
Aku dan Eggy sudah selesai membereskan vila. kemudian aku pun mulai bergegas menutupi barang-barang yang ada di villa dengan kain putih. Selepas itu, aku dan Eggy memutuskan untuk pulang ke rumah.
"Apa kita mau pulang sekarang? Hujan juga udah mulai reda deh keknya, Kak," ucapku.
"Iya. Benar. Boleh, ayo kita selesaikan pekerjaan terakhir ini."
"Ayo, Kak."
Aku dan Eggy langsung membereskan pekerjaan terakhir kita. Aku dan dia menutup barang-barang dengan kain putih. Setelah semuanya sudah tertutup dengan rapi, aku dan Eggy pun mulai mengambil barang-barang penting untuk dimasukan ke dalam mobil.
"Ayo, Kak. Kita sudah selesai semua. Sekarang tinggal masukan semua barang-barang ke dalam mobil," ucapku pada Eggy.
"Kamu ambil yang ringan saja. Aku. ambil yang berat," ucapnya.
"Iya, Kak. Kakak pengertian banget deh rasanya. Hehehe," kataku padanya.
"Sudah kewajibanku, Bulan."
Aku tersenyum malu. "Saat ini berasa seperti pengantin baru, Kak. Rasanya seperti itu."
"Anggap saja seperti yang Shelly katakan, bahwa kita sedang berbulan madu si sini. Kapan-kapan, aku akan mengajakmu berbulan madu lagi. Mungkin setelah masalah di kantor selesai," ucapnya.
"Aku akan menunggu, Kak."
"Yaudah, ayo kita pindah2kan semua barang-barang kita ke dalam mobil," ucap Eggy.
"Iya, Kak."
Aku dan Eggy langsung mengambil barang dan memindahkannya ke dalam mobil. Setelah semuanya sudah dipindahkan, aku pun langsung mengunci villa itu. Kemudian aku dan Eggy bergegas masuk ke dalam mobil untuk segera pulang.
"Pakai sabuk pengamannya," perintah Eggy.
Aku pun memakai sabuk pengaman, sesuai anjuran Eggy. "Sudah, Kak."
"Kita berangkat sekarang?" tanya Eggy.
"Ya, Kak. Kita berangkat sekarang saja," jawabku.
"Baiklah."
Eggy pun langsung menancapkan gas mobilnya dan kami pun berangkat untuk pulang.
Di tengah perjalanan, aku dan Eggy saling berbagi kisah pada masa lalu. Tepatnya berbagi tentang pada masa zaman kanak-kana dulu. Sukit dipercaya, bahwa dulu Eggy anaknya pendiam. Kurasa, Eggy tidak seperti itu. Teyapi mungkin saja sih.
"Aku tak percaya kalau kakak memiliki sifat pendiam pada masa lalu," ucapku pada Eggy.
"Seharusnya kamu percaya. Karena itu memang fakta lho," jawabnya.
"Soalnya yang aku lihat semenjak aku bertemu dengan kakak, dalam artian saat bertemu ketika sadar dan aku hilang ingatan, kulihat kakak tidak begitu," jelasku.
"Dulu aku bersikap cuek padamu lho," kata Eggy.
"Masa sih?"
"Iya. Waktu kecil aku sudah diajarkan bisnis oleh Ayahku. Aku sering diajak ke kantornya dan diperlihatkan bagaimana sistem di perusahaan. Aku termasuk salah satu pria termuda yang sukses dalam mengembangkan suatu perusahaan. Namaku sudah dikenal banyak orang," ucapnya.
"Apakah Kakak mulai sombong?" sindirku.
"Haha. Bukan sombong. Hanya saja itu fakta. Nyata. Saat menginjak remaja, aku banyak dijodohkan oleh Ayahku. Mereka semua wanita terpandang. Namun aku tidak tertarik sama sekali."
"Kenapa, Kak? tanyaku.
"Karena aku tahu, bahwa jodohku adalah kamu," jawabnya merayu.
"Ih, kakak. Lebay deh. Masa gitu jawabannya?" komplenku.
"Ah, sekarang kakak jadi sombong ya. Mentang-mentang ganteng,"bsindirku.
"Bukan karena ganteng, " elaknya.
"Lalu?" tanyaku penasaran.
"Karena hartaku. Sudah aku bilang, aku adalah pria termuda yang sukses dan mempunyai saham banyak. Usahaku di mana-mana. Mungkin kamu juga tahu," jelas Eggy.
"Iya deh iya. Lalu bagaimana lagi?" Rasanya aku menjadi kepo dan ingin banyak tahu lagi tentang masa lalunya.
"Aku putuskan untuk tidak menikah dengan siapa pun pilihan orang tuaku. Jika kamu tahu alasanku, mungkin kamu akan berpikir bahwa aku bodoh dan konyol," ucap Eggy. Dia membuatku semakin penasaran akan tentangnya.
"Lho, kenapa? Memangnya alasan kakak apa?" tanyaku penasaran.
"Sangat memalukan. Bahkan saking memalukannya, bisa membuat para wanita seketika menjauhiku lho. Aku pernah dicap jelek sih. Cuma beberapa saat saja," jelasnya.
"Apa, Kak? Dicap apa, Kak? Memangnya alasan kakak apa nih?" tanyaku penasaran.
"Aku mengaku bahwa diriku adalah gay," jawabnya to the point.
Seketika aku terkejut dan menganga menatap ke arahnya. Gila! Seorang gay dijadikan alasan untuk menolak perjodohan dan menghindari para wanita. Alasan yang sangat cerdas.
"Apa, kak? Serius?"
"Serius."
"Pfft ...." Aku menahan tawaku. "Kakak beneran mengaku gay?" tanyaku sekali lagi.
"Iya, Bulanku sayang, " jawabnya.
"Lucu banget, Kak. Kakak kelewat pinter soalnya. Alasannya seketika membuatku geli. Aku tidak bisa membayangkan jika kakak beneran gay, lalu melakukan hal itu padaku," ucapku.
"Melakukan hal apa?" tanyanya.
"Melakukan itu. Saat di toilet," jawabku.
"Kamu mau lagi?" tanya Eggy menawarkan hal itu.
"Ih, kakak. Apa-apaan sih. Cuma tanya itu aja langsung Mikirny ke sana," ucapku
"Haha. Maaf, maaf. Baiklah, kita ganti ke bagianmu ya. Lalu bagaimana kisahmu pada masa kecil?" tanya Eggy.
"Apakah kakak penasaran?"
"Ya."
"Ingin tahu yang sebenarnya?" tanyaku memastikan.
"Memangnya kenapa dengan masa kecilmu?" tanya Eggy.
"Masa kecilku bagaimana, ya? Aku tidak banyak kenangan sih, Kak. Seperti yang kakak ketahui, aku dijual oleh orang tuaku karena hutang. Saat kecil, aku tidak begitu diperhatikan oleh orang tua. Malahan rasanya aku seperti tidak memiliki orang tua sama sekali. Aku benar-benar diabaikan, terasa terbuang, Kak."
"Eh, kamu gak boleh gitu, Bulan. Bagaiman pun nereka, mereka adalah orang tuamu juga," sahut Eggy.
"Iya aku tahu, Kak. Cuma ya aku ngerasa gitu aja. Gak dibutuhkan. Terbuang. Wajar jika aku hanya dijadikan bahan jaminan," pekikku sambil menahan tangis.
"Jangan sedih! 7 Kamu tidak perlu merasa seperti itu. Masih ada aku yang selalu menganggapmu sangat penting dan kamu adalah salah satu belaha jiwaku juga. Mana mungkin aku meninggalkanmu. Sekali pun orang lain membayarnya dengan sangat mahal, aku tetap tidak akan memberikanmu pandanya," kata Eggy padaku.
Sebensrnya, kalimat yang dilontarkan Eggy membuatku merass sedikit lega. Setidaknya aku dapat melampiaskan unek-unek yang ada dalam benak. Aku juga tidak masalah jika dia tahu kebenaranku bagaimana.
Namun sekali lagi, aku sangat bangga memiliki sosok Eggy di kehidupanku. Aku merasa sangat bersyukur atas ini. Aku merasa menjadi wanita yang sangat beruntung dalam kehidupan ini. Selebihnya, aku akan menceritakan lebih jauh lagi tentang kehidupanku di masa lalu yang menyedihkan ini. Ya. Setidaknya aku dapat bernapas dengan lega dan tidak ada perasaan yang mengjanggal lagi dalam benakku.