
Kami tengah sarapan bersama di meja makan. Berbagai makanan telah aku persiapkan, mulai dari sayur mayur, gorengan, tempe goreng dan tahu goreng, juga lauk pauk lainnya yang sangat sederhana. Eggy tidak banyak bicara tentang makanan yang kumasak untuknya. Dia selalu memakan apa pun makanannya.
Pembahasan semalam, membuatku sangat bimbang. Apakah aku dan dia akan benar-benar bercerai? Perceraian ini akan menjadi sebuah perpisahan yang sungguh-sungguh. Setiap saat aku selalu menghelakan napasku, untuk mencoba agar diriku tidak begitu tegang dengan situasi saat ini.
"Maaf, aku sudah egois," ucapku.
"Bukan masalah," jawabnya datar sambil memasukan sesendok makanan ke dalam mulutnya.
"Bagaimana kalau urusan kita diurus nanti saja. Setelah masalahmu selesai, lalu perusahaanmu stabil kembali, dan kamu ... mm, maksudnya kita bisa menyelesaikannya secara bermusyawarah. Dalam penyelesaian itu, aku akan mencari kebenaran tentang hal ini. Jujur saja, aku masih sulit menerima kenyataan ini."
"Aku tahu. Dan idemu tidak begitu buruk. Terima kasih sudah mencoba memahamiku. Aku punya banyak masalah, dan semua itu membuatku merasa sangat stres."
"Lalu ... apa aku boleh melakukan hal apa pun yang aku mau?" tanyaku dengan ragu.
"Seperti?"
"Seperti menemui Raihan, jalan-jalan dengannya, dan ...—" ucapku terpotong olehnya.
"Jangan. Aku akan buatkan surat perceraian terlebih dulu. Lalu kamu bebas bersamanya."
"Tetapi ...."
"Kamu masih status istriku."
"Oke." Lalu aku inhat kalimat ibunya yang menyangkut pautkan hubunganku dan Raihan adalah skandal. Awalnya aku sangat ragu menanyakan hal itu kepada Eggy, tetapi rasa penasaran ini masih begitu besar untuk mengetahuinya. "Ibumu pernah bilang bahwa ada skandal antara aku dan Raihan. Itu kenapa? Aku gak habis pikir saja. Aku dan Raihan saling berhubungan sejak lama, tetapi dibilang ada skandal. Kan aneh."
Eggy menatap serius ke arahku. "Statusmu adalah istri orang. Lalu kamu dekat dengan mantan kekasihmu, apa itu bukan skandal namanya?" lanjutnya bertanya. Dia berhasil membuatku bungkam. Setelah kupikir ulang, memang benar. Dengan posisi seperti itu, disebut skandal adalah hal wajar. Namun aku masih tidak begitu yakin akan cerita ini. Aku tidak sepenuhnya percaya, apakah ini benar-benar nyata atau kah tidak?
Tak lama kemudian, Eggy memperhatikanku dengan tatapan yang membingungkan. Aku merasa malu akan hal itu. Mungkin kah aku makan dengan belepotan, seperti anak kecil? Atau karena pembahasan skandal itu? Mengapa aku merasa malu ketahuan selingkuh dengan pacarku sendiri. Padahal dia pacar lamaku. Ya ampun!
"Mengapa kamu melihatku seperti itu? Tidak baik."
"Kurasa kamu terlihat gendutan," jawab Eggy sambil mengunyah.
"Apa?"
Eggy menelan semua makanan di mulutnya. "Kamu terlihat gendut. Hmm ... mungkin lebih tepatnya berisi. Jangan terlalu banyak makan malam. Banyak makan juga tidak boleh. Nanti pakaian malammu tidak akan muat."
"Apa?"
Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa uang diucapkannya. Pakaian malam apa? Apa aku gemuk? Rasanya enggak deh.
"Aku sudah selesai sarapan. Tunggulah sampai surat cerai itu turun dari tanganmu. Hanya harus sabar menunggu beberapa bulan."
"Berarti aku tidak bebas?" tanyaku.
"Bebas. Tetapi terbatas."
"Gak paham."
"Sudahlah. Aku mau pergi bekerja. Dan untuk tawaran semalam, aku setuju akan hal itu."
"Menjadi seorang teman. Mungkin kita lebih baik menjadi teman terlebih dulu. Aku pamit." Eggy pun langsung membawa tas dan berjalan pergi meninggalkanku.
Setelah itu, aku lekas membereskan semua piring kotor ke dalam wastafel. Lalu sisa makanannya, aku simpan ke dalam kulkas agar lebih awet untuk makan nanti siang. Tinggal dipanaskan saja.
Aku berjalan menuju kamar dan langsung bercermin. Melihat keadaan tubuhku yang katanya gendutan. Setelah diperhatikan secara seksama, aku memang lebih berisi dari hari sebelumnya.
"Apa aku banyak makan?" gumamku sambil menggerakkan badan ke kiri dan ke kanan. "Ah, entahlah. Mungkin nanti aku akan sedikit diet untuk memperbaikinya. Tetapi tubuhku masih bagus sih. Gak jelek-jelek amat."
Aku pun menghiraukan hal itu. Kemudian aku mencari ponselku untuk menghubungi seseorang. Setelah dapat, aku langsung meneleponnya.
"Halo, kamu ada di mana?" tanyaku padanya di telepon.
"Ada di rumah," jawabnya.
"Aku kerasa rindu. Boleh kah aku ke rumahmu lagi?"
"Aku tidak masalah. Hanya saja, apa itu tidak akan menjadi masalah jika kamu sering kemari?"
Aku berpikir sejenak. "Benar juga sih. Apa kita bertemu di luar saja?" tanyaku mencari alternatif lain.
"Eh, tidak. Jangan di luar. Nanti banyak gosip. Namamu akan semakin jelek," sahutnya.
"Memangnya di luaran sana, namaku sudah jelek ya? Jelek akan skandal kita?" tanyaku menebaknya. Bukan menebak, lebih tepatnya sudah tahu jawaban itu.
"Apa kamu sudah mengingatnya?"
"Tidak. Eggy memberitahuku. Rupanya skandal itu benar adanya ya? Oh, Tuhan! Sangat memalukan. Rasanya aku tidak percaya bahwa aku melakukan hal itu. Seharusnya ini bukanlah skandal. Namun ... ini sangatlah tidak masuk akal." Aku terkekeh padanya seraya menahan perasaan yang tersakiti. Batinku menangis menerima kenyataan ini. Sangat memalukan sekali sikapku di masa lalu. Rasanya aku tidak ingin mengingatnya kembali.
"Bulan, memang seperti itulah yang pernah terjadi di antara kita."
Perlahan aku meneteskan air mataku. Entah mengapa, kenyataan ini terasa samgat pahit. "Kalau begitu, nanti kita bertemu. Saat ini aku akan pergi ke sesuatu tempat, untuk menenangkan diriku."
Aku pun langsung menutup teleponnya secara sepihak. Kemudian perlahan aku duduk di lantai, melipatkan kedua tanganku untuk menutupi wajahku yang basah karena tangisan.
**Note:
SELAMAT UNTUK KALIAN.
Aku update banyak nih. ada 50 bab lebih buat kalian baca. Hehehe. Karena aku sebelumnya salah informasi. Tadinya mau update setiap hari sampai bulan 5 nanti, cuma karena kurangnya informasi terkait hal ini, jadi hari ini kita banjir update. Sampai 100 lebih episode. :)
Untuk update selanjutnya, maaf jika telat, ya. Karena bulan Maret dan April, aku ikut event GMG Challenge dan juga ikut event salah satu penerbit indie. :)
Jika kalian ingin mengenalku lebih dekat, bisa langsung masuk grupku di Mangatoon atau silakan kirim inbox ke facebook Lani Nurohmah, atau DM ke IG @nurohmah.lani. Insyaallah aku akan membalas pesan kalian.
Dan untuk yang ingin masuk ke grup Wattsapp-ku, silakan kirim inbox lewat FB atau DM ke IG. Nanti aku kasih linknya.
Terima kasih semuanya. Tetap bersamaku, ya**. :)
Jangan bosan untuk membaca cerita ini**.