The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Kamar



Terlihat Bulan sedang berbaring sambil melamun. Dia menangis mengingat janinnya yang telah hilang. Fadhla berusaha untuk menenangkan Bulan, tetapi hasilnya nihil. Bulan tidak mau mendengarkan nasihat dirinya.


"Bulan, aku serius. Jangan terus bersedih," kata Fadhla.


"Tidak bisa," sahut Bulan.


"Nanti kamu hamil lagi kok. Tenang saja," ucap Fadhla pada Bulan.


"Kapan, Fadhla? Apa aku harus menunggu beberapa minggu lagi? Atau beberapa bulan lagi? Bahkan beberapa tahun lagi? Begitu?" tanya Bulan.


"Coba ikhlaskan saja, Bulan."


"Aku sudah ikhlas, Fadhla. Hanya aku merasa kecewa saja. Aku merasa tidak ada gunanya jika pun aku hamil. Aku memberikan kado sebuah kabar kehamilan untuk kak Eggy agar dia merasa senang. Namun sepertinya kak Eggy tidak merasakan hal itu. Dia tidak merasa senang. Bahkan dia menyuruhku untuk pergi menjauh selama beberapa tahun, seakan mengusirku. Seakan aku adalah aib bagi dirinya," ungkap Bulan.


"Sstt... jangan berkata seperti itu. Gak baik kamu bicara macam itu, baik atau pun buruk, itu tetap anak kamu dan anak Eggy. Kamu tahu sendiri, aku pun sangat marah kepada Eggy saat mengetahui Eggy akan melakukan itu padamu. Aku. mencari jalan alternatif agar kamu tidak pergi jauh, Bulan," sahut Fadhla.


"Kamu berhasil dan aku malah kehilangannya. Aku bodoh sekali. Aku gagal menjadi seorang ibu. Apakah aku telah membunuh anakku sendiri, Fadhla?" tanya Bulan.


"E-eh. Apa yang kamu katakan? Kamu tidak membunuhnya sama sekali. Ini sudah takdir, Bulan. Jangan menyalahkan dirimu," kata Fadhla.


"Aku tidak menyalahkan diri sendiri. Namun ini menang kenyataannya. Aku sudah membunuhnya," jelas Bulan.


Kini pikiran Bulan sudah mulai ke mana-mana. Dia sulit berpikir dengan jernih. Dia terus menyalahkan dirimya sendiri atas kematian anaknya itu. Rasa penyesalan dalam dirinya, membuat Bulan sulit menerima bahwa janinnya keguguran. Di tambah dengan Eggy yang tidak datang di saat Bulan membutuhkannya, Bulan merasa bahwa dirinya sudah tidak berguna lagi menjadi istri dari Eggy. Apa lagi di tambah dengam kondisi dirinya yang di madu oleh Eggy. Bulan harus rela berbagi suami dan berbagi waktu dengan istri barunya itu secara diam-diam.


"Hei, hei, hei. Jangan bicara sembarangan begitu, ah. Kamu ini tidak bersalah. Kamu jangan menyalahkan diri kamu," kata Fadhla.


Fadhla pun mulai merasa cemas dan kasihan meliht Bulan yang terus menerus merenung, merasa menderita sendiri dan sedih karena masalah yang sudah datang pada dirinya. Dia merasa bahwa kehidupan ini sangat tidak adil bagi diri dia. Seharusnya Bulan pun bisa mendapatkan kebahagiaan. Namun sepertinya Bulan harus lebih berusaha untuk mendapatkan semua itu. Ingin rasanya Fadhla menyentuh tubuh Bulan, kemudian dia ingij mengusap wajahnya dan memeluk dirinya secara bebas, tetapi dia sadar akan batasan. Dia masih ingat dengan perjanjian yang telah di buat oleh mereka. Dan Fadhla pun harus menepati perjanjian itu dan menerima bahwa pernikahan ini memang karena niat saling cinta. Melainkan niat mereka untuk melindungi nama baik dan martabar mereka.


"Fadhla, aku harus bagaimana?" tanya Bulan padanya.


"Bagaimana apanya?" Fadhla mulai kebingungan.


"Kehamilanku sudah tidak penting lagi. Sudah tidak memerlukan status lagi. Karena aku. kehilangan janinku," kata Bulan.


"Aku tahu. Ini pasti sangat berat untuk kamu rasakan sendiri. Aku pun merasa sangat sedih karena kehilangannya," kata Fadhla.


"Namun bukan itu yang ingin aku katakan padamu, Fadhla," kata Bulan.


"Maksudnya apa? Lalu apa, Bulan? Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Fadhla penasaran.


"Ini soal kita," jawab Bulan.


"Kenapa? Ada apa dengan kita? Katakan saja. Aku akan mendengarkan kamu kok," ujarnya kepada Bulan dengan sikap yang tenang.


"Kamu tahu kita berdua sudah menikah. Lalu mau apa?" Bulan bertanya kembali.


"Maksud kamu apa?" Fadhla semakin tidak mengerti dengan apa yang sudah diucapkan oleh Bulan.


"Jangan pura-pura tidak tahu, Fadhla. Jawab saja!" ucap Bulan.


"Maksud kamu pernikahan ini harus bagaimana?" tanya Fadhla.


"Ya. Itu. Bagaimana?" tanya Bulan kepada Fadhla.


Sejenak Fadhla terdiam. Dia menatap wajah Bulan dengan dalam, begitu pun dengan Bulan yang menatapnya dalam. Mereka saling menatap satu sama lain, sehingga membuat suasana mereka berdua terasa sangat tegang dan sangat serius.


"Sejujurnya aku tidak ingin menceraikan kamu, dan aku tidak akan menceraikan kamu, Bulan," kata Fadhla kepada Bulan. Kalimat itu membuat Bulan sangat terkejut dan sontak dia pun beranjak dari posisi baringnya dan seketika duduk di hadapan Fadhla dengan mimik wajah yang terkejut.


"Apa? Apa yang kamu katakan, Fadhla?" tanya Bulan terheran-heran.


"Sejujurnya aku tidak ingin menceraikan kamu, dan aku tidak akan menceraikan kamu, Bulan," kata Fadhla kepada Bulan. Kalimat itu membuat Bulan sangat terkejut dan sontak dia pun beranjak dari posisi baringnya dan seketika duduk di hadapan Fadhla dengan mimik wajah yang terkejut.


"Apa? Apa yang kamu katakan, Fadhla?" tanya Bulan terheran-heran.


Bulan menganga mendengar kalimat itu dari Fadhla. Dia tidak menyangka bahwa pernikahan yang di lakukannya dengan Fadhla akan membuat hubungan dia selalu terikat dengan Fadhla. Ini benar-benar di luar pikirannya.


"Ini gila, Fadhla. Kamu benar-benar gila. Kamu tidak bisa melakukan ini ke padaku, Fadhla. Kamu tidak bisa," ucap Bulan tidak menerimanya.


"Please, Bulan. Beri aku kesempatan untuk menjadi suamimu yang sebenarnya," kata Fadhla memohon.


"Aku tidak bisa. Aku jelas-jelas tidak akan menerima itu, Fadhla. Kamu ... kamu ...." Bulan sengaja menggantung kalimatnya kepada Fadhla. Dia benar-benar sangat tidak menyangka kepada adik suaminya itu. Fadhla pun tidak dapat memungkiri bahwa diri nya akan berbuat seperti itu. Itu membuat diri Bulan sangat tidak nyaman dan merasa tidak percaya lagi kepada Fadhla. Namun di balik kalimat yang di lontarkan oleh Fadhla, dia memang benar-benar menyukai Bulan. Semenjak dirinya kali pertama bertemu dengan Bulan di pinggir jalan itu, saat Bulan ling-lung tidak tahu arah ke mana tujuan dia, lalu di sana ada Fadhla yang menghampiri dia dan mengajaknya ngobrol, dari sana Fadhla mulai merasa tertarik kepada Bulan. Namun sayang sekali, pada kenyataannya Bulan sudah menjadi ke punyaan orang lain, yang tak lain adalah ke punyaan kakaknya sendiri, yaitu Eggy.


"Oke, oke. Maafkan aku, Bulan. Aku memang salah. Namun aku bahagia sudah mendapatkanmu," kata Fadhla secara terang-terangan.


"Apa? Kamu mendapatkanku dengan cara yang licik, Fadhla. Kamu memperdaya aku dan juga kakakmu, kak Eggy. Kamu berkhianat juga, Fadhla. Kamu mengkhianati diriku dan mengkhianati kak Eggy pula. Apa kamu tidak mengingat ke sana?" kata Bulan mulai marah ke pada Fadhla.


Ini adalah suatu kesalahan. Kesalahan yang di lakukan Fadhla kepada Bulan, karena telah berbicara sangat jujur akan perasaannya, membuat dirinya harus menerima akibat dari kalimat itu. Namun Fadhla tidak ingin membohongi perasaannya sendiri. Dia memang menyukai Bulan dan tidak ingin memendam perasaan itu terlalu lama sebelum semuanya terlambat.


"Aku tahu, Bulan. Aku tahu. Aku yang salah," ucap Fadhla.


"Lalu apa?"


"Apa bagaimana?"


"Bagaimana ini, Fadhla? Bagaimana?" tanya Bulan menaikkan nada suaranya.


"Kamu sendiri yang bilang, bahwa kamu sudah menjadi istriku yang sah. Kita berdua menikah dengan cara yang benar dan sungguh. Aku suamimu dan kamu pun pernah bilang bahwa aku bisa bersikap selayaknya suamimu. Benar, bukan?" tanya Fadhla menghingatkan Bulan.


"Ya, aku pernah mengatakannya. Bukan berarti kamu bisa seenaknya. Karena ini adalah perjanjian, Fadhla. Aku memang tidak menerima ini. Sangat sulit untuk menerima semua ini. apa kamu memanfaatkan momen ini?" tanya Bulan.


"Tidak, Bulan. Sungguh! Aku hanya tidak ingin kamu merasa sakit hati dan kecewa karena Eggy yang menikah dengan orang lain," jelas Fadhla.


"Jadi kamu mencoba membalas semua perbuatan Eggy terhadapku dan membalas karena dia menikah dengan yang lain dan kamu pun menikahiku untuk. memperlihatkan balasannya? Begitu?" tanya Bulan.


"Kamu salah paham, Bulan."


"Salah paham bagaimana, hah? Ini sudah jelas, Fadhla. Sangat jelas."


Bulan terlihat sangat emosi dengan Fadhla. Dia benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih, dan dia tidak bisa mengontrol emosi dirinya yang kini sudah muali meluap. Bulan merasa bingung dan dilema akan kondisi kehidupannya saat ini. Dia merasa bahwa kehidupan dia selalu di permainkan oleh orang-orang di sekitarnya. Bulan sudah tidak tahan dengan kehidupan yang membuatnya menderita. Terlintas pikiran buruk dan niat buruk dalam benaknya. Namun dia tidak ingin melakukannya dan belum siap untuk melakukan semua itu. Kini dirinya benar-benar di rundung kebingungan. Semua masalah datang bertubi-tubi kepada diri dia sendiri. Ini sangatlah tidak adil bagi dirinya.


"Bulan, dengarkan aku dulu," kata Fadhla mencoba menenangkannya.


"Cukup, Fadhla! Keluarlah dari kamarku!" usir Bulan kepadanya. Kemudian Bulan kembali berbaring lagi di kasur dan membelakangi Fadhla. Dia sudah enggan menatap Fadhjla pada saat ini. Rasanya dia sudah muak dengan semua penderitaan dan kebohongan yang datang padanya. Ini membuatnya sangat lelah dan ingin segera tidur untuk selamanya tanpa dia harus bangun lagi. Itulah harapan dia saat ini. Sulit untuk menjernihkan pikiran dia.


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.


Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti pasti aku masukan kok. Jangan khawatir! :)


Terima kasih, semuanya. :*