Aku berjalan menghampiri mang-mang tukang dagang itu.
"Mang, beli batagornya. Berapa?" tanyaku.
"10ribu, Neng," jawabnya.
"Aku beli 2 ya, Mang. Makan di sini saja."
"Siap, Neng. Siap. Tunggu sebentar."
Pedagang itu pun langsung melayani aku dan Eggy. Tak lama kemudian, dia pun selesai membuatkan batagor untukku dan Eggy.
"Ini, Neng. Ini, Jang. Silakan makan batagornya. Semoga nikmat disantapnya, ya," kata si tukang pedagang itu kepadaku dan Eggy.
"Terima kasih ya, Mang."
"Terima kasih, Pak."
"Iya, sama-sama."
Lalu Mang pedagang itu pun menyedian dua gelas air teh hangat dan disajikan pada kami. Dia menyimpannya di meja.
"Terima kasih lagi, Mang."
"Sama-sama, Neng." Pedagang itu pun tersenyum semringah menatapku. Dia sangat ramah padaku. Mungkin dia juga memang selalu ramah kepada setiap pembeli, sayang jika jualannya tidak laku.
"Ayo, Kak, dicoba!" perintahku padanya.
Eggy mengaduk-adukan bumbu kacang ke batagor itu. Setelah itu, dia langsung memajan batagor tersebut.
"Hmm ... aku sudah memakannya," ucap Eggy sambil mengemil makanan di mulutnya.
Aku terkekeh. "Habiskan dulu, Kak. Kakak ini apa-apaan sih, hahaha." Aku pun mulai menyantap batagor tersebut. Lalu aku teringat sesuatu. Rasanya di ponselku tidak ada potret dirinya dan saat ini aku berniat untuk memotretnya secara diam-diam.
Aku pun mengeluarkan ponsel dari tasku. Kemudian aku memencet tombol kamera dan mengarahkannya ke gambar Eggy yang sedang makan batagor itu. Seketika Eggy menengok dan terkejut saat menyadari bahwa dirinya difoto olehku. Ekspresinya sangat lucu. Benar-benar lucu. Dengan pipi tembem yang penuh dengan makanan.
"Hahaha. Kakak lucu!" ucapku.
"Bulaaaaan," panggilnya.
"Apa, Kak? Aku gak punya foto kakak di ponselku. Makanya aku foto selagi masih bisa di foto," sahutku.
"Jika kamu ingin fotoku, bilang saja. Nanti aku gak akan kasih."
"Eh, kalau bilang gak dikasih ya percuma dong!" kataku.
"Hilih! Foto ganteng dari mana? Kakak itu sudah ganteng, tidak perlu pose ganteng-ganteng segala deh, ah," sahutku menggodanya.
"Kalau kurang maksimal gantengnya, gimana?" tanya Eggy tidak mau kalah.
"Kakak sudah maksimal. Kelebihan batas normal. Di luar nalar banget gantengnya. Serius!"
Eggy menatap ke arahku. "Terima kasih, Sayang." Eggy mengacak-acak rambutku. Sudah menjadi kebiasaan dia untuk mengacak-acak rambutku.
"Kakak, jangan acak-acakin rambutku. Gak ada sisir, nanti berantakan jadi malu kan," umpatku.
"Lagian kamu mulai menjadi wanita penggoda, ya."
"Ih, kata siapa?"
"Kataku, barusan. Apa perlu diulang?" tanya Eggy.
"Gak usah deh. Sudah dengar kok," jawabku cetus.
"Semenjak ingatanmu menghilang, kamu menjadi lebih berani dan pandai menggoda. Kehilang ingatanmu, sudah membuatmu sedikit berubah," sahut Eggy sambil melahap kembali batagor itu.
"Maksudnya?"
"Lupakan saja. Ayolah kamu makan lagi, nanti malah dingin batagornya. Mumpung masih anget-anget. Enak lho!" kata Eggy.
"Ah, iya. Aku malah keasyikan ngobrol, Kak. Maaf."
Aku pun lekas memakan batagor tersebut sampai habis. Begitu pun dengan Eggy. Setelah itu, Eggy langsung membayar makanan itu dengan uangnya sendiri.
"Terima kasih, Pak. Batagornya enak," kata Eggy.
"Sama-sama, Jang. Lain kali mampir lagi, ya," sahutnya.
"Nanti jika ke sini lagi, saya mampir ya."
"Baik, Jang. Ditunggu sama Mang ya."
"Iya, Mang. Nanti aku kemari lagi. Di sini kita cuma liburan saja, Mang. Di villa ujung gunung sana," sahutku ikut nimbrung.
"Ah, iya. Mang tahu. Neng sama Ujang pengantin baru ya? Sedang bulan madu di sana?" tanyanya.
Spontan aku dan Eggy saling menatap satu sama lain. Lalu dengan sungkan, aku pun menjawab pertanyaannya.
"Ah, bukan juga, Mang. Kita sudah lama menikah kok," sahutku.
"Belum punya anak, Neng? Jadi bulan madu lagi?"
"Hahaha. Mang ini bisa saja. Aku ...—" Ucapanku terpotong oleh Eggy yang tiba-tiba saja berbicara.
"Iya, Mang. Kami sudah 3 tahun menikah dan belum dikaruniai anak. Doakan saja semoga istri saya hamil ya, Mang," kata Eggy menyambungkan kalimatku.
"Amin, Jang. Amin. Semoga cepat-cepat punya anak ya dari suaminya," kata si Mang batagor kepada Eggy. Lalu tak lama setelah itu, si Mang mulai membisikkan sesuatu ke arah telinga Eggy. Namun aku tidak tahu apa yang dibicarakan mereka. Yang aku lihat, mereka hanya berbisik saja. Tetapi menurutku itu bukan masalah, hanya saja aku merasa penasaran dengan apa yang dikatakan olehnya pada Eggy. Eggy terlihat kaget ketika mendengar ucapan Mang batagor itu. Rasanya hal itu membuat Eggy malu dan tersinggung juga.
"Terima kasih, Pak," kata Eggy.
"Panggil Mang saja."
"I-iya, Mang."
"Kakak bicarakan apa sih? Aku tidak mengerti. Memang apa?" tanyaku penasaran.
"Duh, panggilannya ke suami malah Kakak si Neng mah. Coba panggil Aa dong, biar romantis," sahutnya.
Aku dan Eggy menatap satu sama lain dan tersenyum malu mendengar hal itu.
"Haha. Iya, Mang. Nanti dicoba. Sudah kebiasaan soalnya."
"Nanti dicoba. Biar makin nempel dan cepet hamilnya, Neng."
"Hehe. Iya, Mang. Amin. Semoga saja. Kalau begitu, saya dan suami saya pamit dulu ya, Mang. Terima kasih pelayanannya. Mang baik dan juga ramah," ujarku.
"Siap, Neng. Mang tunggu kedatangannya lagi."
"Siap, Mang. Saya pasti kembali lagi kok. Ayo, Kak!"
"Permisi."
"Iya, ya. Silakan."
Aku dan Eggy pun kembali ke dalam mobil. Di dalam mobil, aku dan Eggy sesekali saling menatap dam tiba-tiba kami berdua tertawa tanpa alasan. Mungkin karena menjawab pertanyaan si pedagang batagor itu. Atau hal yang lain. Yang pasti, aku sangat bahagia hari ini. Saat-saat liburan seperti ini yang sering aku rindukan. Di mana tidak ada masalah atau memikirkan masalah rumit tentang kehidupanku. Liburan ini membuatku berekspresi dengan bebas dan menjalani kehidupan yang aku mau. Eggy pun pandai memahamiku. Rasanya aku ingin merasa lebih lama lagi dekat dengan Eggy. Bisakah hal itu aku lakukan sast liburan ini berakhir? Kuharap, itu bisa.