
Aku, Eggy dan Fadhla terlihat saling diam satu sama lain dalam ruangan yang sama. Fadhla menatapku seakan penuh dendam padaku, Eggy juga menatapku dengan begitu sangat serius. Suasana inj tidak menyenangkan. Benar-benar terasa seperti menunggu keputusan lulus atau tidaknya.
"Kamu tahu, keluarga kita sudah tahu bahwa kamu liburan kemari. Mereka sangat marah saat mengetahui bahwa kamu liburan di saat masalah perusahaan sedang gening-gentingnya. Apalagi di anak bos yang akan kamu nikahi, terlihat sangat kesal mendengarnya," ungkap Fadhla mengawali pembicaraan."
Eggy menganggukkan kepalanya. "Aku tahu ini akan menjadi masalah besar. Tapi kan aku tidak salah juga jika pergi berlibur, ambil cuti seminggi untuk menenangkan pikiran dan meloloskan otakku dari semua masalah," sahur Eggy.
"Ya. Kamu memang tidak salah. Namun bukan saat ini waktunya."
"Lalu, keuangan perusahaan bagaimana? Apakah ada peningkatan?" tanya Eggy sambil menggaruk kepalanya.
"Sejauh ini kondisi perusaan masih ada di bawah. Namun secara ke seluruhan, masih stabil, dan tidak ada kerugian," jawab Dasha.
"Hagan length! Jami Hari's Cari orang yang memory perusahaan kita. Bisa Jadi itu orang dalam."
"Jangan khawatir. Aku masih mengintai mereka secara diam-diam."
"Awasi juga orang-orang yang sudah aku curigai. Aku merasakan hal yang janggal pada mereka," kata Eggy.
"Si-siapa yang menipu, Kak?" tanyaku.
Jujur saja, aku benar-benar tidak mengetahui tentang masalah perusahaan Eggy. Boro-boro masalahnya, aku pun tidak tahu perusahaan Eggy melahirkan prodak apa. Mungkin aku lupa akan hal itu, tetapi aku tidak masalah. Yang akj tahu, perusahaan yang dipimpin oleh Eggy sangat terkenal dan sukses.
"Sepertinya ada beberapa karyawan yang berkomplot dengan para musuh. Mereka berpura-pura menjadi pegawai di perusahaan kita untuk mengetahui kelemahan kita," jelas Fadhla.
"Tepatnya kelemahan perusahaanku," kata Eggy.
Membuat Fadhla memutar kedua bola matanya. "Iya. Itu perusahaanmu," kata Fadhla denga malas.
"Jadi, dalam perusahaan Kakak ada seorang penyusup?" tanyaku.
"Ada banyak. Bukan seseorang lagi, Bulan," sahut Fadhla.
"Ya ampun, kejamnya dunia bisnis. Lalu bagaimana, Kak?" tanyaku.
"Enggak bagaimana-bagaimana."
"Aku tidak bis membantu, maaf ya." Aku memasang raut wajah murung.
"Kamu membantu kok. Dengan maunya kamu bercerai atau pura-pura cerai dan mengizinkanku menikah dengan anak bos itu, kamu sudah membantuku lebih banyak dan lebih besae jasa," jelas Eggy.
"Kedengarannya memang seperti mudah, tetapi kenyataannya seperti terasa berat," ucapku.
"Apakah kamu merasa berat hati?" tanya Eggy.
"Jujur saja, memang ada perasaan itu, Kak," jawabku.
"Apakah kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu mengizinkan Eggy menikah lagi dengan wanita lain?" tanya Fadhla sekali lagi.
"Jadi, Kak, untuk masalah ini, jika kalian berdua sudah fix melakukan drama itu, silakan. Aku gak akan maksa kalian. Hanya saja aku tidak ingin ada penyesalan yang akan terjadi pada diri kalian masing-masing. Apakah kalian berdua yakin dengan hal itu?" tanya Fadhla dengan panjang lebar.
"Kalau aku pribadi, demi perusahaan Kakak, aku rela saja sih. Jujur saja, dengan liburan ini aku pun masih mencuri-curi perasaan ketertarikanku terhadap Kak Eggy. Dan memang liburan ini sedikit berhasil menyadarkanku bahwa Kak Eggy cukup baik dan tidak semenyebalkan yang aku duga," ucapku dengan panjang lebar pula.
"Mungkin aku sedang merasakan karma, Fadhla," ucap Eggy.
"Karma? Maksudnya? Karma apa?" tanya Fadhla kebingungan.
"Hal ini pernah terjadi kepada pernikahanku dengan Bulan. Aku menikahinya secara terpaksa, tepatnya aku memaksa Bulan untuk menikahiku. Lalu saat semuanya akan berjalan dengan lancar, sesuatu yang buruk terjadi. Sampai akhirnya aku harus dipaksa menikah oleh orang lain, sedangkan perasaanku masih tertuju padamu, Bulan. Aku masih menyayangimu, mencintaimu, menginginkanmu hidup bersama sampai tua nanti dan memiliki anak cucu beserta cicit kita nanti," ceritanya kepadaku dan juga Fadhla.
"Jadi maksudnya, kamu merasakan seperti apa yang Bulang yang rasakan pada masa lalu?" tanya Fadhla.
"Yup. Akhirnya diam-diam ada skandal, dan itu segera terjadi padaku juga. Suatu saat nanti akan ada kisah skandal suami dari anak bos masih memiliki hubungan gelap bersama mantan istrinya. Lucu." Eggy terkekeh mengucap kata seperti itu.
"Apakah itu mirip dengan masa laluku, Kak?" tanyaku pada Eggy.
Eggy menengok ke arahku. "Seperti itulah pada kenyataannya."
Aku terdiam menyadari itu. Memang benar-benar terasa menyakitkan. Dadaku sangat sesak setelah mendengar kalimat yang diucapkan oleh Eggy. Aku tidak akan menyangka bahwa kisah ini akan kembali terjadi padaku. Apakah aku akan mendapatkan karma dari Raihan? Jika Eggy menikah dengan wanita lain, posisiku akan sama dengan apa yang Raihan alami dulu. Apakah dulu aku sejahat itu?
"Please! Kalian berdua jangan ingat masa lalu kalian. Itu akan membuat kalian makin terasa menyedihkan. Anggap saja ini sebatas pernikahan bisnis," kata Fadhla mencoba mencairkan suasana.
"Aku dan Bulan pun menikah karena bisnis pula, Fadhla. Apa bedanya itu?" tanya Eggy.
"Bedanya, kamu mencintai propertimu," jawab Fadhla.
Eggy terkekeh. "Ya. Kamu memang benar. Dari awal, aku memang mencintai propertik."
"Apakah kamu akan bersikap seperti laki-laki yang sudah menikah pada umumnya kepada istrimu nanti? Sama seperti yang kamu lakukan kepada Bulan, mencoba untuk menjadi pasangan suami istri yang normal?"
"Sepertinya kamu terlalu memojokkan Eggy, Fadhla." Aku mencoba untuk membela Eggy. Jujur saja, aku tidak suka dengan semua opini yang dia berikan kepadaku dan juga kepada Eggy. Menurutku opini dia salah tentang semua itu, aku hanya berpikir semua opini yang Fadhla ucapkan hanya terlalu dilebih-lebihkan. Aku pun merasa bahwa dia tidak menyukai Eggy. Ya. Aku melihatnya Fadhla memang tidak menyukai Eggy. Entah itu dari kesuksesan Eggy, dari pencitraannya Eggy, atau dari kesuksesannya dia selama dalam bisnis. Aku ingin berpikir bahwa ini hanya sekadar pikiran burukku, tetapi aku tidak bisa melakukannya. Fadhla terlalu frontal akan masalah ini.
"Bukan memojokkan. Namun aku tidak ingin terjadi hal buruk kepada kalian berdua. Itu saja. Aku hanya mengingatkan kalian," jelas Fadhla.
Eggy pun berdiri dengan posisi tangan kanan yang dimasukan ke dalam saku.
"Berhenti membahas itu. Bagaimana kalau kita berenang untuk sekadar menyegarkan kepala kita dari masalah ini. Ini liburan lho. Liburan harus membebaskan pikiran lho! Bukan malah membahas hal-hal yang membuat liburan kita berantakan. Aku membayar vila ini bukan untuk rapat masalah perusahaan dan rencana menikah lagi," kata Eggy dengan panjang lebar.
"Setuju. Baiklah. Ayo kita berenang!" sahutku dengan antusias.
"Siang-siang begini?" tanya Fadhla.
Eggy hanya menganggukkan kepalanya saja sambil tersenyum. Aku pun ikut tersenyum.
Memang sih, niat aku dan Eggy berlibur adalah untuk memperbaiki semua keadaan. Namun rupanya ini di luar ekspektasiku, semuanya berubah drastis. Bahkan rencana rumah tangga aku dan Eggy pun berantakan dengan adanya kabar buruk yang dibawa oleh Fadhla. Sungguh benar-benar menyedihkan.