
Keesokan harinya, aku terbangun dari tidurku. Rupanya Eggy sudah bangun lebih pagi dariku. Aku lekas turun dari dari ranjangku dan berjalan ke luar kamar. Terlihat di ruang tengah tidak ada siapa-siapa, itu artinya mungkin mereka ada di dapur dan di meja makan sedang melakukan sarapan pagi.
Setelah aku berjalan ke arah sana, rupanya benar. Mereka berdua sedang melakukan saraoan.
"Selamat pagi, Sayang. Apa tidurmu nyenyak?" sapa Eggy pada pagi ini.
"Selamat pagi juga, Kak. Cukup nyenyak. Terima kasih sudah bersedia menemani malamku," sahutku.
"Selamat pagi, Bulan. Ayo kita sarapan!" ajak Fadhla.
"Se-selamat pagi juga, Fadhla. Aku akan mandi terlebih dulu. Kemudian aku akan ikut sarapan dengan kalian," kataku.
"Baiklah."
"Jangan lama-lama. Sebentar lagi kita berangkat ya."
"Iya, Kak. Tunggu sebentar."
Aku pun berjalan kembali ke dalam kamar dan segera mandi di toilet yang sudah tersedia di dalam kamar. Lalu aku segera membersihkan badanku di dalam sana. Setelah selesai mandi, aku mulai memilih pakaian mana yang akan aku pakai untuk mengantar Fadhla pulang.
"Yang mana ya? Yang ini apa yang ini?" tanyaku kepada diriku sendiri sambil membanding-bandingkan beberapa pakaian di ranjang. Setelah lama dipilih, aku pun memutuskan untuk memakai pakaian yang sederhana.
"Yang ini aja deh." Aku pun segera berpakaian dan kembali menuju mereka.
Sampai di sana, aku melihat Eggy dan Fadhla sudah selesai sarapan. Ini gak adil. Mereka berdua tidak. menungguku.
"Lho, kok? Kenapa kalian sudah selesai sarapannya sih?" kataku cemberut.
"Kamunya sih lama, jadi ditinggal sarapan," sahut Fadhla.
"Ya kan aku mandi dulu. Jorok kali kalau bangun tidur langsung makan," kataku.
"Yaudah, ayo makan sini! Sarapan pagi kamu gak sendirian kok, akan aku temani," ajak Eggy.
Dengan perasaan yang cemberut, Walaupun Eggy berkata akan menemaniku, tetapi aku merasa bahwa aku sendirian. Terpaksa aku pun menyetujui untuk sarapan sendirian ditemani olehnya.
"Aku akan membereskan semua barang-barangku terlebih dulu di kamar," kata Fadhla.
"Oke. Jangan sampai ada barang yang tertinggal."
"Siap."
Fadhla pun pergi menuju kamarnya. Setelah melihatnya hari ini, aku merasa bahwa ada hal yang berbeda dari dirinya. Namun mungkin saja aku salah mengartikan dirinya.
"Mau sarapan dengan apa?" tanya Eggy membuyarkan pikiranku.
"Roti saja, Kak," jawabku.
"Baiklah."
Eggy pun membawa dua lembar roti tawar dan langsung mengoleskan selai coklat dan selai kacang di setiap roti itu. Kemudian dia satukan dan disimpan di piring, lalu dipotong menjadi dua bagian.
"Ini sarapan pagimu." Eggy memberikan piring tersebut padaku.
Aku merasa menjadi seorang puteri. Eggy memperlakukanku dengan sangat baik, bahkan dia membuatkanku sarapan pagi tanpa banyak bicara.
"Terima kasih, Kak." Aku tersenyum padanya.
"Sama-sama," sahutnya.
Aku pun mulai memakan roti tersebut sedikit demi sedikit. Lalu Eggy berjalan menuju kulkas dan mengambil susu murni dari dalam sana. Setelah itu, dia tuangkan ke dalam gelas.
"Pagi-pagi minum susu sangat baik untukmu," kata Eggy seraya memberikan segelas susu itu padaku.
"I-ini untukku?" tanyaku memastikan.
"Iya, Sayang. Ini untukmu," jawabnya.
"Te-terima kasih, Kak. Tetapi Kakak tidak perlu melakukan hal ini padaku. Aku bisa kok melakukannya," kataku.
"Tidak apa-apa. Aku jarang melakukan ini kepada istriku sendiri. Biasanya aku selalu sibuk di luar dan pulang langsung tidur, jarang ada waktu saat bersamamu," ucapnya.
Aku tersenyum padanya. "Sekali lagi terima kasih, Kak."
"Bukan masalah."
Tak lama kemudian, Fadhla keluar dari kamarnya dengan membawa satu koper miliknya.
"Bagaimana, apakah kalian berdua sudah beres?" tanya Fadhla.
"Tunggu, istriku masih sarapan," sahut Eggy.
Mendengar kata 'istriku' yang keluar dari mulut Eggy, membuatku merasa bahwa aku benar-benar dianggap oleh Eggy. Padahal aku sama sekali tidak mengingatnya, tetapi dia berusaha untuk mengingatkanku tentang pernikahanku dan dia. Rasanya aku banyak bersalah terhadap Eggy. Mulai dari sekarang, aku akan mencoba menerima untuk menjadi istrinya. Walaupun setelah liburan ini akan ada banyak masalah dan cobaan yang akan aku hadapi, tetapi aku harus melewatinya dengan ikhlas. Sekali pun aku mengetahui Eggy akan menikah lagi dengan anak bos itu, aku tidak peduli. Aku akan tetap mencoba memahaminya. Aku yakin bahwa Eggy tidak mungkin sengaja melakukan poligami demi kesenangannya sendiri.
"Baiklah. Aku akan menunggu di mobil, ya." Fadhla pun berjalan pergi menuju mobil.
"Sarapanku di jalan saja. Aku akan habiskan di jalan, Kak. Kasihan Fadhla. Nanti keburu siang pulangnya, kan sampe ke rumah pasti sore atau kalau macet bisa malam nyampenya," kataku.
"Minum susunya dulu. Habiskan. Lalu kita pergi mengantarnya," sahut Eggy.
"Baiklah, Kak. Akan aku habiskan susunya."
Aku pun menghabiskan segelas susu murni itu.
"Sebentar, Kak. Aku membawa tas terlebih dulu." Aku segera pergi ke kamar untuk mengambil tas. Lalu kemvali lagi menghampiri Eggy.
"Sudah siap semua?" tanyanya.
"Sudah, Kak. Kita tinggal pergi saja, Kak," sahutku.
"Baiklah. Ayo!"
"Eh, Kak!" tahanku pada Eggy.
Eggy menengok. "Ada apa, Bulan?" tanyanya.
"Apa kakak. sudah membawa barang yang penting?" tanyaku.
"Apa?"
"Semacam uang. Aku tidak ingin kakak lupa lagi membawa uang kakak," kataku.
"Astaga. Aku kira ada apa. Nanti aku ganti uangmu jika kita sudah sampai di rumah kembali, oke," katanya.
"Tidak usah, Kak. Itu kan untuk kebutuhan aku juga. Jadi tidak masalah. Lagian aku yang boros, Kak," ujarku.
Eggy tersenyum dan mencubit pipiku dengan pelan.
"Ayo berangkat. Kasihan Fadhla. Dia sudah menunggu dari tadi," kata Eggy.
"Iya, Kak."
Aku dan Eggy pun berjalan keluar dari villa. Lalu aku mengunci vila tersebut, karena takut ada penyusup atau maling yang masuk ke dalam sana. Setelah itu, aku melihat Fadhla yang duduk di belakang mobil sedang menungguku dan Eggy. Eggy masuk ke dalam mobil dan akan menyetir mobilnya. Aku pun duduk di samping Eggy. Sejenak aku menengok ke arah Fadhla dan menebar senyuman padanya sebagai tanda ramah. Fadhla pun membalas senyumanku.